The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 7


__ADS_3

Fairley mengendarai sepedanya dengan hati senang, siang itu dia menerima gaji pertamanya dari Ax, dan jumlahnya cukup banyak, bahkan dia bisa menabung dari hasil yang diperolehnya beberapa dollar darinya.


Fairley mengingat kejadian tadi siang ketika Ax menunggunya sampai selesai membereskan buku-buku yang telah di bacanya.


"Ini untukmu, itu gaji pertamamu dariku, jumlahnya sesuai dengan hasil kerjamu." Ucap Ax kepadanya. Fairley mengambil uang cash dari Ax yang dimasukkan ke dalam amplop coklat, Fairley mengintip Sebentar, seberapa banyak tuan muda ini memberikannya.


Ax Melirik Fairley ketika dia mengintip jumlah di dalam amplopnya, "Tidak usah mengintip, jumlahnya tidak akan mengecewakanmu koq." Ucap Ax lalu melangkah dan menyusuri rak buku dan mengambil satu buku dan membacanya.


~


"Halo, Dimana Axton, thomas?" Tanya Lexia kepada Thomas. Sekarang ini lexia bersama Daren sedang berlibur berdua di salah satu pantai terkenal di Manchester city di Inggris.


"Dia sedang membaca buku, Nyonya." Ucap Thomas.


Hening sejenak. "Kau bercanda kan, baca buku? Siang-siang seperti ini?"


"Iya Nyonya, akhir-akhir ini, tuan Axton sering membaca buku."


"Apakah gadis bernama Fairley juga ada di sana?" Tanyanya.


"Ya Nyonya, tetapi gadis itu sedang membersihkan perpustakaan ketika tuan Ax membaca buku." Lapornya.


"Benarkah? Sepertinya gadis itu membawa pengaruh positif untuk Ax yang suka ke club." Ucap lexia.


"Tuan Axton, sudah jarang ke club bersama tuan Dazon dan Tuan Neil."


"Tentu saja, Xaphier kan ada di sana, mereka tidak akan berani macam-macam."


"Laporkan kembali semua aktivitas Ax kepadaku dan Daren."


"Baik Nyonya."


Lexia menatap Daren yang sedang bersantai dan berjemur di pinggir pantai, lexia tersenyum sambil menggeleng, membayangkan putranya siang-siang seperti ini membaca buku di perpustakaan.


"Ada yang lucu, sayang?" Tanya daren.


Lexia menghampiri Daren dan duduk di pangkuannya sambil menyandarkan kepalanya di dadanya. "Putra kita sepertinya sedang jatuh cinta kepada seorang gadis yang dia pekerjakan di mansion, kau percaya apa yang dilakukan Ax sekarang ini?" Tanyanya.


"Ke club bersama Dazon dan Neil?" Tebak Daren sambil memijat-mijat punggung lexia.


"Dia sedang membaca di perpustakaan, sementara gadis itu sedang membersihkan perpustakaannya."


Ucap lexia bersantai, sambil memainkan telunjuknya di dada telanjang Daren sehabis berenang di laut.


"Oh ya, pasti gadis itu cantik, selera Ax kan sama sepertiku." Ucap Daren sambil memberikan kecupan-kecupan kecil di sekitar bibir lexia.


"Sepertinya kita harus ke kamar sekarang." Bisik Daren sambil menunjukkan senyum tampannya kepada istrinya.


~


"Kau benar-benar sedang jatuh cinta Ax, coba lihat wajahmu di cermin." Ucap Dazon melirik Ax yang sedang duduk termenung seakan memikirkan sesuatu.


Ax dengan naifnya begitu saja berjalan dan menatap dirinya di depan cermin.


"Itulah wajah orang idiot yang sedang jatuh cinta." Ucap Dazon membuat Neil tertawa terbahak-bahak ketika dia sedang bermain bilyard di ruang bermain Dazon.


"Sialan kau Daz, bagaimana kau tahu aku sedang jatuh cinta?" Ucap Ax mengambil minuman dan duduk memperhatikan mereka berdua bermain bilyard sambil terkekeh.


"Diamlah Neil, kau dari tadi tertawa terus." Ucap Ax.


Neil hanya mengangkat bahunya, meskipun begitu dia tetap terkekeh.


"Sangat mudah, apakah di kepalamu hanya gadis itu yang kau pikirkan?" Tanyanya.


