
Hotel Citywalk, Oklahoma
Xaphier menggandeng Nara masuk ke sebuah restaurant yang mewah dan tentu saja mahal, dua orang pelayan membawa Xaphier dan Nara ke ruangan khusus yang lebih privat, orang-orang yang duduk di sana menatap kedua pasangan elegan itu. Nara menatap ruangan mewah yang baru kali ini di datanginya, melihat tempat itu saja dia tahu orang yang hadir di sini bukanlah orang sembarangan.
"Xaphier? Kebetulan yang menyenangkan bukan?" Suara itu membuat keduanya menatap meja yang ada di sampingnya. Sosok tua itu tentu saja Melda, dia sedang makan malam bersama koleganya, dua orang yang hadir di sana turut berdiri karena dia jelas tahu siapa tuan Xaphier.
Mata Melda beralih kepada Nara, dia tersenyum miring, tentu saja matanya menatap tajam Nara seakan menilai keseluruhan dirinya. "Kau berada di sini untuk makan malam? Kenapa kita tidak makan malam bersama, aku juga harus mengenal istri manismu itu darling." Ucap Melda tanpa malu.
Xaphier tersenyum tenang. Salah satu rekan bisnis Melda dengan cepat memberikan isyarat kepada pelayan untuk menambah kursi agar mereka bisa duduk bersama tanpa mendengar ucapan Xaphier, dia yakin Xaphier akan menuruti keinginan Melda.
"Saya yakin kau tidak akan bertindak bodoh Melda jika kau tahu apa yang baik untukmu, jangan menyapaku seakan kita saling mengenal." Ucapan Xaphier membuat tamu-tamu Melda melirik kepada Melda dengan wajah bertanya-tanya dan bingung.
Xaphier melanjutkan langkahnya menuju tempat lebih privat bersama dengan Nara.
"Jangan pernah berbicara dengan wanita itu Nara, kau mengerti."
"Aku tahu, lexia juga sudah menjelaskan mengenai wanita itu." Ucapnya.
"Bagus, jadi abaikan dia jika kau bertemu dengannya." Bisik Xaphier lalu mengecup kening Nara membuatnya tersipu.
Ruangan itu sangat privat dengan tulisan besar di pintunya VVIP, dua pelayan segera melayani mereka berdua dan menghidangkan menu pembukanya.
"Anda bisa memanggil kami jika anda sudah siap memesan tuan." Ucap salah satu pelayan, setelah memberikan bungkukan sempurna mereka berdua keluar dari ruangan itu.
Nara membaca daftar menu yang tidak di mengertinya, dari gambarnya saja semua nampak lezat. "Kemarilah." Perintah Xaphier.
Nara tidak mengerti apa yang diinginkan Xaphier tetapi dia tetap menuruti keinginannya. Dia berjalan ke tempat duduk Xaphier yang ada dihadapannya. Tiba-tiba dia menarik pinggang Nara lalu tubuhnya jatuh di atas pangkuan Xaphier.
"Xaphier?" Ucap Nara sambil memandang wajah Xaphier yang tersenyum kepadanya.
"Kau ingin makan apa? Kau bisa memilih menu apa saja yang kau suka." Bisik Xaphier sambil memberikan kecupan-kecupan singkat di wajah Nara.
"Xaphier !" Tegur Nara ketika Xaphier menggodanya, dia menempelkan wajahnya tepat di leher Nara dan berlama-lama di sana.
"Cepatlah memilih, semakin lama kau tidak memilih semakin lama aku akan bermain sayang." Ucap Xaphier. Napas Nara kini memburu tidak tahan dengan serangan Xaphier.
"Aku..aku pilih ini." Bisik Nara mendesah ketika menunjuk salah satu menu paling atas di list teratasnya.
"Hem benarkah? Cepat sekali." Bisik Xaphier kecewa, akhirnya Xaphier melepaskan tubuh Nara dan membiarkan Nara kembali ke tempat duduknya. Jantung Nara berdetak cepat, dia tidak menyangka Xaphier akan melakukan hal seperti itu di restaurant mewah ini, meskipun diruangan itu hanya ada mereka berdua saja tetapi tetap saja Nara takut jika tiba-tiba pelayan masuk dan melihat adegan mereka berdua.
~
"Aku akan mencari Lovelia." Ucap Daren ketika mereka bertiga ada di ruang tamu sedang menikmati kebersamaan mereka di sore hari.
