The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 63


__ADS_3

Hanna kembali bangun pagi-pagi sekali, masih dengan mengenakan bathrobenya dia keluar dari kamarnya dan mencari dazon, akhir-akhir ini dia selalu cepat terbangun dan pada saat hanna bangun, dia sudah tidak ada ditempat tidurnya. Hanna berjalan perlahan ke ruangan dazon.


Dia kembali berdiri di balik dinding dekat dengan pintu ruangan dazon dan sekali lagi mendengarkan percakapan mereka.


"Aku menolaknya, aku tidak mau mengambil resiko mempertemukan mereka, meskipun mereka adik kakak, aku menentangnya." Ucap dazon.


Hanna mengernyitkan alisnya, riel kakanya ingin bertemu dengannya? Dia kemudian mendengarkan lagi.


"Tapi tuan, riel bermaksud untuk menyerahkan dirinya dan mendekam seumur hidupnya di penjara, sampai vonis hukuman jatuh kepadanya, tetapi sebelum itu, sebaiknya anda mempertemukan mereka." Ucap thomas masih membujuk dazon agar mengerti.


Tiba-tiba langkah kaki yang terdengar tajam itu membuat hanna kaget, lalu terdengar suara yang familiar, suara seorang perempuan yang juga ikut bergabung dalam pembicaraan rahasia itu.


"Menurutku tuan Dazon memang benar thomas, terlalu berbahaya bagi Nyonya Hanna untuk bertemu dengan kakaknya riel yang seorang pembunuh itu, kita tidak tahu apa yang akan di katakannya, kita harus mengingat di darah nona Hanna juga terdapat racun yang sama seperti kakak maupun ayahnya." Ucapnya.


Mengapa wanita itu berada bersama mereka, biasanya dazon menempatkan orang-orang penting saja untuk berdiskusi di dalam ruangan kerjanya, apa sekarang dia sudah mendapatkan kepercayaan dari dazon? Dari seorang kepala pelayan menjadi partner kerjanya? Pikir hanna.


Pemikiran itu membuat hanna kembali naik pitam, dia berjalan perlahan dan masuk ke ruang makan, dia berdiri di depan jendela kaca sambil bersedekap, menatap taman dari luar yang di sinari cahaya matahari sedikit demi sedikit.


Suara langkah sepatu mendekat, hanna melirik wanita itu sedikit terkejut ketika melihat hanna berada di sana.


"Ah, aku tidak menyadari kedatangan anda nyonya, apakah anda mau sarapan sekarang?" Tanyanya.


Hanna tidak memperdulikannya, hanna hanya menatap ke depan, memikirkan cara bagaimana dia bisa bertemu dengan kakaknya riel, tanpa sepengetahuan Dazon. Hanna sedikit lucu dengan dirinya sendiri, dia sudah menjadi istri dazon dan salah satu nyonya di rumah ini, tetapi kenapa hanna merasakan dirinya di kekang dan di batasi, dia seperti terpenjara di dalam rumah ini.


"Nyonya, apakah anda mendengarku? Apakah anda ingin sarapan sekarang?" Ucap wanita itu sedikit membesarkan suaranya.


Dazon masuk ke ruang makan, dia juga sedang mencari hanna. "Kau di sini sayang." Ucap dazon. Dia menghampiri hanna dan mengecup puncak kepalanya.


"Apa kau ingin sarapan sekarang? Kita bisa sarapan di kamar atau kau ingin kita makan di sini saja?" Ucapnya.


"Panggil loue." Ucap hanna.


"Loue? Kenapa loue?" Tanya dazon tidak mengerti.


"Aku ingin sarapan di luar, dia tahu dimana restaurant tempat favoritku." Ujarnya, hanna berjalan begitu saja, dia tidak memperdulikan keberadaan wanita itu yang telah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.


"Tapi hanna, kenapa harus makan di luar, apa kau bosan dengan makanan di mansion?" Ucap dazon memegang lengan hanna.


"Aku hanya ingin keluar." Ucap hanna, dia segera keluar dan berjalan tanpa memperdulikan keberadaan dazon.


"Kita akan pergi bersama, aku juga ingin tahu di mana tempat favoritmu?" Ucap dazon, bibirnya menjadi tipis tatkala melihat kedatangan loue yang segera menghampiri mereka berdua.


Hanna masuk ke dalam mobil, tanpa menunggu dazon, dia menutup dan mengunci begitu saja mobilnya, membuat dazon terkejut.


"Hanna buka mobilnya," ucapnya sambil mengetuk-ngetuk jendela mobil.


"Jalan." Perintah hanna kepada loue.


