The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 10


__ADS_3

Foto itu membuat lexia tersenyum, baru kali ini putranya terlihat serius kepada seorang wanita, biasanya dari mulutnya keluar kata-kata 'Bosan, tidak cantik dan tidak menarik.' Dia memperhatikan wajah gadis yang tertidur di bahu putranya.


"Dia Cantik." Ucap daren mengintip dari bahu lexia.


"Cantik?" Ucap lexia.


"Gadis itu benar-benar tipe Axton." Ucapnya lagi.


"Menurutmu dia terlihat cocok dengan Ax?" Tanya daren kepada lexia.


"Jika Axton menyukainya, dan dia bisa membuat Ax lebih baik dari dirinya yang dulu, kenapa tidak, aku menyukainya asalkan putraku juga menyukainya." Ucap lexia.


"Mommy yang sangat pengertian." Ucap Daren menyandarkan dagunya di bahu lexia, "Aku ingin Ax bahagia," ucapnya.


~


Fairley membuka kedua matanya, terasa nyaman dan hangat, kepalanya bersandar pada seseorang, dia berbalik dan menatap Ax yang sedang duduk di sampingnya sambil tertidur dan bersandar pada dinding rumah sakit.


Dia menatap jaket milik Ax yang menutupi tubuhnya agar dia tidak kedinginan. Dia mengambil jaket itu dan menutup tubuh Ax yang tertidur sambil bersedekap.


Fairley menatapnya lekat-lekat. Mengapa pria ini menyukainya? Apa yang membuat tuan muda ini tertarik kepada dirinya, dia adalah tuan muda yang memiliki kehidupan yang berbeda dengannya.


Ax mengerjap dan membuka kedua matanya ketika merasakan pergerakan di sampingnya. Dia berbalik dan melihat Fairley yang cepat-cepat memalingkan wajahnya ketika Ax terbangun.


"Jam berapa sekarang?" Tanyanya.


"Pukul 02.12 malam, kau tidak pulang?" Tanyanya.


"Kau mengusirku?" Tanyanya.


"Erm, bukan begitu kau terlihat kelelahan, sebaiknya kau pulang." Ucap Fairley.


"Baiklah, aku akan pulang, kau juga sebaiknya istirahat di dalam, jangan tidur di sini." Fairley mengangguk canggung mendapatkan perhatian Ax kepadanya.


Ax berdiri dan Fairley memberikan jaketnya yang ada di di atas tempat duduk. Ax mengenakan jaketnya lalu tanpa Fairley duga satu kecupan mendarat di bibirnya.


"Aku pergi, besok aku akan menemuimu." Ucapnya. Dia berjalan dan pergi tanpa menunggu jawaban dari Fairley. Dia menghembuskan nafasnya dan segera masuk ke dalam kamar ibunya.


~


Axton kembali ke mansionnya, dia tidak kembali ke mansion Dazon karena tidak mau menjelaskan kepada Paman Xaphier mengenai keterlambatannya pulang.


Gerbang mansion terbuka dan membiarkan mobil Ax masuk ke dalam, dia begitu lelah, setelah keluar dari mobilnya, dia berjalan masuk ke dalam mansionnya dan segera merebahkan tubuhnya ketika sampai di kamarnya.


"Aku akan kembali besok." Ucapnya sambil menutup kedua matanya.


Cahaya matahari sudah menyinari kamar Axton, dia mengambil selimut karena silaunya cahaya matahari yang masuk menyinari tubuhnya. Ponselnya berdering sejak tadi.


"Ugh, erm berisik sekali, dia mencari-cari ponselnya dengan meraba di atas meja kemudian mengambilnya dan mengintip dari balik selimutnya.


"Emm Halo Daz, ada apa?" Tanyanya.


"Dad mencarimu, kenapa kau tidak kembali ke mansion?" Tanyanya.


"Aku langsung pulang ke mansionku, lagi pula aku pulang larut malam jadi aku tidak bisa kembali ke mansionmu." Ucapnya.


"Kenapa kau kembali larut malam? Kau bersama dengan gadismu ya, apa yang kau lakukan dengan seorang gadis tengah malam seperti itu?" Ucapnya penasaran.


"Berisik ! Aku masih ngantuk, tutup teleponnya." Ucapnya.


