The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part Dazon : 43


__ADS_3

Ruangan itu tampak kacau, berantakan, benda-benda berjatuhan ke segala arah, flat kusam nomor 105 itu tertutup rapat, meskipun gedung kusam itu sudah berganti pemilik, tetapi riel masih bisa masuk ke kamarnya dengan mudah, seperti yang dikatakan hanna, banyak akses yang bisa di lalui untuk masuk ke tempat itu.


Hampir saja malam itu riel tertangkap oleh pengawal-pengawal dazon, paulo dan pengawal lainnya berlari dan terus mengejar Riel, tetapi berkat lingkungan yang sangat di kenalnya dan tempat itu sudah menjadi bagian dari dirinya, maka banyak tempat yang dijadikan riel sebagai tempat bersembunyi yang akan sulit di temukan oleh mereka yang awam dengan daerah di sekitarnya.


Lorong gelap itu sangat sempit, tetapi di situlah tempat favorit riel jika mengincar mangsanya, dia bersembunyi di sana, mengamati dari kegelapan, hari-harinya di isi dengan bersembunyi, memantau mangsanya.


Sejak kecil, ketika dia sudah tidak memiliki pegangan lagi, dan tidak adanya orang yang pernah perduli kepadanya, dia tumbuh seperti seorang predator, mengincar rambut pirang yang mengganggu penglihatannya.


Dia akhirnya keluar dari tempat kecil itu, ketika dia merasa sudah aman, pancaran matanya tajam memindai setiap orang yang mencurigakan, aksesnya untuk keluar dari flatnya, kini terbatas, sudah banyak orang yang mengincarnya, maka untuk itu dia harus bersembunyi.


~


~


Gedung Criminal Case


Setelah penemuan mayat wanita bernama Yessy rush, kembali detektif nick mencari tahu bukti-bukti kebenarannya, bukti bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh pelaku yang sama, meskipun mayat itu telah di autopsi dan di periksa secara keseluruhan, jejak yang tertinggal hanyalah luka sayatan di leher, rambut yang di potong secara acak-acakan dan bau parfum yang menyengat, adapun sidik jari, tidak di temukan apapun di tubuh wanita itu, sepertinya seseorang sudah menghilangkan jejaknya.


Detektif Nick, mengingat hasil laporan dari seorang pengawal bernama Thomas, waktu itu dia terekam saat terjadi pembunuhan, kini dia melaporkan bahwa seorang pria menyerangnya dan menusuknya, dan menyebutkan ciri-cirinya, serta postur tubuhnya, berkat dialah, para detektif dan kepolisian sudah menyempitkan wilayah pencarian di sekitar jalan 356Toen Street sampai ke complex city dengan mencari pria berperawakan seperti yang di sebutkan tadi.


Detektif nick menemukan data-data orang yang tinggal di daerah itu, dan yang mengherankan ada dua orang yang terhubung dengan keluarga besar Caesaar, pertama seorang wanita bernama Hanna Tan, dia dulunya bekerja di keluarga itu, ketika berusia 16 tahun dan setelah itu dia pindah ke Atlanta dan bekerja sambilan sebagai penjual kopi truck karena belum memiliki pekerjaan tetap, dan yang kedua, pria bernama Riel, dia salah seorang pengawal yang bekerja di kediaman tuan Caesaar, tetapi akhir-akhir ini yang terdengar, dia telah mengundurkan diri dari tempat itu.


Detektif Nick melingkari foto Riel, "Dia adalah target kali ini, sudah lima orang yang di jadikan tersangka, tetapi tidak ada yang cocok, dari ciri-ciri yang di sebutkan pengawal itu, maka pria bernama riel target pengejaran berikutnya." Ucap Nick


Dia segera berangkat ke pusat penyelidikan data-data pribadi yang berada di kantor pusat Atlanta dan akan menelusuri identitas pria bernama Riel ini, jika ciri-cirinya sesuai maka dialah target pelaku yang akan dikejar oleh kepolisian Atlanta.


~


~


Hanna bangun kesiangan, dia berkedip beberapa kali dan kemudian menatap di sekelilingnya, tempat yang familiar, dia kembali ke kamar ini. Hanna mencoba bangun dan duduk, dia menatap ruangan kosong itu, lalu menghirup wangi dazon yang menyengat di kamar ini, matanya melirik pada sesuatu di atas seprai tempat tidur, beberapa kancing kemeja yang terlepas berserakan di atas tempat tidur.


