The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 23


__ADS_3

Teriakan kencang di bandara terdengar dari mulut Ax, dia sama sekali tidak tahu jika Fairley mengambil keputusan itu dan meninggalkan Ax di mansion seorang diri, Ax berlarian di bandara dan menatap list waktu keberangkatan yang membawa Fairley ke Manhattan bersama ayah dan ibunya.


"Kenapa Fairley melakukan ini padaku?" Ucap Ax, kali ini dia berlarian menyusuri tempat keberangkatan para penumpang. "Sial tidak ada," ucap Ax menarik rambutnya gusar mencari ke kiri dan kanan tetapi dia sama sekali tidak menemukannya, sudah setengah jam dia berputar-putar di bandara.


Hari itu, dia bangun dari tempat tidurnya tanpa ada Fairley di sampingnya, dia pikir Fairley sedang ke kamar mandi atau dia sedang berjalan-jalan di taman.


Sampai Ax mencurigaiya, ketika sudah lewat 30 menit, Fairley sama sekali tidak kembali kepadanya, Ax berlarian di sekitar taman, berteriak-teriak mencari Fairley.


Dazon yang melihat Ax berlarian dan berteriak di sekitar taman ikut mencari Fairley, "Ax periksa cctv, mungkin saja kau bisa lihat di mana Fairley berada." Ucap Dazon kembali dan menemukan Ax seperti orang bingung di taman.


Telepon Ax berdering dan dia melihat nama kakeknya tertera di layar ponselnya.


"Halo kek, kakek dimana Fairley?" Tanyanya, suaranya bergetar marah.


"Fairley ikut bersama ibumu ke Manhattan, dia memberitahu kakek keputusannya, karena jika dia terus di sampingmu kau sama sekali tidak mengambil keputusan."


"Kau akan ikut bersama ayahmu ke Italia." Ucapnya.


Ax terdiam, dia kemudian menutup ponselnya, ponselnya kembali berdering dan kali ini Fairley yang meneleponnya.


"Fairley, apa yang kau lakukan, kenapa kau mengambil keputusan semaumu." Bentak Ax, membuat orang-orang berbalik menatapnya.


"Maafkan aku Ax, aku akan menunggumu bersama anak kita di mansion Burchard."


"Anak? Apa maksudmu, apa kau....hamil?" Tanyanya.


"Aku sedang hamil Ax, maafkan aku mengambil keputusan seperti ini, aku..aku ingin bersamamu, sangat ingin, tetapi aku tidak mau melihatmu menderita susah payah mencari pekerjaan di desa itu, kami akan menunggumu di mansion." Ucap Fairley.


Ax terdiam, tanpa mengucapkan apapun lagi, dia menutup ponselnya dan kembali ke mansion, dia sangat marah dengan keputusan Fairley. Kemudian Axton mengirimkan pesan kepada Fairley.


"Jika kau mencintaiku dan ingin bersamaku, datang ke desa itu, jika kau tidak datang, hari itu juga aku akan berangkat ke milan, semua terserah padamu."


Ax melempar ponselnya ke sembarang tempat lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Gadis bodoh, memangnya dia tahu apa yang paling membuatku menderita?" Ucapnya.


~


Dazon berjalan di taman, setelah mengecek cctv, dia menemukan Fairley bersama bibi lexia naik ke dalam mobil, mereka sepertinya betul-betul meninggalkan Ax."

__ADS_1


"Ck, kenapa aku yang pusing seperti ini, mereka akan tahu keputusan yang tepat untuk mereka berdua." Ucap Dazon, dia berjalan di sekitar taman mansion, kali ini dia melihat gadis itu sedang makan seorang diri di taman, layaknya sedang tamasya, dia menggelar kain di atas rerumputan dan menikmati makan siangnya seorang diri di sana, sambil menikmati udara di tengah-tengah taman.


"Apa dia pikir ini taman umum untuk berekreasi?"


Gadis itu bersenandung, seperti dia sangat menikmati pemandangan dan makanannya, tanpa Dazon sadari dia duduk membelakangi gadis itu, lalu menyandarkan tubuhnya di bangku taman sambil menatap langit, senandungnya cukup membuat Dazon nyaman.


