
๐ฌJangan lupa Votenya yaaa tmn2 readers, like and comentnya juga ๐
๐น๐น๐น
Hanna berlari kencang sepanjang koridor mansion, dia kemudian berlari dan membuka pintu balkon di tempat biasanya dia makan sembunyi-sembunyi, air matanya berjatuhan, jelas-jelas bukan dia yang mengadukan tuan muda itu, kenapa dia menuduhnya.
Hanna menghapus air matanya kasar dengan lengannya, Suaranya dapat terdengar terisak, "Dasar tuan muda bodoh, bukan aku yang melaporkanmu, meskipun kau melihatku malam itu." Hanna berbicara sambil terisak, dia benci di tuduh seperti itu.
Dia mengambil permen dari dalam kantongnya dan segera memakannya agar manisnya permen dapat meredakan tangisnya.
~
Jennifer dan Daneil ingin menemui Dazon, mereka belum pulang karena mengkhawatirkan keadaan Dazon, mereka berdua telah mendengar bahwa tuan Caesaar sudah memutuskan akan membawanya ke Inggris beberapa hari lagi.
"Aku tidak menyangka, kakek betul-betul mengirim Dazon ke sana, haaa semoga aku tidak dalam masalah saat pulang nanti." Ucap Daneil, mereka berdua berjalan menuju kamar Dazon.
"Daneil, jangan ngomong yang macam-macam ketika kita bertemu Dazon, dia pasti sedih." Ucap Jennifer memperingati Neil yang juga suka mengganggu Dazon.
Ketukan terdengar dari kamar Dazon.
"Masuk." Ucap suara dari dalam.
"Kalian belum pulang?" Tanya Dazon ketika Jennifer membuka pintu dan masuk kedalam ruangan Dazon bersama Daneil.
"Kami mendengarnya Daz," ucap Jenni kepadanya.
"Oh, jadi karena itu kalian tidak pulang, mengkhawatirkanku? Kalian bercanda ya?" Ucapnya.
"Setidaknya lihat ketulusan kami Daz, lagi pula mungkin saja kau tidak akan lama di sana, kakek Caesaar tidak sekejam itu bukan?" Ucap Daneil.
"Entah, aku tidak mau memikirkannya." Ucap Dazon menyesap teh di depannya dengan cuek.
"Jadi kapan kau akan berangkat?"
"Tunggu kepulangan Mom dan dad dari italia, lalu kakek dan aku akan berangkat ke Inggris bersama, tepatnya aku mungkin akan melanjutkan kuliah di sana dan tinggal di asrama, aku harap kakek Robert mengirimmu juga Neil, setidaknya aku tidak akan merasa bosan."
"Tidak, aku sudah punya rencana sendiri, aku tidak mau melewati tahun-tahunku hanya berada di asrama pria, itu akan membunuhku kawan."
"Ck, Jennifer kan bisa mengunjungimu kalau kau bosan, kalian bisa berjalan-jalan di sana sambil menikmati pemandangan." Ucap Dazon sambil menaikkan satu alisnya.
Tiba-tiba keduanya salah tingkah, Dazon tersenyum melihat sikap mereka, Tiba-tiba ingatannya kembali kepada pelayan itu, wajah yang bingung dan manis itu menatapnya terkejut, dia ingin berbicara mengenai sesuatu, tetapi Dazon tidak memberinya kesempatan, dia menyuruhnya pergi sebelum gadis itu menjelaskan apa yang ingin dikatakannya.
~
Gelak tawa terdengar dari telepon yang dipegang oleh Ax, dia sudah yakin anak bandel itu pasti akan mendapat masalah, Ax tahu, jika kakek menempatkan beberapa pengawal untuk mengawasinya dan tidak butuh waktu lama, kakek akan mengetahui kepergian Dazon ke desa Turtle.
Ax menutup ponselnya setelah mendengar umpatan Dazon dari ponselnya.
"Kenapa kau menertawainya Ax, dia akan dikirim di Inggris, seharusnya kau memberikan ucapan atau apapun yang bisa menghiburnya." Ucap Fairley membawakan secangkir teh untuk Ax.
"Dazon akan mengatakan aku gila, jika aku mencoba menghiburnya, anak itu tidak suka ucapan penghiburan atau kata-kata sedih yang melankolis." Ucap Ax menarik tangan Fairley agar duduk di pangkuannya.
"Dazon akan baik-baik saja, dia anak yang pintar dan sejak awal dia tahu konsekuensinya jika dia datang ke desa ini, dianya saja tidak mendengar, dia lebih suka melanggar aturan yang dibuat kakek." Ucap Ax sambil mengelus perut Fairley yang sudah mulai terlihat membesar.
