The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 76


__ADS_3

Royal city, Atlanta.


Dua orang pria sedang berada di salah satu night Club yang berada di pusat kota, satu dari mereka sedang menelepon seseorang, matanya menatap fokus pada seorang wanita yang sedang menari di Dance floor sambil meliuk-meliukkan tubuhnya yang dibalut gaun seksi nyaris transparan, hanya menutupi bagian-bagian privatnya saja.


"Kau mengambil resiko besar ini hanya untuk balas dendam? Tapi tidak masalah, yang penting bayaran kami seperti yang kau janjikan Rob, ingat, kau harus mengirimkan semuanya apabila pekerjaan kami telah selesai."


"Aku akan membayarmu, kau cerewet sekali, lakukan saja tugasmu, keamanan mereka masih bisa di tembus, aku sudah memperhatikan mansion itu, di sana ada taman, tapi taman itu sangat luas seperti hutan pohon pinus, kalian bisa lewat sana, dan masuk melalui taman, tugas kalian membawa pelayan itu kepadaku dan habisi bocah kecil yang kalian temui di sana, bocah itu berutang nyawa padaku, aku akan mengirimkan peta kepada kalian, dan malam ini kalian sudah mulai bergerak."


"Oke, kami akan menghubungimu jika sudah selesai."


Setelah mendapatkan telepon, dua pria itu mulai bergerak, mereka menerima peta yang dikirimkan oleh pria bernama Rob, sudah cukup lama mereka berdua mengintai dari dalam mobil jeep berwarna hitam, sejak siang hari mereka sudah ada di sana, memperhatikan peta yang dikirimkan oleh rob, dia memiliki koneksi seorang hacker yang dapat menerobos sistem keamanan di mansion itu, sehingga dia bisa mendapatkan peta di mansion itu.


"Kita akan masuk lewat sini." Ucap pria berwajah asia dengan rambut cepak berwarna biru.


"Kupikir itu memang lebih aman, apalagi di sekitar taman ini, mengapa mereka membuat taman seperti hutan, apalagi penjagaan disana tidak ketat, mereka bodoh ya." Dia memegang dagunya, seakan-akan taman itu adalah sebuah jebakan.


"Anggap saja itu keberuntungan kita, siapapun orang bodoh yang membuat hutan buatan itu, telah membuat keberuntungan kita untuk masuk ke mansion ini semakin mudah, jadi kau tidak perlu bertanya mengapa mereka membuat hutan buatan di mansion, apa perduli kita, yang penting kita mengerjakan yang di minta si Rob dan mencari bocah itu, pekerjaan ini termasuk mudah, apalagi dia membayar kita cukup tinggi dibandingkan yang lainnya." Ucap pria berwajah lonjong dengan giginya yang runcing.


01.25 Mansion.


Darko berada di kamarnya, dia terbangun dan duduk di atas tempat tidurnya, darko mengucek kedua matanya dan menatap dalam kegelapan, dia lalu turun dari tempat tidur dan membuka jendela di belakangnya.


Hanya kegelapan total yang memberikan pemandangan kepada bocah kecil itu. Dia melihat sesuatu bergerak-gerak dari arah taman, kamar darko persis berada di depan taman, sehingga dari arah jendelanya dia bisa memantau apapun di bawah sana, dia kemudian tersenyum. Darko mengambil teropongnya dan meneropong dari jendelanya. Terlihat dengan jelas dua pria memakai jas hitam berjalan tegak, sebenarnya siapapun melihatnya tidak ada yang mencurigakan dari kedua pria itu, mereka yang tinggal di mansion terbiasa melihat seorang pengawal yang berlalu lalang, tetapi kedua pria ini aneh bagi darko.


"Paman berwajah lonjong jelek itu siapa? aku tidak pernah melihat pengawal berwajah seperti ini, dan yang satunya bermata sipit, apa ada pengawal mewarnai rambut mereka ya? Darko meletakkan teropong kesukaannya itu, teropong itu hadiah dari kakeknya Xaphier, dia sengaja membelinya untuk darko ketika dia berada di italia.


Darko keluar dari kamar hanya mengenakan piamanya, tetapi dia masuk lagi ketika mengingat perkataan ibunya, jika malam tiba udara sangat dingin di luar sana, jadi darko mengenakan mantel hujannya berwarna biru malam dan segera keluar dari kamarnya.


Dia lalu berjalan perlahan dan turun ke lantai satu melewati tangga yang meliuk, akhirnya sampai ke ruang utama, dia tidak membuka pintu depan karena pintu itu di lengkapi dengan alarm dan cctv di setiap sudut, jadi darko lebih memilih melewati ruang dapur, tempat teraman baginya untuk menyusup, seringkali dia menyusup ke dapur hanya untuk membuka kulkas raksasa dan mengambil cake coklat lalu mengambilnya diam-diam bersama daneil junior, dan seringkali pula mengambil pisau para chef di dapur dan membawanya ke hutan.


