The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 82


__ADS_3

Malam itu begitu dingin, sepertinya angin kencang membuat lampu di desa itu sedang bermasalah, hingga sejak pagi sampai sekarang, lampu masih terus padam, seluruh desa hanya menggunakan lilin atau kayu bakar sebagai penerangan. Hanna sedang berada di dapur, dia sedang menyalakan lilin.


"Untungnya aku sudah membeli lilin cukup banyak sewaktu berjalan-jalan di desa, listrik di desa ini sering kali bermasalah." Gumam Hanna.


"Oh ya, apa Darko sudah tidur?" Hanna berjalan dengan perlahan menuju tangga kayu yang meliuk, dia memegang tangga kayu itu menuju ke lantai atas. Suara tawa Darko terdengar, Hanna lalu berhenti berjalan.


"Darko? Kau belum tidur sayang?"


"No mom, aku ada dibawah sini." Ucapnya.


"di bawah?? sudah malam Darko, cepat naiklah ke atas, ke tempat tidur sayang." Hanna menatap ke kiri dan ke kanan, dia begitu terkejut karena melihat Riel berdiri seorang diri di depan jendela di lantai atas, Hanna berjalan mendekatinya.


"Riel, kaukah itu?"


Riel berbalik, dia kemudian tersenyum. "Aku di sini Hanna."


"Kau sudah makan? Aku akan menyiapkan sesuatu untukmu kalau kau belum makan." Hanna memperhatikan Riel yang berdiri di depan jendela seakan menatap sesuatu di kegelapan malam.


"Tenanglah, aku sudah makan, kau jangan mengkhawatrikanku Hanna, lebih baik cari Darko, dia sedang bersembunyi di suatu tempat, dia suka bermain petak umpet di dalam gelap." Mata Riel masih menatap malam gelap dari jendela.


"Kau tidak takut?" Tanya Riel tiba-tiba.


"Kenapa aku harus takut, Riel? Ada kau di sini." Ucap Hanna.


"Ya, kau benar Hanna, aku akan selalu melindungimu, dan satu hal yang ingin aku katakan kepadamu, mengenai Darko, aku harus mengatakannya, Darko tidak sama sepertiku." Ucapnya.


"Be..benarkah tidak sama? Maksudmu Darko tidak akan pernah berubah?" Senyuman hampir terurai dari wajah Hanna.


"Darko tidak sama denganku Hanna, aku dikendalikan oleh racun itu, tetapi Darko, tidak ada yang mengendalikannya, Darko sendirilah racunnya, kau harus berhati-hati padanya, kau mengerti."


"Kenapa aku harus berhati-hati pada putraku sendiri? Dia putraku Riel, dia bukanlah monster." Ucap Hanna terlihat marah, mengapa semua orang selalu menyuruhnya berhati-hati dengan putranya sendiri?


Riel berbalik menatapnya. "Suatu saat kau akan mengerti ucapanku, tidurlah, sebentar lagi Darko akan tidur jika dia lelah."


"Ta..tapi aku harus mencari Darko, Riel, sejak tadi kau bilang dia bermain petak umpat." Ucap Hanna.


"Aku akan mencarinya."


Hanna ragu dengan ucapan Riel, apa dia bisa mengendalikan Darko, karena Darko hanya mendengarkan perkataan Hanna.


~


"Aku sudah menemukan lokasinya Sir." Ucap Thomas.


Axton cepat-cepat menjawab telepon dari Thomas, "kirimkan lokasinya sekarang juga."


"Baik sir."

__ADS_1


Axton mendapatkan titik lokasi mobil yang telah digunakan Hanna. "Apa ini? Mobil itu berada di pinggiran kota Atlanta?" ucap Ax.


"Kita ke sana sekarang Ax, kemanapun dia pergi, kita akan menyusul mereka." Ucap Dazon. Tidak peduli sudah berapa lama mereka berada di dalam mobil, dan mengelilingi kota itu, mereka terus mencarinya, waktu tidak menjadi masalah, mobil mereka terus melaju melintasi kota ke kota, dan tiba waktunya mereka sampai di tempat yang di tuju.


"Kita sudah sampai Daz." Ucap Axton, sekarang pukul 12 malam hari, mereka keluar dari mobil, mereka memeriksa sekitar lokasi yang terlihat kosong, mereka mencari-cari mobil yang di maksudkan, tetapi sayang sekali, mobil itu sudah tidak ada di sana.


"Sial." Umpat Dazon. Dia berdiri sambil bersandar di mobil dan mengeluarkan rokok dan pemantik dari jaketnya.


"Kau merokok Daz?" Tanya Ax yang juga bersandar di sampingnya.


"Entah sejak kapan aku mulai merokok, mungkin sejak aku mendengar kabar-kabar aneh di mansion." Dazon menyalakan pemantiknya, asap rokok mengepul keluar dari mulutnya, dia kemudian menatap langit yang gelap seakan memikirkan sesuatu.


