
Udara malam itu terasa menyengat kulit dan terasa membekukan darah, malam berangin di kota Atlanta Georgia, membuat sebagian masyarakatnya lebih memilih berada di dalam rumah lebih cepat dari pada biasanya, ketika musim gugur tiba, angin dingin sudah mulai terasa, dan lebih baik berada di dalam rumah menikmati kehangatan dan bercengkrama bersama keluarga dibandingkan berada di luar yang terasa menusuk sampai ke tulang.
Lain halnya dengan pria itu, dia keluar dari gedung tua kusam nampak rapuh dengan cat tembok mengelupas, tapi anehnya bangunan itu masih banyak peminatnya untuk di tinggali, mungkin karena sewa setiap kamar di bangunan berbentuk tabung itu murah dan terjangkau bagi orang-orang yang mencari tempat murah dan lumayan aman.
Lelaki itu lagi-lagi mengeluarkan cerutunya, dia berjalan dengan langkah pelan, sambil menatap orang-orang yang berada di jalanan pada jam seperti ini.
Dia melepaskan asap rokok dari mulutnya, dan setengah tertawa ketika melihat dua orang wanita yang mabuk dan baru saja keluar dari night club, mereka tertawa-tawa dan meracau membelah malam, jalan mereka sempoyongan, tubuh mereka kini tidak bisa mengimbangi jalanan, kadang mereka berjalan terantuk-antuk dan hampir saja jatuh.
Pria itu bersandar di salah satu pohon hias di jalanan, berjalan dan mengikuti kedua gadis itu di samping jalan. Tiba-tiba saja dia menghentikan langkahnya, ketika dua orang pria menghampiri kedua wanita itu dan mereka membawanya masuk ke dalam mobil.
Suara geramannya membuat bulu kuduk berdiri, siapa saja mendengarnya, dia akan berpikir bahwa suara itu berasal dari hewan, tatkala pria itu kembali berjalan, karena dia melirik pada salah satu minimarket kecil yang masih terbuka, di sana seorang wanita penjaga mini market masih stay dan berdiri menunggu pelanggan yang datang.
Lelaki itu berdiri di sana, menunggunya dengan sembunyi di belakang gang sempit, wanita itu tidak tahu, sesuatu yang mengerikan telah menunggunya, setelah dia keluar dari tempat kerjanya.
~
Flat itu cukup kokoh, meskipun bangunannya terlihat rapuh dan catnya sudah terkelupas di mana-mana, bangunan itu masih di tempati oleh mereka yang membutuhkan tempat tinggal murah.
Kamar dengan nomor 702 di lantai 5 yang berada di ujung koridor di samping jendela, sedang melakukan panggilan telepon, dia sedang berdiri di samping jendelanya, dan menunggu seseorang yang di teleponnya agar mengangkat teleponnya.
"Apa Yessy sesibuk itu? Mengapa dia tidak mengangkat teleponku?" Ucap Hanna, tangannya membuka gorden rumahnya dan tiba-tiba saja dia memekik, seorang pria berdiri di sana dengan mobil Limousin berhenti di depan flatnya.
"Pria itu? Kenapa pria itu ada di depan flatku?" Hanna cepat-cepat menarik kursi dan menaruhnya di depan pintu, tidak lama kemudian, suara ketukan terdengar dari pintunya.
Tiga kali ketukan cukup keras terdengar, membuat Hanna menutup mulutnya dan tidak bersuara. Dia melangkah sambil berjinjit agar tidak menimbulkan suara tapak kakinya.
"Nona Hanna, kami tahu anda berada di dalam, silahkan buka pintunya, tuan kami ingin bicara dengan anda." Ucapnya.
"Tuan kami." Bisik Hanna. "Siapa tuannya?"
Terdengar suara yang lebih ringan dan serak. "Buka." Perintahnya.
Hanna mundur beberapa langkah. Tiba-tiba dobrakan keras di pintunya, membuat Hanna mengambil sapu di belakang lemarinya dan memegangnya kuat-kuat, dia mengambil sikap perlawanan dan mengarahkan pada pintunya.
Pintu terbuka dengan sekali tendangan.
