The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Keberadaan Lexia


__ADS_3

Rumah sakit itu berada di Los Angels, Lovelia dan ibunya berada di ruangan yang begitu besar dan di dominasi dengan warna putih, setelah cek up kesehatan lovelia akan menempati kamar khusus VVIP untuknya, dia menatap tempat itu yang tidak jauh berbeda dengan rumahnya yang dulu yang begitu steril.


Dia memutar kursi rodanya dan menuju ke jendela besar yang terpampang di hadapannya, entah mengapa keinginannya untuk hidup menjadi besar ketika dia bertemu dengan gadis bernama lexia.


Secercah harapan menembus hingga ke relung jiwanya, meskipun pertemuan itu begitu singkat tapi setelah bertahun-tahun akhirnya dia menemukan gadis seusianya tiba-tiba keinginan untuk tidak menyerah merasukinya.


Dia percaya akan sembuh dari penyakitnya, dan bisa hidup dengan normal sama seperti lexia.


~


Seseorang berjalan dengan terburu-buru lalu mengetuk pintu berwarna coklat itu.


"Masuk."


Evan masuk dan menemui daren yang sedang duduk di depan mejanya sambil menatap berkas-berkas di atas meja kerjanya.


"Apakah ada berita mengenai lexia?" Tanya daren menatap Evan yang berdiri di hadapannya.


"Sir, orang-orang kita menemukan seorang gadis dan pria sedang mengendarai mobilnya melewati perbatasan Bronx lalu mereka menuju ke Queen's." Ucapnya.


"Kau yakin dia lexia?" Tanya daren.


"Kata mereka, gadis itu memiliki mata berwarna safir cerah sir, jadi mereka mengikutinya hingga masuk ke perbatasan Queen's." Ujar Evan.


Daren mengetuk-ngetukkan jarinya, dia berpikir sebentar, dia lalu berdiri dan menatap Evan.


"Aku akan langsung ke Queen's siapkan Heli Burchard 77ku."


"Aku sendiri yang akan membawa lexia kembali ke tanganku." ucapnya.


"Baik sir."


~


Mereka sudah berada di Queen's, Edo menepikan mobilnya dan mereka akan pergi dengan menggunakan kereta Expert, tidak ada yang mencurigakan selama mereka berada di dalam kereta, lexia terkantuk-kantuk dan bersandar di bahu Edo.


Salah satu gadis kecil yang duduk bersama orang tuanya sedang berbisik-bisik kepada ibunya, terdengar jelas dari kalimatnya kepada sang ibu.


"Mereka sepasang kekasih mom, Sepertinya mereka melarikan diri karena tidak di restui oleh kedua orang tuanya." Bisik anak itu, ibunya membisikkan sesuatu kepada gadis kecil itu untuk diam dan tidak mencampuri urusan orang lain.


Lexia yang mendengarnya lalu menjulurkan lidahnya kepada gadis kecil itu lalu kembali tertidur. Edo menarik topi lexia agar tidak mengganggu gadis kecil itu yang kini melotot menatap lexia.

__ADS_1


Setelah setengah jam perjalanan, mereka akhirnya tiba di rumah nenek Edo, rumah kayu itu bergaya pedesaan yang begitu elok dengan desain rustic yaitu penataan desain rumah dan interior yang lebih memfokuskan pada kesan yang lebih alamiah.


"Rumah yang nyaman Edo, aku heran kenapa kau terjebak di tengah kota Manhattan dengan mengais sampah sedangkan kau memiliki rumah sebagus ini?" Lexia mengedarkan pandangannya ke bangunan indah itu.


Edo memutar kedua matanya lalu memutar kepala lexia menghadap ke kanan.


"Bukan yang itu lexia, tetapi rumah yang di sana, rumah paling ujung itu rumah nenekku." Ucap Edo sambil sedikit tertawa melihat reaksi lexia ketika melihat perbedaan rumahnya.


Kesannya tetap sama karena sama-sama di desain dengan menggunakan kayu dan begitu asri pula karena tanaman-tanaman yang merambat tumbuh di sekitar pagar rumah dengan sulur-sulur memanjang pada kanopi hingga terlihat menjuntai lebih indah.


"Sangat bagus, hanya sedikit perbedaan saja." Ucap lexia mengangkat bahunya dan mengikuti Edo menuju rumah neneknya.


~


HeliBurchad77 itu tengah terbang diudara, tujuan mereka adalah ke Queen's dengan mengikuti lokasi kedua orang-orang Burchard yang sejak tadi mengikuti lexia di Queen's, meskipun mereka kehilangan mereka ketika di perbatasan dan hanya mendapati Mobil Chevrolet berwarna hitam yang terparkir sana.