__ADS_1
"Tapi daren, lovelia bilang jangan mencarinya, bagaimana jika tuan Robert menemukan mereka dan melakukan sesuatu kepada mereka berdua." Ucap lexia sambil mencoba menenangkan Ax yang ingin turun dari pangkuan lexia dan bermain-main di lantai.
"Alvin harus menjelaskannya bukan? Lagi pula aku khawatir dengan lovelia, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja, bagaimanapun Alvin juga Pamannya, hubungan mereka tidak akan mungkin bisa bersama."
"Kemana kau akan mencarinya?" Tanyanya.
"Aku akan menghubungi Evan agar mengerahkan orang-orang Burchard untuk mencari Lovelia."
"Tapi bagaimana jika tuan Robert melakukan sesuatu kepada mereka berdua, Daren??"
"Aku tidak akan membiarkan tuan Robert menyakiti lovelia, bagaimanapun dia adalah keponakanku satu-satunya."
"Kalau begitu aku ikut denganmu sayang, kita bertiga akan mencari mereka, lagi pula Ax butuh jalan-jalan, iya kan sayang?" Ucap lexia sambil memberikan kecupan di pipi putranya.
"Kita tidak sedang tamasya lexia sayang." Ucapnya sambil menggeleng.
"Emm aku ikut, aku tidak akan membiarkanmu pergi jika aku tidak ikut." Ucap lexia keras kepala.
Daren menyerah dia akhirnya menyetujui keinginan lexia. "Besok pagi kita berangkat, aku akan menyuruh Evan menemukan lokasi mereka berdua."
~
Daerah itu begitu terpencil dengan villa mewah yang berada di tengah-tengah hutan dan dekat sungai, villa yang dimiliki oleh Alvin itu merupakan villa milik pribadinya, tidak ada seorangpun yang tahu bahkan ayahnya sendiri jika Alvin memiliki villa yang sangat jauh dari keramaian dan kebisingan kota. Sudah tiga hari mereka menginap di villa itu, lovelia sangat bahagia mereka menghabiskan hari-harinya dengan mesra.
"Lovelia? Waktunya sarapan." Bisik Alvin membangunkan lovelia yang masih terbaring di tempat tidur, dia sangat lelah dan masih mengantuk, Alvin tidak pernah melepaskan lovelia siang dan malam memadu kasih hingga kadang mereka lupa waktu.
"Jika kau tidak bangun, aku akan melanjutkan kegiatan panas kita yang terhenti semalam." Ucap Alvin menaikkan satu alisnya lalu tersenyum miring ketika lovelia dengan dengan gelagapan mencoba bangun dengan rambut berantakan hanya terbungkus selimut putih yang melorot hingga ke pinggangnya.
"Ugh, jangan mengintip, aku...aku akan bangun Alvin, tubuhku masih sakit kau tidak bisa melakukannya." Bisik lovelia dengan pipi merona.
Alvin terkekeh melihat lovelia yang masih malu-malu kepadanya, entah berapa kali mereka sudah menghabiskan waktu bersama, tetapi lovelia masih saja merona ketika Alvin menatapnya.
"Aku akan segera mandi dan sarapan jadi kau keluar dulu Alvin." Bisik lovelia, wajahnya masih merona dan memandangnya Dengan sembunyi-sembunyi, tubuhnya seperti mengingatkan keintiman di antara mereka berdua ketika lovelia menatap Alvin, respon di tubuhnya otomatis menggeliat dan mendamba ketika Alvin mendekatinya.
"Baik sayang, aku menunggumu di bawah." Ucapnya, segera Alvin keluar dari kamar dan meninggalkan lovelia dengan pipi merona dan sesuatu terasa bergejolak di tubuhnya.
~
Mereka sudah bersiap-siap untuk bertemu dengan Alvin dan lovelia, setelah memberitahu Evan mengenai keberadaan dua sejoli itu, dengan segera Evan dapat menemukan lokasi keberadaannya, tentu saja dengan akses yang dimiliki Burchard grup dia bisa mengetahui di mana keponakannya sekarang ini berada.
Lexia menggendong Ax lalu segera menuju mobil mereka, semua barang-barang sudah masuk ke dalam bagasi mobil dan mereka siap berangkat. Kali ini hanya Daren dan lexia saja yang ikut sedangkan para pengawalnya hanya mengikuti sampai batas kota Wilton, mereka akan bersiaga di sana, berjaga-jaga jika suatu saat mereka dibutuhkan oleh Daren.