~
Malam itu, Dazon tidur dengan gelisah, sudah dua hari ini dia tidak lagi melihat gadis itu, Dazon kemudian duduk di tempat tidurnya dan segera bangun lalu masuk ke kamar mandi, Setelah membasahi wajahnya dengan air berharap rasa gelisahnya dapat hilang. Tetapi rasa kantuk belum datang juga. Akhirnya Dazon memutuskan keluar dari kamarnya dan berjalan-jalan.
Dazon melirik pintu balkon di lantai 2 yang sedikit terbuka, dia kemudian penasaran dan beranjak ke sana, Setelah mendekat, Dazon mengintip dari balik pintu seseorang sedang berdiri di sana sambil memandang langit malam.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja Yossy, gajiku cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hariku dan sekolahku, kau tidak perlu khawatir, tapi bagaimana denganmu?"
Gadis itu membelakangi pintu sambil menelepon seseorang sehingga dia tidak menyadari kehadiran Dazon di belakangnya.
"Mereka semua baik, aku cukup nyaman di sini, aku akan pindah ke Georgia Atlanta jika aku telah menyelesaikan sekolahku di sini, dan aku akan menyusulmu, tenang saja, aku akan membantumu kelak menjalankan usaha kopi Truckmu."
"Kopi?" Gumam Dazon.
"Sampai ketemu Yossy."
Gadis itu kemudian menutup ponselnya, dia mencium wangi seseorang yang langsung berhembus menusuk hidungnya, dia berbalik dan terkejut karena Dazon sudah ada di belakangnya, berdiri dan menatapnya.
Hanna terdiam, dia kemudian menegakkan punggungnya dan berdiri lurus, seperti hendak ingin dihukum.
"Kau suka datang ke sini ya?" Tanya Dazon.
"I..iya tuan." Ucapnya sepelan mungkin.
"Kenapa kau suka datang ke balkon ini?"
"Aku hanya ingin melihat pemandangan malam, itu saja." Jawabnya.
"Pemandangan malam?" Ucap Dazon, dia kemudian menatap malam yang gelap, bintang pun sama sekali tidak ada, hanya kegelapan malam saja yang terbentang. Mereka terdiam cukup lama, membuat gadis itu tidak nyaman, dia hendak pergi tetapi Dazon berdiri di depan pintu menghalangi pintu keluar.
"Sa..saya permisi tuan, saya...
"Berdiri di sana, jangan pergi sebelum aku mengizinkanmu." Perintahnya.
"Apa?" Ucap Hanna dengan mata yang membulat.
Dazon masih memandang langit malam, tanpa memandang Hanna, dia berdiri kikuk di sana dengan alis mengkerut, dia tidak tahu mengapa tuan muda ini melarangnya pergi.
"Jadi, kau berencana ke Georgia Atlanta?" Ucap Dazon tanpa memandang wajahnya.
"Dimana orang tuamu?" Tanyanya.
Kembali Hanna terkejut, tidak biasanya tuan muda ini bertanya mengenai sesuatu yang pribadi tentangnya, apalagi dia hanya seorang pelayan di mansionnya.
"Mereka telah wafat." Jawabnya.
Dazon yang sedang bersandar di tembok membalikkan wajahnya menatap langsung mata coklat itu yang bergoyang kekiri dan ke kanan, dia jelas salah tingkah dengan pandangan Dazon.
"Emm, sudah malam, kembalilah ke kamarmu." Ucap Dazon membalikkan tubuhnya hendak menuju pintu, dia tidak tahu akan mengucapkan apa ketika mendengar ucapan gadis itu.
"Bu..bukan aku yang mengadukan anda." Ucap Hanna dengan napas tertahan, ingin sekali dia berbicara sejak tadi tapi mulutnya tidak mau membuka.
Dazon berhenti dan kembali memandang Hanna.
"Bukan aku yang mengadukan anda, tuan." Ucap Hanna.
Dazon mengangkat satu alisnya, "sekarang itu bukan masalah lagi, sebaiknya kau kembali ke kamarmu."
Hanna meremas celemek di bajunya, dia menghembuskan napas dan bernapas lega. "Setidaknya aku sudah mengatakan yang sebenarnya." Ucap Hanna.
~
Pagi itu ayah dan ibu Dazon telah kembali ke Oklahoma dan sedang menuju ke mansion, Xaphier akan bicara dengan ayahnya mengenai kepergian Dazon, permintaan ini adalah bujuk rayu Nara, agar setidaknya Xaphier meminta ayahnya memikirkan kembali mengenai kepergian Dazon ke Inggris.
