
~Thomas Readel
Pria itu berjalan di sepanjang koridor panjang, dia selalu mengikuti perintah dari tuannya yaitu Xaphier, pria bermata coklat yang dalam itu memiliki hati layaknya besi, dia dingin tidak tersentuh, kaku dan keras, lebih mengedepankankan perintah atasannya, melaksanakan tugas dengan sempurna tanpa kesalahan sedikitpun.
selain dirinya yang ditugaskan Xaphier menjaga mansion, salah satu pengawal yang setia padanya adalah paulo berkepala botak tetapi usianya tidak jauh berbeda dengan Thomas, sedikit lebih ramah di bandingkan dengan Thomas yang kaku dan dingin kepada siapapun, meskipun wajahnya tampan tidak ada seorang wanita pun yang berani mendekatinya, dia bekerja dengan ketat mengawasi setiap sudut mansion dan tidak ragu memecat siapapun pengawal-pengawal yang melanggar aturan-aturannya, sikap dingin dan kakunya membuat Pengawal-pengawal lainnya patuh kepadanya.
~
Lexia dan Nara sedang duduk di bangku taman, mereka berbincang-bincang di sekitar taman, lexia tiba-tiba melihat Thomas sedang berjalan bersama Pengawal-pengawalnya.
"Ck lihat pria itu, namanya Thomas dia kepala penjaga di mansion ini, dan kau tahu kan si tua Melda yang kau lihat tempo hari?" Tanyanya.
"Ya, aku melihat wanita itu lexia."
"Dia pernah menyukai Thomas." Lexia terkikik, dan tentu saja Melda di tolak mentah-mentah olehnya. Thomas yang dingin dan kaku tidak akan mudah terbujuk dengan kekayaan wanita tua itu."
Saat Thomas berjalan di hadapan mereka, mereka membungkuk Sebentar kepada lexia dan melanjutkan langkahnya, tetapi lexia tiba-tiba memanggilnya.
"Namamu Thomas?" Ucap lexia, dia tahu pria dihadapannya ini sangat kaku tetapi lexia yang penasaran ingin mengetahui apakah kepala pengawal ini mau menuruti perintahnya atau tidak atau hanya Xaphier dan ayahnya saja.
"Bisakah kau membawa putraku kemari? Dia pasti sudah bangun tidur dan mencariku." Ucap lexia. Nara menyenggol lengan lexia, tahu jika lexia hanya ingin mengujinya.
"Saya akan memberitahu pelayan untuk membawa putra anda kemari." Jawab Thomas
"Tidak bisakah kau saja yang membawanya supaya aku tidak menunggu lama." Ucap lexia lagi memperhatikan wajah pria kaku yang menunduk.
Dia segera pergi di temani Pengawal-pengawalnya yang sedang berpatroli. "Kau tidak bisa menyuruhnya seperti itu lexia, bagaimana jika dia tidak bisa menggendong Ax?" Ucap Nara. "Tenanglah Nara, kau lihat wajahnya ketika mendengar perintahku? Dia terlihat tidak suka." Ucap lexia.
"Dan ngomong-ngomong bagaimana hubunganmu dengan Xaphier? Melihat ekspresi wajahmu sepertinya Xaphier memaksakan kehendaknya kepadamu, apa dia menyakitimu?" Tanya lexia. Dia menegakkan punggungnya begitu penasaran dengan cerita Nara.
Wajah Nara tiba-tiba memerah, tubuhnya menjadi kaku dan dia sedikit menunduk. "Ayolah ceritakan untukku Nara, kau tahu? Xaphier bukanlah tipe yang memaksakan kehendaknya kepada seorang wanita, biasanya wanita-wanita itu yang mau melempar dirinya ke Xaphier tetapi jika dilihat dari sikapmu sepertinya malah sebaliknya, Xaphier pasti memaksamu untuk menikahinya." Ucap Lexia.
Nara dengan ragu menceritakan semuanya kepada lexia, meskipun dengan tertunduk malu ketika pertama kali Xaphier memilikinya. Lexia ternganga mendengarkan cerita Nara.
"Sekertaris pribadi? Aku baru mendengar peraturan konyol dan mengada-ada seperti itu Nara, kenapa kau tidak meminta bantuanku ketika kau membutuhkan uang? Itu hanyalah permainan Xaphier supaya kau menjadi wanitanya dan menikah dengannya, sepertinya kakak betul-betul menyukaimu, jadi bagaimana dengan perasaanmu sendiri Nara? Apakah kau menyukai Xaphier?" Tanya lexia antusias.