Hanna merona, ingatannya kembali pada saat dia menarik-narik kemeja dazon dan menangis serta memukul-mukul dadanya.


Hanna cepat -cepat bangun, lalu keluar dari kamar dazon dan ingin masuk ke kamarnya sendiri, di sebelah kamar pria itu.


"Kau sudah bangun? Segeralah bersiap-siap kita akan sarapan pagi." Ucapnya.


Hanna menatap dazon yang sudah rapi dan bersih, jas melekat sempurna di dada bidangnya, rambutnya yang basah telah disisir rapi ke belakang, dia sedang membaca sesuatu di tangannya, sambil menatap hanna yang cepat-cepat masuk ke dalam kamarnya.


Setelah selesai, hanna membuka pintu kamarnya, dan menatap ruangan itu. Dia keluar dan melihat ruangan itu telah kosong. Seorang pelayan mendatanginya.


"Nona, pesan dari tuan, anda sarapan sekarang dan sebentar siang, dia ingin anda bersiap untuk makan siang bersamanya." Ucap pelayan itu sedikit menunduk dan undur diri.


Hanna tidak memiliki pilihan lain, dia segera berjalan ke ruang makan dan duduk seorang diri di sana, menikmati sarapannya.


~


~


Gedung G. A the center for the investigation of personal data.


Detektif Nick sedang berada di pusat data-data pribadi di gedung G.A, kali ini dia kembali datang karena penasaran dengan data identitas asli pria bernama Riel.


"Kau datang lagi Nick." Ucap seorang pria gemuk menyapa Nick yang berjalan ke ruangan kasus berat data-data penting yang berada di ujung koridor itu.


"Yeah, tentu, beginilah salah satu tugas yang dilakukan seorang detektif, jadi jangan heran ketika melihatku mondar mandir di areamu." Tegur nick sambil menepuk punggungnya.


Nick masuk di sebuah ruangan rahasia kelas berat, khusus untuk data-data para kriminal yang terjadi puluhan tahun yang lalu, dia harus datang ke tempat ini, dia sangat yakin, dari awal, pembunuhan ini berkaitan erat dengan seorang pria pembunuh berantai bernama Ben Reaver.


Nick lalu mengambil data-data pria bernama Ben Reaver, dia kemudian mengambil semua data yang berhubungan dengannya, dan meletakkan tumpukan berkas itu diatas meja.

__ADS_1


Matanya membelalak ketika dia membaca identitas pria itu. Ben Reaver di usianya yang ke 58 tahun, dia di tangkap oleh kepolisian Philadelphia karena kasus pembunuhan berantai yang melibatkan beberapa kota, dia di tangkap karena pembunuhan anggota keluarganya sendiri, serta tetangga-tetangga rumahnya sampai melibatkan masyarakat di luar kota itu, karena kekejamannya, dia dihukum seumur hidup dan hukuman mati, dia wafat ketika masih dalam tahanan. Ben Reaver bekerja sebagai seorang peracik parfum, khusus parfum untuk seorang wanita, dia memiliki toko parfum kecil di pusat kota, dia memiliki darah asia dan Amerika, dia memiliki seorang istri dan tiga orang anak.


Istrinya berasal dari kota yang sama dengannya, dia bernama Amelia Reaver, dia di karuniai dua orang putra, bernama Ben Reaver junior, Jon Reaver dan Ana Reaver. Mereka sekeluarga menjadi korban kekejaman ayahnya sendiri, istri dan satu orang putranya tidak bisa di selamatkan, mereka tewas, sedangkan putra pertamanya bernama Ben Reaver junior tidak ada yang tahu keberadaannya, dia lari dari rumah sakit begitu saja, ketika tubuhnya masih membutuhkan perawatan. Sedangkan putri kecilnya berusia 2 tahun ditemukan di dalam lemari pakaian, sepertinya seseorang menyembunyikannya agar dia tidak terlihat oleh sang ayah, dan beruntung dia tidak terluka sama sekali dan dibawa ke panti asuhan Philadelphia.


"Namanya sama sekali tidak sama, Putra pertama mereka bernama Ben Reaver junior di ambil dari nama ayahnya sendiri, jika anak itu masih hidup sekarang ini, dia pasti membenci, jika seseorang memanggil namanya yang sama dengan nama ayahnya yang seorang pembunuh, jika dia masih hidup, dia pasti akan merubah namanya.


