
Pagi itu mereka telah meninggalkan perancis, Crystal tidak tahu pria ini akan membawanya kemana, dia hanya mengikuti kemana Darko akan membawanya pergi.
Crystal tampak lelah, sebelum mereka berangkat pagi ini pun, pria itu tidak melepaskan tubuhnya begitu saja, entah berapa kali dia menyerang tubuh Crystal seakan tubuhnya memiliki stamina beberapa kali lipat, membuat Crystal kewalahan dan mengeluh karena dirinya tidak kuat lagi, bukankah seharusnya dia harus melayaninya dua kali seminggu? Crystal berdecak, tangannya berada di dagunya, pria itu melakukannya dua hingga tiga kali dalam sehari, seperti dia kehilangan sesuatu jika dia tidak bercinta dengan Crystal sehari saja. Crystal menghembuskan napasnya, untung saja seorang pelayan paruh baya memberikan minuman bervitamin agar tubuhnya tetap kuat untuk menghadapi pria itu di tempat tidur.
Mereka kini berada di dalam pesawat, Crystal duduk seorang diri di sana mengingat adiknya yang berada di mansion, ingin sekali dia meneleponnya dan menanyakan kabar adiknya Luke.
Ruangan itu khusus untuk mereka berdua, pesawat milik pribadi keluarga Caesaar akan segera menuju negara Austria, negara itu sangat dingin dan entah mengapa pria itu ingin ke sana.
Satu belaian tangan yang lembut mengusap tengkuknya membuat Crystal berbalik, Darko telah duduk di sampingnya, dia menatap lekat wajah Crystal yang terlihat lelah.
"Kau baik-baik saja?" Tanyanya.
Crystal memberanikan diri menggelengkan kepalanya, "Aku sedikit pusing, karena lelah." Ucap crystal masih menatap mata saphir itu tanpa berkedip, dia ingin melihat bagaimana reaksi pria itu.
Tanpa mengucapkan apapun, dia lalu mengangkat tubuh Crystal menuju belakang pesawat, di sana kamar khusus di sediakan untuk mereka berdua.
"A-apa yang kau lakukan, aku tidak bisa lagi, aku...aku ingin beristirahat." Cicit Crystal dengan mata membeliak. Sebuah kecupan menghentikan racauannya. Dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur empuk, lalu berbaring di sampingnya.
"Tidurlah, aku akan menemanimu." Bisik Darko lalu menarik tubuh kecil Crystal ke dalam pelukannya.
Wangi tubuh Darko hangat menyentuh hidung Crystal, dia mendongakkan kepalanya menatap wajahnya, Darko pun balas menatapnya.
"Tidur." Perintahnya.
Dengan ragu-ragu, Crystal ingin menanyakan sesuatu kepadanya. "Emm, Apa...apa kau masih berniat membunuhku?" Ucap Crystal, selesai dia bertanya kepadanya, penyesalannya kini merayap di benaknya, untuk apa dia bertanya hal bodoh itu? pikirnya.
Darko tersenyum, "Ya, aku masih akan membunuhmu jika kau mengkhianatiku, kau hanya harus berada di sampingku kemanapun aku pergi, bersamaku dalam keadaan apapun, dan terus berada di sisiku, karena aku membutuhkanmu." Jawabnya lugas.
Pertanyaan kembali menyusup di benak Crystal, dia kemudian bertanya kembali kepadanya. "Apa kau hanya membutuhkanku karena tubuhku, atau karena aku ada di dekatmu." Bisiknya.
Darko terdiam, dia lalu menjawabnya, "Dua-duanya, aku membutuhkan dirimu dan juga tubuhmu, aku tidak bisa jika tidak menyentuhmu." Ucapnya.
Crystal ingin mengakhiri pertanyaannya tetapi Darko menarik dagunya agar memandangnya. "Bagaimana dengan sakitmu, kau masih lelah?" Bisiknya dengan suara serak.
Crystal membelalak, merasakan gesekan hangatnya, apa dia tidak lelah? Baru pagi tadi mereka melakukannya berkali-kali, membuat tubuh crytsal drop seketika.