"Apa ayah akan mendengarkan aku? kau tahu bagaimana ayah, Nara?" ucap Xaphier ketika mereka sudah ada di mobil, dan akan menuju ke mansion.
__ADS_1
"Aku tahu Xaphier, tetapi setidaknya kau bicara dulu dengan ayah, mungkin saja dia akan berubah pikiran dan akan memberikan hukuman yang cukup ringan kepada Dazon." ucap Nara memegang lengan suaminya sambil membujuknya.
"Baiklah, tapi kau sudah tahu bagaimana keras kepalanya ayah, jika dia sudah memutuskan sesuatu, contohnya saja Axton, dia betul-betul mengirimnya ke desa terpencil itu." ucap Xaphier.
~
"Bawakan aku teh jahe." Ucap Dazon kepada seseorang melalui sambungan telepon.
"Baik tuan."
Dazon masih berada di ruangan kerja ayahnya, dia sedang memeriksa beberapa berkas yang dilihatnya dengan acuh tak acuh, sebenarnya dia lebih tertarik dengan pekerjaan ayahnya di Milan, dibandingkan mengurusi Perusahaan yang membosankan ini.
Ketukan terdengar dari luar pintu. "Masuk."
Seorang pelayan membawa teh jahe untuknya, tiba-tiba Dazon menatap pelayan itu dengan mengernyitkan keningnya.
Mengapa bukan gadis itu yang mengantarnya? pikirnya
"Apa ada yang lainnya tuan?" tanyanya.
"Tidak, kau boleh pergi."
"Baik tuan."
Pintu kemudian menutup, dazon kini mendongakkan kepalanya, menatap pintu yang menutup, "Ck, kemana gadis itu? mengapa bukan dia yang mengantar teh ini?" ucapnya.
Dazon lalu berdiri dan keluar dari ruangannya, dia kemudian turun ke lantai satu, matanya masih menerawang mencari-cari sosoknya.
"Dia tidak ada." gumam Dazon, "Apa dia pergi ke sekolah?"
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Kepala pelayan mendatangi Dazon, dia terlihat seperti sedang mencari seseorang.
"Apa? tidak ada, kau boleh pergi." Ucap Dazon tanpa menatap wajahnya.
"Apakah anda sedang mencari seseorang?" tanyanya lagi.
Dazon menipiskan bibirnya, dia jengkel karena di ganggu. "Tidak ada, kau boleh pergi."
"Baik tuan." Meskipun begitu, kepala pelayan masih berdiri di sana menatap dazon yang menelusuri tempat itu seakan sedang mencari seseorang.
"Kemana dia?" gumamnya.
Terdengar deru mesin mobil dari luar, dan beberapa pengawal segera sibuk berjalan membukakan pintu kepada seseorang yang baru datang.
"Ayah dan ibu Dazon baru saja datang, dia kemudian di sambut oleh kepala pelayan yang berdiri di ambang pintu.
"Selamat datang tuan dan Nyonya, tuan Dazon ada di ruang bersantai." Lapornya.
Dazon sedang duduk di ruang santai sambil memutar beberapa Chanel TV, dia kemudian menatap ke pintu ketika ibunya menyerbu masuk dengan senyum di wajahnya.
"Dazon sayang, aku rindu pada putra bandelkuuu." Ucap Nara heboh lalu memeluk Dazon, tidak menghiraukan protes putranya.
"Mom, lepas aku tidak bisa bernapas." ucap Dazon, membalas pelukan ibunya dan menepuk-nepuk punggungnya.
Xaphier duduk di seberang kursinya dan menatap ke arah putranya. "Apa kau sudah siap Daz?" tanyanya.
"Xaphier, jangan bertanya seperti itu dulu." tegur Nara.
"Its oky mom, aku akan berangkat ke Inggris bersama kakek." ucapnya sambil menggaruk-garuk kepalanya pasrah.
__ADS_1
"Jangan khawatir, mommy dan Dad akan sering-sering mengunjungimu di sana, kau harus bersemangat Daz, lagi pula melanjutkan studimu di sana bukanlah hal yang buruk Daz, kau tidak usah khawatir karena Daneil akan ikut bersamamu, Sepertinya tuan Robert mempertimbangkan Daneil untuk melanjutkan kuliahnya di sana." Ucap Nara. Tanpa di sangka Dazon kemudian tertawa mendengar kabar itu.
"Sepertinya aku tidak akan bosan." gumam Dazon dengan seringai di wajahnya.