
Malam itu lexia tertidur pulas karena begitu letih, tetapi dia seakan bermimpi bahwa daren berada di sana di kamarnya, memeluknya erat, setahu lexia dia sedang di UK menjenguk kakaknya barbara dan keponakannya yang asli lovelia, entah mengapa daren begitu nyata di dalam mimpi lexia.
Sebuah pelukan hangat mendekap erat di tubuhnya, wangi mint dan parfum maskulin yang kental membuat lexia mendenguskan hidungnya yang sedang tidur. Kegelapan di kamarnya masih membuatnya belum tersadar dengan keganjilan yang di rasakannya.
Lehernya terasa hangat dan basah, tubuhnya begitu berat dan tidak bisa di gerakkan, 'apakah aku bermimpi? Mengapa tubuhku berat seperti ada batu di atasnya. mata lexia seketika terbuka. Dia merasakan sesuatu menyusup di balik pakaian tidur yang di kenakannya, tangan itu kemudian menelusup di dada lexia yang tertutup piama.
Lexia kini merasakan napas memburu seseorang di atasnya, tangannya menggapai-gapai sosok itu, lalu dengan keras lexia mendorong sosok itu dari atas tubuhnya.
Pakaian lexia kini terbuka sehingga memperlihatkan tubuh bagian depannya, dia dengan cepat menutupnya lalu menyalakan lampu kamarnya.
"Apa yang kau lakukan di kamarku Daren!" Ucap lexia dengan mata membelalak dengan bibirnya yang bergetar karena menahan amarahnya, napasnya memburu karena terkejut.
Pakaian daren masih lengkap dengan kemeja yang beberapa kancingnya sudah terlepas dan dasinya yang sudah melonggar. Dia mengerjap karena cahaya lampu dari meja kecil lexia yang menyilaukan matanya.
Dia lalu melengkungkan Senyumnya. "Aku merindukanmu lexia." Ucap daren.
"Merindukan?? Apa kau lupa? Kau sudah berjanji tidak akan menyentuhku !" Bisik lexia dengan nada mengancam.
Daren tertawa pelan, kemudian dia membaringkan tubuhnya di tempat tidur lexia, daren lalu tersenyum licik.
"Karena kau juga sudah melanggar kontrak kita bukan?" Ucap daren.
"Melanggar? Kapan aku....
"Lalu siapa Edo?" Tanyanya.
"Kau..kau mengetahui edo? Edo hanyalah temanku sewaktu aku masih tinggal di tempatku dulu, dan dia bekerja di sini sebagai penjaga." Ucap lexia dengan jujur.
__ADS_1
"Oh ya, Semalam kalian kemana?" Tanyanya.
lexia terkejut mengapa daren mengetahuinya? tubuhnya mundur beberapa langkah, dia lalu berpikir cepat untuk mencari kebohongan lain agar pria ini bisa mempercayainya.
"Kami..kami makan pizza bersama, aku bosan jadi aku keluar." Ucap lexia dengan suaranya samar dan menjadi super kecil.
"Jadi sekarang kau bisa keluar dengan seenaknya lexia, baru beberapa hari ini aku memberikanmu kelonggaran, tapi kau sudah melanggarnya bahkan kau keluar dari mansion ini dengan sembunyi-sembunyi." Ucapnya.
Lexia kembali mundur beberapa langkah, dan kini dia sudah tersudut di dinding kamarnya. "Jangan mendekat." Teriak lexia kepadanya.
"Kau tidak punya hak melarang keinginanku lexia." Bisik daren, dia memerangkap lexia di kedua tangannya, matanya menatap tajam lexia yang kini sudah tersudut dan terkurung di pelukannya.
Daren menarik lexia dan mendorongnya begitu saja di atas tempat tidur hingga tubuhnya jatuh di sana, daren kemudian menyerang lexia dan menciumnya dengan rakus, kedua tangannya di tahan di atas kepalanya.
Bunyi jam terdengar di dinding ruangan itu serta suara kecupan daren kepadanya, Cukup membuat lexia merinding dengan sentuhan daren, lexia kemudian mengehentakkan tubuh daren yang berat ke sampingnya hingga dia berhenti mencium lexia.
