The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part Dazon : 44


__ADS_3

Pukul 00.15 Complex City


Paulo dan orang-orangnya telah tiba di tempat truck kopi tempat Hanna bekerja berjualan kopi, dia segera masuk ke dalam Truck dan mengambil tas kecil milik Hanna yang berisi barang-barang pentingnya.


"Kita kembali sir?" tanya salah satu pengawal ketika mereka telah berhasil mengambil apa yang mereka butuhkan.


"Jangan dulu, ada sesuatu yang harus kita kunjungi, ini adalah perintah tuan Dazon."


"Baik sir."


~


Keringat berjatuhan di keningnya, langkah kakinya semakin mendekati koridor itu, senandung terdengar keluar dari bibirnya, garukan panjang menggema di sepanjang koridor. Matanya menatap sebuah pintu bernomor 107, jantung detektif nick berpacu, sedikit lagi dia akan ketahuan, matanya kini terbelalak ketika melihat sosoknya, dia adalah Riel, pria itu berjalan dengan membunyikan sesuatu di pintu seperti suara cakaran yang menyakitkan telinga, bunyi mengerikan menggaung di koridor.


Dia membuka pintu 107 matanya memindai seluruh ruangan di dalam kamar itu, penghuni kamar ini sudah tidak ada, dia tidak pernah datang lagi, meskipun barang-barangnya masih lengkap di dalam sana.


Tiba-tiba dari arah depan, Nick keluar dan berlari sambil menabrak Riel yang berdiri di sana dengan pikirannya sendiri, detektif itu menabraknya dan memegang tongkat yang dia temukan di belakang lemari, Riel berdiri dan menatap pria di hadapannya, matanya berkilat tajam melihat seorang detektif mengendap-endap masuk ke kediamannya.


Detektif Nick memegang senjata yang di arahkan kepada Riel, tetapi keingintahuannya lebih besar dibandingkan ketakutannya. Dia ingin tahu siapa sebenarnya Riel, jadi dia memutuskan melakukan pembicaraan dengannya meskipun nyawanya jadi taruhan.


"Halo, Riel ini pertama kalinya kita bertemu bukan? Perkenalkan namaku Nick." Ucapnya, sambil mundur beberapa langkah, tangannya masih mengarah kepada riel yang terlihat siap memangsa korbannya.


"Aku ingin bertanya sesuatu padamu Riel !" Ucap detektif nick sambil terus mundur ke belakang.


"Kenapa kau membunuh semua gadis-gadis berambut pirang itu ! Apa alasanmu?" Ucap detektif Nick, dia terus mundur membatasi jarak kepada Riel yang melangkah dengan nafsu membunuh yang kental.


"Kau tidak bisa menjawabnya karena kau juga tidak menemukan alasan yang tepat untuk menjawabnya, keinginanmu untuk membunuh karena instingmu yang ingin membentengi dirimu dari si rambut pirang," ucap detektif nick memberikan kesimpulan.


Riel terus melangkah tanpa menjawab pertanyaan detektif Nick, matanya tajam, dia sudah memegang senjata berupa tongkat besi di tangannya.


"Kau...kau tidak bisa menjawabnya, kalau begitu apa kau mengenali nama ini? Ben Riever !" Ucap detektif Nick.


Dia berhenti berjalan, tiba-tiba dia terlihat menggeram, matanya membelalak menakutkan, suara aneh keluar dari mulutnya, "TIDAK, AKU TIDAK MENGENAL PRIA ITU ! AKU TIDAK MENGENALNYA !!" teriak Riel, napasnya kini memburu sesuai dengan nafsunya yang lebih besar untuk melenyapkan pria di hadapannya.


"Ba..bagaimana kau bisa tidak mengenal pria itu? Ben Reaver adalah ayah kandungmu Riel !" Ucap detektif nick mencoba menekan Riel, sampai sejauh mana dia mengetahui mengenai Ben Reaver. Karena teriakan dan tindakannya yang impulsif, dia yakin riel adalah putra pertama Ben Riever.


"Kalau begitu, apakah kau mengenal Ben Reaver Junior??" Tanyannya.


Riel kali ini menegang, dia memegang kepalanya dan berdiri di sana dengan teror di wajahnya, "jangan, jangan sakiti mereka," gumam Riel, seakan dia berbicara kepada seseorang.


Kini matanya tertuju kepada detektif Nick. Dia berjalan sangat cepat dengan tangan melayang ke arah detektif Nick.