__ADS_1
"Aku ingin tidur, aku masih lelah Darko." Ucap Crystal menolaknya dengan halus. Pria itu memberikan kecupan panjang kepadanya. "Tidurlah, aku tidak akan melakukan apa-apa, jadi kau bisa memulihkan staminamu." Bisik Darko, tiba-tiba senandung nyanyian terdengar dari bibirnya, membuat Crystal kembali mendongakkan kepalanya, tetapi tangan Darko kembali merapatkan pelukannya hingga kali ini Crystal tertidur, senandung itu sangat di sukainya membuat lelahnya hilang dan dia tertidur pulas.
Mereka tiba di negara Austria dengan ibukota Wina yang terkenal dengan musiknya yang klasik dan bahasa yang digunakan adalah bahasa jerman, Crystal menantikan tempat yang mereka akan tuju, dia mengharapkan Darko memiliki sebuah mansion atau setidaknya apartemen, sehingga dia bisa melihat pemandangan indah dan gunung yang terbentang luas di negara itu.
Mereka berdua mengenakan pakaian cukup tebal agar tubuhnya hangat, Darko turun dari pesawat dengan Crystal berada di tangannya, dia memegang tangan Crystal dan tidak melepaskannya. Beberapa pengawal mengitarinya ketika mereka berjalan, sepertinya musuh ada di mana-mana, hingga keamanannya super ketat.
Sebuah mobil telah di siapkan untuk mereka berdua, tetapi sebelum mereka masuk ke dalam mobil, seorang pengawal dengan pakaian coklat yang membungkus seluruh tubuhnya dari kepala hingga kaki masuk ke dalam mobil kemudian mengendarainya, mengetes apakah mobilnya tidak disusupi sesuatu misalnya bahan peledak atau senjata kimia lainnya, tiba-tiba saja ledakan keras terlihat dari kejauhan, mobil itu meledak hancur dengan serpihan mobil telah terbang ke segala arah, hal itu membuat Crystal sangat terkejut, dia menundukkan kepalanya, tidak mau menatap kerangka mobil dengan api yang masih menyala-nyala.
Seseorang keluar dari dalam mobil, pengawal itu tidak apa-apa, dia telah menggunakan pelindung dari segala ledakan dan bahan kimia lainnya sehingga pengawal itu tidak apa-apa dan tidak terluka sedikitpun.
Darko tertawa, dia tertawa hingga Crystal menatap keheranan padanya. "Sepertinya kita akan memberikan hadiah yang lebih menarik dibandingkan ledakan ini," ucapnya.
Satu mobil limousine telah berhenti di hadapan mereka berdua, Darko memegang kembali tangan Crystal dan segera masuk ke dalam mobil.
"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya. Crystal sedikit shock, tontonan tadi biasanya hanya di tv saja dia saksikan, tetapi ia melihatnya di depan matanya, membuat tubuhnya gemetar tanpa diminta. Darko menyadarinya, dia menarik tubuh Crystal ke atas pangkuannya dan mencoba menenangkannya dengan caranya.
"A-apa yang kau lakukan?" Cicit Crystal ketika merasakan tangan pria itu telah menyusup ke balik pakaiannya.
"Aku akan membuatmu melupakan kejadian tadi dan hanya fokus dengan tanganku." Ucapnya.
"Kenapa? Kau malu?" Ucapnya.
Ingin sekali Crytsal meneriakkan kepadanya bahwa tentu saja dia malu, orang lain akan mendengarkan desahan atau erangannya, atau pekikannya. Darko memencet tombol berwarna merah dan segera saja terbentang pembatas berwarna hitam di depannya.
"Sekarang bagaimana?" Tanyanya.
"T-tidak mau, suaraku nanti kedengaran olehnya." Ucap crystal dengan semburat kemerahan di pipinya.
"Mobil ini di rancang kedap suara, tidak ada yang akan mengganggu kita, tangannya kembali menyusup dan mulai menjelajahi setiap jengkalnya, "T-tunggu, apa kau tidak lelah?" Tanyanya.
"Tidak."
Hanya satu jawaban itu membuat Crystal memekik ketika tangannya sudah berada di sana.
"T-tunggu dulu, aku...aku lelah, tidak bisakah aku tidur saja?" Cicit Crystal.