"Tidak juga sih, banyak yang aku pikirkan, aku berharap mom membawa pulang adikku sesegera mungkin." Ucapnya.


"Hem..Kau memikirkan gadis itu sekitar 90 persen? yang tersisa hanyalah masalah kehidupanmu, iya kan?" Tanyanya.


"Kau sok tahu Daz, apa yang kau tahu tentang jatuh cinta?" Tanyanya, "kau bahkan belum pernah betul-betul mengenal seorang gadis di dalam hidupmu."


"Tentu saja Daz tahu Axton, dia pernah di tolak oleh seorang gadis ketika kami di TK dulu, kau tidak ingat? Bocah ini sampai-sampai mogok makan seharian karena dia di tolak oleh gadis berambut ikal itu." Ucap Neil sambil tertawa-tawa.


"Tutup mulut Neil, kenapa kau masih mengingat kisah menyakitkan itu?" Ucap Dazon menatap tajam bola di hadapannya dan membidiknya.


"Ck sudahlah, aku mau tidur." Ucap Ax berdiri dan meninggalkan Dazon dan Neil.


"Pada jam seperti ini? Kau gila ya, Jangan terlalu memikirkan gadis itu, bisa-bisa fantasimu akan semakin liar." Ucap Dazon memberikan nasehat.


"Tutup mulut Daz." Ucap Ax lalu menutup pintu dan berjalan menuju ke kamarnya.


"Aku tidak percaya dia betul-betul sedang jatuh cinta." Ucap Dazon menggeleng tidak mengerti.


~


Hari itu Fairley bergegas kembali ke rumahnya, saat itu menjelang sore hari, ketika tiba di depan rumahnya dia lalu menyandarkan sepeda tuanya ke sisi pagar rumahnya dan segera masuk ke dalam rumahnya.


Fairley berbalik ketika mendengar pagar besi di depan rumahnya berbunyi, padahal rumah itu dari dulu tidak berpenghuni.


"Apakah kami memiliki tetangga baru?" Ucapnya. Fairley berbalik dan saling berpandangan dengan seorang pria. "Selamat sore, paman baru di tempat ini?" Tanyanya. Pria itu mengerutkan keningnya.


'Paman? Apakah aku setua itu?' gumamnya.


"Ya, aku baru saja pindah ke rumah ini tadi pagi." Ucapnya, dia mengambil rokok dari sakunya dan menyalakannya, dia memandang Fairley dan menatap rumahnya.


"Kau tinggal di rumah itu bersama siapa?" Tanyanya.

__ADS_1


"Aku dan ibuku." Jawab Fairley.


"Kalau paman, sendirian?" Tanya Fairley.


"Panggil aku Erick, ya aku sendirian." Jawabnya.


Fairley mengangguk, "kalau begitu aku masuk dulu ke dalam rumah paman..eh maksudku Erick." Ucap Fairley.


~


Lexia bangun dari tidurnya sore itu kerena tiba-tiba perutnya keroncongan, dia bangun dan melepaskan pelukan Daren dari tubuhnya dan segera masuk ke dalam kamar mandi, tanpa mengenakan apapun, dia menatap wajahnya yang memerah dan beberapa di bagian bahu dan dadanya terlihat memar merah dan kebiruan. "Ini semua ulah Daren." Desisnya, lexia segera masuk ke dalam bathub dan berendam di sana untuk beberapa lama agar tubuhnya Segar kembali. Setelah di rasa cukup, lexia Kemudian berdiri tetapi tiba-tiba tubuhnya sempoyongan dan terasa pusing, dia memegang apa saja di tempat itu agar dia tidak terjatuh.


Dengan cepat lexia mengambil handuk dan segera merekatkannya, dia segera keluar dari kamar mandi dan berjalan ke tempat tidur untuk membangunkan Daren.


Daren ternyata sudah bangun dan melihat kearah lexia yang berjalan seperti hendak terjatuh.


"Lexia??" Ucapnya terkejut, Daren segera menghampiri lexia dan memegangnya. "Kau baik-baik saja sayang?" Ucap Daren. Dia segera mengangkat tubuh istrinya ke atas tempat tidur dan segera menelepon dokter.


~


"Usia kandungannya sudah dua minggu tuan." Ucap sang dokter.


Daren membelalakkan matanya. "Maksud dokter, lexia sedang hamil?" Tanyanya.


"Ya tuan, istri anda sedang hamil, saya sarankan agar istri anda tidak terlalu lelah apalagi stress, jaga kesehatan tubuhnya."


