The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 62


__ADS_3


Keempat pengawal itu memasuki kawasan milik Chrounus, tempat paling berbahaya bagi mereka yang bukan anggota kelompok Chrounus, karena di sana adalah pusat musuh berada, apalagi sistem yang mereka gunakan sangatlah canggih, sehingga siapa saja yang bukan dari kelompok mereka akan ketahuan dengan cepat, ketika mereka menginjakkan kaki mereka di tempat yang bukan seharusnya.


"Aku akan masuk, dan mencari serumnya." Ucap Riel.


"Kau yakin?" tanya thomas.


"ya, aku yakin." Riel beranjak dari sana tanpa takut sedikitpun, ia keluar dari mobil, dia mengenakan earphone untuk berkomunikasi dengan thomas, dia melihat seorang pengawal berdiri seorang diri di sana dengan rentan, thomas dan paulo menatap riel dari kejauhan, secepat itu riel dapat melumpuhkan salah satu pengawal dengan memukul tengkuknya, dia segera menukar sepatu dan jas yang dia kenakan, dan mengambil tanda pengenal ID pengawal tersebut.


Riel berjalan perlahan dan memasuki area bangunan yang di jaga ketat oleh sejumlah pengawal, mereka tidak curiga dengan kehadiran Riel, seorang penyusup yang masuk biasanya akan segera di tangkap karena mereka menanam sistem alarm di setiap areanya, bahkan jejak sepatu maupun pakaian yang dikenakan oleh orang asing dapat dengan segera terdeteksi dengan mudahnya, untuk itu riel mengganti pakaiannya dan menukarnya dengan pakaian pengawal tadi.


Riel berjalan, seperti halnya bagaimana seorang pengawal terlatih melakukan tugasnya, dia bergerak dengan licin dan pasti tanpa menimbulkan kecurigaan sedikitpun.


Terdengar suara percakapan dari seseorang di dalam ruangan itu membuat riel berdiri mematung di tempatnya, seolah berdiri mengawasi siapa saja yang berlalu lalang.


"Apa mereka sudah memakan umpannya?" ucap salah seorang pria dengan mengenakan stelan jas berwarna silver.


"Tentu, orangku mengatakan mereka percaya bahwa kita telah menemukan serum yang dapat mengobati racun ganas itu, haha mereka sungguh bodoh, tidak ada serum semacam itu, hanya ada satu hal yang dapat mengobati penyakit mematikan itu yaitu kematian, kematian dari mereka yang terkena racun itu dapat menghentikan iblis yang bersarang di tubuh mereka." ucapnya.


Riel menggeram, tanpa sadar dia mengeluarkan suara anehnya, kedua pria tadi berbalik melihatnya.


"Ada apa?" tanya temannya yang berdiri di sampingnya.


"Siapa dia? baru kali ini aku melihatnya?" Ucap pria itu curiga. Riel merasa dirinya sebentar lagi akan ketahuan, dan dia berada di ladang musuh, jika dia bergerak sedikit saja dan mengungkap penyamarannya, maka dia pasti akan mati membusuk di sarang kelompok Chrounus, tetapi bantuan datang di saat yang tepat. Sebuah ledakan dari salah satu mobil di pelataran parkiran mereka meledak dengan dahsyat, semua orang tertuju pada bunyi ledakan itu.


Saat yang tepat untuk Riel segera melarikan diri dari tempat itu, dengan cepat, riel berlari diantara pepohonan yang lebat, dia menyusuri sungai dan pepohonan hingga tembus dan mencapai jalan raya. Mobil thomas sudah menunggu di sana, dengan gesit pintu mobil membuka dan riel segera masuk ke dalam mobil, mereka akhirnya meninggalkan area itu dengan segera.


"Bagaimana riel? apa yang kau temukan di sana?" tanya paulo.


"Hanya jebakan." jawabnya.


"Mereka sengaja mengeluarkan rumor bahwa Chrounus menemukan serum itu, tetapi semua itu tidak ada, mereka hanya memancing agar kita menyebarkan rumor dan mencoba mendekati lab mereka." Ucap riel jengah.


"Jadi, bagaimana sekarang thom?" tanya paulo.


"Kita kembali dulu ke Mansion, sementara itu, sembunyilah di lab prof vandash, riel." Ucap thomas.