"Tapi Nyonya, bagaimana dengan tuan dazon." Ucapnya sambil menatap dazon yang memukul-mukul kaca mobil dengan cukup keras.


"Itu akan menjadi urusanku, jalan saja."


"Baik nyonya."


Mobil melaju dan meninggalkan begitu saja dazon di sana dengan kemarahan menggelegar, dia segera berlari dan mengambil mobil sportnya dan mengikuti dari belakang mobil hanna. Ponsel hanna terus berdering, tapi hanna tidak memperdulikannya.


"Kau tahu dimana lokasi laboratorium professor itu? Aku ingin bertemu dengan riel, sekarang." Perintah hanna.


"Tapi nyonya, sepertinya itu bukan ide yang bagus, tuan dazon akan marah besar nyonya." Ucap loue.


"Lakukan saja, aku ingin bertemu dengan kakakku." Ucap hanna pelan.


Hanna merasa kakaknya tidak memiliki banyak waktu, racun itu akan terus mendorongnya berbuat kejahatan, semakin lama dia menemui riel, Semakin kuat kesempatn untuk iblis di dalam tubuhnya menguasai tubuh riel kembali.


Dazon menekan klakson beberapa kali ketika loue tidak juga berhenti, apalagi mereka memasuki universitas Atlanta, dan memasuki beberapa area dan bangunan di belakang universitas itu, dazon mengikuti mobil mereka dan akhirnya mobil loue berhenti di sebuah laboratorium, hanna masih berada di dalam mobil, dan loue segera keluar dari mobil.


Sementara itu, dia menunggu kedatangan dazon yang membanting pintu mobilnya dan segera menuju ke tempat hanna.


Dia masuk begitu saja ke dalam mobil, matanya tajam menatap hanna, "Kenapa kau seperti ini hanna, mengapa kau sama sekali tidak mau mendengarkanku." Ucap dazon.


Hanna hanya diam, dia tidak mau bertengkar dengan dazon di saat sebentar lagi dia akan menemui kakaknya.


"Jawab aku hanna." Bentak dazon.


Dia menarik bahu hanna agar dia menatap wajah dazon yang terlihat frustasi.


"Aku ingin menemui riel sebelum dia menyerahkan dirinya ke penjara." Ucap hanna tenang.


"Dia berbahaya, aku tidak mau mengambil resiko." Ucapnya.


Hanna berbalik menatap dazon. "Jadi kau menginginkan aku tidak melihat kakakku seumur hidupku, padahal aku tahu dia masih hidup, dan sebentar lagi akan menunggu vonisnya, setidaknya dia tahu bahwa masih ada seseorang yang perduli padanya, meskipun dia berubah menjadi iblis sekalipun." Ucap hanna.


Dazon mengambil napas, dia tidak ingin lagi bertengkar dengan hanna, apalagi kelahiran putranya sebentar lagi, dia ingin menuruti setiap keinginannya.


"Baiklah, tapi sebentar saja." Ucap dazon.

__ADS_1


Mereka keluar dari mobil, loue sudah menghubungi prof Vandash bahwa Nyonya hanna ingin bertemu dengan riel. Loue kembali dari lab setelah beberapa menit dan segera menghampiri hanna dan dazon.


"Nyonya saya minta maaf, emm dia belum siap untuk menemui anda, jika saatnya tiba, dia akan datang dengan sendirinya untuk berjumpa dengan anda." Ucap loue.


"Benarkah?" Ucap hanna terdengar sedih.


Dia mundur beberapa langkah dan segera bersandar pada mobil yang ada di belakangnya.


"Kau baik-baik saja hanna?" Tanya dazon memegang tubuh istrinya, wajahnya nampak khawatir. Hanna mengangguk dan berusaha menetralkan napasnya.


"Kita pulang." Bujuk dazon, dia memegang hanna dan masuk ke dalam mobil, dia kemudian masuk dan segera menyandarkan kepala hanna di bahunya agar dia tenang.


"Berikan dia waktu, dia masih belum siap bertemu secara langsung denganmu." Bisik dazon, mengusap rambut hanna dan mengecup keningnya.


Mobil kembali melaju pagi itu, menembus udara dingin di kota Atlanta, mereka akhirnya kembali ke Mansion.


~


"Dimana dazon?" Tanya Ax ketika membuka ruangan dazon yang kosong, Ax kemudian beralih ke ruangan santai, di sana sudah ada daneil dan jennifer sedang menonton tv dan bersama Fairley. Ax langung duduk di samping fairley lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang istrinya.