Detektif itu lari dengan kencang, dia tahu kini waktunya berhenti bertanya, dia lari sekencang-kencangnya, dia menekan tombol lift dengan cepat, lift membuka, dia segera masuk ke dalam dan menekan tombol, pintu lift menutup ke lantai 1, selang beberapa detik ketika Riel sudah berada di depan lift, untungnya liftnya telah tertutup.


Riel mencari akses lain, dia melewati tangga darurat, lebih cepat, dan dia berhasil berlari sekuat tenaga untuk mendapatkan mangsanya.


Pintu lift terbuka, detektif Nick segera keluar dari sana dan berlari sekuat tenaga, tetapi sayang sekali Riel sudah berdiri di pintu masuk, akses satu-satunya keluar dari gedung itu.


Matanya menatap tajam kepada detektif Nick, keinginan untuk melenyapkan orang itu sungguh besar, tanpa ragu dia menyerang detektif Nick dan memukulnya bertubi-tubi, sehingga detektif nick jatuh terjerembab ke lantai.


Untungnya pertahanan detektif Nick masih kuat, dia menahan serangan berikutnya, dengan tongkat yang masih di pegangnya.


"Ben Reaver junior, hentikan pembunuhan yang kau....kau lakukan ! Bukankah kau membenci apa yang di lakukan ayahmu? Kau harus....harus menyerahkan dirimu." Detektif nick tidak sanggup lagi menahan serangan Riel yang dengan sekuat tenaga menekan besi itu ke leher detektif nick, wajahnya kini memerah, kakinya bergoyang keras, masih mencoba menahan serangannya.


"Ana Ukh...ANA REAVER, KAU MENGENALNYA !?"


Pertanyaan terakhir Detektif Nick membuat Riel berhenti menyerang, seakan dirinya di sadarkan dengan nama itu.


"Ana Reaver?" Bisiknya.


Dia melepaskan besi dari leher detektif Nick. Dia seakan masuk ke memorinya yang paling terdalam, dia berdiri seperti layaknya patung, pandangannya tiba-tiba kosong. Detektif Nick terbatuk-batuk ketika serangannya telah berhenti, dia menyeret tubuhnya mundur dan menjauh dari Riel.


Senandung aneh terdengar dari mulut Riel.


"Twinkle-twinkle little star hmm...."


Dia bernyanyi seperti mengenang kembali memori yang terlupakan dan sudah tertanam di dasar memorinya, kini berkat detektif nick, memori yang sudah hilang itu muncul di permukaan, Riel kemudian berdiri mematung, tidak lagi menghiraukan keberadaan detektif nick yang terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya.


Pintu menjeblak terbuka, kepungan polisi datang dari segala arah, mereka berlari dan masuk ke gedung tua itu, nick sudah mempersiapkan ini sejak awal, dia menghubungi detektif Rainey sebelum dia datang ke bangunan ini, dan memberikan pesan singkat tentang keberadaannya.


Polisi langsung meringkus Riel, mereka mengerumuni Riel dan menangkapnya, kedua tangannya sudah di borgol, tetapi bibirnya tidak berhenti bersenandung lagu itu, wajahnya yang tadinya mengerikan kini berubah melembut, ingatannya dipaksa kembali untuk mengingat bahwa dia memiliki adik kecil yang dulunya sangat di sayanginya.


"Twingkle twingkle hm...."


"Bawa dia ke dalam mobil." Perintah detektif Rainey, dia kemudian menghampiri nick yang mencoba berdiri di sana dengan susah payah.


"Kau berhasil Nick, kau berhasil menangkap pembunuh nomor satu yang paling di cari di Atlanta, selamat Nick." Ucapnya sambil menepuk-nepuk punggung rekannya.

__ADS_1


Tiba-tiba langkah Riel berhenti, dia berbalik menatap detektif Nick.


"Dimana Ana, dimana adikku sekarang?" Tanya riel dengan suaranya yang kembali normal, dia seakan terbangun dari tidur panjangnya dari sosok bengis di dalam dirinya.


Nick berjalan melangkah lebih dekat kepadanya. "Aku tidak bisa memberitahu keberadaannya, ini untuk kebaikan adikmu, tetapi kau harus tahu, dia baik-baik saja."


Matanya melebar mendengarnya, tiba-tiba matanya berkaca-kaca, diingatannya yang paling dalam bahwa terakhir kalinya dia melihat adik perempuannya, ketika dia menggendong adiknya yang berusia 2 tahun dan menyembunyikan adiknya di dalam lemari ketika dia tertidur lelap dan dia sendiri berlari ke suatu tempat untuk bersembunyi dari kegilaan ayahnya.