"Ermm, aku belum yakin dengan perasaanku lexia, aku..aku membutuhkan waktu, meskipun terkadang jika dia menciumku, tubuhku...tubuhku...erm seperti menginginkan hasrat yang lain, tubuhku menginginkan sesuatu darinya tetapi aku cepat-cepat menepis pemikiranku seperti itu." Ucap Nara terus terang tetapi malu dengan pengakuannya.
Lexia tersenyum lalu memukul sedikit punggungnya. "Kau tidak perlu malu Nara, itu artinya tubuhmu menginginkan xaphier, katakan saja kepadanya bahwa kau ingin bercinta dengannya." Ucap lexia sambil terkikik.
Nara membelalakkan matanya mendengar ucapan lexia. "Bu..bukan itu yang aku maksud lexiaaaa." Ucap Nara malu dengan pipi merona.
__ADS_1
"Jadi, kemana Xaphier?" Tanyanya.
"Dia berangkat ke kantor katanya akan pulang terlambat."
"Oh iya, aku punya hadiah untukmu, kau bisa menggunakannya ketika Xaphier pulang nanti." Ucap lexia terkikik. Nara menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah lexia yang jahil, Nara harus berhati-hati dengan hadiah lexia. Langkah kaki itu terdengar mendekati mereka yang sedang duduk di taman, mereka berdua menatap pelayan yang sedang menggendong Ax yang merajuk karena tidak menyukai jika orang lain menggendongnya, dia segera membuka kedua tangannya lebar-lebar ketika melihat ibunya ada di sana.
"Benarkan? Thomas hanya menuruti kakak dan ayah saja." Ucap lexia mengambil Ax dan memeluknya lalu memberikan kecupan di pipinya yang menggemaskan.
"Bukankah dia sudah menurutimu, dia menyuruh pelayan membawa Ax kemari lexia." Ucap Nara menggeleng.
"Emm, aku juga memakluminya sih, mungkin karena aku tidak lahir dan tumbuh di sini jadi sikap mereka padaku masih seperti itu." Ucap lexia mendengus. Ax bermain-main di pelukan ibunya dan mengeluarkan suara khasnya yang lucu. Nara mencoba menggendongnya tetapi selalu di tolak oleh Ax dan menempelkan erat tangannya di tubuh ibunya.
~
Xaphier mengambil ponselnya dari saku jasnya dan menatap jam di pergelangan tangannya kemudian menelepon thomas.
"Ya tuan."
"Dimana Nyonya Nara?"
"Dia sedang berbincang dengan Nona lexia di taman tuan." Jawabnya.
"Bagus, berikan aku laporan tentang istriku setiap tiga jam sekali Thomas."
Xaphier sedang berada di kantornya, setelah selesai rapat dia harus menghadiri makan siang bersama orang-orang penting pengusaha terkemuka di New York, dia menekan interkom lalu memerintahkan Paulo untuk memberikan list nama-nama tamu yang hadir di sana. Paulo masuk dengan membawa beberapa dokument di tangannya.
"Tuan, ini list nama-nama tamu yang akan hadir di pertemuan itu." Xaphier segera mengambil kertas dari paulo dan mulai membacanya.
"Melda caesaar?" Ucap Xaphier tidak suka dengan nama belakang yang tersemat di belakang nama Melda. Dia merasa wanita itu sudah tidak pantas menggunakan nama baik keluarganya, dia juga tidak mau dihubung-hubungkan dengan kontroversi Melda dengan para pria-pria yang pernah terjerat rayuan Melda, nama caesaar dari Nama Melda harus segera di hilangkan, wanita itu tidak boleh menggunakannya, dia merasa jijik menggunakan nama yang sama dengannya.
Xaphier duduk sambil memainkan ponselnya di tangannya. "Paulo, aku ingin kau menghubungi pengacara tuan Caesar hari ini dan temui aku setelah pertemuan usai." Ucapnya.
"Baik tuan."
