The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 16


__ADS_3

☕HAPPY READING TEMAN-TEMAN READERS, JANGAN LUPA LIKE VOTE AND COMENTNYA YAAAA☕


🎬


Sangat mengejutkan, siapa saja yang melihat keadaan Ax Sekarang ini, semua atribut milik nama besar Caessar dan Burchard telah di copot dari diri Ax, saat ini mereka berdua telah berada di pesawat yang akan mengantarkan keduanya ke sebuah desa bernama Turtle The Reaves, mereka berdua duduk berdampingan saling berpegangan tangan di pesawat. Saat itu Ax menatap ke sebelah jendela pesawat dan mengingat kembali ketika perpisahan dengan ayah dan ibunya beserta keluarganya.


Waktu itu, ibunya menahan tangisnya kuat-kuat agar putranya tidak melihat air mata yang akan menggenangi pipinya, dia mempercayai Ax akan bertahan dalam kondisi apapun.


Perpisahan itu begitu cepat, Daren memeluk putranya sebentar dan melepasnya pergi, Ax berbalik dan menatap Dazon tersenyum kepadanya penuh arti.


~


"Kau baik-baik saja Ax?" Tanya Fairley.


Dia tersenyum kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Fairley. "Aku akan baik-baik saja selama kau ada di sampingku." Ucapnya. Fairley mengecup kening Ax dan menyandarkan kepalanya juga.


Seseorang berjalan mendekati mereka berdua, lalu berhenti di hadapannya.


"Tuan, Sebentar lagi kita akan tiba, sebaiknya anda bersiap-siap." Ucap Thomas. Kali ini Thomas dan Evan mengikuti tuan mudanya sampai ke desa itu dan mengantar mereka sampai pendaratan terakhir. Ax menganggukkan kepalanya, dia kemudian menatap pakaian yang di kenakannya, sama sekali tidak sesuai dengan dirinya yang sekarang. Dia melepaskan jaket kulitnya yang berwarna hitam dan hanya mengenakan t-shirt hitam dan jeans saja.


10 menit lagi pendaratan akan dilakukan. Ax dan Fairley menatap tempat itu, Ax mengingat ketika ibunya bercerita ketika dia pernah terjatuh dari jurang dan ditolong oleh penduduk desa yang ada di sana.


"Kita turun sekarang Fairley." Ucap Axton menggenggam tangannya.


~


Desa itu bernama Turtle The Reaves bagian selatan yang paling dalam di Oklahoma, dulunya populasi penduduk di desa itu sangat sedikit hanya berkisar 234 orang saja, dan dulunya penduduk di sana masih memiliki peraturan yang ketat mengenai siapa saja yang masuk dan keluar desa mereka. Dilengkapi senjata seperti tombak ataupun panah, masyarakat di sana masih menggunakan senjata yang berasal dari alam.


Mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dan peternak, dan beberapa bekerja sebagai Officer yang menjaga desa mereka tetap aman. Sekarang semua itu telah berubah, selama beberapa tahun desa turtle the Reaves, sudah mengalami kemajuan yang cukup pesat, desa itu sudah terbuka dan menerima siapa saja pendatang yang masuk ke desa mereka, selama kedatangan mereka baik dan tidak mengganggu ketentraman masyarakat desa.


Pepohonan dan pegunungan serta Padang rumput yang luas menjadi pemandangan pertama kali di mata keduanya, indah dan memukau bahkan spektakuler, hal itu bisa di ucapkan kepada orang-orang yang datang ke sana untuk berlibur saja atau ingin menghabiskan waktunya bersama keluarga, berbeda dengan mereka berdua, mereka harus hidup di sana dengan jerih payah mereka sendiri.


Mereka tiba di perbatasan desa, tas-tas dan Koper mereka masing-masing ada di kedua tangan Ax dan Fairley.


Thomas dan Evan hanya mengantar mereka berdua sampai di perbatasan desa dan menatap kepergian tuan mudanya yang akan menjadi pria normal tanpa embel-embel tuan di depan namanya.


Fairley begitu gugup, dia menelan ludahnya dan menatap desa berkembang itu, meskipun selama ini dia tinggal dan hidup mandiri dengan bekerja, tetapi pekerjaannya tentu sangat berbeda jika dia berada di desa ini, apa yang akan mereka lakukan?


"Kau siap?" Tanyanya.