Darko dengan lihainya membuka pintu belakang dapur, dan melihat dari kejauhan ruang monitor masih menyala, dia kemudian berdiri sebentar dan berpikir, jika dia mengikuti kedua pria yang masuk ke ruang penyimpanan anggur, meskipun dia ahli menggunakan pisau, darko menganggap dirinya terlalu kecil untuk mengatasi dua pria dewasa itu.


"Darko nanti akan ke paman Loue." Bisiknya.


~


"Wah, lihat anggur-anggur ini, kau bayangkan saja berapa harga anggur-anggur mahal ini," Ucap pria berwajah asia itu, dia mengambil satu botol anggur dan melihat tahun anggur itu.


"Kita bisa menghasilkan dollar tambahan jika kita bisa membawa sebahagian dari botol-botol anggur di sini."


"Kau benar, anggur ini sangat mahal, tetapi kita harus melupakan anggur ini dulu, sebentar lagi fajar, orang-orang di mansion ini akan segera bangun sebelum kita mengerjakan pekerjaan kita, dan jangan coba-coba berani mencicipinya, kalau kau mabuk, aku pasti akan meninggalkanmu." Tegas pria berwajah lonjong itu.


"Tenanglah, aku hanya ingin kita bisa kembali ke tempat ini, jika kita berhasil mengerjakan pekerjaan kita, apalagi menyusup di sini sangat mudah, sebentar lagi kita akan menjadi kaya."


"Sebentar lagi kita akan menjadi kaya."


Mereka berdua terkejut, suara kecil itu menirunya dan bergema di kegelapan.


"Kau mendengarnya? Sepertinya ada orang lain yang berada di tempat ini selain kita."


Mereka menatap ruangan itu dan mencari-cari asal suara itu di dalam kegelapan, tetapi mereka tentu saja tidak dapat melihat dalam gelap dengan baik.


"Paman jelek."


"Kau dengar? itu suara anak kecil, mungkinkah dia bocah yang dikatakan oleh rob? katanya seorang bocah telah melukainya, luka di kakinya cukup dalam, sayatan yang memanjang hingga harus di jahit."


"Binggo, paman berwajah lonjong."


"Kau bocah tengik, keluar, aku tidak akan sungkan-sungkan hanya karena kau seorang bocah, keluarlah dan jangan sembunyi."


"Paman jelek, bodoh, gendut, Weee."

__ADS_1


Pria asia itu menggeram, dengan berani dia menyalakan flashlight di ponselnya, "Awas saja kau anak kecil, aku tidak akan beri ampun."


"Apa yang kau lakukan, matikan ponselmu, bagaimana kalau ada pengawal yang melihat kita." Ucap pria berwajah asia itu.


"Penakut."


"Bocah kurang ajar, di mana dia." Kedua pria itu melangkah dalam kegelapan dan merentangkan tangannya menggapai-gapai di ruangan luas dan terbuka itu, tetapi ruangan itu di selimuti dengan kegelapan, cahaya sama sekali tidak masuk ke ruangan itu, tempat itu di jaga agar suhunya tetap stabil sehingga hanya dinding dingin yang menutupi permukaan ruangan itu, mereka tetap berhati-hati agar tidak menyentuh anggur mahal itu, jika terjatuh dan pecah, orang-orang akan mendengar keributan dari luar.


Suara kekehan bocah kecil membuat mereka berpencar mencarinya, dia tiba-tiba merasakan sesuatu berjalan di dekat kakinya dan tiba-tiba sengatan panas dan perih terasa di kaki salah satu pria itu, dia berteriak tertahan.


"AKH, sial, apa itu?" Perih yang di rasakan di betisnya seperti sesuatu telah menggigitnya dan merasakan cairan mulai merembes dan basah.


Sekali lagi pria itu berteriak, sama halnya yang di rasakan oleh pria berwajah asia itu, dia berteriak karena kedua kakinya terasa teriris perih dan sakit karena sayatan.


"Selamat bersenang-senang."


Suara kecil itu menggema di tempat itu, tiba-tiba pintu tertutup dan terkunci dengan otomatis, darko lalu berlari dengan pisau di tangannya menuju ruang monitor, setelah tiba di sana, dia berdiri di belakang Loue yang sedang mengunci ruangan itu.


~


Tuan darko, aku akan mengatasinya dan memanggil para pengawal, tuan darko lebih baik kembali ke kamar dan tidur, sekarang sudah jam 2 lho, bagaimana kalau nyonya bangun dan melihat tuan darko tidak ada di tempat tidur, nyonya pasti akan panik." Bujuk Loue.


