The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Perasaan Xaphier dan kemarahan lexia


__ADS_3

Pagi itu lexia terbangun dengan tangan Daren melingkar erat di sekitar pinggangnya menempel erat di tubuhnya, dia berbalik dan melihat wajah tampannya masih terlelap dalam. Lexia menatap jam di atas Nakas. "Emm, aku terlambat bangun lagi gara-gara pria ini." Ucap lexia sambil menarik hidung daren, sekali lagi lexia berpikir keras mengenai sikap aneh Daren semalam.


Mengapa dia marah padaku? Ugh Daren bodoh, apa yang membuatmu marah? Lexia menggerakkan tubuhnya kemudian berusaha bangun dari tempat tidurnya. Dia meregangkan tubuhnya dan mengernyit karena rasa sakit di sekitar tubuhnya. Lexia segera mengambil handuk yang jatuh di lantai semalam kemudian melilitkan di tubuhnya.


Lexia menghampiri Ax yang tidur dibox bayinya, tidurnya sangat lelap, tiba-tiba matanya terbuka lebar manakala ibunya mendekat. "Haah? Pangeranku sudah bangun yaaa." Ucap lexia mengambil Ax dari tempat tidurnya, kemudian menggendongnya sambil mengecup pipinya yang menggemaskan.


Lexia bersenandung kecil sambil menggendong putranya, Daren mengerjap dan membuka kedua matanya, menatap langsung lexia dan putranya. Dia kemudian tersenyum, kemudian bangkit dari pembaringannya lalu memberikan kecupan kepada istri dan putranya.


"Selamat pagi sayang." Ucapnya. Lexia membalas ciuman daren, mereka membawa Ax ke teras di depan kamarnya sambil menikmati udara segar di pagi itu.


~


Xaphier menolehkan kepalanya menatap kepada istrinya yang sedang membaca di sampingnya, kali ini Xaphier mengajak Nara duduk bersamanya di ruangannya, Xaphier cukup banyak menghabiskan waktunya akhir-akhir ini hingga kebersamaannya dengan Nara cukup sedikit. Matanya kembali menengok kepada Nara yang sedang serius membaca, mata safirnya melembut manakala menatap ketenangan yang di pancarkan dari diri Nara, hanya bersama dengannya dalam satu ruangan begini saja membuat Xaphier merasa tenang dan nyaman.


"Nara, bagaimana perasaanmu kepadaku." Ucapnya tiba-tiba.


Nara yang tidak menyangka mendapat pertanyaan seperti itu membuatnya terkejut bibirnya membuka menutup dalam satu waktu, entah jawaban apa yang harus Nara katakan, dia tipe wanita yang pemalu untuk mengungkapkan perasaannya sendiri. Meskipun dia ingin mengatakan sesuatu yang membuat pria di sampingnya itu tenang tetapi bibirnya tidak mau membuka.


"Sudahlah, aku tidak akan memaksamu untuk menjawabku." Ucapnya. Xaphier kembali melanjutkan pekerjaannya, tetapi suasana hatinya sedikit memburuk karena dia tidak mendengar jawaban dari Nara, dia ingin mengetahui apa yang disembunyikan di kepala cantik istrinya mengenai dirinya. Meskipun dia tahu pernikahannya karena keinginan egoisnya, awalnya dia menginginkan tubuh Nara, jadi semudah itu dia mengklaimnya dan menjadikannya istrinya dia suka atau tidak.


Hening dalam waktu yang lama tetapi suara lembut yang keluar dari bibir Nara terdengar juga.


"Aku sedih dan kecewa...


Kalimat itu membuat Xaphier menatap Nara dengan emosi yang dalam, tetapi dia tidak menyela perkataannya.


"Aku sedih dan kecewa jika kau tidak ada di sampingku ketika kita selesai bercinta, aku...aku merasa kau hanya menginginkan tubuhku tetapi tidak hatiku, aku menginginkanmu berada di sampingku dan mengatakan sesuatu untuk....


Belum selesai Nara berbicara, Xaphier sudah bergerak dari tempatnya duduk lalu menghampiri Nara, dia memeluk erat tubuhnya, dan mengangkatnya hingga pelukan itu semakin erat.