Fairley menganggukkan kepalanya dan kini mereka sudah berjalan sambil menyeret koper dan tas yang tersampir di belakangnya.


Thomas dan Evan menatap mereka sampai mereka mendekati pintu gerbang desa itu.


"Semoga Tuan Ax bisa melewatinya." Ucap Evan melihat kepergian tuan mudanya. Thomas melihat mereka berdua dan memastikan semua laporannya sampai kepada tuan muda Dazon.


"Mereka telah tiba di desa tuan." Jawab Thomas melalui earphonenya.


~


Penduduk desa itu tidak begitu banyak, seperti hari-hari sebelumnya mereka melakukan aktivitas mereka seperti biasanya, Beberapa orang memperhatikan kedatangan mereka berdua.

__ADS_1


Ax menatap selembar kertas yang diberikan Thomas kepadanya, tempat itu adalah rumah yang akan mereka tinggali, mereka harus berjalan terus dan jauh dari pusat desa, di dekat pepohonan dan Padang rumput yang begitu luas mereka akhirnya menemukan rumah kecil dengan pagar yang terbuat dari kayu dan cerobong asap di puncak rumahnya. tertulis di sana kediaman keluarga Axton dan Fairley.


Fairley menatap rumah itu dan bergerak tidak nyaman di samping Ax, perlahan dia menatap Ax di sampingnya.


Apakah Ax baik-baik saja dengan keadaan seperti ini?


Ax tersenyum menenangkan kepada Fairley dan membawa koper-koper mereka masuk ke dalam rumah, "Ayo masuk, kita bisa melihat-lihat dulu, setelah itu kau bisa beristirahat." Ucap Ax.


Fairley menggeleng tidak setuju. "Aku tidak akan istirahat jika kau tidak bersamaku, jika kau tidak letih, kita bisa berbenah dan memperbaiki kembali tempat ini, aku ingin menanam bunga dan sayuran nanti di sini." Ucap Fairley sambil menunjuk halaman rumah dengan tanah yang menggembur tetapi hanya ditumbuhi oleh rumput-rumput liar.


Mereka berdua membuka pintu rumah dan masuk ke dalam, tempat itu layaknya sebuah kabin yang kesemuanya dindingnya terbuat dari kayu, ketika masuk, ruang tamu kecil menyapa mereka dengan dinding polos tanpa hiasan apapun, dua kursi rotan sederhana sudah ada di sana begitupun dengan mejanya.


Ax meletakkan koper mereka dan tas-tas mereka, dia menatap rumah mungil yang sederhana itu, kemudian dia mulai memeriksa ruangan kecil yang akan menjadi kamar mereka nantinya, kamar tidur mungil dengan luas 3x3 dengan jendela langsung menghadap ke arah taman. Ax memperhatikan setiap sudut kamar dan melihat semua di dominasi oleh kayu yang menutupi semua permukaan dinding.


Sementara itu Fairley mulai bersih-bersih, dia mengambil sapu yang ada di pojok di dekat pintu, dan mulai menyapu lantai yang terlihat berdebu serta dedaunan yang masuk ke dalam rumah karena tertiup angin.


Ax memeriksa semua sudut tempat tinggalnya, dia kemudian menuju ke pintu belakang rumah mereka, pintu itu langsung terhubung dengan padang rumput dan sungai yang mengalir tidak begitu jauh dari rumah mereka.


Ax memegang pagar belakang rumahnya dan menatap pemandangan yang terbentang luas di sana, pemandangan hijau yang indah dengan beberapa bukit kecil yang bisa mereka daki ketika mereka berdua ingin berjalan-jalan, serta aliran sungai yang terdengar nampak menenangkan.


"Kau di sini?" Ucap Fairley yang sejak tadi mencari Ax.


"Pemandangannya indah kan?" Ucap Ax.


Fairley menatap kagum pemandangan di hadapannya, "indah sekali Ax, erm..tetapi kau tahu? satu hal yang pernah kubaca buku di perpustakaanmu, emm jika kita meyintas di hutan, semakin indah pemandangan yang kau dapati maka semakin sulit kita akan mendapatkan makanan." Ucap Fairley.


Ax kemudian tertawa di sebelahnya lalu mengacak rambut Fairley. "Itu memang betul, tetapi kita kan tidak menyintas di hutan, tetapi sekarang yang perlu kita lakukan adalah bekerja di desa ini."