"Hanna, apa yang kau lakukan di sini? Kalau penjaga melihatmu dia akan memarahimu, ayo, kita kembali ke dapur dan kau makan di sana," Suara seorang wanita itu membuat alis Dazon mengernyit, dia kemudian membuka matanya.


"Bibi itu benar-benar pengganggu." Gumam dazon.


Dia mengintip dari balik pepohonan, gadis itu sudah tidak ada lagi di sana. "Ck, sudahlah, apa yang kulakukan di sini, apa aku gila?" Gumamnya.


~


Pesan itu masuk ke ponsel Fairley, satu jam lagi pesawatnya akan tiba di Manhattan, keraguan jelas terukir di wajahnya, dia sangat sedih berpisah dengan Ax, meskipun hatinya mantap akan bertahan selama 2 tahun, tetapi air matanya tidak berhenti mengalir, dan dia menyembunyikan wajahnya dari lexia.


Dia kembali menghapus air matanya, jika boleh jujur, dia ingin berada di samping Ax, membesarkan anak mereka bersama, meskipun keadaan mereka nantinya akan sulit dan sederhana, tetapi selama Ax bersamanya, sesulit apapun dia akan bahagia.


Tiba-tiba kepala Fairley diusap oleh lexia yang duduk di sampingnya. "Fairley, jika kau merasa keputusanmu ini membuatmu tersiksa, pilihlah yang terbaik untukmu, jangan membuat pilihan yang menyakiti kalian berdua dan membuatmu tersiksa seperti ini Fairley." Ucap lexia. Kembali air matanya menetes.


"Apa yang kau inginkan." Tanya lexia.


"Aku..aku ingin bersama Ax, meskipun keadaan kami sulit nantinya, tapi aku ingin bersama Ax, aku ingin berada di sampingnya, membesarkan anak kami bersama." Ucap Fairley.


Fairley mengangguk senang dan tersenyum.


~


Ax mengemas semua pakaiannya. Dia sudah bersiap berangkat, dia akan menuju ke desa turtle the Reaves, jika Fairley tidak datang juga, maka dia akan berangkat langsung ke Milan, meskipun dia tidak mau berpisah seperti ini, tetapi jika Fairley sudah memutuskan, maka diapun tidak bisa berbuat apa-apa.


Dazon menunggu Ax di ruang keluarga, dia menemani Ax menuju helikopter yang sudah siap akan membawanya ke desa itu.


"Ax, jangan lupa hubungi aku jika kau membutuhkan bantuan." Ucap Dazon.


Ax Kemudian mengangguk, tiba-tiba dia memberikan isyarat kepada Ax, "jika kau tiba di sana, buka kopermu di sebelah kiri, aku memberikan hadiah untuk kalian berdua." Bisiknya.


Ax menganggukkan kepalanya. "Thanks Daz, tapi.. Menurutmu Fairley akan datang ke desa?" Tanyanya.


Dazon menepuk punggung Ax agar dirinya bersemangat. "Aku yakin dia akan kembali padamu, prediksi dan kecermatanku selalu akurat, dia tidak bisa kehilanganmu selama dua tahun, percaya padaku." Ucap dazon, kini dia mundur beberapa langkah karena baling-baling helikopter mulai berputar dan angin darinya yang berhembus membuat dazon menutup separuh wajahnya, Ax akhirnya berangkat menuju desa Turtle.

__ADS_1


~


Oklahoma, Desa Turtle The Reaves


Dua jam setelah penerbangan, Fairley kembali menuju Oklahoma, lalu naik lagi ke Helikopter yang disediakan Thomas untuknya, dia begitu gugup, bagaimana jika Ax telah menunggunya begitu lama dan akhirnya dia berangkat ke Italia?


"Ini semua salahku." Bisik Fairley, dia mentautkan jemarinya, berharap Ax masih ada di sana, sekarang pukul 3 siang, perjalanan masih jauh, sedangkan jarak dari tempat berangkat Ax ke desa itu cukup dekat, jantung Fairley berdetak kencang.


Setelah hampir 3 jam perjalanan dari batas kota Oklahoma menuju desa terpencil itu, akhirnya Fairley tiba, dia segera berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke rumahnya, kini langit yang terang sudah di gantikan dengan langit yang gelap, suara langkah kaki Fairley yang berjalan terburu-buru membuat dirinya tiba-tiba berhenti di depan rumahnya.