Dengan hanya mengenakan piyamanya saja, lexia segera keluar dari ruangannya, lalu masuk ke dalam lift sambil menghapus kasar ciuman daren kepadanya.
Umpatan daren terdengar keras, dia segera menyusul lexia dan membuka kamarnya. "Lexia ! Jika kau lari lebih jauh, kau akan menyesal." Ucap daren, sambil membanting keras pintu kamarnya.
"Sial !" Ucap daren menekan tombol pintu lift lalu segera masuk ke dalamnya. Dia berteriak keras mencari keberadaan lexia yang pergi entah kemana.
Di sebuah taman di dekat danau buatan, di belakang mansion itu lexia mencoba menyembunyikan dirinya, dia memeluk dirinya karena malam yang begitu dingin.
"Dasar penjahat, mesum, arogan, brengsek." Umpatan lexia terdengar di tengah-tengah taman, dia bersandar pada satu pohon yang cukup besar yang membelakangi mansion itu. Lexia berjongkok sambil memeluk dirinya yang kedinginan.
Dia memegang bibirnya, bengkak dan terasa sakit, begitupun leher dan dadanya. Lexia masih terus berjongkok dan tanpa dia sadari matanya tertutup karena begitu ngantuk dan lelah, seseorang memandangnya lalu berdiri di hadapannya, dia melipat kedua tangannya.
__ADS_1
"Rupanya kau di sini lexia." Ucap Daren.
Dia melangkahkan kakinya lalu menggendong lexia dan membawanya kembali masuk ke dalam mansion itu. Tubuh lexia melayang-layang di udara, daren kembali membawanya tetapi bukan membawa lexia ke kamarnya, daren membaringkannya di atas tempat tidur di kamarnya sendiri.
"Kau gadis yang menyusahkan lexia, apa yang harus aku lakukan padamu dengan kebohonganmu?" Ucap daren yang mengamati lexia yang sedang tidur di sampingnya, tidak begitu lama diapun tidak bisa menahan kantuknya dan tidur di samping lexia sambil memeluknya.
~
'Berat, ukh..kenapa suhu tubuhku menjadi panas?' lexia yang masih tertidur dengan posisi menyamping dan lebih masuk ke dalam pelukan daren hingga bibirnya dapat menyentuh kulit daren yang hangat.
'Ouch apa ini?' bisik lexia memegang dada seseorang di hadapannya.
'Kenapa tubuhku menjadi gerah seperti ini?' Pikirnya. Kedua matanya terbuka lebar, kini lexia merasakan pelukan itu seperti melilit seluruh tubuhnya hingga tubuhnya tidak mampu bergerak. Lexia menatap sosok yang memeluknya.
'Daren? Penjahat ini..., Kenapa aku bisa tidur di sini, ini kan kamarnya.' dengan perlahan lexia mencoba melepaskan pelukan daren dari tubuhnya. Tangan besar daren melingkar erat di pinggang lexia. 'Ck, sial bagaimana melepaskan diri dari brengsek ini.' gumam lexia mengangkat tangan besar daren dengan perlahan tetapi tidak ingin membangunkannya.
Lexia menatapnya, rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan, suara napasnya yang tenang dan dia masih mengenakan kemejanya yang dipakainya semalam. Lexia perlahan turun dari atas tempat tidur dan berjalan pelan menuju pintu keluar.
Lexia kemudian membukanya, 'Ck, sial dia menguncinya.' mata lexia menerawang ke atas meja mencari kunci pintu, tapi dengan kecewa dan marah lexia kembali menatap pintu yang tidak bergeming itu. 'Apa? Dia menggunakan password, sinting.' ucap lexia menekan-nekan nomor-nomor yang ada di sana.
"Percayalah, usahamu tidak akan berhasil lexia, nomor itu aku sendiri yang memastikan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui.....
Bunyi dengan 'klik' pada pintu terdengar dan tiba-tiba pintu itu membuka, lexia berbalik dan menatap wajah daren yang heran ketika lexia mampu memecahkan kode pintu kamarnya.
"Bagaimana kau...." Ucap daren.
"Seharusnya kau tidak menjadikan tanggal lahirmu di password ini, siapa saja bisa menebaknya bukan?" Ucap lexia dengan senyum miring, lexia membuka pintunya kemudian dia berlari dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.
__ADS_1