"Baik dokter." Ucap Daren masih dengan wajah luar biasa terkejut.


Dia tersenyum senang, setelah mengantar sang dokter, dia kembali kepada lexia yang masih tertidur dan segera memeluknya dan memberikan kecupan singkat kepadanya. "Akhirnya keinginan Axton terkabul juga." Bisik Daren.


~


Axton sedang menatap ponselnya, beberapa kali keraguan menyergapnya, tiba-tiba dia ingin mendengarkan suara gadis itu. Ax lalu menekan ponselnya dan menghubungi Fairley malam itu.


"Ax menunggu, deringan pertama dan kedua belum juga di angkatnya hingga deringan ke enam, Fairley baru mengangkat teleponnya.


"Halo?" Ucap Ax.


"Halo, ada apa?" Tanya Fairley dengan suara yang terdengar heran karena tuan muda ini menelepon malam-malam seperti ini.


"Kau di mana?"


"Aku...sedang di rumah, kenapa?"


"Tidak, aku cuma...oh ya, kau harus datang besok di mansionku." Ucap Ax.


"Besok kan hari libur, apa aku juga harus kerja di hari libur?" Tanyanya.


"Datang saja, besok aku akan memberitahumu." Ucap Ax. Hening beberapa saat.


"Kau di sana?" Tanya Fairley.


"Panggil namaku."


"Kau memerintahku?" Ucap Fairley jengkel.


"Aku hanya ingin kau berhenti memanggilku dengan sebutan 'kau', panggil aku dengan namaku."


Hening.....


"Erm....Ax."


Suara itu begitu kecil tetapi dapat membuat detak jantung Axton meningkat.


'Berbicara dengan siapa Fairley?' Terdengar suara ibu Fairley dari telepon.


'Erm, aku bicara dengan erm....temanku mom.' ucapnya gugup.


"Kenapa kau gugup?" Tanya Ax.


"Siapa yang gugup, hanya itu saja yang ingin kau katakan?" Tanyanya.


"Aku..akan datang besok pagi di mansionmu jam 9 pagi." Ucap Fairley lalu menutup ponselnya.


"Dia menutupnya?" Ax tersenyum senang, besok dia akan bertemu gadis yang membuatnya terus memikirkannya sepanjang hari.


~


"Apa yang kau maksudkan dengan pesta Ax?" Ucap dazon ketika Ax tiba-tiba memanggil mereka berdua ke tempat biasanya mereka berkumpul. Daneil menguap tertahan, dia sudah ngantuk padahal baru pukul 10 malam.


"Cepat katakan, Sebelum Daddy kemari, dad akan mencurigai kita memiliki rencana yang tidak-tidak." Ucap Dazon melirik ke pintu masuk.


"Aku ingin kita membuat pesta, erm katakan saja itu pesta ulang tahunmu Neil, kau bisa mengundang Jennifer juga, aku ingin mengundang Fairley." Ucapnya.


"Kau gila ya, ulang tahunku 7 bulan lagi Ax." Ucap Neil.


"Besok, paman Xaphier dan bibi Nara keluar kota bukan? Kita bisa berpesta di taman, bagaimana?" Ucap Ax.


"Terserah kau saja Ax, tetapi jika ketahuan oleh dad, kau yang bertanggung jawab." Ucap dazon kepadanya.


"Jangan khawatir, Paman tidak akan mengetahuinya."


"Tapi, untuk apa kau mengundang gadismu itu kemari, kau mau pamer ya kepada kami?"


Ax melotot mendengar ucapan Dazon, tetapi ada rasa bahagia tersendiri ketika Dazon mengatakan fairley gadis miliknya.

__ADS_1


"Tetapi katakan kepada Jenni dia bisa datang tetapi jangan mengundang temannya itu, dia nanti merusak pestaku." Ucap Axton.


"Oke oke, jangan khawatir."


"Dan satu hal lagi yang mesti kita waspadai, Thomas, Evan dan Sebastian, mereka bertiga tidak boleh tahu rencana kita."


Akhirnya Mereka bertiga masuk ke kamar masing-masing setelah berdiskusi hingga jam 12 tepat. Senyum tertarik dari bibir Thomas, tentu saja dia dapat mendengarkan semua percakapan ketiga tuan muda itu, tetapi dia tidak kelihatan khawatir sama sekali, pesta semacam ini sering dilakukan oleh para remaja seusia mereka, apalagi yang hadir hanya dua orang gadis dan Thomas mengetahui kedua gadis itu.