"Jangan lupa menceritakan semuanya ketika kita bertemu nanti Ax." Tanpa menjawabnya Ax lalu menutup ponselnya lalu menatap jam di ponselnya.


"Jam 9 pagi?" Bisiknya, dia kemudian bangkit dari pembaringannya, dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tubuhnya masih di balut handuk hingga tubuh bagian atasnya saja yang basah karena sehabis mandi, dia memegang ponselnya dan satu tangannya sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.


"Kau ada di mana Fairley?" Tanyanya.


"Aku masih di rumah sakit tetapi siang ini kami akan pulang." Ucap Fairley.


"Ibumu baik-baik saja?" Tanyanya.


"Erm, ya ibuku sudah baikan dan dia ingin segera keluar dari rumah sakit ini."


"Aku akan mengantar kalian."


"Tidak usah Ax, kami di antar oleh paman Hendrik, jadi kau tidak perlu datang." Ucapnya, suaranya terdengar aneh, dia seperti menyembunyikan sesuatu.


"Ok, baiklah aku tidak akan datang." Ucap Ax.


Ponselnya dia tutup, Ax berpikir sebentar dan dengan cepat dia mengenakan pakaiannya lalu segera turun ke lantai bawah dan menuju meja makan, setelah sarapan, dia langsung menuju ke rumah sakit dan berhenti di sudut jalan menunggui Fairley dan ibunya di sana, tidak lama kemudian mereka berdua keluar dari rumah sakit, pria tua kemarin malam menjemput mereka dan mengantar mereka ke rumahnya.


Ax membuntuti mobil mereka, dia sangat curiga dengan nada aneh yang keluar dari suara Fairley.

__ADS_1


Setelah beberapa menit perjalanan, mereka akhirnya tiba di rumahnya, tetapi pria itu ikut masuk ke dalam rumahnya, dan anehnya dia mengangkut barang-barang milik Fairley ke dalam bagasi mobil, tas-tas besar sudah masuk ke dalam mobil dan tidak beberapa lama mereka berdua masuk ke dalam mobil.


"Kemana mereka akan pergi?" Ucap Ax, kembali mengikuti kemana mobil itu membawa mereka, anehnya mobil mereka menuju perjalanan ke bandara, mereka tiba dan segera berjalan masuk ke dalam.


Ax Keluar dari mobilnya dan mengikuti kepergian mereka. ”Kau yakin tidak ingin ikut Fairley? Ibu memang sebaiknya kembali ke desa bersama Hendrick, dia sudah begitu tulus kepada ibu, apa kau marah dengan keputusan ibu?" Tanyanya.


Fairley menggelengkan kepalanya lalu tersenyum, "ini yang terbaik untuk mom, aku ingin mom beristirahat di desa, nanti kalau libur sekolah aku akan mengunjungi mom," ucapnya, mereka saling berpelukan, tidak beberapa lama, ibu Fairley harus berangkat sekarang.


"Paman Hendrik terima kasih karena mau menjaga ibuku." Ucapnya, dia hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Hati-hatilah Fairley, jaga dirimu baik-baik." Pesannya. Mereka berdua akhirnya pergi, Fairley memutuskan tidak ikut bersama ibunya ke desa karena disini dia sekolah dan bekerja, di kota besar seperti ini lebih menghasilkan uang di bandingkan harus kembali ke desa. Fairley berbalik dan menghapus air mata ketika menatap ibunya dari kejauhan.


Dia mengerjap dan berhenti berjalan karena Ax sudah berdiri di hadapannya sambil memasukkan kedua tangannya di jaketnya.


"Kau menangis?" Tanya Ax.


"Si..siapa yang menangis, aku tidak menangis." Ucapnya berkedip beberapa kali agar dia tidak ketahuan habis menangis. Ax menghampiri Fairley dan memeluknya.


"Kau bisa menangis sekarang, aku bisa menutup wajahmu di pelukanku kalau kau malu menangis dan dilihat olehku. Fairley mendorong tubuh Ax tetapi dia membiarkan kedua tangannya memeluk tubuh kecilnya dan berlama-lama di sana.


"Sekarang bagaimana? Kau merasa baikan?" Tanya Ax. Fairley mengangguk dan melepaskan pelukan Ax di tubuhnya.


Ax memegang tangan Fairley. "Kau pasti belum makan, kita mencari makan dulu setelah itu...