"Itu sudah cukup untukku." Gumamnya, dia kemudian mengikuti polisi yang membawanya ke dalam mobil, dia melanjutkan bernyanyi dan masuk ke dalam mobil polisi dengan pengawalan ketat di samping kiri dan kanannya.


Mereka berdiri di sana, sekelompok pengawal menatap dari kejauhan proses penangkapan Riel, dia menatapnya, paulo menelepon thomas yang masih berada di rumah sakit.


"Thom, polisi sudah menangkap Riel."


"Benarkah? Bagus, detektif itu bergerak cepat juga, sedikit informasi yang kuberikan kepadanya, dengan cepat di lahapnya."


"Tetapi thom, ada sesuatu yang aneh yang mereka bicarakan."


"Apa itu?"


"Saya mendengar mereka menyebut mengenai nama seorang wanita bernama Ana Reaver." Ucapnya.


"Selidiki mengenai wanita itu."


"Oky thom."


~


~


Malam itu hanna sudah berbaring di tempat tidurnya sendiri, dia lelah menunggu kedatangan paulo yang katanya akan segera membawa ponselnya dari truck kopi milik yessy, dia memutuskan untuk tidur saja, toh besok pagi ponselnya akan kembali kepadanya.


Gerakan di sekitarnya tidak di sadari oleh hanna, dia masuk ke kamar dan secara alami naik ke atas tempat tidur dan menjambret pinggang hanna yang tidur menyamping. Dia mendekapnya erat dan memberikan kecupan-kecupan di sekitar rahangnya.


Hanna yang sudah tertidur, merasakan jejak-jejak basah berada di sekitar ceruk lehernya, dia mendorong tubuh dazon masih dengan mata tertutup, suaranya terdengar merengek manja mendorong tubuh dazon menjauhinya.


Dazon tersenyum, dia menatap hanna semalaman, dan mengusap wajahnya dari helaian rambutnya yang menutup sebagian wajahnya.


Dia memberikan kecupan-kecupan kecil di bibirnya, membuat hanna mengernyitkan alisnya merasakan pelukan erat yang membuatnya gerah.


"Mm, minggir...panas tau !" Gumam hanna masih dengan tidur pulasnya.


"Tuan Dazon, Riel telah di tangkap oleh kepolisian."


Dazon membacanya, dia kembali menutup ponselnya dan kembali berbaring, dan tidur terlentang, ingatannya masih jelas ketika pertama kali dia bertemu dengan Riel.


ketika usia dazon masih 17 tahun, dia melihat pria itu sedang berdiri di bawah derasnya hujan seorang diri, dia betul-betul menuntaskan pekerjaannya, meskipun thomas atau paulo menyuruhnya untuk sementara berlindung dari derasnya hujan tetapi dia tidak bergeming, dia tetap berdiri di sana seperti sebuah patung, ketika shiftnya telah selesai barulah dia beranjak dari sana, hal itu membuat dazon tertarik mengambil Riel menjadi pengawal kepercayaannya. Siapa yang sangka dia memiliki sosok iblis di dalam dirinya.


~


~


Detektif Nick dan detektif Rainy dan beberapa dari kepolisian sudah mengambil barang bukti dari kamar Riel, banyak hal yang di temukan di dalam kamar flat bernomor 105 itu, bukti-bukti itu berupa rambut pirang dari semua korbannya yang tersusun dalam sebuah koper kecil, minyak wangi yang di raciknya sendiri, sepertinya dia memiliki bakat seperti ayahnya, dia pandai meracik wewangian, beberapa alat bukti berupa saputangan untuk menjerat korban serta banyak barang-barang milik Riel di kamar itu yang menjadi bukti bahwa riel adalah sosok pelaku pembunuhan yang mereka cari.


~


Sosoknya duduk di sudut tembok penjara di pusat penjara kepolisian Atlanta, dia berada di sel paling dalam, dia duduk di sana seorang diri sambil menekuk lutut, bibirnya masih bersenandung ringan.


Ingatannya membawanya kembali kepada peristiwa itu, tiba-tiba matanya membulat dan tubuhnya menegang, dia memegang di sisi kepalanya ketika mendengarkan suara rintihan kesakitan ibunya, dan melihat darah memenuhi rumah mereka. Hanya rambut pirang ayahnya yang tertanam di memorinya, dia teriak-teriak di dalam penjara itu, membuat beberapa orang polisi dan dokter menghampirinya untuk menenangkannya.