Darko menghembuskan napasnya, dia tidak bisa mengelak dari kata-kata loue, jika ibunya tahu dia berkeliaran di luar mansion pada jam seperti ini, pasti ibunya akan mengawasinya sepanjang hari dan tidak akan membiarkannya bermain di taman lagi.


"Baiklah paman, darko akan pergi, tetapi paman harus hati-hati, sepertinya dua pria itu bersenjata." Ucap darko.


Loue sedikit terkejut karena tuan muda kecil ini mengetahui kalau dua penjahat itu bersenjata.


"Bagaimana bisa tuan darko mengetahui kalau mereka bersenjata?" tanya loue keheranan. Darko menaikkan bahunya.


"Aku tidak akan memberitahu paman loue, ini rahasia, yang penting paman loue harus berhati-hati."


"Paman loue?"


"Ada apa tuan darko?"


"Siapa pria itu?" Ucap darko sambil menunjuk ke arah taman di hutan.


"Siapa? Tidak ada orang di sana." Ucap loue berhenti sejenak dan memandang dengan tajam kegelapan malam dari kejauhan, taman itu tampak menyeramkan dari biasanya, kegelapan total dan kabut yang menutupinya membuat loue yang melihat taman itu merasa merinding, seakan ada yang mengawasi gerak-geriknya.


"Se..sebaiknya kita cepat masuk ke dalam tuan darko, tidak ada orang di dalam taman yang gelap itu." Ucap loue, dia merasakan bulu kuduknya merinding.


Setelah membawa darko sampai ke depan kamarnya, loue meninggalkan darko ketika dia betul-betul telah masuk ke dalam kamarnya.


"Aku melihatnya, ada monster yang tinggal di dalam hutan, kenapa tidak ada orang yang memeriksa tempat itu." Gumam darko, dia segera mengambil teropongnya dan meneropong ke taman, tampak jelas seseorang melambai ke arahnya.


"Pria itu melambai kepadaku, siapa dia?" Ucap darko tanpa rasa takut sedikitpun, dia kemudian membalas lambaian sosok yang berdiri di dalam kegelapan malam itu.


~


"Sial, anak itu mengunci kita, lihat, darah kita sudah merembes kemana-mana, ukh bocah itu mengerikan." Gumam pria berwajah lonjong, dia mencoba mencari kain atau apapun agar bisa menutupi luka di betisnya, dia melihat sebuah baju seragam berwarna putih yang tergantung di samping rak anggur.


Pria itu mengambilnya dan merobeknya hingga memanjang, setelah itu dia membalut luka di betisnya agar darah yang keluar dapat tertahan sementara dan dia bisa dapat berjalan.


"Jika aku menemukan anak kecil itu, aku akan membalas perbuatannya, tunggu saja."


Ruangan di dalam penyimpanan anggur menyala dengan terang benderang, mereka kini dapat melihat satu sama lain, dan sangat terkejut ketika melihat salah satu temannya sudah pucat, dan darah tidak berhenti mengalir dari kakinya.


"Sial, kita ketahuan." Tidak ada cara lain, jika mereka di tangkap setidaknya luka mereka akan di obati dan tentu saja mereka akan di giring ke penjara, setidaknya mereka masih hidup dan tidak kehabisan darah.


Pintu terbuka, loue masuk bersama 7 pengawal yang mengarahkan senjata sambil turun melalui undakan batu, ketika mereka telah tiba, loue terkejut, begitupun pengawal lainnya.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi." Ucap loue menatap dua orang pria yang duduk di lantai dengan darah berceceran di tempat itu, mereka berdua menjadi pucat karena kehilangan banyak darah.


"Tangkap mereka, dan bawa ke ruang interogasi sebelum mereka di bawa ke kantor polisi." Perintah loue kepada pengawal lainnya.


Para pengawal membawa mereka berdua, suara kekehan terdengar dari mulut salah satu pria penjahat itu, membuat loue berbalik.


"Apa yang kau tertawai."


"Bukan apa-apa, segera saja bawa kami ke kantor polisi, kami harus segera di sembuhkan." Ucap pria itu menyulut emosi loue. Dengan serangan cepat, loue menyerang kaki salah satu pria yang terluka, dia meringis dan berteriak kesakitan.


"Jalan, kau bahkan tidak punya kesempatan untuk sekedar membela dirimu apalagi tertawa." Ucap loue dengan seringai melihat wajah mereka.


"Bawa mereka berdua."