"Kalau memang serum itu tidak ada, berarti kau harus berupaya keras dan bekerja sama untuk menemukan obat itu, semua itu untuk keselamatan Nyonya hanna dan putranya kelak."


~


~


Hanna baru saja menyelesaikan sarapannya, pagi ini dazon akan kembali ke mansion, setelah tiga hari berada di luar kota, dia sudah mengangkat ponselnya dan tidak marahan lagi kepada dazon, meskipun sikap hanna kepadanya masih terlihat marah dan dingin kepadanya.


Deru mesin mobil membuat hanna membalikkan wajahnya ke arah pintu, terlihat dazon dari kejauhan sedang berjalan dan masuk ke dalam mansion, hanna ingin berdiri dan menyambut suaminya, tetapi wanita itu sudah berdiri di ambang pintu dengan senyum sambil menundukkan kepalanya menyambut kedatangan dazon, meskipun itu bukanlah hal baru bagi hanna, karena wanita itu bersikap seperti itu kepada daneil dan Axton juga.


Hanna kembali duduk, dia malas melihat tampang tersenyum wanita tua itu. Dazon segera masuk dan langsung menuju ke meja sarapan.


"Pagi sayang, aku merindukanmu, kau bangun pagi juga?" ucap Dazon memeluk tubuh istrinya dan memberikan kecupan di puncak kepalanya, dia kemudian duduk di samping hanna.


Wanita itu masuk sambil memegang tas kerja dazon, dia segera menaruhnya di atas kursi dan segera berdiri di hadapan dazon.


"Tuan, apakah anda ingin sesuatu yang lain? kami akan segera membuatkannya." Ucapnya tersenyum ramah, Hanna tidak pernah memperdulikan wanita itu, dia masih terus makan, juga tanpa menatap ke arah dazon. Dia berhak memilih makanannya sendiri, jadi hanna diam saja dan tidak memperhatikan pembicaraan mereka.


"Tidak perlu mey, aku akan makan makanan yang sama dengan istriku saja." ucap dazon mengambil sandwich di hadapannya dan melirik kepada hanna, dia sedang membaca ekspresi hanna.


"Apakah baik-baik saja tuan? Makanan itu dipanaskan di microwave oleh pelayan pagi ini, makanan beku tidak baik untuk kesehatan anda." ucapnya.


Tiba-tiba hanna berhenti memakan sandwichnya, dia lalu menatap tajam kepada wanita itu, lalu tersenyum tidak percaya.


"Dan kau memberikan makanan tidak sehat ini kepadaku? kau tahu aku sedang mengandung dan kau membiarkan pelayan menyiapkan untukku makanan beku ini??" ucap hanna, emosinya meluap-luap, wanita ini melakukannya dengan sengaja, hanna yakin itu.


"Saya hendak memberitahu kepada anda Nyonya, tetapi anda memakannya dengan lahap, jadi saya....


Hanna tanpa ragu melemparkan sisa sandwichnya ke wajah kepala pelayan tepat ketika Fairley dan Ax masuk ke dalam mansion, begitupun daneil dan jennifer.


Sandwich itu mengenai wajah mey dan mengotori seragamnya yang berwarna putih.


"Hanna ! Apa yang kau lakukan sayang? kenapa kau bersikap seperti ini, mey juga tidak tahu kalau pelayan menyediakan untukmu sandwich beku itu, kau jangan seperti ini hanna, ingat kandunganmu." tegur Dazon.


Wanita itu masih berdiri di sana dengan menunduk dan diam, tampak wajahnya sangat tenang karena pembelaan dazon untuknya.


Hanna mencoba menahan emosinya, dia tidak mau berteriak-teriak histeris karena wanita itu, dia tidak mau wanita itu berhasil mempengaruhi emosinya.


"Setidaknya dia tahu bagaimana rasanya makanan beku itu terkena di wajahnya, aku kan hanya menikmati apa yang tersedia di meja, jadi setidaknya dia harus mencicipinya juga." ucap hanna sinis, dia segera menatap tajam wanita itu dan segera pergi dari meja sarapan tanpa menegur fairley dan Jennifer yang baru saja tiba.


"Sepertinya aku melihat bibi lexia ada di sini, sikapnya mirip sekali." Gumam daneil ketika mereka berdiri membeku di tengah ruangan.