Xaphier tersenyum miring, dia yakin Melda akan murka ketika dia mengetahui Rencana yang akan di lakukannya. Xaphier segera berdiri dari kursinya dan segera mengenakan jasnya kemudian dia keluar dari pintu kantornya, beberapa pengawal dan sekretarisnya mengikuti langkah tuannya, para pekerja yang berpapasan dengannya memberikan sedikit bungkukan. Wajah dingin dan datar Xaphier membuat wanita-wanita yang bekerja di sana sedikit takut dengannya, sekali saja kesalahan yang di lakukannya maka dia tidak segan-segan memecat mereka.
Xaphier segera menuju ke pertemuan para pengusaha-pengusaha besar di New York tepatnya di Hotel New York Garden, dan xaphier tidak akan heran jika dia bertemu melda di sana, dan dia akan memastikan kedatangan Melda ke pertemuan itu adalah terakhir kalinya.
~
Deringan telepon memecah kesunyian di kantor Daren yang sedang memeriksa beberapa dokumen penting, Evan mengetuk beberapa kali pintu kantornya.
__ADS_1
"Masuk." Ucapnya.
"Sir, wanita bernama Melda caesaar ingin bertemu dengan anda." Ucapan Evan membuat Daren menatap Evan dengan marah. "Dia ada dimana sekarang?" Tanyanya.
"Dia berada di ruang tunggu sir." Ucapnya.
"Apa yang diinginkannya?" Tanyanya.
"Dia ingin pergi bersama anda ke pertemuan pengusaha-pengusaha besar yang di adakan di hotel New York Garden sebentar lagi."
Daren memberikan tatapan tajam kepada Evan. "Pecat keamanan yang membiarkan wanita itu masuk dan mengantarnya kemari, saya yakin wanita itu sudah memberikan sesuatu kepadanya, aku sudah memerintahkan dengan tegas agar melarang wanita itu untuk masuk ke kantorku." Bentak daren.
"Bawa dia pergi dari sini sekarang juga, kalau perlu seret dia." Daren begitu heran dengan wanita tua itu, setelah insiden kemarin dia betul-betul tidak kapok, wanita itu betul-betul mengerikan.
Beberapa pengawal mengelilingi Melda, dan tidak lama Evan segera menghampirinya. "Nyonya silahkan keluar, pengawal-pengawal kami akan mengantar anda keluar dari sini." Ucap Evan dengan ekspresi wajah sedatar mungkin.
"Hem, jadi dia menolak ajakanku? Ck sudah kuduga tapi aku harus berusaha bukan?" Dia memberikan senyuman manisnya kepada Evan.
"Oh ya, berikan kartu namamu padaku, mungkin saja aku membutuhkan sesuatu dan ingin agar kau menyampaikannya kepada tuanmu." Ucap Melda menatap tubuh Evan dengan tatapan tajam mengerikan.
"Bawa dia, sekarang." Evan segera berbalik dan tidak memperdulikan kata-kata melda
"Ck, tuan dan sekretarisnya sama saja." Ucapnya, dia segera mengambil tas tangannya dan segera keluar dari perusahaan Daren .
~
Lexia dan Nara sedang berada di dapur mereka berdua sedang memasak untuk makan siang, hari ini mereka hanya makan siang bertiga bersama Ax karena suami-suami mereka tidak akan pulang makan siang.
"Oh ya, apa kau masih marah dengan Xaphier?" Tanya lexia.
Nara sekali lagi dibuat merona oleh kata-kata lexia yang selalu terus terang. "Apa dia kasar kepadamu?" Tanyanya lagi.
Nara menggelengkan kepalanya. "Dia..dia tidak kasar hanya saja...." Nara terdiam dia mengaduk-aduk makanan yang ada di hadapannya tanpa mau memandang lexia.
"Hanya saja??" Ucap lexia menaikkan alisnya.
"Dia terlalu intens, aku kewalahan dengan semua itu, bagaimanapun juga dia pria pertama untukku." Ucap Nara dengan suara sepelan mungkin sampai lexia harus mendengar sambil mendekatkan telinganya kepada Nara.
"Berhenti bertanya seperti itu lexia kau membuatku malu untuk menjawabnya." Ucap Nara menutup wajahnya dengan tangannya.
Lexia tersenyum. "Tapi aku senang mengetahui Xaphier memilihmu, baru kali ini aku melihat kakak tidak pernah melepaskan pandangannya darimu." Ucapnya.
__ADS_1
"Sudahlah lexia, jangan membicarakan itu lagi, lihat Ax bibirnya sudah manyun menunggu suapan darimu."