~


Sekitar jam 8 pagi hari, Hanna membuka pintu kamar putranya, dia begitu heran, kenapa jam segini darko belum bangun? biasanya ketika dia bengun, putranya akan berlari menuju kamarnya dan tidur di sana, diantara Dazon dan dirinya, tetapi kali ini sudah jam 8 pagi, darko masih terlelap juga. Hanna masuk ke dalam kamar putranya, dia melihat anaknya masih tertidur dengan selimut teronggok di bawah kakinya dan sedetik lagi akan jatuh ke lantai, dia terlihat lelah, seperti telah bekerja keras semalam, sampai-sampai dia tidak merasakan kehadiran ibunya yang telah membuka pintu kamarnya.


Hanna mengecup pipi darko dan duduk di sisi tempat tidurnya. "Mengapa darko belum bangun, dia memperhatikan baju darko dan napasnya yang mengalun lembut. "Dari mana dia mendapatkan semua kotoran yang menempel di bajunya ini?" Gumam hanna


"Darko sayangku, waktunya bangun." Ucap hanna, sambil memencet hidung putranya. Darko akhirnya terbangun, dia mengucek matanya dan menguap.


"Mommy, aku masih ngantuk, boleh aku tidur sejam lagi?" tanya darko dengan mata setengah tertutup.


"Semalam darko begadang ya, jadi sekarang darko susah untuk bangun pagi?"


"Hanya sebentar saja mommy, setelah itu darko langsung tidur kembali." Ucap darko kini menutup kedua matanya. Hanna menghembuskan napasnya.


"Kenapa kau suka begadang sampai tengah malam darko, nanti kau sakit sayang, sebentar malam, mommy akan tidur di sampingmu dan memastikan darko tidak akan begadang lagi, nanti darko sakit dan mommy tidak mau darko sakit." Ucap hanna.


Darko masih memejamkan matanya, dia lalu tepuk jidat ketika mendengar ibunya akan tidur di sampingnya dan tidak membiarkannya keluar dari kamarnya, hal itu membuat hanna tertawa, lalu mengecup pipi putranya dan berbaring di sampingnya, menunggui darko agar bangun.


~


"Dimana Hanna dan darko? mereka tidak sarapan?" ucap lexia, dia bertanya kepada salah satu pelayan yang membawa sarapan ke atas meja, lexia menatap semua orang sudah ada di meja makan, nara, jennifer dengan daneil junior. Fairley, putra serta putrinya serta Alexa dan alice yang biasanya paling terlambat duduk di meja makan sebelum mereka mengenakan make up terlebih dahulu, mereka bahkan lebih cepat menduduki posisinya.


"Biar saya yang memanggil mereka, kalian siapkan saja sarapan."


"Baik nyonya."


Lexia terkejut karena nara sudah ada di sampingnya.


"Kau mau kupegang nara? kupikir pinggangmu masih sakit." ucap lexia menatap pinggang Nara yang katanya sering kali sakit.


"Aku baik-baik saja, aku juga ingin melihat kenapa Hanna dan darko belum turun juga ke meja sarapan." ucap Nara khawatir.


Mereka berdua menuju ke kamar hanna, tetapi mereka mendengar suara-suara dari dalam kamar darko, sehingga mereka mengetuk pintu kamar darko dan segera masuk.


Hanna berbalik dan tersenyum karena kedatangan mereka berdua. "Lihat darko siapa yang datang? Grandma khawatir kalau darko masih tidur saja." Ucap hanna.


"Selamat pagi grandma lexia dan grandma Nara, darko masih ngantuk bye." Ucap darko sambil menutup kedua matanya, hanna lalu menggelitik putranya membuat darko tertawa dengan menggemaskan.


~


Ruangan itu seperti sebuah penjara, di lengkapi dengan jeruji layaknya sebuah penjara asli, tetapi di ruang interogasi itu terlihat benda-benda menakutkan yang sengaja di gantung untuk membuat nyali mereka yang di tangkap menjadi menciut.


"Apa mereka akan menggunakan alat mengerikan itu kepada kita?" Tanya pria berwajah lonjong, matanya membulat dan menerawangi tempat itu dengan ketakutan.


"Jangan khawatir, mereka sengaja menggantung benda-benda itu untuk menakut-nakuti kita, sebenarnya siapa sih pemilik mansion ini?" Ucap pria asia berambut biru.


"Jadi, kau masuk ke mansion ini tanpa tahu siapa pemilik mansion? dan tanpa rasa takut, kalian masuk dan mencoba melakukan kejahatan di kediaman keluarga Caesaar?" Suara itu terdengar dingin, loue muncul bersama tiga orang pengawal, "Jadi kalian pikir semua alat-alat itu hanya sebuah hiasan saja? ck sayang sekali, salah satu dari kalian akan mendapatkan kehormatan merasakan benda yang tergantung di atas itu, kalian tinggal memilihnya saja." senyum loue.

__ADS_1


__ADS_2