"Sama saja kan, tempat ini baru untuk kita berdua, sama seperti seorang penyintas yang bertahan di hutan, meskipun aku dulu tahu cara mendapatkan uang, tetapi pekerjaan itu kudapatkan di pusat kota, aku sama sekali tidak tahu cara mendapatkan uang jika kita tinggal di pedesaan seperti ini." Ucap Fairley mencibir.


Fairley tiba-tiba memeluk Ax dan memberikan kecupan singkat di bibirnya.


"Aku mencintaimu Axton." Ucapnya.


Dia membenamkan wajahnya di dada bidang Ax dan menghirup aromanya.


"Kenapa tiba-tiba? Apa kau pikir aku tidak akan sanggup melakukan itu semua?" Tanya Ax mengangkat wajah Fairley di depannya.


Fairley tersenyum manis. "Aku percaya kau bisa melakukan semuanya." Ucapnya.


"Jangan tersenyum menggoda seperti itu sayang, tempat tidur kita belum siap," bisik Ax.


~


"Dia akan sanggup." Ucap Daneil percaya diri sambil mengangkat gelas winenya tinggi-tinggi.


"Tidak akan, kak Ax tidak akan sanggup hidup menderita, dia akan menaikkan bendera putih kepada kakek Caesaar tidak lama lagi." Ucap Jennifer sambil menggelengkan kepalanya.


"Mengapa kau diam saja Dazon? biasanya kau paling pandai mengejek." Ucap Daneil sambil memperhatikan Dazon yang menopang dagu di tangannya.


"Aku... penasaran, aku ingin melihat bagaimana mereka menjalani hidup tanpa uang sepeser pun di kantongnya." Ucap Dazon, rasa penasaran kini kembali menggerogotinya. Dazon adalah tipikal anak yang semakin di larang maka keingintahuannya semakin besar dan semakin ingin menentang, itulah mengapa biasanya dia tidak bisa sejalan dengan pikiran ayahnya maupun kakeknya.

__ADS_1


"Apa kau tidak ingat ucapan kakek Caesaar? Kau akan di kirim ke Inggris dan kau akan disuruh belajar hingga kepalamu menjadi botak." Ucap Daneil, dia kemudian bergidik ngeri karena membayangkannya.


Dazon masih menopang dagunya menatap wine di dalam gelasnya seakan mencari Ilham atau inspirasi di sana, jejak senyum tergores di bibirnya, bukan senyum manis atau senyum normal pada umumnya tetapi senyuman itu terlihat penuh intrik dan pembangkangan.


~


Pukul 8 malam Desa Turtle of the Reaves


Fairley memeriksa sesuatu di dalam kopernya dan mencari-carinya, kemudian jejak senyum terlihat di wajahnya. Dia kemudian mengeluarkan dompetnya dan melihat beberapa dollar ada di sana, uang itu dia simpan ketika menerima gajinya dari bekerja di restaurant paman jhon. Fairley mencium dompet itu dan mengibarkan uang itu di depan matanya.


Ax masuk ke dalam kamar mereka yang sudah tertata rapi.


Dia mengernyitkan dahinya. "Uang?" Tanyanya, "dari mana kau dapatkan Fairley?"


Fairley tersenyum senang. "Uang ini ada di dompetku, ini upahku ketika bekerja di restaurant paman Jhon dan di perpustakaanmu." Ucap Fairley.


Ax tiba-tiba mengambil tasnya dan membongkar isinya, kemudian dia berpikir bahwa dia sangat bodoh, mengapa dia tidak mengambil uang sebanyak mungkin sebelum datang kemari?


"Aku betul-betul idiot, seharusnya aku membawa uang dulu untuk memenuhi kebutuhan kita berdua, selama kita mencari kerja di desa ini, kita tidak tahu sampai kapan kakek memberikan batas waktu." Ucapnya , Ax mengguncangkan tasnya mengeluarkan semuanya di atas tempat tidur itu dan mencari-cari dompetnya.


"Ada, dompetku ada Fairley, apa ibu yang memasukkannya?" Teriak Ax seakan memenangkan sesuatu, dia kemudian menggenggamnya erat, baru kali ini dia menatap dompetnya begitu penting, biasanya dia tidak pernah perduli dimana dompetnya, atau berapa uang cash di dalam dompetnya karena dia hanya menggunakan Black card atau golden card No limit yang selalu utuh di dompetnya.