"Yeeey, Ax akan berjalan-jalan bersama mommy dan Daddy." Ucap lexia ceria sambil memegang Ax yang bertepuk tangan dan tertawa-tawa di dalam mobil. Daren tersenyum senang melihat kegembiraan keluarga kecilnya, meskipun kali ini mereka pergi bukan untuk tamasya tetapi untuk mencari Lovelia, akan tetapi kegembiraannya terpancar di wajah Daren, dia memberikan kecupan kepada istrinya serta Ax, kemudian dia mulai mengendarai mobilnya dengan tiga mobil pengawalan di belakangnya.
__ADS_1
~
"Ikuti mobil mereka." Ucap salah satu pria dengan kacamata bertengger di hidungnya. Pria tua itu tentu saja saja adalah Sebastian dengan Pengawal-pengawal milik tuan Robert. Karena tidak tahu akan keberadaan Alvin dan lovelia, hingga tuan Robert memerintahkan untuk mengawasi daren, mungkin saja lovelia menghubungi pamannya dan semua itu benar adanya.
Mobil SUV berwarna hitam itu mengikuti mobil Daren dan Pengawal-pengawalnya, perjalanan mereka yang jauh cukup menyita waktu, beberapa kali Daren harus berhenti karena Ax yang rewel atau sekedar membawanya melihat-lihat pemandangan agar mood putranya kembali segar.
"Ukh, sampai kapan mereka akan berlama-lama? mereka seperti sedang bertamasya bukan seperti mencari keponakannya yang menghilang." ucap Sebastian menggelengkan kepalanya tetapi dia cukup terhibur juga melihat putra lexia yang menggemaskan meskipun dia melihatnya dari jarak cukup jauh dengan menggunakan teropong jarak jauh.
"Kenapa pangeran tampanku sangat rewel hari ini? kita akan tiba malam hari jika kita berhenti terus Axton??" ucap lexia sambil memberikan kecupan di pipinya sambil berpura-pura memarahinya.
Telepon Daren berdering, dia segera mengenakam earphonenya. "Ada apa Evan?" tanyanya.
"Sepertinya orang-orang tuan Robert sedang mengikuti kita tuan."
"Benarkah? dimana posisi mereka."
"Mereka tepat berada di belakang salah satu mobil pengawal kita."
"Biarkan saja, berapa pengawal yang dibawanya?"
"Hanya beberapa orang saja tuan."
"Halangi mereka dahulu, Sebelum aku bicara dengan Alvin dan lovelia, jangan biarkan mereka mendekati tempat mereka." ucap Daren.
"Baik tuan."
Daren mengambil napas panjang dan sekali lagi menghubungi ponsel Alvin dan lovelia yang tidak aktif sejak pagi tadi.
"Siapa yang mengikuti kita Daren?" tanya lexia.
"Sebastian dan orang-orangnya, tuan Robert pasti memiliki tujuan yang sama dengan kita, dia ingin menghentikan percintaan mereka berdua yang tidak mungkin.
"Sebaiknya kita dengar dulu penjelasan Alvin, Sebelum kau bilang hubungan mereka tidak mungkin Daren." ucap lexia.
Sepertinya Daren tidak menyetujui hubungan yang terjalin antara lovelia dan Alvin, meskipun alasannya karena hubungan darah yang tidak memperbolehkan mereka untuk bersama.
"Selain karena hubungan darah antara Alvin dan lovelia, apakah ada alasan lain kau tidak menyetujuinya Daren?" tanya lexia.
"Well, usia mereka cukup jauh dan.....
Mata lexia menyipit menatap Daren.
"Ada apa? kenapa kau memandangku seperti itu sayang?"
__ADS_1
"Usiamu bahkan lebih tua dari Alvin dan kau tetap menikahiku, padahal usiaku sama seperti lovelia, jadi apa masalahnya? apa kau cemburu keponakanmu di ambil pria lain?" lexia memeluk Ax erat lalu memandang Daren mata menyipit.
"Ax ayahmu sedang cemburu rupanya, seharusnya tadi kita tidak usah ikut saja ya." ucap lexia dengan senyum ironi kepada putranya yang bergumam-gumam di pangkuan lexia.