~


Pagi itu Ax dikejutkan dengan telepon dari ayahnya yang mengatakan mereka berdua tidak bisa kembali ke Manhattan secepatnya karena kondisi lexia yang sedang hamil dan tidak bisa bepergian karena seringnya dia muntah dan pusing.


Ax bersorak gembira mendengar bahwa sebentar lagi dia akan memiliki seorang adik, alasannya tentu saja karena dengan adanya anak selain dirinya di keluarga Burchard, frekuensi kekhawatiran ibunya yang berlebihan akan terbagi, dan dia tentu saja mengharapkan kebebasan meskipun sedikit dari ibunya yang over protective kepadanya.


Sekarang pukul 8 pagi hari, Ax sudah bersiap-siap di meja makan dan sarapan tanpa menunggu Dazon dan Daneil, mereka berdua masih tidur apalagi di hari libur seperti ini.


Ax sudah bersiap dan segera masuk ke dalam mobilnya, beberapa pengawal menunduk kepadanya ketika dia keluar dari mansion milik Dazon.


Pagi itu jalanan cukup lengang, dia sedikit bersantai karena jam masih menunjukkan pukul setengah sembilan pagi hari, 20 menit perjalanan yang di tempuhnya, akhirnya dia tiba di mansion Burchard, Ax tidak masuk ke dalam mansionnya tetapi menunggunya di sudut jalan. Setelah menunggu beberapa menit Fairley akhirnya muncul juga, kali ini dia tidak naik sepeda melainkan turun dari bus dan berjalan memasuki jalanan menuju ke Mansion Ax.


Bunyi klakson mobil milik Ax membuatnya terkejut, dia menatap Ax dengan jengkel.


"Kau datang, kemarilah." Ucap Ax.


Fairley berjalan menuju ke mobil milik Ax dan berdiri di hadapannya.


"Kenapa kau menungguku di sini?" Tanyanya.


"Masuk ke dalam mobil." Ucap Ax.


"Kenapa? Untuk apa." Tatapan curiga dari Fairley membuat Ax tidak sabar dia menarik tangannya agar segera masuk ke dalam mobil.


"Pasang sabuk pengamanmu, kita akan pergi ke suatu tempat." Ucap Ax tersenyum.


"Hei, kemana kau akan membawaku? Kalau kau tidak katakan, aku tidak mau ikut denganmu." Ancam Fairley, ingin membuka seat beltnya dan menatap tajam wajah Ax.


"Aku ingin kau menemaniku ke suatu tempat."


Jawaban dari Ax tidak memuaskan Fairley, kecurigaannya masih terpeta di wajahnya. Suatu tempat, di mana?" Tanyanya lagi.


"Sebentar lagi kau akan tahu." Ucap Ax membuat Fairley tidak tenang. 'Apa yang dipikirkan tuan muda ini?' jika dia melakukan sesuatu, aku akan memukulnya.' pikir Fairley menatap tajam kepada Ax.


~


"Kau pasti bercanda, kenapa kau membawaku ke tempat ini?" Ucapnya sedikit ternganga karena Ax membawanya ke salon sekaligus tempat gaun dan dress termahal yang ada di Manhattan, dia tidak menjawab pertanyaan Fairley, tetapi segera menarik tangannya dan membawanya kepada seorang wanita yang terlihat profesional dan tersenyum ramah ketika mereka berdua masuk. Wanita ini tentu tahu siapa Axton, dia adalah cucu dari tuan Caesaar yang memiliki separuh perusahaan besar di Amerika.


"Tuan Caesaar silahkan masuk." Ucap wanita itu.


"Tuan Caesaar? Bukankah nama belakangmu Burchard?" Ucapnya heran.


Axton tersenyum. "Itu nama kakekku, sedangkan Burchard nama Ayahku." Mereka kadang memanggilku di antara keduanya."


"Oh ya," Fairley mengangguk-angguk sambil memperhatikan gaun-gaun yang tergantung rapi di sana, dia mencoba melihat berapa harga dress cantik yang di pegangnya, dia melotot dan hampir menjatuhkan dress itu, untung saja tidak terjatuh. Harga dress itu sangat mahal dan dengan uang sebanyak itu, Fairley bisa hidup untuk beberapa bulan ke depan.