Kali ini jantung mereka berdua berdebar cepat, menanti dengan berharap uang yang ada di dompet Ax melebihi kebutuhan hidup mereka selama beberapa bulan sebelum mereka berdua mendapatkan pekerjaan.


Keduanya mengintip pelan-pelan dan Fairley terlihat melompat dan memeluk Ax. "Ax, uangmu cukup untuk kita berdua untuk sebulan kedepan di tambah dengan uangku." Ucapnya.


Tetapi Ax tidak menampilkan wajah bahagia, dia kemudian menarik napas panjang. "Apa ini cukup untuk sebulan Fairley? Setahuku kebutuhan seorang wanita kan banyak, seharusnya aku mensiasati ini sebelum kita berangkat." Ucap Ax menyesali kebodohannya.


"Jangan khawatir, aku akan berhemat dan mulai besok kita akan mencari pekerjaan." Ucap Fairley bersemangat.


Ax mengangguk dan memeluk Fairley. "Untung kau ada di sisiku, aku tidak akan bisa bertahan jika seorang diri saja Fairley." Bisik Ax.


Malam itu mereka berdua larut dalam mimpi indah, setelah lelah menghabiskan malam yang panas dan dipenuhi hujaman Ax kepada Fairley yang energinya terkuras karena kebutuhan Ax yang sungguh besar kepadanya, akhirnya mereka terlelap pada jam 2 pagi dini hari.


~


Suara kicauan burung terdengar begitu jelas, air mengalir dari sungai membuat mereka berdua masih larut di buai mimpi, Ax yang pertama kali membuka kedua matanya karena merasakan hangat mentari sudah masuk ke dalam kamar mereka.


Dia terbangun, dan menutup sebagian wajahnya karena silaunya sang surya sudah menerangi kamar mereka.


Ax bangun dan segera masuk ke dalam kamar mandi, dia menatap kamar mandi kecil itu beberapa detik, kemudian tanpa mengucapkan apa-apa dia lalu mandi. Setelah mandi, Ax mencari pakaiannya yang sudah di tata oleh Fairley di dalam lemari kecil, di dalamnya pakaian Ax dan Fairley saling berdampingan, sementara pakaian dalamnya saling menumpuk begitu saja karena tidak ada ruang lagi di lemari itu untuk memisahkan pakaian dalam mereka.


Ax berjalan menuju dapur dan memeriksa Semuanya, Untungnya ada kulkas kecil di dapur itu untuk penyimpanan makanan, satu kompor gas serta wadah pembakaran yang tersambung dengan cerobong asap di luar rumah untuk menghangatkan rumah mereka.


Ax membuka kulkas dan..kosong, tidak ada apapun di dalamnya, sama sekali kosong. Sementara itu dia kembali membuka lemari dapur dan juga kosong, tidak ada apapun untuk mengisi perut mereka pagi hari itu.


Ax kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya dan mencari dompetnya, dia ingin membeli sesuatu untuk sarapan mereka pagi ini. Fairley terbangun dan membuka kedua matanya.


"Morning sayang." ucap Ax, dia menghampiri Fairley dan memberikan kecupan selamat pagi.


"Bangunlah, pagi ini kita akan berbelanja untuk mengisi kulkas kita yang kosong dan mencari sarapan pagi." ucap Ax. Fairley menganggukkan kepalanya dan segera mengambil handuk kecil berwarna putih dan menutupi tubuhnya, Ax mengambil dompetnya dan menaruhnya di saku jaketnya.

__ADS_1


Ax memperhatikan Fairley berkutat melepaskan selimut dari tubuhnya dan ingin menggantinya dengan handuk. "Kenapa kau tidak melepaskan saja selimutnya Fairley, apa kau masih malu padaku? percayalah, aku sudah menghapal setiap jengkal bagian tubuhmu sayang, jadi kau tidak perlu menutupinya." Ucap Ax.


"Tidak mau, kau tidak boleh melihatku tanpa sehelai benangpun pagi ini, nanti kepergian kita untuk berbelanja tertunda lagi karena kau akan menyerangku." Ucap Fairley masuk ke dalam selimutnya dan melilitkan handuk ke tubuhnya dengan susah payah. Ax menghembuskan napasnya menggeleng tidak mengerti, dia lalu menarik selimut Fairley hingga jatuh di lantai kamar dan segera lari keluar dari kamar sambil tertawa.


__ADS_2