The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Kediaman Juan Robert


__ADS_3

Downtown Manhattan,


Perjalanan menuju ke kediaman tuan Juan Robert sekitar setengah jam perjalanan, cahaya lampu yang gemerlapan membuat lexia tidak berhenti memandangi keindahan kota sepanjang jalan.


Pemandangan indah kota Manhattan membuat lexia merindukan berjalan-jalan bebas di kota itu meskipun banyak yang mencibir karena bau yang tidak sedap keluar dari tubuhnya yang habis bergumul dengan sampah-sampah, tetapi kenangan itu membuatnya sedikit tersenyum, dia membayangkan Edo yang merampas barang berharga yang di temukannya jika dia mendapat barang bagus di sampah itu.


"Apa yang membuatmu tersenyum." Tanya daren padanya.


Dia menatap lexia dari tadi dan melihat senyumnya dari pantulan kaca mobil. Lexia meliriknya tetapi tiba-tiba Senyumnya menghilang.


"Tidak ada." Ucap lexia menjawabnya.


Mereka kini memasuki terowongan broklyn yang berada di sebelah selatan. Terowongan yang memiliki nama yang sama dengan jembatan Brooklyn yang menghubungkan antara Manhattan dan broklyn yang melintasi sungai timur east river.


"Jangan lakukan apapun yang membuatmu terlihat seperti bukan seorang keluarga terpandang, jika kau tidak tahu bagaimana bersikap, sebaiknya kau diam saja dari pada kau merusak semuanya." Ucap daren tidak berhenti memperingati lexia dengan ancaman-ancamannya.


"Aku tahu." Ucap lexia ingin sekali memutar bola matanya.


Mobil mereka berbelok di sebuah mansion mewah dengan beberapa pria yang berdiri di depan mansion, mereka menghentikan mobil kami dan setelah mengetahui tujuan kedatangan kami mereka akhirnya membiarkan kami masuk.


Lexia menatap dengan sedikit ternganga, tempat yang ditinggalinya memang sangat besar dan luas apalagi sangat tinggi tetapi tidak bisa di bandingkan dengan mansion yang sekarang ini berdiri kokoh di hadapannya, tempat ini lebih mirip sebuah istana di bandingkan dengan mansion, berdiri menjulang tinggi di tengah-tengah taman yang indah dan tertata begitu luas, lexia tidak bisa memperkirakan luas tempat ini, wajahnya hanya melongo ketika supir membukakan pintu mobil untuknya.


"Tutup mulutmu itu lexia." Bisik Daren di telinganya. Lexia menelan ludahnya kasar dan segera menyeimbangkan dirinya yang berjalan begitu tidak seimbang dan terlihat konyol. Daren berdecak, apakah yang dilakukannya ini betul-betul ide yang bagus? Melihatnya seperti ini membuat daren menarik lexia kembali ke tempat mobilnya di parkirkan.


"Lovelia, ingat namamu lovelia dan kau di panggil dengan nama lov, hentikan sikapmu yang selalu terkejut dan terlihat tidak seimbang." Bisik daren.


'Betul-betul sebuah nama konyol' gumam lexia pelan, membuat daren berbalik dan memicingkan matanya.


Lexia melepaskan cengkraman tangan daren dari tangannya. "Aku tahu, aku akan bersikap layaknya seorang yang terpandang bukan?" Bisik lexia sambil merapatkan bibirnya.

__ADS_1


"Ikuti aku". Ucap daren.


Mereka berjalan sebentar dan tiba-tiba seorang pria berjalan pelan lalu menghampiri mereka berdua.


"Selamat datang di mansion tuan Juan Robert, silahkan ikut denganku, tuan Juan sudah menunggu nona di hall mansion." Ucapnya.


Daren terlihat kaku dan kelihatan jelas rahangnya yang mengencang sementara lexia hanya berjalan dan mengikuti pria paruh baya itu yang berjalan dihadapan mereka berdua.


Mereka memasuki ruangan yang begitu mewah, segala properti mencolok ada di sana.


"Lewat sini nona." Lexia mengikutinya dan melihat sebuah ruangan yang lebih bersinar terang dengan warna putih dan gold yang mendominasi tempat itu. Pilar-pilar raksasa berbaris di sudut ruangan dengan lampu crystal sebagai penghias kemewahan dengan cahaya yang berkelap kelip.


Seorang pria tua sedang duduk di depan meja panjang dengan jas yang hitam melekat di tubuhnya, rambutnya telah memutih begitupun kumis dan jenggotnya, tetapi wajah arogan, kaku dan sangar terlihat jelas melekat di wajah tuanya.