Hanna segera keluar dari ruangan dan menuju ke taman, dia berusaha mengatur emosinya, dia sangat geram, jelas-jelas wanita sialan itu memberinya makanan tidak layak bagi tubuhnya yang sedang hamil, dazon masih saja selalu membela wanita tua itu. Hanna yakin wanita itu sengaja melakukannya.


Hanna berbalik sedikit dan melihat dazon sedang menyusulnya, dia terlihat lelah, "Hanna, tunggu ! Jangan berjalan terlalu cepat." Teriak dazon.


"Sayang, jangan seperti ini, itu tidak baik untuk kehamilanmu." Ucap dazon membalik tubuh hanna dan memegang kedua pundaknya. "Mey tidak sengaja, dia baru tahu jika pelayan menyiapkan makanan beku untuk sarapanmu." Ujar dazon.

__ADS_1


Hanna melepaskan kedua tangan dazon, "Bela saja dia terus, kau tidak usah menjelaskan semuanya kepadaku tidak ada gunanya karena aku tahu dia sengaja melakukannya." Ujar hanna dengan kebencian yang berkilat di matanya.


"Hanna, bukan maksudku membelanya sayang," ucap dazon. Hanna tidak memperdulikannya dia lalu kembali berjalan menuju taman, sebenarnya dia masih sangat lapar, dia ingin mencari loue dan menyuruhnya untuk membelikan sarapan untuknya di tempat favoritnya, tetapi sampai sekarang wajah loue tidak muncul-muncul juga.


"Hanna kau mau kemana, sebaiknya kita masuk, aku akan menyuruh pelayan lain untuk menyiapkan makanan untukmu, ayolah sayang." Bujuk Dazon memegang tangan hanna. Melihat kelelahan yang tergurat di wajah suaminya, hanna sedikit luluh, dia membiarkan dazon memegang tangannya dan membawanya kembali ke mansion.


Nampak dari kejauhan Ax dan daneil serta fairley dan jennifer berada di ruang santai, mereka menatap dazon dan hanna yang sedang bertengkar dan akhirnya dazon berhasil membujuknya.


"Untung saja jennifer ngidamnya tidak seperti hanna, dia hanya ingin menempel terus denganku, kemanapun aku pergi, tetapi sebaliknya hanna begitu jengkel melihat keberadaan dazon dan mey." Ucap daneil.


"Jangan ikut campur Neil, biarkan dazon yang menyelesaikannya." Ucap Ax.


~


~


Dazon memerintahkan kepada para pelayan untuk menyiapkan segala jenis hidangan dan menyiapkannya di atas meja makan. Hanna sudah duduk kembali ke meja, mereka berdua diam, tidak saling bercerita, hanna melipat kedua tangannya dan memperhatikan para pelayan yang menyiapkan satu persatu makanan lezat di atas meja.


Apa begini tingkah mereka semua di bawah pimpinan wanita tua itu? Dia menghidangkan makanan lezat ketika dazon ada di rumah, sementara hanna hanya makan makanan biasa saja di rumah, alasannya ibu hamil harus makan makanan sehat, tetapi percuma saja mereka menyiapkannya, karena hanna setiap hari makan makanan di luar, dia tidak ingin makanan itu di siapkan oleh wanita itu, siapa yang tahu apa yang di taruh di dalam makanannya.


Dazon mengambil makanan dan meletakkan di atas piringnya, dan memberikannya kepada hanna, dia mengirisnya agar hanna tinggal memakannya saja. Tidak lama kemudian mereka berempat sudah bergabung di meja makan.


"Hay hanna, bagaimana kabarmu." Tegur fairley tersenyum begitupun dengan jennifer mencoba menghilangkan sikap canggungnya.


"Aku baik-baik saja." Jawab hanna sambil tersenyum tipis.


Daneil melirik kepada hanna, dan memperhatikan hanna hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa sedikitpun ingin melahapnya.


Mereka semua makan tanpa pembicaraan yang berarti, dazon sedikit melirik hanna, dia sudah mencicipi sedikit makanannya dan tidak menyukainya. Tiba-tiba hanna berdiri begitu saja dan meletakkan serbet di atas meja.