"Bagaimana kalau makan dirumahku saja?" Ucap Fairley menawarkan.


Ax garuk-garuk kepala, "kurasa itu ide yang bagus, ayo." Dia menarik tangan Fairley menuju mobilnya.


Seseorang melihat kemesraan mereka berdua, tubuhnya tertutup jaket panjang dan mengenakan kacamata hitam.


"Daz, menurutmu ini ide yang cukup bagus?" Tanya Jenni.


"Aku hanya penasaran sampai di mana hubungan mereka, tapi kau lihatkan, mereka sepertinya tampak mesra, Ax boleh juga." Ucap Dazon. Kali ini Jennifer putri dari Carol yang menemani tingkah konyol Dazon karena Daneil berada di mansion kakeknya di Oklahoma.


"Sebaiknya kita pulang, orang-orang menatap kita berdua dengan aneh, apalagi kau membawa pengawal-pengawalmu kemari." Ucap Jennifer tidak sabar, dia kemudian menarik kerah jaket milik Dazon dan membawanya kembali ke dalam mobil.


~


Fairley menatap isi kulkasnya kali ini dia bersyukur karena di dalamnya masih lengkap persediaan beberapa hari kedepan yang telah di siapkan oleh ibunya.


"Kau akan masak apa?" Tanya Ax, dia duduk di meja dapur dan mengambil buah apel dan memainkannya di tangannya.


"Erm, aku akan membuat Pot Toast." Ucapnya.


"Kau bisa mengupas kentang dan wortel ini dan aku akan memotong-motong dagingnya."


"Oke, aku biasa mengupas kentang dan wortel sewaktu kemping bersama dad dan paman Xaphier, entah sekarang aku ingat atau tidak karena aku melakukannya ketika usiaku 10 tahun."


Fairley menatapnya ragu, tetapi Ax cepat-cepat mengambil pisau dan mengerjakan tugasnya.


"Ini bukan hal yang sulit, kau jangan khawatir." Ucap Ax.


Mereka berdua sedang memasak di dapur, tanpa menyadari seseorang tengah mengambil potret mereka dari luar, jendela yang terbuka dan tidak tertutup gorden membuat siapa saja dapat melihat kegiatan mereka dari dalam, tetapi untung saja Ax merasa tidak nyaman dengan angin yang berhembus malam itu hingga dia menutup jendela kaca dapur.


"Sial ! Aku tidak bisa memotret mereka." Ucapnya, dia kembali ke dalam rumahnya sambil melihat hasil jepretannya dan mengirimkan kepada seseorang.


~


Masakannya telah siap dan wanginya sangat menggugah selera meskipun kentang dan wortel yang di kupas oleh Ax menjadi begitu kecil sekali. Fairley menatap potongan wortel kecil itu dan menatap Ax yang berpura-pura tidak terjadi apapun.


"Kita makan sekarang?" Tanyanya berusaha mengalihkan perhatian Fairley dari wortel dan kentang yang imut itu.


"Oke." Mereka berdua makan bersama, beberapa saat hening membuat Ax mengintip kepada Fairley.


"Jadi, kau akan tinggal seorang diri di sini?" Tanyanya.


"Emm ya, kenapa?"


"Siapa ya tinggal di depan rumahmu?" Ucapnya.


Fairley Berbalik dan mengangkat bahunya. "Seorang pria bernama Erick, dia baru saja pindah di depan rumah kami, tempat itu sudah lama kosong, jadi aku sangat bersyukur ada orang di sana." Ucapnya.


"Kau bilang bersyukur? Berapa usia pria itu?" Tanyanya lagi.


Fairley berpikir sebentar. "Mungkin sekitar 25 sampai 30, aku tidak tahu, tetapi sepertinya dia berumur seperti itu."


"Tidak, kau tidak bisa tinggal seorang diri di sini sementara ada laki-laki asing yang tinggal di depan rumahmu dengan jarak beberapa kaki saja dari rumahmu." Ucap Ax menggelengkan kepalanya.


"Apanya yang berbahaya? Dia tidak berada di dalam rumahku, kami memiliki rumah masing-masing, hanya saja jaraknya cukup dekat, apa yang jadi masalah," ucap Fairley menggelengkan kepalanya.


"Malam ini aku akan menginap di sini," Ax memutuskan seenaknya, membuat Fairley membelalakkan matanya. 'Bukankah jauh lebih berbahaya jika dia ada disini?' pikir Fairley.