Rumah itu gelap, tidak ada cahaya sama sekali, kaki Fairley terasa lemas, seakan kakinya tidak bisa menopang tubuhnya. Air matanya jatuh begitu saja, "Ax, kau sudah pergi? Kau pergi meninggalkanku?" Bisiknya.


"Ini semua salahku." Ucapnya, sambil menghapus air matanya, dia tidak bisa menahan kakinya lagi hingga dia terduduk di tanah sambil menangis tersedu-sedu.


Suara langkah kaki membuat Fairley menatap ke depan. "Ya, ini salahmu, kenapa kau mengambil keputusan tanpa bicara denganku dulu Fairley." Suara itu membuat Fairley berbalik, dia melihat Ax berdiri di sana sambil melipat kedua tangannya, dia baru saja keluar dari pintu belakang, lampu di rumahnya akhirnya menyala, Fairley menangis, Ax menghampirinya dan memeluknya erat.


"Kupikir aku tidak bisa melihatmu lagi Ax, aku sungguh bodoh." Bisik Fairley.


Ax mengangkat Fairley, dan memeluknya erat, dia mengangkatnya dan membawanya masuk ke dalam rumah mereka.


Ax memegang wajah Fairley dan menghapus air matanya, dia kemudian menciumnya, ciuman itu dibalas oleh Fairley, ciuman panas mereka berlangsung beberapa lama, Ax mengangkat wajahnya, memisahkan bibir mereka. "Bagaimana dengan tubuhmu? Bagaimana dengan anak kita?" Tanyanya.


Fairley tersenyum, "aku baik-baik saja, junior juga baik-baik saja." Ucap Fairley malu-malu.


"Junior? Kau memanggilnya junior?" Ucap Ax, ada nada geli dalam suaranya. Fairley mengangguk.


"Aku memanggilnya junior." Bisik Fairley.


"Jangan sampai junior di desa ini mendengarnya, dia nanti besar kepala." Ucap Ax. Mereka akhirnya bersama dan memilih untuk hidup di desa turtle, sampai batas waktu yang diberikan oleh Kakeknya.


~


Dazon baru saja kembali dari perusahaan ayahnya, karena ayahnya telah berangkat lagi ke Italia, jadi semua rapat-rapat penting diwakili oleh putranya dazon, meskipun masih sangat muda, Dazon yang telah mengerti dunia bisnis, diberi kepercayaan oleh Xaphier untuk mengurus beberapa anak perusahaan ayahnya, dan terkadang menggantikan Xaphier mengikuti pertemuan penting ketika ayahnya mengurus pekerjaan yang menyangkut pekerjaan dunia bawah yang berbahaya.


Dazon berjalan dengan puluhan pengawal di belakangnya, kali ini dia akan menghadiri rapat pemegang saham di seluruh perusahaan raksasa kota New York.


"Tuan, sebaiknya anda jangan berbincang dengan Michael Keira karena dia selalu mencari cara agar anda bertemu dengan putrinya, atau kerabatnya."


"Ya, ya aku tahu Thomas, aku juga tidak suka berbincang dengan mereka, membuatku selalu bersin ketika mencium bau parfumnya yang menyengat." Ucap Dazon.

__ADS_1


Pengawal sudah menunggu di parkiran, Dazon berjalan, matanya lagi-lagi melirik pada sosok gadis itu, dia baru saja datang dengan mengendarai sepeda, dia masih mengenakan seragam sekolahnya ketika dia masuk pintu belakang mansion, tempat para pelayan atau pengawal keluar masuk.


Dazon menatapnya, lalu melihatnya menyandarkan sepedanya di parkiran belakang. Dazon kini naik ke atas mobil, matanya masih melirik kearah gadis itu, dia sedang tertawa dan berbincang-bincang kepada seorang koki yang di temuinya. Matanya berbinar, sepertinya dia mendengarkan berita menyenangkan, dia tertawa dengan lebar, Dazon menyandarkan kepalanya di tangannya, lalu kemudian mengalihkan perhatiannya. "Ck, tidak menarik, apa yang kulihat dari gadis pengunyah itu?"


__ADS_2