"Aku akui, perhatianku kepada Darko sangat sedikit, hanya Hanna yang selalu berada di sampingnya, aku bukan ayah yang baik, aku selalu membuat Hanna menangis, meskipun aku mencoba mengabaikan penyakit Darko dan berpura-pura semua baik-baik saja, tetapi kenyataannya tidak seperti itu, semakin hari aku mendengar banyak laporan dari orang-orang, juga dari rekaman cctv, meskipun bibi lexia ingin menyembunyikan video itu, tetapi aku sudah melihat yang dilakukan Darko."


"Mom? Maksudmu ibuku menyembunyikan video itu? Tapi kenapa? bukankah lebih baik kita segera mengetahuinya dan mencari jalan keluar untuk menyembuhkan Darko." Ucap Ax.


"Loue menghapusnya, tetapi dia terlambat selangkah, aku telah melihat video itu, bagaimanapun sewaktu di eropa, aku sibuk mencari dokter untuk Darko, tetapi aku tidak menemukannya, lalu Niel menawarkanku tentang pengobatan penyakit gangguan mental di sebuah pusat rehabilitasi di eropa, mungkin itu yang membuat Hanna marah padaku, seorang ayah tega memasukkan anaknya ke tempat seperti itu." Ucap Dazon sambil menggelengkan kepalanya.


Axton tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menepuk punggung Dazon, seakan memberikan semangat kepadanya dan berusaha mencari jalan keluarnya.


~


"Apa maksudmu Hanna dan Darko melarikan diri dari Mansion, apa yang dilakukan Dazon sampai Hanna lari dari mansion?" Ucap Lexia marah, setelah lexia menerima kabar itu, hari itu juga dia langsung berkemas-kemas dan berangkat menuju Atlanta.


Sama halnya dengan lexia. Xaphier pun menerima kabar itu, mereka berdua begitu shock dan juga mengambil penerbangan pertama menuju mansion di Atlanta.


"Semuanya sudah datang?" Tanya Dazon.


"Yup bersiaplah, sepertinya sebentar lagi akan ada keributan dari ibuku " ucap Ax.


~


Entah mengapa Riel menarik Hanna bersembunyi di belakang lemari, dia mengangkat satu telunjuknya di depan bibirnya menyuruhnya untuk diam.


"Ada apa Riel? Kenapa kita bersembunyi?"


"Sebentar lagi Darko akan datang."


"Lalu?" Ucap Hanna tidak mengerti.


"Perhatikan." Bisiknya.


Langkah kaki kecil itu berjalan dan naik ke atas tangga, kakinya terdengar menapaki tangga kayu yang meliuk, suaranya pun mengeluarkan senandung aneh, membuat Hanna memasang baik-baik telinganya dan mendengarkan dengan seksama.


"Mommy? Paman Riel?" Terdengar tawa merdu dari suaranya. "Sembunyilah paman Riel, Darko akan mencarimu, sampai menemukan paman dan mommy." ucapnya sambil tertawa, "Jangan sampai aku menemukan kalian."


Darko bersenandung dengan pelan, kali ini Hanna melepaskan tangan Riel, dia betul-betul marah melihat putranya seperti itu, dia tidak perduli putranya akan berubah menjadi apa nantinya, tetapi sebagai ibunya, dia harus menghadapi putranya bagaimanapun keadaannya. Langkah kakinya melangkah cepat, membuat Darko yang berjalan di kegelapan berbalik menatap Hanna.

__ADS_1


"Darko, Darko ini mommy, kau sedang apa sayang, tidak ada petak umpet malam-malam begini, waktunya untuk tidur." Ucap Hanna dengan suara tegas.


Darko berdiri dalam kegelapan, dia tersenyum dan melangkah perlahan-lahan mendekatinya, Hanna tahu di tangan Darko terdapat pisau dapur yang di pegangnya, Hanna tidak peduli lagi, dia berlari ke arah putranya dan memegang kedua bahu kecilnya dan mengguncangnya.


"Darko, darko ini mommy, kau tidak mengenal mommy? lihat wajah mommy, apa kau ingin melukaiku?" Ucap Hanna sambil menahan tangisnya.


Darko menggeleng cepat, "Aku bermain bersama paman Riel, bukan dengan Mommy, jadi mom tenang saja, aku akan selalu menjaga mommy." Ucapnya.


"Paman Riel tidak ada disini, hanya kita berdua saja yang berada di villa ini," Ucap Hanna, mereka saling menatap, hanya penerangan lilin dari kamar yang memberikan sedikit cahaya, mereka saling memandang.


"Paman Riel kemana mom? kami sedang bermain petak umpet koq."


"Paman Riel telah pergi, dia berada di luar sana menjaga kita, jadi jangan mencarinya lagi, paman Riel lelah, kau pasti juga sudah lelah kan sayang."