"Aku mencintaimu." Ucap Xaphier, mata Nara melebar dan tidak percaya dengan kalimat yang didengarnya. Dia tertegun seakan ucapan Xaphier hanya sebuah mimpi indah baginya. Tiba-tiba air matanya keluar begitu saja dan jatuh di pipi Nara. Kecupan manis mendarat dibibirnya. "Aku mencintaimu Nara, aku tahu jika aku memaksakan keinginanku kepadamu, tetapi satu hal yang yang harus kau tahu bahwa aku mencintaimu." Ucapnya.


Nara tersenyum lalu memeluk erat tubuh Xaphier. Nara tiba-tiba memberikan kecupan di bibir Xaphier dan baru kali ini pertama kalinya dia melakukannya. "Xaphier aku...aku" tiba-tiba bibirnya tertutup dengan satu jari Xaphier.


"Jangan mengatakan apapun dulu, aku tidak meminta kau menjawabnya sekarang, aku tahu selama ini aku selalu memaksamu tetapi aku ingin kau tahu kau paling berarti dalam hidupku, kau mengerti?" Ucap Xaphier.


Nara mengangguk, dia tersenyum senang sambil membalas pelukan Xaphier di tubuhnya. Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dan lexia segera menutup pintunya kembali setelah mengucapkan 'sorry mengganggu.' Sambil terkikik.

__ADS_1


"Ketuk pintunya lexia." Teriak Xaphier.


Terdengar ketukan beberapa kali dari pintu ruangannya. "Masuk." Lexia masuk sambil terkikik lalu membanting tubuhya ke atas sofa empuk milik Xaphier.


Daren menyusul dengan Axton berada di gendongannya. "Tumben kalian kemari, ada apa?" Tanyanya.


"Bagaimana kalau kita semua makan malam bersama di luar, jika kau setuju kami akan menghubungi Alvin dan lovelia." Ucap lexia.


Xaphier memandang Nara. Wajahnya terlihat berseri-seri mendengar ide dari lexia, padahal Xaphier ingin berlama-lama dan bermesraan bersama Nara.


'Lexia mengganggu saja, datang di waktu yang tidak tepat.' gumam Xaphier.


"Baiklah, kami sebentar lagi akan bersiap-siap."ucap Xaphier mengalah, melihat binar mata bahagia terpancar dari wajahnya membuat Xaphier memutuskan untuk menekan segala keinginannya untuk berdua saja bersama istrinya.


~


Malam itu mereka semua berkumpul di sebuah restaurant di hotel milik keluarga Caesaar, setelah memesan tempat khusus mereka berenam saling berbincang, lexia sedang menelepon baby sitternya untuk menanyakan keadaan putranya, setelah selesai menelepon dia kembali ke tempat duduknya dan bergabung bersama yang lainnya. "Bagaimana dengan Ax?" Tanya Nara ketika lexia sudah duduk kembali.


"Dia sedang tidur, aku hanya khawatir kalau dia bangun dan tidak melihatku dia pasti menangis." Ucap lexia.


~


"Ya, dia Xaphier, kenapa kau begitu heran? Hotel ini adalah miliknya."


Matanya beralih pada wanita yang duduk menyamping berambut coklat dengan dress berwarna biru malam, dia Sedang tersenyum ketika mereka sedang berbincang.


"Wanita itu lagi." Ucapnya.


"Wanita itu lagi? Siapa yang kau maksud Adrick?"


"Tidak, bukan apa-apa." Ucapnya. Dia tidak mau memikirkan wanita yang telah menghinanya, dia wanita yang sudah memiliki keluarga dan dia sama sekali tidak mau memiliki konflik dengan wanita yang sudah berumah tangga, jadi Adrick memutuskan tidak membawa ucapan wanita itu dengan serius, lebih baik dia menghindarinya, tetapi tetap saja lagi-lagi dia bertemu, dan anehnya matanya tidak mau berpindah sekali dia melihat wanita itu ada di sana.


"Sepertinya aku cukup mabuk, kita pindah ke tempat lain, aku tidak mau berada lama-lama di hotel milik saingan Keluargaku." Ucapnya.


"Haha kau aneh adrick, tapi idemu bagus juga, aku ingin ke tempat yang lebih ramai dan jangan lupa hubungi Alfon dan suruh dia mencari wanita yang bisa menemani malam sepi kita, aku tidak mau menghabiskan malamku hanya mengobrol denganmu." Ucapnya penuh ironi.


"Lexia?" Ucap pria itu.