Seorang pria masuk dengan memakai pakaian hitam berjas panjang, tubuhnya tegap dan tinggi, rambutnya disisir rapi ke belakang, wajahnya tersenyum mengejek penuh ironi ketika melihat Hanna memegang sapu kearahnya.
"Halo Hanna Tan kita berjumpa lagi." Ucap Dazon.
"Kau !" Teriak Hanna. "Apa yang kau lakukan, aku akan menelepon polisi, pergi dari rumahku sekarang juga," teriaknya.
"Kalian semua keluarlah," perintah Dazon dengan suara pelan, Pengawal-pengawalnya keluar dan meninggalkan mereka berdua. Dazon berjalan dan mengambil kursi, dia duduk dan menghadap langsung ke arah Hanna yang masih memegang erat sapunya.
"Selamat nona Hanna, kau diterima bekerja di perusahaanku." Ucapnya.
"Apa kau gila? Se..segera keluar dari rumahku." Ucap Hanna keras.
"Apa kau tidak lelah mengulangi ucapanmu itu?" Ucapnya. Senyum serta tatapan kemenangan itu membuat Hanna mundur beberapa langkah ke belakang, hingga tumitnya menabrak dinding bagian bawahnya, dia terjebak, lelaki itu berjalan dan memerangkapnya di antara kedua tangannya.
"Aku suka wangimu." Ucapnya tiba-tiba, dia mendekati rambut Hanna dan menelusurinya dengan hidungnya.
Hanna mendorongnya, tetapi dengan cepat, kedua tangannya di genggam oleh Dazon di atas kepalanya. "Aku ingin berterima kasih dengan ciuman panasmu tadi siang, aku datang kemari ingin membalasnya." Ucapnya sambil tersenyum miring.
Dazon mendekatkan bibirnya, tetapi Hanna menghempaskan wajahnya ke arah samping, hingga Dazon hanya menyentuh pipi kiri Hanna, bunyi sirene mobil di jalanan cukup membuat mereka berdua berbalik dan menatap jalanan di bawah.
"Tch, mengganggu saja." Ucapnya.
"Besok, datang ke kantorku jam 9 tepat, langsung ke ruanganku, jika kau tidak datang, kau akan mengerti apa yang akan terjadi padamu, jika kau tidak menuruti perintahku hanna." Bisik Dazon, dia kemudian melepas kedua tangan Hanna dan memberikan jarak kepadanya.
"Sampai bertemu besok pagi nona Hanna, oh ya, pintumu akan segera aku ganti, tenang saja, apalagi bangunan tempat tinggalmu ini tidak aman." Ucapnya sambil menatap sekeliling ruangan kecil flat milik hanna, dia Kemudian meninggalkannya, napas Hanna memburu, tubuhnya bergetar ketakutan.
"Pria sialan." Gumam Hanna, napasnya naik turun, dia tidak menyangka pria itu akan datang, lalu mendobrak pintu rumahnya.
Setelah Dazon pergi, dua orang pria datang memperbaiki pintu rumahnya, dan secepat itu pula mereka pergi tanpa mengucapkan apapun.
Hanna menarik napas, dia kemudian duduk diatas tempat tidur kecilnya, jantungnya seakan ingin melompat keluar. "Apa sih yang diinginkan pria itu, mengapa dia memperlakukanku seperti itu? Dia bahkan tidak mengenalku, atau ada sesuatu yang kulupakan? Pria sombong dan arogan tetapi menakutkan." Ucap Hanna.
__ADS_1
Dia kemudian menenangkan dirinya, dan beranjak dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi, dia ingin membasahi tubuhnya agar terasa segar kembali, Hanna berdiri di bawah shower, dia segera melepaskan satu persatu bajunya hingga tidak mengenakan apapun lagi.
Air hangat sangat nyaman ketika tubuhnya terasa letih dan capek, meski airnya terkadang macet dan kadang mengeluarkan air dingin, tetapi kali ini, air yang keluar cukup hangat, membuat tubuh Hanna menjadi rileks.
~
"Mengapa pada jam seperti ini banyak polisi Riel?" Tanyanya kepada pria yang sedang duduk di depannya, dan menatap tiga mobil polisi di sekitar mini market, tempat itu dipasangi polisi line.
"Akhir-akhir ini terjadi kasus pembunuhan tuan, dan semua yang menjadi korbannya adalah wanita."