Dan pria bernama Riel sangatlah aneh, dia tidak menyematkan nama belakang keluarganya di namanya. Apakah dia adalah Ben Reaver junior? Dan satu lagi, adik perempuanya yang di temukan di dalam lemari, Ana Reaver, dia di serahkan di panti asuhan di philadelphia." Ucap detektif Nick, dia merogoh sakunya dan mengambil ponselnya.


Dia kemudian menelepon seorang temannya yang kebetulan bekerja di philadelphia.


"Hy Will, ini aku nick, aku butuh bantuanmu kawan, bisakah kau mengirimkan identitas seorang anak perempuan bernama Ana Reaver yang berada di panti asuhan Philadelphia? Ya, aku akan menunggu, trims will."


"Dan yang terpenting, aku akan mencari tahu, siapa sebenarnya Riel, apakah dia ada hubungannya dengan Ben Reaver sang pembunuh berantai pada saat itu? untuk itu, aku harus pergi mencari bukti yang akurat, aku akan memulai dengan menyelidiki tempat tinggalnya di flat kusam nomor 105." Gumamnya.


~


~


Hanna sudah bersiap-siap, dia mengenakan dress anggun dengan warna biru yang lembut di atas lutut, rambutnya dibiarkan terurai indah, dia sangat cantik siang itu.


Hanna kini masuk ke dalam mobil, Loue langsung yang mengantarnya ke tempat yang di perintahkan oleh dazon. Pukul 11.15 Hanna tiba di salah satu hotel ternama di Atlanta, dia di bawa ke salah satu Restaurant khusus VVIP oleh seorang wanita yang tampak cantik.


"Lewat sini Nona." Ucapnya memberikan jalan.


Wanita itu melirik Hanna, memperhatikan setiap gerakan hanna seperti menilainya. "Silahkan tunggu sebentar, tuan Caesaar akan segera datang." Ucapnya dengan senyum tipis profesional.


Lima menit kemudian pintu terbuka, wanita itu membuka pintu dan mempersilahkan lelaki itu masuk. Dazon tersenyum melihat hanna sudah duduk dengan cantik di sana, tatapannya melembut melihat hanna menatapnya.


"Tuan, perkenalkan saya adalah manager di hotel ini, nama saya Audy, karena anda adalah tamu VVIP kami, jadi saya akan secara khusus melayani kebutuhan anda dan menyiapkan hidangan special kami kepada anda.


Hanna memutar kedua bola matanya, "ck, apakah aku tidak terlihat di sini?" gumamnya, Wanita itu hanya menyebut 'anda' tanpa sekalipun menatap keberadaan Hanna.


"Tidak perlu, cukup sediakan pesanan kami saja, saya tidak membutuhkan layanan khusus." Ucap dazon tanpa menatap wajah wanita itu.


Hanna mendengus, wanita ini keras kepala juga.


"Pergilah, kami tidak butuh layanan khusus, tapi kalau kau memaksa, aku anggap kau telah mengganggu privasi kami." Usir dazon.


Wajah wanita itu terlihat kecewa, dia masih menampilkan senyum profesionalnya, dia segera undur diri, tetapi matanya tiba-tiba terpaku pada Hanna, Seperti mencari-cari keistimewaan sosok wanita di depan pria itu. Wajahnya terlihat bingung menyiratkan kekecewaan di matanya.


Dia kemudian menutup pintu, terdengar suara dazon mendesis. "Menyusahkan saja." Ucapnya.


"Kau tidak bosan kan? Apa kau sudah minum air sampai kenyang?" Ucap dazon mengejek sambil melengkungkan bibirnya.


"Aku baru sampai, dan wanita itu mengantarku ke ruangan ini."


Dazon memperhatikan hanna, tatapannya tidak berpindah, hanya menatapanya saja tanpa mengucapkan apa-apa.


"Ke..kenapa kau menatapku?" Tanyanya.


"Entah, mungkin karena hari ini kau sangat cantik, hingga aku ingin memelukmu, kemarilah hanna."


Hanna menelan ludahnya, sikap dazon seperti ini yang membuat jantungnya ingin melompat keluar, berdetak dengan kencang, saat berbicara normal dengannya, misalnya membicarakan mengenai kabar, atau cuaca, dia akan secepat itu berubah haluan membicarakan tentang pelukan, ciuman dan hal lainnya yang membuat emosi hanna berubah-ubah dalam satu waktu.