"Sepertinya mereka jalan-jalan, entahlah, tapi kalian tahu? beberapa hari ini aku mendengar laporan mey, katanya hanna menampar dua orang pelayan, mey hanya menasehati hanna agar masuk ke dalam mansion, lalu menyuruh dua orang pelayan untuk membantunya masuk, tetapi hanna malah menampar mereka." Ucap daneil mengangkat bahunya.


"Siapa yang suruh mengganggu ibu hamil, hanna tahu apa yang terbaik untuknya, dia hanya berjalan-jalan di taman, bukan menceburkan diri ke air mancur, mey terlalu mengatur dan berlebihan, akupun akan marah jika diatur seperti itu." Bela fairley sambil menggelengkan kepalanya.


Mereka bertiga berbalik menatap fairley.


"Apa? Memang benarkan, kadang mey terlalu berlebihan, aku juga heran sendiri, aku ingin mempercayainya sebagai kepala pelayan, tetapi yang membuatku aneh, dia bahkan ingin mengatur kemeja yang akan di kenakan Ax, dia bilang hari rabu Ax harus memakai pola bergaris supaya nampak lebih fresh dan hari kamis, dia harus mengenakan kemeja putih saja, dan satu lagi, dia bahkan mau mengatur boxer yang akan di kenakan Ax, aneh kan, saat itu aku langsung menyuruhnya keluar dari kamar, dan tidak membutuhkan bantuannya lagi, dia kan kepala pelayan, kenapa dia tidak menyuruh salah satu pelayan saja untuk membantuku." Ucap hanna panjang lebar sambil mendengus jengkel.


"Benarkah?" Ucap Jennifer.


"Mey itu terlalu mengatur, dia harus diingatkan bahwa dia itu hanya kepala pelayan, bukan Nyonya di rumah ini yang mengatur anak-anaknya, bahkan ibu mertuaku tidak akan mengurusi hal semacam itu, hal sangat privasi seperti itu."


Daneil lalu tertawa besar, "benarkah? Dia mengatur boxer Ax, aku tak tahu mey seperti itu, untung saja jennifer yang menyiapkan semua untukku, iya kan sayang?" Ucap daneil.


"Dia juga mengatur kemeja dan boxer yang kau gunakan neil, hari itu aku terlalu lelah dan langsung berbaring di tempat tidur dan membiarkan mey mengatur semuanya.


Daneil teridiam, "Oh ya? Jadi yang kukenakan sekarang juga hasil pilihan mey." Ucap daneil, dia lalu terlihat seperti merinding.


"Oh ya, aku lupa memberitahu kalian, dia bahkan berani masuk ke dalam ruangan dan memberikan nasehat kepada dazon mengenai hanna dan kakaknya, dia membawakan kami sarapan, tetapi setelah itu dia ikut bergabung di sana, dan dazon pun membiarkannya." Ucap daneil.


"Apa sebaiknya kita periksa lagi data-data mey." Jelas daneil, lalu menggenggam jemari jennifer. Axton mengambil ponselnya dan menelepon paulo.


"Halo paulo, bisakah kau memeriksa kembali latar belakang Meyna Howard, kepala pelayan yang baru di tempatkan di sini dua bulan lalu, kirimkan segera kepadaku." Perintah Ax.


~


"Sial, sepertinya mereka mulai mencurigaiku, apa yang harus aku lakukan? Mereka pasti akan memeriksa data dan latar belakangku. Ucapnya.


"Aku hanya melakukan ini untukmu kakak." bisiknya.


~


Hanna baru saja kembali ke mansion, tiba-tiba dia berhenti berjalan, perutnya sangat sakit, dia kemudian memegang pilar besar sebagai penyangga tubuhnya. Dazon yang melihatnya segera berlari dan memegang istrinya.


"Siapkan mobil kita ke rumah sakit sekarang." ucap Dazon sambil memapah hanna kembali masuk ke dalam mobil, Fairley dan jennifer berlarian ketika melihat hanna tidak bisa mengangkat kakinya, mereka membantu memapahnya, sementara para pengawal sibuk mengitari mereka dan membukakan pintu mobil untuknya.


"Segera ke rumah sakit." perintahnya.


"Baik tuan." Siang itu dazon segera ke rumah sakit, loue segera menelepon dokter pribadi keluarga Caesaar dan segera menyiapkan ruangan khusus vvip yang di peruntukkan untuk keluarga Caesaar.