"Kau mau kemana sayang?" Tanya dazon.


"Aku sudah selesai sarapan, kau lanjutkan saja sarapanmu, aku mau ke kamar." Ucap hanna, dia kemudian beranjak dari meja makan dan segera menuju ke lantai dua.


Dazon mengela napasnya, dia terlihat lelah dari biasanya.


"Kau harus memaklumi wanita hamil daz, kadang-kadang pembawaan wanita hamil itu berbeda-beda, mungkin saja hanna lebih merasa enakan jika dia bersikap seperti itu, biarkan saja dulu dia sendiri, berikan dia waktu." Ucap Ax menasehatinya.


Fairley menatap kepergian hanna, matanya tiba-tiba menangkap kepala pelayan bernama Mey itu berdiri di sana memperhatikan kepergian hanna dari meja makan.


Mengapa hanna begitu membencinya? selama ini aku juga tidak terlalu memperhatikan wanita itu, apakah ada sesuatu yang salah dari wanita itu? Pikir fairley.


~


Hanna berbaring di tempat tidur, dia sudah tidur beberapa jam karena lelah, dia mengucek matanya dan melihat dari kejauhan dazon sedang bekerja, dia membawa semua berkas-berkasnya dan bekerja di ruang duduk mereka di kamar. Dia tampak lelah, matanya selalu melirik ke tempat hanna tidur, untuk memastikannya bahwa dia tertidur pulas.


"Ada kabar terbaru thomas?" Ucap dazon sepelan mungkin tetapi dari jarak cukup dekat, hanna masih dapat mendengarkan percakapan dazon.


"Sayang sekali tuan, mereka hanya menjebak kita agar masuk ke markas mereka, tidak ada serum maupun obat penawarnya."


"Benarkah?" Dazon lalu terdiam, "Berikan informasi sesegera mungkin thom, jika ada perkembangan terbaru dari prof Vandash."


"Baik tuan."


Dazon menatap ke tempat hanna tidur, dia menghembuskan napasnya, dan memijat-mijat keningnya. Hanna memejamkan matanya dan menerka-nerka apa yang telah terjadi, sejak kehamilannya, dia selalu waspada terhadap sesuatu yang di dengarnya.


Dazon berjalan dan mendekat ke tempat tidur hanna dan duduk di sampingnya, dia menyingkirkan rambut-rambut yang berada di kening hanna, dan mengusap keningnya. "Bersabarlah sebentar lagi, aku akan berusaha mencari obat yang akan dapat mengobati anak kita." Bisik dazon.


~


~


Kecurigaan hanna kepada wanita itu menular kepada fairley, dia menatap wanita itu dengan seksama, memperhatikan setiap gerak geriknya.


Wanita itu bekerja dalam diam, dan menyiapkan segala keperluan mereka, tidak ada yang aneh, dia melakukan semua tugasnya dengan sempurna. "Mengapa Hanna begitu membencinya?" gumam fairley, Mey melirik sedikit kepada fairley, dia lalu membungkukkan badannya dan memberikan senyum sopannya.


"Nyonya menginginkan sesuatu?" Tanyanya. Fairley melipat kedua tangannya dan bersandar di sofa empuk di ruang santai itu, dia kemudian menggelengkan kepalanya.


"Tidak, tidak emy." Jawabnya.


Dia kembali membungkuk dan segera undur diri dari tempat itu, fairley menatapnya dari kejauhan, "Apa aku harus menyelidiki wanita itu?" Gumamnya.


"Siapa?" Tanya Ax lalu duduk di sampingnya.


"Emm emy, aku hanya ingin mengetahui mengapa hanna tidak menyukainya, apakah ada yang aneh darinya?" Ucap fairley.


"Jangan ikut campur urusan dazon dan hanna sayang, mereka akan menyelesaikan masalah mereka sendiri," Ucap Ax sambil bersandar di bahu fairley.


~


"Aku akan menyerahkan diriku dan biarkan aku membusuk di penjara saja." ucap Riel tiba-tiba. Prof vandash menatapnya lalu dia menghentikan pekerjaannya.


"Ada apa riel? Apa yang membutmu putus asa? Kita butuh kesabaran untuk mencari tahu penawar racun itu."