"Ti..tidak mau, kenapa kau selalu ingin memelukku? Mereka sebentar lagi datang membawa makanan, jadi jauhkan pikiran mesummu itu."


"Tidak akan, jika aku melarangnya, tidak akan ada yang berani mengganggu kita tanpa seizinku, mereka tidak akan masuk ke ruangan ini." Ucap dazon.


"Ti..tidak mau, kau jangan berani bergerak, aku akan teriak." Ancam Hannah. Dazon terkekeh.


"Kau mengancamku? meskipun kau mendesah dan berteriak hebat di sini, mereka tidak akan berani masuk, tanpa perintahku." Dazon berdiri, secepat itu tangannya menarik hanna dan mendudukkannya di pangkuannya, dia memeluknya dan menghirup wangi tubuhnya.

__ADS_1


"Aku menyukai aromamu," bisik dazon lembut, hanna berusaha tidak bergerak-gerak di atas pangkuannya. Tubuhnya panas dingin, menerima pelukan dan kecupan darinya.


~


~


Jam 01.15 Kantor pusat Detektif Atlanta


Suara mesin fax terdengar di salah satu kantor di ruangan kosong itu, beberapa orang detektif hari ini tidak pulang, banyak kasus yang mesti mereka tangani, sehingga tidak ada waktu untuk kembali ke rumah masing-masing.


Detektif Nick baru saja keluar dari kamar mandi, dia hendak ingin membuat secangkir kopi, dia kemudian masuk dan menatap kiriman Fax yang ditujukan untuknya. Dia segera mengambilnya dan meletakkan gelasnya kembali di atas meja. Dia kemudian membacanya.


Seketika dia terduduk di tempat duduknya, setelah mendapatkan hasil penyelidikan latar belakang Ana Reaver yang tertera di fax itu.


"Ana Reaver berusia 2 tahun, di adopsi oleh keluarga Jerry Tan dan Angelica Tan, saat itu putri kandung keluarga jerry wafat di usia 2 tahun, tidak lama setelah kematian putrinya, dia mengadopsi Ana Reaver dan mengganti namanya menjadi Hanna Tan. Hanna hidup bersama dengan keluarga Tan sampai di usianya yang ke 13 tahun, setelah kematian ayah dan ibunya karena kecelakaan, dia tinggal di sanak keluarga ayah dan ibunya, setelah itu dia mulai hidup sendiri di usia 16 tahun.....


"Jadi, Hanna Tan adalah Ana Reaver yang merupakan anak kandung dari Ben Reaver seorang pembunuh berantai." Detektif Nick menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, kini petunjuk mengenai kasus pembunuhan itu sedikit demi sedikit terkuak, tinggal mencari bukti yang akurat mengenai Riel, apakah pria bernama Riel adalah Ben Reaver junior kakak kandung dari Hanna Tan?"


Malam itu udara sangat dingin, detektif nick berencana untuk menyelidiki flat milik Riel, untuk itu dia harus memiliki akses masuk ke gedung kusam itu meskipun dengan cara ilegal sekalipun.


~


Hanna berada di kamarnya, saat ini dia begitu bosan, sejak tadi dia duduk di balkon kamarnya memandangi langit malam, begitu bosannya karena saat ini hanna tidak memiliki ponsel, Dazon berencana memberikan ponselnya malam ini, itulah mengapa hanna belum tidur juga, dia masih menunggu kedatangan ponselnya.


Siang itu.....


Mereka berdua telah berada di dalam mobil menuju pulang ke penthouse setelah selesai makan siang. Seketika hanna memekik ketika mobil mereka melewati jalan complex city, tempatnya biasa berjualan kopi, dia kemudian menunjuk truck miiknya kepada Dazon.


"Bisakah kita mampir ke truckku sebentar? aku ingin mengambil ponselku," ucap hanna sambil memegang lengan jas Dazon.


"Tidak hanna, lain kali saja kita akan mampir, apalagi di daerah situ masih banyak polisi dan detektif yang lalu lalang, jika kita mampir, kita harus menjelaskan semuanya kepada polisi di sana, aku tidak mau membuang waktuku." Ucap dazon lalu melirik ke wajah Hanna dengan memelas.


"Biar aku saja yang keluar dari mobil, aku akan menjelaskan kepada mereka, jika polisi itu bertanya kepadaku."


