
07.15 Mansion Caesaar di Atlanta.
Ruangan besar itu terkunci rapat, tuan Caesaar meminta Thomas, paulo dan Loue untuk duduk di hadapannya, tidak lama kemudian Xaphier dan Daren turut masuk ke dalam ruangan itu. Mereka semua heran, mengapa ayahnya mengumpulkan mereka semua di sini apalagi para pengawal kepercayaan tuan Caesaar juga turut hadir.
Mereka semua duduk menunggu tuan Caesaar berbicara.
"Aku memanggil kalian semua di sini untuk memberitahukan bahwa aku telah menulis surat wasiat kepada keturunan-keturunanku. Terutama cucu-cucuku dan keturunan Caesaar ke depannya. Surat wasiat ini akan di bacakan oleh pengacaraku ketika aku telah tiada nanti." Ucapnya dengan suara yang letih.
"Ayah, apa yang ayah katakan, mengapa membuat surat wasiat? Ayah akan baik-baik saja." Ucap Xaphier khawatir melihat ayahnya, nampak ayahnya terlihat tua dari biasanya.
Dia tersenyum, guratan setiap lekuk di wajahnya membuktikan usia tuan Caesaar melewati masanya untuk terus bekerja terlalu keras, dia butuh istirahat, usia tua telah menangkapnya sehingga segala urusan mengenai Kekuasaan dan nama besarnya akan dia serahkan kepada keturunan-keturunannya kelak. Jadi dia telah mempersiapkan semuanya sehingga suatu hari tidak ada pertengkaran yang akan terjadi di masa depannya.
"Yang ingin aku bicarakan selain mengenai surat wasiatku adalah, mengenai Kelompok Crounus." Ucapnya.
"Kelompok crounus? Ada apa dengan mereka ayah?" Tanyanya.
"Kelompok Crounus mengembangkan laboratorium di luar kota Atlanta di dekat desa Emerald, mereka mengembangkan racun dan juga penawar, aku akan memberitahukan kepada kalian semua. Aku ingin kalian mengambil obat satu-satunya yang di kembangkan oleh mereka dan bawa langsung ke dokter Alfonso."
"Obat apa itu ayah?" Tanya Xaphier.
"Obat itu untuk menyembuhkan segala zat racun yang masuk ke dalam tubuh kita, intinya obat itu untuk putra dazon nantinya." Ucapnya.
"Putra dazon?" Tanya xaphier.
"Iya, di tubuh putra dazon juga akan mengalir darah keturunan dari Ben reaver, aku ingin kau mengobati putranya kelak, karena ketika anak itu lahir, dia bisa menjadi kehancuran atau keberuntungan bagi nama besar Caesaar, untuk itu, sebelum dia berubah menjadi monster pembunuh, kalian berdua." Tuan Caesaar menunjuk kepada xaphier dan daren.
"Kalian berangkatlah ke Oklahoma bawa Lexia dan nara serta anak-anak kalian, ada tugas yang kalian akan lakukan di sana, ini mengenai bisnis dengan Grup Kurz, kalian harus berhasil membujuknya untuk bekerja bersama perusahaan kita alih-alih mereka memilih bekerja sama dengan Crounus, itu tugas untukmu xaphier dan daren."
Biarkan Axton Daneil dan Dazon yang berada di Atlanta yang akan mengurus perusahaan ayah di sini, dan kalian bertiga," dia menunjuk kepada thomas, loue dan Paulo.
"Tugas kalian adalah membuat Riel bekerja bersama kalian merebut serum penawar itu, riel akan melakukan apa saja untuk kesembuhan adiknya, jadi jangan khawatir." Ucap tuan Caesaar.
"Baik tuan."
"Kalian semua boleh keluar, aku ingin istirahat." Ucap tuan caesaar terlihat lelah, dia menyandarkan punggungnya di sofa itu dan melepaskan kacamatanya.
~
Mereka semua keluar dari ruangan, mata xaphier menatap tajam kepada thomas serta mereka bertiga.
__ADS_1
"Apa ada sesuatu yang tidak kalian sampaikan kepadaku?" Ucapnya tajam, matanya berkilat menatap ketiga pengawal itu.
Thomas menunduk dan menganggukkan kepalanya. "Tuan Caesaar mengizinkan kepadaku untuk menceritakan kepada anda tuan, tetapi tidak kepada tuan Dazon dan yang lainnya."
"Ke ruanganku sekarang, kalian harus menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya."
"Baik tuan."
Mereka semua mengikuti Xaphier menuju ruangannya.
~
~
Hanna terbangun, dia membuka sedikit matanya, merasakan seseorang menggenggam tangannya erat, dan tidur di sampingnya. Hanna menatap dazon yang sedang berbaring di sampingnya dia tertidur pulas, napasnya terdengar teratur. Dazon menyelimuti tubuh dazon, dia segera bangkit dari tempat tidurnya perutnya sudah melilit karena begitu laparnya. Dazon membuka matanya perlahan, dia merasakan pergerakan di sampingnya.
Sayang, kau sudah bangun?" Ucap dazon, dia mengucek matanya dan langsung bangun dari tidurnya dan menarik hanna agar lebih mendekat kepadanya.
"Mmm, aku lapar daz." Ucap hanna sambil bersandar di bahu suaminya.
"Kau lapar? Tentu saja kau lapar, kau tidur lama sekali, setelah itu kau jatuh pingsan sayang, dan jam segini kau baru bangun."
"Kau ingin tahu?" Bisik dazon di telinganya.
"Tentu saja daz, ada apa?"