"Genggam tanganku sayang," ucap dazon dengan wajah pucat, hanna terlihat kesakitan, padahal hanna biasanya hanya mengalami kontraksi palsu dan setelah itu akan baik-baik saja, biasanya dokter harbert akan datang lagi ke mansion untuk menenangkan mereka, bahwa hal itu sering terjadi kepada ibu hamil yang akan mendekati persalinan, biasanya kontraksi palsu terjadi karena kondisi rahim mengencang lalu mengendur, sehingga ibu hamil merasakan seperti kram di perut seperti saat seorang wanita menstruasi.


Tapi kali ini berbeda, hanna tidak bisa menahannya lagi, "Kita akan segera tiba sayang," ucap dazon. Sebenarnya dazon sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk kelahiran hanna, tetapi dia tidak menyangka hari ini adalah harinya.


~


"Siapa wanita yang tinggal di mansion itu."


Tanya Riel kepada loue, dia sempat bertemu loue di laboratorium milik prof vandash, dan melihat adiknya hanya dari kaca jendela mobil ketika hanna hendak bertemu Riel.


"Kau juga mengetahuinya? bagaimana kau mengetahuinya riel? sistem keamanan di mansion cukup ketat." ucap loue.


"Jawab saja pertanyaanku, siapa wanita tua yang sering membuat hanna jengkel, hanya dia satu-satunya yang menyadari jika wanita itu aneh, mungkin karena hanna sedang hamil jadi dia sensitif dengan keadaan di sekitarnya."


"Namanya Meyna Howard, dia kepala pelayan di mansion, baru dua bulan ini dia bekerja di mansion, kerjanya pun profesional, hanya saja, sudah jadi rahasia umum di mansion bahwa Nyonya hanna tidak menyukai keberadaan Mey, kenapa?" tanya loue.


"Tidak ada, aku hanya bertanya saja." Ucap riel sambil bersedekap, tiba-tiba matanya berkilat tajam, seringai kejam terpampang jelas di wajahnya, dia akan membuka kedok wanita itu, siapapun yang mengganggu ketenangan adiknya harus berhadapan dengannya dan mereka harus membayar karena berani mengganggu keluarga Reaver.


"Jangan coba-coba Riel, aku bisa membaca apa yang ada di otakmu sekarang ini, mungkin Mey memang menjengkelkan bagi Nyonya hanna, tetapi dia wanita normal yang mengerjakan tugasnya dengan baik, bahkan tuan dazon yang lainnya tidak mempermasalahkannya." Ucap loue.


"Loue, kau tahu?" Ucap riel sambil menatap kosong pemandangan di luar jendela.


"Racun yang ada di dalam tubuh keluarga Reaver memang sangat berbahaya, tetapi salah satu keuntungannya adalah kami peka, kami dapat mengetahui dengan cepat dan terlalu sensitif dengan keadaan yang tidak normal di sekitar kami, bahkan seprofesionalnya seseorang yang ingin berbuat jahat dan hendak menutupinya, dengan mudah kami dapat mengendusnya, jadi hanna sepertinya merasakan hal itu, tetapi dia tidak menyadari keistimewaan dirinya, sehingga dengan mudah dia bisa merasakan ada sesuatu yang salah dari wanita tua itu, jadi dengan cepat dia mengetahui bahaya di sekitarnya." Ucap riel dengan kilauan tajam di matanya.


Loue menimbang-nimbang ucapan Riel dan semua perkataannya, dengan tergesa loue menelepon bagian keamanan dan segera memeriksa keberadaan Mey dan mengecek kembali data-data tentangnya.

__ADS_1


~


Hanna sudah berada di rumah sakit, dia melewati pintu khusus yang dipersiapkan untuk anggota keluarga Caeaaar, hanna segera di bawa ke ruang persalinan, dokter dan para perawat telah menunggu sejak tadi.


Dazon menemani hanna dengan wajah pucat dan keringat mengalir di keningnya. "Aku di sini sayang." Bisik dazon.


"Sebaiknya anda tunggu di luar tuan, nyonya akan baik-baik saja, kami akan...


"Tidak, aku akan menemani istriku," Tantang dazon dengan wajah marah, seakan ingin memecat dokter yang melarangnya menemani istrinya sendiri.


"Maaf tuan, hal ini kami harus lakukan untuk kesehatan Nyonya, kamar bersalin harus tetap steril dari bakteri dan virus yang terpapar dari luar, jika ibu hamil terpapar ketika akan melahirkan, maka akan berakibat fatal bagi kesehatan ibu dan bayinya nanti." Ucap dokter Harbert tegas.


Dazon akhirnya mengalah, dia menunggu di ruang tunggu, dan tidak lama kemudian, mereka berempat datang dan menemani dazon.


"Bagaimana dengan hanna?" Tanya Ax.