"Aku ingin kembali, karena dari hari ke hari keinginanku untuk mencari mangsa semakin besar prof, aku takut, jika suatu saat aku kehilangan kesadaran dan melakukan kejahatan lagi, lebih baik aku berada di balik jeruji, setidaknya ada puluhan dari mereka yang akan mengawasiku jika keinginan gilaku kembali muncul." Ucapnya.

__ADS_1


"Apakah kau menyerah riel?" Tanya dokter vandash.


"Tidak, aku sama sekali tidak menyerah, aku hanya ingin melindungi adikku dari diriku dan aku ingin agar nantinya tidak ada Reaver lainnya yang menjadi seperti seorang iblis seperti ayahku dan aku." Ucap riel.


"Apa kau sudah mengambil keputusan?" Tanyanya.


"Ya, aku sudah mengambil keputusan, tetapi sebelum aku menyerahkan diriku, aku ingin bertemu dengan adikku terlebih dahulu, aku akan meminta kepada thomas untuk mempertemukan kami." Ucapnya.


~


Jalan setapak kecil di bawah guyuran hujan yang kini telah berubah menjadi rintik-tintik dan hanya sedikit membasahi pakaian pengguna jalan yang tidak menggunakan payung. Wanita itu berjalan terus menyusuri lorong gelap, kemudian dia masuk melalui pintu belakang, nyaris tidak ada yang memperhatikan.


Dia kemudian masuk dan menghela napas, baru saja dia kembali dari pekuburan kakaknya dan pulang larut malam, dia letih dan segera menuju ke kamarnya yang ada di sebelah kamar-kamar pelayan. Dia tersenyum kecil menatap dirinya di depan cermin.


Sekarang kau senang kan aku sudah menyusup di tempat ini dan akan membuat mereka yang menyakitimu membalas semua kelakukan mereka. Sudah tugasku sebagai adikmu membalaskan dendam kepada keluarga ini, tunggulah saatnya tiba nanti


mereka akan menyesali perbuatan mereka


Senyum terpancar dari bibirnya, dia membuka pakaiannya dan segera masuk ke kamar mandi menghilangkan keletihannya malam itu.


~


~


Usia kandungan hanna sudah semakin mendekati proses persalinan, segala persiapan telah dipersiapkan, meskipun dokter harbert selalu memperingati dazon agar tidak membuat istrinya memikirkan banyak hal hingga tubuhnya drop, tetapi kehadiran pelayan itu membuat hanna terganggu emosinya, apalagi jika dazon dan orang-orang di mansion ini sudah begitu membelanya.


Hanna tidur begitu cepat, udara di luar yang dingin membuat dirinya terlelap karena mendengar guyuran hujan dari luar. Hanna terbangun ketika waktu menunjukkan pukul 01.15 tiba-tiba perutnya merasakan lapar, dia menatap sekelilingnya, tetapi dazon belum juga tidur, dia masih berada di ruangan kerjanya.


Hanna bangun dari tidurnya hanya mengenakan baju terusan berwarna putih, dia kesusahan menahan berat tubuhnya dan perutnya yang membuncit, sebentar lagi hanna memasuki usia 9 bulan kehamilannya. Dia ingin makan sesuatu agar tubuhnya menjadi hangat.


Dia turun dari tangga dan hendak ke dapur, dia tidak mau menelepon dazon, dia ingin melakukannya sendiri. Hanna hendak masuk ke dapur dan seketika dia berhenti karena mendengar perbincangan seseorang di ruang makan yang teredam.


"Untung saja aku bangun tuan, aku tidak tahu kalau anda belum tidur dan masih bekerja, jadi kusiapkan saja cemilan malam untuk anda, ini adalah cemilan rendah kalori sangat bagus untuk di makan malam-malam begini.


"Terima kasih Mey, bisakah kau buatkan satu lagi untuk istriku, kadang dia terbangun dimalam hari dan ingin makan sesuatu." ucap dazon.


"Tidak masalah tuan, saya akan segera menyiapkannya, Oh ya tuan dazon, bisakah aku makan di meja ini? aku juga sedang ingin makan cemilan ini, sayang rasanya melewatkan obrolan dengan anda jika saya makan seorang diri di dapur." Ucapnya.


Dazon hanya mengiyakan saja tanpa memperdulikan bagaimana ekspresi wanita itu yang terlihat senang dan begitu gembira.