"Sir, kita kehilangan jejaknya, Sepertinya mereka mengetahui keberadaan kita ." Ucap Evan.


"Tetap cari, kita tidak begitu jauh dari mereka." Ucap Daren.


"Baik sir."


~


"Kau akhirnya pulang Edo?" Ucap wanita itu dengan dialek kental berbahasa Meksiko.


"Ya grandma, aku pulang." Ucap Edo sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Tatapannya kini jatuh kepada lexia yang berdiri di belakangnya. Wajah tuanya seketika mengerling Edo dan menaikkan alisnya.


"Dia Lexia temanku grandma, apakah kau tidak membiarkan kami masuk? aku capek." Ucap Edo.


Wanita tua itu tertawa dan meminta maaf lalu menarik tangan lexia agar masuk ke dalam rumahnya.


"Pacarmu cantik Edo." Ucap neneknya.


"Dia Lexia grandma dan dia temanku." Ucap Edo meskipun suaranya begitu kecil untuk menjelaskan kepada neneknya.


"Selamat malam nenek em maksudku nyonya, eh bukan maksudku grandma." Ucap lexia menatapnya dengan kikuk.


Nenek Edo tertawa melihat kecanggungan di wajah lexia. "Panggil aku grandma saja lexia, Oh ya, kau begitu cantik." Ucapnya.

__ADS_1


"Te..terima kasih grandma." Lirikan lexia membuat Edo menggelengkan kepalanya.


"Hebat, kau bisa juga terima kasih lexia." Ucapnya sambil menaruh tasnya di lantai.


"Aku tidak separah itu Edo, aku juga tahu bagaimana berbicara dengan sopan kepada orang, bodoh ! Ups sorry grandma..."


Nenek Edo tertawa dan melambaikan tangannya, "Jadilah seperti dirimu yang biasa lexia, kau jangan sungkan, aku tahu kau hidup dimana jadi jangan terlalu bekerja keras dengan bersikap sopan kau akan terlihat aneh." Ucapnya. Edo tertawa keras mendengar ocehan neneknya.


Lexia tertawa sambil melotot kearah Edo, "Oke grandma."


Lexia naik ke lantai dua di rumah kayu itu dan menempati satu kamar yang cukup luas untuknya dengan satu tempat tidur berukuran kecil dan satu lemari pakaian yang berada di samping jendela.


Edo berada di pintu kamarnya.


"Bagaimana? Tidak seluas seperti di tempatmu bekerja tapi cukup nyaman bukan?"


"Trims." Ucap lexia dengan suara kecilnya.


"Aku ngantuk, dan tutup pintunya Edo." Ucap lexia menguap.


"Oke, selamat tidur lexia." Edo menutup pintu kamar lexia dan menuju kamarnya sendiri di lantai bawah.


~


Daren telah berada di Queens dan menatap sebuah mobil Chevrolet berwarna hitam kusam yang terparkir di tempat parkiran.


"Lanjutkan terus pencarian, aku ingin lexia di temukan dengan cepat." Ucap Daren.


Evan sedikit menunduk. "Baik sir "


Jaraknya begitu jauh dari daren, dia berdiri tegap di belakang bodyguard-bodyguard lainnya dan sedang mengawasi Daren sejak tadi.


Mata birunya terpaku pada mobil itu, William sedang mengirimkan text kepada orang-orangnya untuk segera berada di Queen's dan menyisir tempat itu.


Evan membisikkan sesuatu kepada daren lalu dia segera beranjak dari tempat itu dan menuju ke mobilnya, sebentar lagi fajar, mereka yang mencari lexia tetap menyisir lokasi terakhir keberadaannya.


"Kami menemukan ini sir, CCTV di setiap sudut stasiun dan di dalam kereta expert, sepertinya gadis bertopi ini nona lexia sir, kereta terakhir hari ini menuju ke kota Beverly Street." Ucap Evan sambil menunjukkan video lexia yang berjalan bersama Edo.


Daren tersenyum puas, "Bagus, kita akan ke sana sekarang perintahkan yang lainnya untuk menyisir tempat itu"


"Baik sir." Ucap Evan bergegas pergi.

__ADS_1


"Aku akan menemukanmu lexia, kau membuatku menghabiskan waktuku untuk mencarimu, kau harus membayar pelarianmu ini." Gumam daren dengan menyeringai sambil berjalan menuju mobilnya.


__ADS_2