"Tidak, aku tidak mau mengambil resiko yang menyusahkanku nantinya, aku akan menyuruh pengawal untuk mengambilnya, jadi tunggu saja waktunya." Ucap dazon menatapnya.


Hanna kembali dalam mode bad mood dan kesal, dia sama sekali tidak mau menatap dazon hanya memalingkan lehernya ke kaca jendela mobil, tanpa mau sekalipun menatap Dazon, meskipun dazon berbicara kepadanya.


"Aku akan meminjamkan ponselku, bagaimana?" Ucap dazon mencoba membujuknya.


Hanna mengintip ponsel itu, "Tidak mau, aku mau ponselku kembali," gumam hanna, masih berbicara sambil membelakangi dazon.


"Malam ini kita akan membeli ponsel baru untukmu, bagaimana?" tanyanya. Hanna tiba-tiba berbalik, dia kemudian memegang lengan Dazon. "Tidak bisakah kau mengambilkan ponselku saja di truck itu? semua nomor penting ada di sana, apalagi foto keluargaku ada di ponsel itu, aku menginginkan ponselku." Ucap hanna merajuk.


"Ck baiklah, tunggu malam ini, aku akan menyuruh paulo untuk mengambilkannya untukmu." Ucap dazon.


Seketika hanna tersenyum lebar, dazon lalu menariknya dan memberikan ciuman panjang untuknya.


~


~


Malam ini detektif Nick berencana untuk memeriksa flat itu, dia sudah memeriksa bangunan itu, tidak ada seorangpun yang tinggal di flat yang sudah di jual itu, itulah mengapa dia berencana masuk ke kamar pria bernama Riel, untuk mencari kebenaran mengenainya, semua ciri-ciri yang akurat merujuk kepadanya, tinggal satu hal lagi yang ingin detektif Nick ketahui, dia ingin mengetahui siapa sebenarnya Riel, apakah dia adalah Ben Reaver junior, dan dia menginginkan bukti kuat bahwa dia adalah pelaku pembunuhan yang selama ini terjadi.


Dia mengetatkan jaketnya, lalu berlari perlahan-lahan memasuki bangunan gelap dan kusam itu, hanya satu penerangan saja yang terlihat di sana di bagian depan gedung sebagai penerangan, agar bangunan itu tidak di singgahi oleh genk-genk nakal yang melakukan perbuatan terlarang.


Detektif nick membuka pintu depan, dia melihat pintunya tidak di kunci, aneh sekali. Dia menatap di sekelilingnya lalu berjalan menuju lift. Dia menekan tombolnya dan beruntungnya lagi liftnya masih berfungsi, dia kemudian masuk ke dalam lift dan menekan angka 7, lift bunyi dengan suara berdentang, detektif Nick keluar dari lift dan mencari kamar nomor 105, di sepanjang koridor, suasananya sangat gelap tidak memiliki penerangan sedikitpun, detektif nick berjalan di lorong gelap itu, dia menatap angka-angka yang berjejer rapi di setiap kamar.


"101, dan 102, dimana 105?" gumamnya. Detektif nick masih terus mencari nomor kamar 105, matanya menatap kamar dengan angka 105, dia menelan ludahnya kasar, jantungnya berdetak kencang, dia memegang gagang pintunya perlahan-lahan. Tiba-tiba bunyi lift berdentang membuat detektif nick sangat terkejut, dia segera berjalan pelan dan mencari tempat persembunyian, matanya menuju ke kamar 107 dia mencoba membukanya dan untungnya tidak terkunci, detektif nick masuk ke dalam kamar pemilik 107 yang tidak lain adalah kamar milik Hanna.


Suara langkah kaki yang berat, jenis sepatu brougue itu berjalan perlahan-lahan, dia membawa kantung kresek berisi kebutuhannya. Langkah itu tiba-tiba berhenti di tengah-tengah koridor yang gelap, dia mendengus dan membaui sesuatu. Bunyi cakaran panjang terdengar di setiap pintu kamar di lantai 5 itu, suara kekehan panjangnya menggema.

__ADS_1


"Keluarlah, keluar ! aku tahu kau bersembunyi di suatu tempat, sembunyilah dariku, selagi kau bisa, karena jika aku menemukanmu..aku tidak bisa menjamin nyawamu masih bisa berada di ragamu."


__ADS_2