__ADS_1


"Ti..tidak, kau harus pulang, aku baik-baik saja, kau tidak usah menemaniku." Ucapnya.


"Bagaimana jika pria yang tinggal di depan rumahmu itu berbahaya? Bagaimana jika dia ternyata seorang penjahat dan pasti sekarang ini dia mengetahui jika kau tinggal seorang diri." Ucap Ax.


Fairley menatap Ax jengkel, dia sangat keras kepala, dengan santainya dia duduk di ruang tamu dan melepaskan jaketnya dan duduk di sana sambil memainkan ponselnya.


"Pergilah tidur, aku akan berjaga di sini."


"Kau akan tidur di situ?" Tanyanya heran. Sofa itu sudah rusak dan sudah tidak empuk lagi untuk di duduki apalagi untuk dijadikan tempat tidur.


Fairley menatapnya dan berdiri di sana, berpikir apa yang akan di lakukannya.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Apa kau mengkhawatirkanku?" Ucap Ax tersenyum sambil menaikkan satu alisnya berusaha untuk tidak mengeluarkan suara mengejeknya.


"Siapa yang mengkhawatirkanmu, terserah kau saja mau tidur di mana, aku sama sekali tidak memintamu untuk menemaniku di sini." Ucap Fairley, dia kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Fairley menutup kamarnya kemudian melirik dari sela-sela pintu kamarnya. "Apa dia akan baik-baik saja tidur di tempat seperti itu? Dia adalah tuan muda yang tidak pernah merasakan tidur di tempat yang tidak nyaman seperti itu." Ucapnya.


~


Pukul 01.20,


Fairley membuka kedua matanya, dia menatap jam yang ada di atas mejanya kemudian duduk sambil menengok ke pintu kamarnya.


"Apa dia baik-baik saja?" ucapnya.


Fairley ingin melihat keadaan tuan muda itu, dia pasti tidak bisa tidur dengan keadaan seperti itu.


Dia membuka pintunya dan mengintip dari sela-sela pintu kamarnya, ruangan itu menjadi gelap, "Apa dia mematikan lampunya?" gumam Fairley. Dia berjalan sedikit mendekat dan ingin melihat keadaan Ax, ruang tamu yang gelap itu hanya disinari oleh lampu jalan yang masuk melalui pantulan dari jendela kaca. Fairley menatapnya, dia menyelimuti tubuhnya dengan jaket kulitnya.


Fairley ingin mengambil selimut untuk menggantikan jaket yang di jadikan selimut olehnya, tiba-tiba tangannya di pegang oleh Ax, membuat Fairley terkejut setengah mati.


"Kau tidak tidur?" Ucap Ax sambil menatap Fairley di tengah gelapnya ruangan.


"Ak..aku hanya ingin melihat, maksudku aku ingin pergi ke kamar mandi, apa kau terbangun karena mendengarku? ucap Fairley.


Ax tersenyum, dia kemudian menarik tangan Fairley mendekat ke sofa panjang tempatnya tidur, Fairley terduduk di sampingnya, mereka saling menatap, mata safirnya terasa membakar ketika menatap Fairley di sampingnya.


"Kau mengkhawatirkan aku?" tanyanya.


"Si..siapa yang mengkhawatirkanmu, sudah aku bilang, aku ingin ke kamar....


Ax menarik tangan Fairley hingga dia menimpa tubuh Ax, bibirnya sudah menguasai bibir Fairley dan menahannya di sana, dia mengangkat sedikit tubuh mungilnya hingga Fairley terjebak di sana, sekuat tenaga dia mencoba mendorong tubuh keras Ax tetapi usahanya sia-sia, bibirnya semakin dalam mencecap dan mengeksplorasi bibirnya, ciumannya Seakan-akan dia meneguk air setelah perjalanan yang jauh.


Fairley tidak bisa lagi menahannya, dia mendorong Ax keras agar dia bisa meraup oksigen di sekitarnya, Ax memisahkan bibir mereka agar Fairley bisa menghirup udara dalam-dalam setelah napasnya kembali teratur dia kembali menarik tengkuk Fairley hingga dia kembali terjebak dan terjerat oleh ciuman Ax yang memabukkan.