~


~


Hanna terbangun pagi-pagi sekali dan heran, dia melihat dazon sudah ada di sampingnya, dia berbalik menghadap pria ini, dia menatap wajahnya dan memperhatikan dengan seksama setiap detail di wajahnya.


Hanna mengangkat tangannya, dengan sembunyi-sembunyi, dia mengusap wajah dazon, dia menunjuk alisnya yang berkerut karena terkena sedikit cahaya matahari, dia menjalarkan tangannya hingga sampai ke hidungnya yang mancung dan bibirnya yang penuh. Tiba-tiba mata dazon terbuka lebar, senyum tertuang di wajahnya.


"Puas menikmati pemandangan?" Tanyanya.


Hanna terkejut, dia otomatis memundurkan tubuhnya menjauh tetapi dazon lebih cepat, dia sudah mengurung hanna di kedua tangannya, mata coklatnya menahan mata hanna agar memandangnya.


Senyum kemenangan terbentuk di bibirnya. "Kau harusnya memikirkan resiko jika kau menggangguku hanna?" Ucap dazon yang sudah menjulang di atasnya.


Hanna terkurung di kedua lengan kokoh dazon, sementara tangannya mendorong kuat tubuh dazon yang sama sekali tidak bergeming.


"Aku..aku hanya mencoba membangunkanmu." Ucap hanna merona, kedua kakinya di tahan oleh dazon sehingga hanna betul-betul terkurung.

__ADS_1


"Apa..apa yang kau lakukan?" Suara Hanna terdengar panik, dazon tersenyum penuh arti kepada Hanna.


"Kau tahu pasti apa yang kuinginkan Hanna." Bisiknya dengan suara parau. Bibirnya sudah menutup bibir hanna, ciuman itu begitu intens di pagi yang cerah ini, tubuhnya meliuk menjelajahi setiap sisi wajah hanna, suara hanna terdengar aneh di telinganya sendiri, dia menahan bibirnya dari suara rintihan yang ingin keluar dari mulutnya.


"Ti..tidak, jangan sekarang, aku tidak bisa." Ucap hanna mendorong-dorong tubuh Dazon yang sudah menyelusup ke dalam pakaian tidur hanna. Tangannya sudah siap mulai menjelajahi setiap sisi tubuhnya, dazon bersumpah tidak akan berhenti, meski apapun yang terjadi, hal ini sudah begitu lama dia tunggu dan di tahannya kuat-kuat, dia menunggu-nunggu hari ini akan tiba.


Telepon di samping dazon terus bergetar, tetapi dazon mengabaikannya, dia terus menguasai bibir hanna, tetapi ponselnya kian nyaring terdengar.


Dengan geram dazon beranjak dari tempat tidur sambil mengumpat dengan keras.


"Jika bukan kabar penting aku akan membunuh kalian !" Ucap dazon di telepon yang diangkatnya tanpa melihat siapa yang menelepon.


"Kau akan membunuh ayahmu?"


Suara Xaphier menyiratkan keingintahuan yang dalam kepada putranya, mengapa dia begitu marah di bangunkan pagi-pagi begini.


"Apa yang kau lakukan sepagi ini sampai telepon saja membuatmu begitu marah?" Tanyanya.


"Dad? ada apa dad ! Aku masih di tempat tidur tadi." Ucapnya. Dia melirik kepada Hanna yang terburu-buru mengambil pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi.


"Kami ada di hotel Atlanta, hanya dua hari saja kami berada di sini, datanglah sebentar untuk makan siang, ibu dan adikmu merindukanmu." Ucap Xaphier.


Dazon mengacak rambutnya, "Oky dad, aku akan datang."


"Sampai jumpa son, ngomong-ngomong kau bisa membawa wanitamu dan memperkenalkannya kepada kami daz, apa kau sedang bersamanya?"


"Oke Dad, sampai jumpa." Dazon menutup telepon ayahnya tanpa menjawab pertanyaannya.


Kali ini dia gagal lagi, tubuhnya sudah terasa ingin memberontak, tetapi dia tidak ingin menyakiti hanna.


~


~


Hanna mendengar semua pembicaraan dazon dengan ayahnya, dia kemudian mencibir, tidak mungkin dia akan membawa hanna menemui kedua orang tuanya, dia sudah menyatakan bahwa hanna hanyalah wanitanya, tetapi bukan untuk di perkenalkan kepada keluarganya.