"Kau suka yang itu?" Tanyanya. "Ah, tunggu dulu, lebih baik kau harus mengikuti wanita itu ke salon Sebelum mengenakan gaun ini." Ucap Ax menunjuk wanita yang sedang tersenyum ramah kepada Fairley.


"Ikut saya Nona." Ucapnya dengan suara sehalus dan semerdu mungkin.


Fairley mengikutinya dan menatap heran tempat itu.


Hal baru yang terjadi kepadanya adalah ke salon, baru kali ini Fairley ke salon kecantikan, dia sama sekali tidak pernah memikirkan untuk pergi ke tempat seperti ini. Wanita cantik yang Sedang merubah Fairley menjadi gadis cantik dan anggun, dia tersenyum profesional, dia mendandani Fairley dengan sempurna, setelah selesai mendandaninya Seketika Fairley tidak mengenal sosok yang memandangnya dari pantulan cermin. Make-up minimalis modern yang terlihat natural, rambut coklat indahnya bergelombang rapi terlihat alami. wajahnya tampak cantik mempesona.


"Lewat sini Nona, ini adalah beberapa gaun yang dipilih langsung oleh tuan Axton, silahkan di kenakan di ruang ganti di sebelah sana." wanita itu membawa Fairley ke ruang ganti untuk mencoba beberapa gaun.


"Apa aku harus mencoba Semuanya?" tanyanya kepada wanita itu. Dia mengangguk sambil tersenyum.


Fairley telah mengenakan 3 gaun yang sama sekali di tolak oleh Ax, Fairley cukup jengkel dengan tingkahnya. "Kenapa aku harus mengikuti kemauannya sih." ucap Fairley di sela-sela dia sedang berganti pakaian.


Sekarang sudah gaun yang kelima, gaun itu cantik dan modis serta anggun, Fairley berdiri menatap malas kepada Ax yang menilai penampilannya.


"Sesuai, sangat cocok untukmu." Ucap Ax menghampiri Fairley dan menatapnya cukup lama.


"Anda sangat cantik Nona dengan gaun itu, terlihat sangat anggun dan pas untuk anda." ucap salah seorang wanita yang berdiri di sana.


Fairley tersenyum tipis kepadanya. Ax segera saja memegang tangan Fairley membuatnya sedikit terkejut, dia menatap tangannya yang dipegang erat oleh Axton. "U..untuk apa sih, kau pegang tanganku, aku masih bisa jalan." ucap Fairley mencoba melepaskan genggaman tangan Ax kepadanya.


Ax tidak menjawabnya, dia hanya terus membawa Fairley hingga sampai ke mobilnya, dia membukakan pintu mobil untuknya, kemudian Ax segera masuk ke dalam mobilnya.


~


Gadis itu memukul keras dashboard Mobilnya, dia menatap tajam Ax dan gadis yang berada di sampingnya. Kabar bahwa Ax akan membuat pesta untuk merayakan ulang tahun Daneil sudah sampai ke telinganya, dan dia akan tetap datang meskipun tanpa undangan sekalipun.


Mobil Axton segera melaju menuju mansion, begitupun gadis yang sejak tadi pagi membuntuti Ax dan Fairley. Ponsel Ax berbunyi dia segera mengangkatnya.


"Halo Daz." ucap Ax.


"Sepertinya pesta akan tertunda Ax, dad datang tiba-tiba siang tadi bersama Mom, kupikir rencana kita sudah ketahuan oleh Thomas."


"Ugh, benarkah? ck sial." Fairley berusaha mencari tahu dengan mendengarkan percakapan Ax dan orang yang sedang meneleponnya.


"Sebaiknya kau membuat pestamu sendiri Ax, kau bisa mengajaknya makan malam dan berkencan bersama gadis pujaanmu itu."


"Tutup mulut Daz." Ucap Ax.


"Oh ya, satu lagi kejutan untukmu, menurut salah satu pengawalku, mobilmu sedang dibuntuti oleh seorang gadis, kupikir dia adalah Gadis bernama Rose, kau harus menyingkirkannya Sebelum dia merusak rencanamu."

__ADS_1


Dazon menutup ponselnya, sedangkan Ax menatap dari kaca spion mobil hitam itu sedang mengikutinya dari belakang. Seringai mengerikan terlihat di wajah Ax, dia membawa Fairley ke mansionnya sendiri, setelah masuk ke dalam gerbang, dia menyuruh Pengawal-pengawalnya untuk menakut-nakuti gadis keras kepala itu.



__ADS_2