__ADS_1


Lexia berbalik dan menatap pria berambut coklat dan bermata biru terang. Tentu saja lexia tidak lupa dengan wajah William Luther, dia berjalan hendak keluar dari restaurant itu tetapi matanya menangkap sosok lexia di sana.


"Apa kabar William, sudah bertahun-tahun tidak melihatmu." Ucap daren, pandangannya masih sama, dia tidak menyukai pria itu meskipun permusuhan mereka sudah lama usai.


"kebetulan sekali kita berjumpa, senang berjumpa denganmu kembali lexia, Ah ya, kau tentu tidak lupa teman priamu bernama Edoardo, aku sudah memecatnya dari tempat kerjaku, dan sepertinya dia bekerja di keluarga Tuan Robert tetapi terakhir yang kudengar dia pergi meninggalkan negara ini dan kembali ke Meksiko." Ucapnya.


Wajah lexia seketika berubah ketika mendengar nama Edo. "Dia kembali ke Meksiko?" Ucap lexia terkejut.


"Ya, dia tidak memiliki apa-apa lagi di Manhattan dan dia juga tidak berguna buatku jadi kupecat saja dia, jangan khawatir bagaimanapun juga wajahnya masih bisa dikenali koq, dia tidak begitu cocok dengan orang-orangku jadi mereka menghajarnya habis-habisan dan...


Tanpa siapapun sangka lexia sudah berdiri dan memberikan satu pukulan di wajah William, tatapannya begitu tajam, lexia tidak tahan mendengar ocehan panjang William mengenai Edo, dia memperlakukannya dengan buruk? lexia sudah menganggap Edo sebagai saudaranya sendiri.


Daren lalu berdiri memegang lexia agar tidak menyerang William yang mundur beberapa langkah karena pukulan lexia.


"Wow wow lexia, tenang girl, aku cuma bercanda, Edo baik-baik saja, dia memang kembali ke Meksiko karena dia sudah memiliki usaha yang cukup bagus di sana, aku hanya menggodamu, aku hanya ingin tahu apakah lexia yang liar masih ada?" Ucapnya sambil terkekeh lalu mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


Pandangan mata lexia begitu tajam tanpa senyum di wajahnya meskipun William hanya bercanda. "Ok ok aku pergi Daren, jangan marah lexia, sampai nanti." Ucapnya, William pergi tanpa rasa bersalah dan mereka masih mendengar kekehannya.


Daren mengambil napas panjang, lalu bersidekap memandang lexia. "Kau harus mengontrol emosimu itu sayang, bagaimana jika aku tidak ada, kekuatan pria berbeda dengan wanita." Ucapnya.


Suara tawa terdengar dari Xaphier dan Alvin tetapi berbeda dengan Nara dan lovelia, mereka berdua begitu terkejut melihat lexia memukul pria itu, meskipun ada pandangan kekaguman dari lovelia.


"Berhenti tertawa Xaphier, kau seperti orang idiot." Ucap lexia mendelik kepada mereka berdua.


"Apa kita pulang saja, orang-orang memandang ke tempat kita." Ucap Xaphier terkekeh.


Lexia mengambil napas mencoba mengatur emosinya, dia meminta maaf kepada Nara dan lovelia, karena mereka semua harus pulang karena keributan yang dilakukannya.


"Jangan khawatir lexia, kita juga sudah cukup lama di sini." Ucap Lovelia dan Nara. Mereka beranjak dari tempat duduknya, tamu-tamu yang ada di ruangan itu tidak berhenti memandangi mereka berenam, meskipun begitu Xaphier dan Alvin merasa terhibur dengan aksi lexia malam ini.


~


"Haha, siapa wanita itu? Berani sekali gadis itu, apakah dia wanitanya Xaphier?" Tanyanya.


Sudut bibirnya terangkat. "Dia adik perempuan Xaphier." Ucap Adrick.


"Benarkah? Xaphier memiliki seorang adik? Aku sama sekali tidak tahu itu." Ucapnya.

__ADS_1


"Yah, bisa di duga sih, karakternya tidak jauh berbeda dengan kakaknya Xaphier caesaar, suka menimbulkan masalah dan tidak kenal takut, apa sebaiknya aku mendekatinya?" Tanyanya.


"Dia sudah menikah." Ucap Adrick, pandangannya masih berlama-lama kepada sosoknya yang sudah keluar dari lobi hotel.


__ADS_2