"Hm, benarkah? Kedatangan polisi itu cukup mengganggu transaksi kita, meskipun tujuan kedatangan mereka bukan karena kita, tetapi tetap saja, mereka bisa saja mengacaukan semuanya."
Mobil itu melaju membelah malam dan kembali ke penthousenya yang mewah.
~
Pagi-pagi sekali Hanna sudah terbangun dan segera menyiapkan sarapannya, hari ini dia menatap isi kulkasnya, hanya tersisa beagel sisa semalam yang dibelinya 4 buah di supermarket dan selebihnya daging serta sayuran dan minuman beberapa botol.
"Aku harus mampir ke supermarket setelah selesai berjualan." Ucap Hanna, teh breakfast Inggrisnya pun akan segera habis, kebutuhannya semakin banyak, sementara uang yang masuk di dompetnya semakin menipis.
Hanna mengambil napas panjang. Ingatannya kembali kepada pria yang menyuruhnya datang ke kantornya tepat pukul 9 pagi, apa dia harus menghadapi pria bossy, yang mempermainkan bibirnya? namanya pun Hanna tidak tahu dan dia sudah menciumnya dua kali, mungkin saja, jika dia menerima tawaran pria itu, maka tidak lama lagi dia akan bercinta dan memberikan tubuhnya kepada pria sinting pemaksa itu.
"Tidak tidak, Hanna kuasai dirimu, kau bisa mencari pekerjaan lain, oke." Ucapnya. Hanna membuka lemari pakaiannya dan memilih kemeja putih dan blazer berwarna biru serta rok di atas lutut berwarna hitam dan sepatu boot.
"Aku harus semangat, kali ini aku akan berjualan di sekitar Complex city, kemarin teman Yessy yang berjualan, dan hari ini aku yang akan mengambil alih untuk beberapa hari kedepan." Ucap Hanna.
Hanna membuka pintu flatnya, lalu dengan cepat menguncinya, dia memencet tombol lift menuju lantai bawah. Wangi parfum itu sangat menyengat hidung Hanna, dia kemudian berbalik, tetangga di nomor 205 selalu memakai parfum ini dan membuat Hanna bersin-bersin.
Bunyi lift yang membuka membuat Hanna masuk ke dalam lift dan tetangga pria itu juga ikut masuk.
"Pagi, hari yang cerah untuk memulai hari heh." Ucapnya.
Hanna berbalik. "Oh, ya tentu, sangat cerah." Hanna mencoba menahan napasnya, parfum pria itu sangat menyengat memenuhi ruangan kecil di dalam lift.
Napasnya tiba-tiba menyapu tengkuk Hanna, seakan sedang bernapas tepat di leher Hanna. Hanna memegang leher belakangnya dan menutupnya rapat dengan blazernya.
Untung saja lift itu akhirnya membuka, pria itu melambaikan tangannya kepada Hanna dan segera keluar dari lift.
~
Pukul 9 pagi, perusahaan Society Complex Caesaar city.
Pukul 9 pagi tepat, Dazon sudah berada di ruangannya sedang menandatangani beberapa berkas yang di berikan Riel kepadanya. Dazon kemudian melirik jam di pergelangan tangannya.
"Apa Nona Hanna sudah datang?" tanyanya.
"Belum datang tuan." jawab Riel.
"Jika dia tidak datang, kau jemput dia dan bawa dia ke penthouseku." perintahnya.
"Baik tuan."
Pintu tiba-tiba membuka, Thomas masuk bersama Paulo, matanya tiba-tiba menatap Riel yang berdiri di hadapan Dazon, tatapan kecurigaan yang di lontarkan Thomas membuat Dazon mengangkat satu alisnya. Dia kemudian bersandar ke kursinya.
"Ada apa Thomas?" tanyanya.
"Dua detektif ingin menemuiku tuan, mereka telah menghubungiku pagi ini, sepertinya dia mendapat sedikit informasi tentang keberadaan kita ketika kejadian pembunuhan itu terjadi."
"Oh ya, jadi apa rencanamu Thomas." tanyanya.