Hanna menutup pintu kamar mandi dan bersandar di sana, jantungnya masih berdegup kencang ketika merasakan dazon menginginkan tubuhnya. "Apa yang kau harapkan Hanna, dia tidak akan membawamu menemui kedua orang tuanya, jangan bermimpi." Gumam Hanna.


~


Siang itu Dazon segera kembali ke kamarnya dan bersiap-siap untuk berangkat menemui orang tuanya, kemudian dia keluar dari kamarnya setelah selesai.


Hanna duduk di ruang nonton sambil menatap tv layar datar yang menampilkan telenovela dari negara meksiko.


Dia melirik kepada dazon yang telah bersiap-siap, dia tidak mengatakan apa-apa mengenai kepergiannya kepada Hanna, bahwa dia akan keluar dan menemui keluarganya.


"Aku akan pergi siang ini hanna, aku akan makan siang di luar." ucap Dazon. Hanna hanya mengagguk menyetujui, dia terlihat tidak peduli dengan kepergiannya.


"Kau mendengarku Hanna?" tanyanya.


Hanna menatap dazon, ada sedikit rasa sakit hati yang di rasakannya. "Ya, aku mendengarmu." Ucap hanna tanpa ada ekspresi di wajahnya. Dazon berjalan lalu menghampiri hanna, dia lalu menciumnya.


"Aku pergi, aku akan kembali secepatnya." ucapnya, dia kemudian pergi, pintu kamar menutup, hanna berdiri dan menatap dari jendela atas kepergian mobil dazon yang melewati pelataran parkiran.


"Apa gunanya menahanku, jika saatnya tiba, kau akan melepaskanku," perasaan hanna tidak menentu, rasa sakit di hatinya begitu terasa. "Apa aku akan terus berlari darimu Dazon? demi melindungi hatiku."


~


~


Suara langkah kaki menggaung di lantai paling dalam di penjara itu, dua detektif mendatangi penjara yang di tempati oleh Riel, Detektif nick menatapnya. Dia membelakangi jeruji penjara dan duduk sambil mengukir sesuatu di dinding.


"Bagaimana kabarmu Riel, apa yang sedang kau lakukan." Ucap detektif nick, mencoba mengajak Riel berbicara. Setelah dua hari di dalam penjara, Riel menolak untuk berbicara kepada siapapun. Ketika mendengar suara detektif Nick, dia tiba-tiba berbalik, dan menatapnya perlahan.


"Katakan kepadaku, bagaimana kabar Ana hari ini? Apa dia baik-baik saja?" tanyanya.


"Dia baik Riel, dia sekarang berada di tempat yang aman, kau tidak usah mencemaskannya." Matanya tajam menatap dua orang di hadapannya.


"Apa yang ingin kau ketahui? kau sudah mendapatkan semuanya, dan sekarang aku berada di sini, di penjara ini berkatmu , sekarang apa yang kau inginkan dariku." Tanyanya.


Detektif Nick maju dua langkah lebih mendekat ke jeruji Riel. "Sesuatu mengusikku, aku bertanya-tanya, mengapa kau menjadi pengawal di keluarga Caesaar, apa tujuanmu?"


Senyum menghiasi wajahnya, "Lebih mendekatlah kemari detektif Nick, aku akan memeberitahu alasannya." Detektif Nick melangkah lebih dekat, tetapi tangan detektif Rainey memegang bahunya, lalu menghalangi detektif Nick.


Dia menggelengkan kepalanya. "Jangan lebih dekat kepadanya, jangan mengikuti maunya, yang kau hadapi sekarang ini adalah seorang predator pemburu rambut pirang, yang kau hadapi orang sakit, jadi buat jarak darinya Nick." Bisik detektif Rainey.


Suara tawa menggema di dinding dingin berjeruji itu. "Kau benar, hati-hati denganku, kau tidak tahu apa yang akan menyambutmu jika kau mencoba dekat denganku."

__ADS_1


"Mengenai pertanyaanmu itu, aku tidak bisa katakan alasannya," Riel berkata seperti itu, dia kemudian kembali membelakangi jeruji, dan melakukan sesuatu di tembok itu, seperti mengukir sesuatu.


"Sebaiknya kita pergi Nick, dia tidak akan menjawabmu," Ucap detektif Rainey, mereka berdua melangkah meninggalkan ruangan Riel, matanya mengerling mereka yang telah pergi menjauh, dia menatap hasil ukirannya, tiba-tiba wajahnya menggelap. "Caesaar." Bisiknya.


__ADS_2