"Terima kasih tuan saya senang sekali karena...


Ucapan wanita itu berhenti manakala dia melihat hanna memasuki ruang makan, senyumnya tiba-tiba redup di gantikan dengan wajah kecewa yang sangat terlihat jelas di wajahnya.


"Anda bangun Nyonya." Ucapnya sedikit menunduk.


Dazon mengangkat kepalanya dan menatap hanna. Tatapan hanna seakan mempertanyakan mengenai kebersamaan dazon dan wanita tua itu malam-malam begini.


"Sayang, kau bangun? tadi aku kerja dan ingin makan sesuatu, untungnya mey kebetulan bangun juga, jadi dia membuatkanku pancake ini." Ucap dazon perlu menjelaskan kepada istrinya, karena dia tahu hanna tidak menyukai mey.


"Tidak perlu kau jelaskan sayang, tentu saja dia harus melakukan apa yang menjadi tugasnya," Ucap hanna dengan ucapan sinis, dia mengambil susu yang di bawanya dari dapur dan menuangkan di gelasnya.


"Anda perlu sesuatu Nyonya?" tanyanya.


"Tidak, kau boleh pergi." Jawab hanna tanpa menatapnya, dia kemudian membungkuk dan segera undur diri dari ruangan itu.


Hanna menatap kepergiannya, entah mengapa dia ingin sekali menarik rambut wanita tua itu, tangannya betul-betul gatal untuk melakukannya.


"Sepertinya kau menikmati sekali berbincang dengannya." Ucap hanna membuka percakapan.


"Mey pandai berbicara, dia juga paham mengenai beberapa kelompok ilegal di italia, jadi kadang dia menyampaikan beberapa rahasia dari genk kecil di sana." Ucapnya.


"Kenapa sayang, apa yang kau khawatirkan?" tanyanya.


"Tidak ada yang kukhawatirkan." Jawab hanna dengan tenang sambil menyesap susu yang diminumnya.


"Kau tidak lapar sayang? aku masih ada satu pancake untukmu, sepertinya terlalu larut jika mey membuatkan lagi makanan untuk kita." Dazon memberikan makanannya di hadapan hanna.


"Tidak, aku tidak mau, aku lebih memilih minum susu saja dan menahan lapar di bandingkan aku makan makanan wanita sialan itu." Ucap hanna enteng.


"Hanna, ada apa denganmu, kenapa kau begitu membencinya?" tanya dazon, dia menahan tangan hanna yang hendak beranjak dari meja makan.


"Entah, aku hanya tidak menyukainya." Ucap hanna ketus, dia kemudian melepaskan paksa tangan dazon dan segera kembali ke kamarnya.


"Aku akan membuatkan sesuatu untukmu, kau bilang kau lapar." Tanya dazon, kembali menahan tangan hanna.


"Tidak daz, aku sekarang mengantuk, aku tidak lapar lagi, minum susu saja sudah cukup untukku." Ucapnya. Hanna segera berlalu dan meninggalkan dazon yang masih berdiri di sana menatapnya.


Hanna tidak bisa tidur, sejak tadi dia menunggu dazon tetapi rupanya sampai jam 3 pagi dia belum kembali juga, rupanya dia lebih memilih tidur di ruangan kerjanya dari pada kembali ke kamar, hanna menutup kedua matanya mencoba mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah.


~


"Kau bertengkar lagi dengan hanna?" Tanya daneil, dia melihat lampu di ruangan dazon masih menyala dan kemudian singgah sebentar.


"Tidak, kami tidak bertengkar hanya saja, aku hanya mengikuti saran Ax saja, memberikan ruang untuk hanna, agar dia bisa menikmati waktunya sendiri." Ucap dazon.

__ADS_1


"ya, wanita hamil kadang seperti itu, kau termasuk yang beruntung daz, kadang ibu hamil benci melihat wajah suaminya sendiri, terkadang wangi suaminya juga di bencinya." Ucap daneil.


"Tapi Hanna sudah melewati fase ngidam, sebentar lagi dia akan melahirkan, aku hanya tahu satu hal, dia membenci mey, entah mengapa keberadaan mey membuat hanna sering marah-marah." Ucapnya sambil memijat keningnya.


__ADS_2