~


Dazon menatap ponselnya, "Apa dia sudah tidur? ukh penasaran seperti ini terasa mencekikku, Neil juga tidak di sini, dia tidak bisa membantah kakeknya, jika saja dia ada di sini semuanya pasti akan lebih menarik." Ucap Dazon sambil tidur menyamping, lalu kembali menatap jam.


"Dia bilang Ax tidak keluar dari rumah gadis itu, berarti dia menginap di sana?" gumamnya.


"Haah, beruntung kau Ax, sekarang kau memiliki kekasih, akupun ingin memiliki kekasih yang bisa ku.....


"Yang bisa ku apa Dazon sayang?" Ucap sang ibu, Dazon tidak menyadari kamarnya di buka oleh Nara dan mendengarnya bergumam seorang diri.


Dazon tiba-tiba menutup matanya dan berpura-pura mendengkur. Nara hanya tertawa kecil melihat tingkah putranya yang ketahuan menginginkan seorang kekasih.


~


Pagi bersinar terang menerangi setiap sudut ruangan di kamar tamu itu, dua sosok remaja sedang tidur di atas sofa dan saling berpelukan, mereka saling memeluk erat, Sofanya tidak begitu luas untuk di jadikan tempat tidur, sehingga mereka tidur seperti saling menindih, tubuh Fairley berbaring di atas tubuh Ax, dia terlihat terasa nyaman di sana.


Sinar matahari yang mulai menghangatkan tubuh keduanya telah terasa begitu hangat di pipi Ax, dia mengerjap dan membuka kedua matanya, tubuhnya terasa berat lalu menyadari Fairley sedang berbaring di atas tubuhnya.


Ax tersenyum menatapnya, dia menyingkirkan rambut-rambut yang menutupi wajah Fairley, Fairley bergerak lalu mencoba menyembunyikan wajahnya dari sinar matahari yang mulai menyilaukan matanya.


"Ugh, jangan bergerak Fairley, kau akan membunuhku." Ucap Ax sambil merapatkan giginya.


Fairley mengerjap, membuka kedua matanya tetapi menyipit karena sinar matahari menyilaukan pandangannya.


"Kau sudah bangun?" Ucap Ax, tiba-tiba kesadaran menghantamnya, dia kemudian menyadari dia tidur di mana dan menatap posisi intim mereka, Fairley mencoba mengembalikan kesadarannya, dia mendorong keras tubuh Axton dan segera berdiri tetapi kakinya melemah sehingga dia hampir terjatuh.


"Kau baik-baik saja Fairley?" tanya Ax.


Fairley menatap wajah Ax lalu menatap seluruh tubuhnya kemudian dia kembali menatap dirinya sendiri. Pakaian mereka masih lengkap tidak ada sama sekali yang kurang, berarti semalam tidak ada yang terjadi, Fairley yakin itu tetapi sayangnya dia tidak ingat mengapa dia berakhir tidur bersama Ax di sofa itu.


Ax masih berbaring di sana sambil tersenyum melihat ekspresi di wajah Fairley. "Apa yang kau pikirkan tidak terjadi semalam, meskipun aku bisa bilang sayang sekali, itu adalah kesempatan sempurna untukku." ucapnya, membuat mata Fairley melotot marah.


"Mengapa, mengapa aku bisa tidur di sofa itu bersamamu?" Ucap Fairley, seakan menuduh Ax bahwa semua kesalahan ada padanya.


"mungkin karena kau tertidur sewaktu kita saling berciuman, aku tidak menyangka kau bisa tertidur selagi aku menciummu, bagaimana kalau aku orang jahat? kau pasti sudah bangun sekarang ini dalam keadaan telanjang bersamaku." Ucap Ax mencoba duduk di sofa, tubuhnya terasa kaku karena semalam dia sama sekali menahan dirinya untuk bergerak dengan posisi telentang di atas sofa.

__ADS_1


"Ugh tubuhku terasa kaku berkat seseorang." Ucap Ax sambil menatap Fairley yang masih melotot menatapnya.


"Semalam aku tidak melakukan apa-apa kepadamu, asal kau tahu saja, aku tidak menyukai bercinta ketika gadis yang kuinginkan sedang dalam keadaan tidak sadar." Ucapnya tanpa malu, membuat Fairley mengambil bantal sofa dan melemparkannya kepada Ax dan berlari masuk ke dalam kamarnya.


__ADS_2