"Aku akan menemui mereka, dan aku akan mencari tahu apa yang mereka inginkan dengan menemuiku, saya sudah memastikan agar membersihkan tempat itu dari semua cctv di tempat transaksi yang kami lakukan, begitupun di beberapa mobil yang memiliki Black Box di sekitar tempat transaksi." ucapnya.
"Jadi, bagaimana kedua detektif itu tahu mengenai keberadaanmu." tanya Dazon.
Thomas berdiri kikuk, dia menyadari satu kesalahan yang dilakukannya. "Saya minta maaf tuan, mungkin dia ingin menemuiku, karena pada saat terjadi pembunuhan di sekitar gang yang tidak jauh dari transaksi, erm saya dan dua pengawal ikut bergabung di antara kerumunan dan melihat kejadian pagi itu." Ucapnya menyesal.
Dazon mengetuk-ngetukkan jarinya di atas mejanya, "Temui detektif itu, dan cari tahu apa yang mereka inginkan, karena kali ini, kita sama sekali tidak ada hubungannya dengan kasus itu." Ucap Dazon.
__ADS_1
"Baik tuan." Thomas melirik kepada Paulo dan Riel yang berdiri di sana, mata tajamnya tentu saja tidak luput dari penglihatan Dazon. Thomas adalah orang yang sangat setia kepada keluarganya, selama bertahun-tahun dia sudah mengikuti keluarga Caesaar, mulai dari kakeknya maupun ayahnya, kini dia bekerja di bawah perintah Dazon.
Dazon menatap ketiga pria yang berdiri dihadapannya, ada yang mencurigakan diantara ketiga pengawal paling setianya itu, Dazon sangat peka, dia bisa menelisik jauh lebih dalam kepada sikap dan tingkah laku ketiga orang setianya itu, apa yang mereka sembunyikan darinya?
~
Hanna tiba pukul 08.30 pagi hari di sekitar Complex city, dengan cepat dia membuka Truck kopinya dan menata ulang peralatan kopinya, pertama-tama dia membersihkan Coffe Grinder atau mesin penggiling kopi lalu menyiapkan alat penyeduh kopi serta peralatan lainnya untuk menjual kopinya hari ini.
Setelah menyiapkan semua, Hanna mengatur paper cup dan menatanya dengan rapi, kini dia tinggal menunggu pembeli yang datang kepadanya.
"Espressonya Miss." Ucap salah seorang pria berjas yang di temu hanna di lift kantor pria itu kemarin, rambutnya coklat bermata hijau, dia tersenyum melihat hanna.
"Minum kopi sepagi ini sangat cocok untukku, apalagi setelah bekerja semalaman." Ucapnya.
"Oh ya tentu, terima kasih ini kembaliannya." Hanna memberikan beberapa sen kepadanya.
Dia mengangkat tangannya menolaknya, tanpa mengucapkan apapun dia kemudian pergi.
"Ya, sering-seringlah kemari dan tinggalkan kembalianmu." Gumam Hanna ketika pria itu pergi menjauh.
Sekarang pukul 10.00 pagi, Hanna menyandarkan tubuhnya sebentar di sandaran kursi Truck, dia sudah menjual 16 paper cup, dan tangannya terasa pegal, ketukan terdengar di Trucknya, Hanna kemudian seperti biasa tersenyum dan melayani para pembeli, tetapi senyumnya tiba-tiba menghilang, pria datar itu, berdiri di hadapannya.
"Nona Hanna, saya yakin tuan telah mengatakan kepada anda untuk datang tepat jam 9 pagi, dan sekarang sudah jam 10." Ucapnya menuduh.
Hanna menggertakkan giginya, kedua tangannya di pinggang dan menatap marah kepada pria datar didepannya.
"Dan saya yakin, saya tidak pernah mengatakan akan datang, jadi kau bisa pergi, kau sudah mengganggu kerjaku." Ucap Hanna mencoba semenakutkan mungkin tetapi sepertinya sia-sia, pria yang berdiri di depannya lebih menakutkan.
"Kalau begitu saya tidak memiliki pilihan lain." Ucapnya.
"Apa yang akan kau lakukan." Teriak Hanna, mencoba membesarkan suaranya agar orang-orang dapat melihat kesulitannya dan membantunya, tetapi sepertinya sia-sia, tidak ada seorangpun yang berbalik dan peduli.