"Oky mom, sampai di sini dulu permainannya dengan paman." Ucap Darko. Hanna menghembuskan napas lega, tetapi senyuman aneh masih terlihat di wajah Darko, ketika tangan Hanna terlepas dari bahunya, Darko dengan gesit berlari, suara tawanya menggema di sekitar Hanna.


"Got you, paman Riel." Ucap Darko, Riel berbalik, dia begitu terkejut, dan saat itu dia tidak menyangka ketika Darko berlari ke arahnya, kakinya terasa perih dan hangat, sesuatu telah menyayat kaki Riel, setelah itu, Darko berlari dan kembali bersembunyi, tawanya terdengar tertahan merasa apa yang di mainkannya cukup lucu dan normal baginya.


Hanna berdiri mematung di sana, dia segera berlari mendekati Riel, salah satu kakinya tersayat dan mengeluarkan banyak darah. "Riel, oh tidak Riel, tu..tunggu sebentar, aku akan mengobatimu." Hanna menjadi pucat, bagaimana jika Riel tidak bisa menahan amarahnya? dia harus segera mengobatinya. Hanna menuju ke kamarnya, dia membawa kotak obat yang memang telah dia sediakan, setelah itu dia kembali ke tempat Riel yang masih berdiri mematung di sana.


Dengan tangan gemetar, Hanna mengambil kapas dan menunduk sambil menahan tangisnya, dia membersihkan kaki Riel dari darah yang berceceran di lantai, lukanya tidak dalam, tetapi sayatan itu cukup panjang di kakinya.


"Jangan khawatir Hanna, hanya luka sedikit, aku baik-baik saja, yang paling terpenting sekarang, kita harus mencari cara mengobati Darko, jika tidak, dia akan menjadi tidak terkendali, sampai saat ini, setidaknya dia masih mendengarkanmu, dia tidak akan melukaimu karena kau ibunya, jika situasinya terus memburuk, dia tidak akan memandang siapapun lagi Hanna, dia akan menjadi tidak terkendali suatu hari nanti." Ucap Riel.


~


Mereka semua duduk di ruang keluarga, Lexia sangat marah, begitupun Xaphier dan Nara, dia menunggu kedatangan Dazon dan Ax yang belum keluar dari kamar mereka masing-masing, setelah perjalanan malam mereka yang panjang dan melelahkan.


Suasana kurang mengenakkan selama sarapan pagi, karena tidak ada perbincangan. Setelah sarapan, mereka semua berkumpul di ruang keluarga.


Pandangan tajam lexia, membuat Dazon salah tingkah. "Jelaskan Dazon, kenapa Hanna meninggalkanmu, apa yang kau lakukan sampai berakhir seperti ini?" Dazon menarik napas panjang, wajahnya terlihat kusam, dia kemudian menceritakan semua yang terjadi di mansion.


"Ck, bagaimana bisa kau berpikiran sempit seperti itu Dazon, Darko itu darah dagingmu, kau harus lebih perhatian padanya dan menyayanginya, aku tidak mengerti dengan sikapmu, Ayah benar-benar kecewa padamu." Ucap Xaphier terlihat sangat marah, dia lalu berdiri dan segera meninggalkan ruang keluarga.


"Kau sudah mencarinya di mana saja Sayang?" Tanya Nara, dia sangat khawatir melihat keadaan putranya, Dazon terlihat berantakan, wajahnya terlihat pucat, lingkaran di bawah matanya masih terpeta di sana.


"Kami sudah mencarinya sampai ke luar kota, bibi Nara," Ucap Axton menjawab pertanyaannya.


Thomas tiba-tiba datang, dia membungkuk sebentar kepada mereka semua. "Tuan, ada laporan dari salah satu pengawal yang memberikan informasi tadi pagi, mereka mengatakan ada seorang wanita dan anak kecil tinggal di salah satu desa, dia baru saja datang dari kota dan menempati sebuah villa di desa itu." Ucap Thomas. Wajah Dazon tiba-tiba terangkat, dia kemudian berdiri ketika mendengarkan informasi itu.


"Desa? desa apa itu Thom?" tanya lexia.


"Desa itu bernama East Rosewell, desa itu berada di luar kota Atlanta, perjalanan menuju ke desa itu cukup jauh, tuan." Ucapnya.


"Tunggu apa lagi, kita akan berangkat ke sana sekarang." Perintah Lexia. Mereka semua bergerak, Dazon, Axton dan lexia akan segera berangkat, sedangkan Xaphier dan Nara akan menunggu di mansion, Nara sedang sakit, jadi dia tidak bisa pergi kemanapun, apalagi dia membutuhkan Xaphier di sampingnya.


"Lexia, segera kabari kami, jika kau telah tiba di sana." Lexia mengangguk dan mereka segera pergi menuju desa itu.

__ADS_1


__ADS_2