Dia berdiri ketika melihat mereka telah masuk ke ruangan yang sama dengannya, matanya menangkap sosok yang berdiri agak jauh dari dirinya. Kekehan terdengar dari bibirnya.


"Lovelia Robert, cucuku satu-satunya, akhirnya aku bisa melihatmu." Ucap pria tua itu. Dia menghampiri lexia dan menatapnya lekat-lekat, wajahnya terlihat ragu tapi tiba-tiba dia tertawa besar, "lihat matamu itu begitu mirip dengan anakku Jack robert, begitu tajam dan bercahaya." Ucapnya lagi.


Dia memeluk lexia dan menepuk-nepuk punggungnya, beberapa pria yang berdiri dibelakang tuan juan entah siapa mereka, tetapi salah satu pria yang ada di sana menatap lexia sambil memiringkan kepalanya sesaat terlihat dia sedang berpikir dimana letak kemiripan lexia dengan jack Robert.


"Kemarilah lovelia, kakek ingin berbincang denganmu." Mata tuan Juan beralih kepada daren, tetapi tetap mengacuhkannya tanpa bertanya kepadanya. Daren mengikuti kemana mereka membawanya dan itu membuat tuan Juan tidak senang.


"Aku bilang aku ingin berbicara dengan cucuku saja, berdua !" Jelasnya.


Daren akhirnya mundur dan berdiri bersama dengan pria-pria berjas lainnya, mereka saling memandang kaku, saling menilai tanpa komunikasi di antara mereka, hanya pandangannya tertuju pada tuan Juan Robert dan gadis yang duduk di hadapannya.


Lexia duduk dihadapan tuan Juan Robert tanpa takut sedikitpun, dia memandang wajah pria tua ini dengan mata bersinar tajam yang balas memandangnya.


"Ini pertama kalinya kita bertemu lovely, selama ini kau hanya tahu bahwa keluargamu hanya berasal dari keluarga Burchard saja, tetapi kau jangan lupa kau juga memiliki darah dari keluarga Robert sweetie"? Ucapnya.

__ADS_1


Ingin sekali lexia mengeluarkan lidahnya mendengar panggilan sweetie untuknya. "Kudengar-dengar kau pernah sakit cukup lama, benarkah itu?"


Seketika mata tajam daren sedikit melebar meskipun agak samar, dia bisa mendengar setiap pertanyaan tuan Juan Robert pada lexia.


"Aku..aku juga senang bisa bertemu dengan Grandma maksudku grandpa, mom selalu bercerita tentang ayah kepadaku jadi aku tidak melupakan grandpa." Ucap lexia lancar, kalimat ini sudah di ajarkan oleh nyonya barbara ketika lexia berada di ruangannya.


Tuan Juan mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar kata-kata lexia, "em..aku memang pernah sakit, tapi aku tidak apa-apa grandpa aku sudah sembuh." Kata lexia, kalimat ini adalah hasil karangannya sendiri.


"Berapa usiamu lovely"? Tanyanya.


"Umurku 17 tahun grandpa." Gugupnya.


Dia tersenyum, lalu dia menjentikkan jarinya dan seorang pria maju menghadapnya. "Sebastian, saatnya makan malam, aku tidak ingin cucuku terlambat makan malam."


"Baik tuan." Pria itu undur diri sambil mundur sedikit dan akhirnya beranjak menuju pintu keluar.


"Kau kelihatan tegang lovely, apakah kau merasa tidak nyaman di tempat ini?" Tanyanya sambil mengedarkan pandangannya pada ruangan tempatnya sekarang ini duduk.


"Tidak, tidak apa-apa grandpa aku nyaman di sini." Senyum lexia.


Seseorang datang menghampiri tuan Juan dan membisikkan sesuatu padanya. "Aku akan segera ke sana." Ucapnya.


"Lovely sweetie, kakek pergi sebentar, salahkan kakek karena gangguan kecil ini mengurangi waktu makan malam kita." Wajahnya kelihatan nampak bersalah.


'Cih, selamat tinggal silahkan pergi aku ingin bernapas lega'


"Tidak apa-apa grandpa." Senyum lexia dengan mata berbinar.


Akhirnya dia beranjak dari tempat duduknya, lexia masih duduk di sana sambil meneliti makanan yang sudah dihidangkan untuknya dan kelihatan sangat menggiurkan.

__ADS_1


Seorang pria menghampiri lexia dan begitu saja duduk di hadapannya, mata lexia tiba-tiba berpaling kepada pria itu.


"Halo keponakanku tersayang, akhirnya aku bisa melihat wajah putri kakakku." Ucap pria itu di sertai senyum tidak tulus yang langsung dapat dilihat oleh lexia dari pancaran wajahnya.


__ADS_2