__ADS_1
"Tapi sekarang kau menginginkannya, aku hanya berusaha membuatmu lupa dengan ledakan tadi."
"A-aku sudah lupa, aku benar-benar sudah lupa." Ucap Crystal mencoba menghalau tangannya yang mengeksplor tubuhnya, tetapi Darko tetap kukuh melakukannya.
"Kalau begitu tidurlah, perjalanan kita masih cukup jauh." Ucap Darko.
Crystal mana mungkin bisa tidur jika berada di atas pangkuannya, apalagi dia memeluk tubuh Crystal dengan erat.
Sesekali dia memberikan kecupan ringan di keningnya lalu menatap kembali pemandangan di luar mobil, kadang sepanjang jalan dia memberikan ciuman panjang kepada Crystal jika dia tidak menutup matanya.
Akhirnya Crytsal tertidur juga meskipun berada di dalam pelukannya. Seakan kembali di bangunkan dari mimpinya ketika Crystal mendengar pembicaraan Darko dengan seseorang lewat ponselnya, dan hanya sedikit saja Crystal mampu memahami apa yang yang sedang di katakannya, dia menggunakan bahasa jerman yang fasih.
Suara Darko sedikit demi sedikit menenangkan hati Crystal, dia kembali terbuai rasa kantuk yang sangat, hingga dia tertidur lelap tanpa merasakan dirinya di bawa oleh Darko di sebuah Villa di tengah hutan di dekat air terjun yang tersembunyi, hal ini sengaja dia lakukan untuk menghindari musuh-musuhnya yang dapat melacaknya kapan saja.
Villa itu berada di arah selatan dipenuhi dengan pohon-pohon yang tertutupi oleh salju yang lebat, mereka telah tiba di tempat persembunyiannya, Villa itu hanya untuk mereka berdua saja, karena para pengawal berada di daerah pinggiran yang menjaga setiap perbatasan Villa, dan letaknya cukup jauh, tetapi mereka dapat memantau jika ada musuh yang datang.
Crystal di baringkan di tempat tidur dengan selimut sangat tebal menutupi tubuhnya, perapian telah dinyalakan, berkobar dan menghangatkan seluruh ruangan itu. Darko menatap sekelilingnya memastikan tempat mereka aman.
Crystal mengerjapkan matanya, dia akhirnya terbangun dari lelap tidurnya. Matanya terfokus pada sosok pria yang sedang duduk di depan perapian sambil menikmati Wine di tangannya, dia menoleh ketika menyadari Crystal telah bangun.
"Kau kedinginan?" tanyanya.
Refleks Crystal memeluk dirinya dengan selimut tebal mengelilingi tubuhnya. "Ehm, dingin sekali, kita ada dimana?" Tanyanya. Dia memperhatikan sekelilingnya, ruangan luas dengan perapian dan sofa yang ada di sana, tidak jauh dari tempat duduk Darko, sebuah Pantry tersedia di sana.
Darko mendekati Crystal dan sekali lagi mengangkat tubuhnya mendekati perapian, dia memeluknya erat.
"Masih dingin?" tanyanya. Crystal menggeleng, "Tidak lagi, tubuhku mulai hangat, kenapa kita ada di tempat dingin seperti ini." Tanyanya, memperhatikan ke jendela, salju yang menumpuk hampir mencapai jendela.
"Kau mau tahu?"
Crystal mengangguk, tetapi pertanyaan itu di sesalinya ketika Darko memberikan jawabannya.
"Aku ingin menghabisi musuhku, di hutan belakang Villa ini, lebih mudah melakukannya, di dalam hutan yang dingin." Ucap Darko santai, seakan ucapannya membuat Crystal akan tenang.
"Musuhmu akan datang kemari? Apa dia akan mengincar kita?" tiba-tiba ketakutan merayap di tubuh Crystal sehingga dia kembali bergetar.
__ADS_1
"Bukan mereka yang mengincar kita, tetapi aku yang akan mengincarnya, jadi berhentilah menggetarkan tubuhmu, atau aku akan mengalihkan pikiranmu dengan sesuatu yang lain, yang membuatmu menjerit." bisik Darko.