"Kau hamil sayang." Ucapnya. Hanna lalu duduk dengan tegak, dan menatap wajah dazon dengan keheranan.
"Benar, benarkah daz?" Ucap hanna, suaranya terdengar ragu, dia lalu menatap perutnya, ada kehidupan di dalam sana, meskipun belum tampak, tetapi hanna sangat senang dan bersyukur, dia lalu memeluk dazon dan tersenyum bahagia.
"Kita akan memiliki anak? Aku sangat bahagia dazon." Ucap hanna. Dazon membalas pelukan erat hanna dan membelai punggungnya.
"Aku juga sangat senang sayang." Bisik dazon pelan. Matanya menerawang jauh menatap kosong dinding di hadapannya, dia sangat berharap bayi yang dikandung oleh hanna adalah seorang bayi perempuan.
~
Pagi itu cuaca sangat mendung, udarapun begitu dingin, hanna kemudian terbangun di pagi itu tanpa dazon di sampingnya, dia menatap bantal yang kosong. Hanna mengernyitkan alisnya lalu menatap jam yang berada di atas nakas.
"Jam 07.10, apa dazon telah berangkat kerja?" Ucap hanna. Dia turun dari tempat tidurnya, lalu langsung masuk ke kamar mandi, setelah mandi dan mengenakan pakaiannya, hanna segera keluar kamar, berharap dazon ada di bawah atau berada di ruangannya.
__ADS_1
Terdengar langkah kaki seseorang di dalam ruangan dazon, seperti beberapa orang yang sedang berbicara.
"Ayah dan ibumu akan berangkat ke Oklahoma daz, begitupun dengan daren dan bibi lexiamu, kami semua akan berangkat ke Oklahoma, ada sesuatu yang diminta oleh kakekmu untuk kami kerjakan secepat mungkin." Ucapnya.
"Secepat itu ayah akan berangkat ke Oklahoma? Pekerjaan apa?" Tanyanya.
"Nanti kau akan tahu, Oh ya, erm jaga baik-baik hanna, kau harus selalu berada di sampingnya," ucap Xaphier.
Dazon kemudian mengangguk, Xaphier menghela napasnya, kemudian menepuk punggungnya seakan memberikan bentuk semangat atau prihatin, hal itu membuat dazon curiga dengan sikap ayahnya.
Xaphier hendak membuka pintu ruangan dazon, tiba-tiba dazon memutuskan untuk berbicara sekarang juga.
"Apakah karena hanna hamil?" Ucap dazon.
Xaphier kemudian berbalik, dan menatap putranya.
"Ayah, aku tahu semuanya, jadi ayah tidak perlu menyembunyikannya dariku, darah yang mengalir di tubuh hanna sangat beresiko besar kepada bayi yang akan di kandungnya, apalagi jika bayi itu bayi laki-laki, kemungkinan terburuknya dia akan seperti Kakeknya Ben Reaver atau seperti kakaknya Riel." Ujar dazon dengan kening berkerut tegas.
Xaphier mengurungkan niatnya keluar dari ruangan putranya, dia kemudian kembali duduk di depannya. "Jadi, kau tahu semuanya daz?" Ucap xaphier.
Dazon mengangguk, "Aku sudah tahu semuanya Ayah, hal yang paling mengerikan, jika hal itu betul-betul akan terjadi, apa yang harus aku lakukan?" Bisik dazon.
"Jangan terlalu mengambil kesimpulan begitu cepat dazon, bagaimana jika bayi kalian nanti seorang perempuan, dan meskipun kelak yang lahir bayi laki-laki, belum tentu seperti yang dikatakan oleh dokter itu, semua bisa berubah daz, kalian akan baik-baik saja, dan satu lagi, jangan bersikap aneh di hadapan istrimu, nanti dia curiga, ibu yang sedang hamil itu sangat sensitif jadi berhati-hatilah bertindak. Satu hal lagi, ada baiknya jika hanna tidak mengetahuinya."
Hanna menempelkan tubuhnya erat di dinding, dia begitu terkejut dengan informasi yang di dengarnya. Perlahan dia segera kembali ke meja sarapan, hanna duduk di sana seperti sedang melamun.
"Bayiku, bayi yang berbahaya?" Gumam hanna sambil mengelus perutnya, seseorang menepuk pundaknya dan tersenyum kepadanya.
"Apa yang kau lamunkan sayang? apa kau masih letih?" Nara dan lexia segera bergabung di meja makan dan duduk di seberang hanna.
"Tidak ibu, aku baik-baik saja, kadang masih pusing sedikit, tapi aku baik-baik saja." jawabnya. Ibu mertuanya tersenyum, tetapi senyuman itu sedih, apakah dia juga sudah tahu apa yang terjadi? apakah mereka juga sudah mendengar bahwa hanna berpotensi mengandung bayi yang berbahaya? Hanna kembali menatap wajah mertuanya yang terlihat lelah.
"Makanlah sayang, kau harus makan yang bergizi dan bervitamin untukmu dan untuk bayimu."
Hanna menganggukkan kepalanya, mereka makan perlahan, terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. "Kau sudah bangun sayang?" ucap dazon mengecup puncak kepala hanna, lalu duduk di sampingnya. Hanna mengerling dazon. Suasana yang canggung dapat Hanna rasakan di ruangan itu, mereka semua tidak banyak bicara seakan mereka berada di pikiran mereka masing-masing.
Hanna kemudian tertunduk dan menatap perutnya, dia tanpa sadar mengusapnya.
Apapun akan ibu lakukan untuk melindungimu, apapun itu.
__ADS_1