Dengan tenang pria itu memberikan isyarat kepada pria-pria yang tidak begitu jauh berdiri di belakangnya, mereka segera berdatangan, mereka kemudian menarik Hanna dan memegang kedua tangannya di kanan dan kiri, Hanna berteriak kencang, mencoba memberontak dan memberikan perlawanan, tetapi dengan cepat dia sudah masuk ke dalam mobil, dua pengawal lainnya duduk di samping kiri dan kanannya.
"TOLONG, TOLONG AKU, MEREKA MENCULIKKU." Hanna berteriak sekuat mungkin dan memukuli pria yang ada di sampingnya lalu memukul kaca mobil.
"Percuma anda teriak, mobil ini dirancang sangat kedap suara, tidak ada yang bisa mendengarkan teriakan anda dari luar mobil." Mobil itu kemudian melaju membawa Hanna yang memberontak, mereka pergi menjauhi truk kopinya begitu saja.
Hanna ketakutan, tetapi dia harus melawan dan meloloskan diri dari sini, dia memukuli pria yang ada di sampingnya, menjambaknya keras dan menyikut apa saja bagian dari pria yang ada di sampingnya.
"Tenanglah nona, anda lebih memilih sadar atau anda lebih memilih pingsan dan tidak sadarkan diri sampai kita tiba di tempat tujuan." Ucap Riel tajam, matanya menyipit, seakan dia ingin sekali membungkam hanna agar dia duduk tenang dan turut bekerja sama dan tidak menimbulkan keributan.
Hanna menegakkan punggungnya, dia tidak lagi memberontak dan mulai menatap ke depan dengan tajam, dia melihat jalanan dan menghapalnya sehingga jika ada kesempatan, dia bisa melarikan diri.
~
~
~
Detektif Nick sedang mencari berbagai petunjuk mengenai kasus itu, salah satu hal yang ditemui dari autopsi para korban adalah di setiap sayatan pada leher korban tercium bau wangi yang menyengat, detektif itu mengira bau yang tercium olehnya di sekitar leher para korban adalah parfum milik para korban, tetapi satu hal yang membuatnya yakin bahwa dari ke 5 korban, semua memiliki bau yang sama di sekitar kerah baju sampai leher para korban.
"Apakah bau itu, wangi dari si pelaku? mengapa dia menggunakan banyak wewangian seperti itu, bukankah jika pelaku menggunakannya, orang-orang akan dapat membauinya dengan mudah? apa tujuannya." gumam Nick, sambil kembali menatap dan membaca hasil forensik serta foto-foto hasil dari luka sayatan para korban.
"Apa yang diinginkan pelaku? apa motifnya? beberapa petunjuk yang sejauh ini kutemukan adalah, pertama korban berambut pirang, kedua wangi yang terbaui dari kelima korban, dari kerah baju sampai ke leher korban, dan yang menjadi korban selalu mengenakan rok pendek mini." ucapnya lagi. Dia menghela napas, sambil memijat-mijat keningnya.
"Bagaimana hasil penyelidikan Carter? dia akan menemui pria yang bekerja pada perusahaan besar Caesaar Corporation, Thomas Mcharry, dia adalah orang yang bekerja pada keluarga Caesaar, dirinya terpantau di salah satu cctv ketika kerumunan terjadi, apa yang dia lakukan berdiri disana di pagi hari bersama kedua temannya." gumamnya.
~
~
Mereka tiba di salah satu gedung unik didominasi dengan warna hitam dan gold, mobil itu masuk ke dalam pelataran gedung itu, Hanna mendongakkan kepalanya. "C.Dz penthouse?" Gumam hanna.
Mereka kemudian keluar dari mobil, Hanna pun keluar dan masih menganga takjub dengan pemandangan di depannya.
"Silahkan lewat sini nona." Ucap pria datar itu.
__ADS_1
Hanna mengikutinya, dia masih ragu, tetapi karena tatapan tajam bodyguard berotot itu membuat nyali Hanna menciut dan akhirnya mengikutinya.
Dia menekan tombol lift dan mereka bertiga masuk, Hanna berdiri di sana dengan jantung berdebar kencang, dia tidak tahu apa yang akan menunggunya di atas sana.