"Dia sudah masuk ke ruang persalinan." Jawab dazon dengan wajah pucat.


"Jangan khawatir daz, jennifer pun seperti itu ketika dia melahirkan, aku ketakutan sampai mau pingsan rasanya." Ujarnya.


"Kau memang pingsan neil." Ucap jennifer.


"Jadi, siapa yang menjaga anak-anak dan bayi kalian?" Tanya dazon.


"Tenang saja, ada baby siter untuk putraku, dan beberapa pelayan menjaga putra dan putri Ax, apalagi di sana ada mey, kau tenang saja." Ucap Neil.


~


Senandung itu terdengar di ruang keluarga, sebentar lagi malam akan menyambut, penghuni di rumah itu nampak sibuk menyambut kelahiran anggota baru keluarga besar Caesaar.


"Mereka sungguh dungu, menyerahkan anak-anaknya bersamaku, meskipun di sini ada pelayan dan pengawal, tetapi tidak ada yang bisa mereka lakukan," Gumamnya.


Dia kemudian berbalik dan kembali ke ruang utama, dia memeriksa semuanya, dia merasa dapat menguasai semuanya dan mengatur mereka, kecuali wanita itu, dia sangat sensitif, sebaik apapun dia memperlakukan wanita bernama Hanna, tetapi dia tetap saja dapat mencium kebusukan dan niatnya berada di mansion ini.


"Apa yang dia bisa lakukan, wanita itu sekarang ini akan melahirkan, dan dia lemah, bertambah lemah, mereka hanya akan membutuhkan uluran tanganku."Gumam Mey.


Malam itu cukup sunyi, di area luar mansion, hanya beberap penjaga di tempatkan pada pos mereka masing-masing, sementara di ruangan tuan Ax terdapat 3 orang pelayan yang menjaga anak-anak Ax dan fairley, sementara putra dazon dan jennifer berada di ruangannya pula, seorang babysiter dan satu orang pelayan bertugas menjaganya.


Suara garukan terdengar sejak sore menjelang malam hari, mey mengernyitkan alisnya ketika dia sedang berada di bathub sambil meneguk wine di tangannya.


"Apa itu?"


Suara itu terdengar lagi di sepanjang pintu dari atas ke bawah, membuat mey duduk sambil menegakkan punggungnya, dia berbalik menatap pintu kosong, di sekujur tubuhnya tertutup busa, bunyi musik waltz yang sejak tadi mengalun membuat mey mematikannya, dan mencoba mendengar kembali dengan seksama suara aneh itu.


"Siapa? mengapa kau masuk ke dalam kamarku," Ucap mey dari dalam kamar mandi.


Mey berdiri, dia menyiram tubuhnya yang berbalut busa dengan air ala kadarnya agar tubuhnya tidak licin, dia segera mengambil handuk dan menutupi tubuhnya. Dia berjalan perlahan dan menempelkan telinganya di pintu kamar mandi.


Terdengar kekehan panjang seperti berbisik.


hehe, Mey, Mey pembalasan terburuk buat kakakmu melda, dia mati dengan mengenaskan, apakah kau ingin mengikuti jejaknya juga? aku bisa mengabulkan keinginanmu kapan saja.


Mey mundur beberapa langkah, matanya membulat sempurna.


"Si..siapa di sana, siapa kau !" Ucapnya, suaranya jelas ketakutan, dia kemudian memberanikan dirinya membuka pintu kamar mandi setelah beberapa menit, dia mengintip dari pintu dan tidak melihat seorangpun ada di sana, hanya bau aneh yang tercium di kamarnya, bau parfum menyengat yang menusuk hingga ke hidung menguarkan aroma manis yang menyengat ke hidung.


Mey segera mengenakan pakaiannya, dia segera keluar dari kamar dan menatap sekelilingnya. Tidak ada apapun yang dia temukan, dia kemudian ke ruangan Ax dan fairley, hanya tiga orang pelayan yang ada di sana begitupun di kamar Daneil, sama sekali tidak ada yang mencurigakan.


Dia ke ruang tengah yang gelap, tidak ada seorangpun yang ada di sana, para pelayan sudah selesai mengerjakan tugasnya dan kembali ke kamar mereka masing-masing, begitupun para pengawal, mereka berada di luar dan sedang berjaga.


Kembali terdengar kekehan aneh dari belakangnya, tiba-tiba langkah kaki semakin mendekat ke arah si mey, dia terlambat, sebelum dia berbalik lehernya sudah di jerat oleh tali, dia jatuh tersungkur di lantai, teriakan dari suara yang coba dia keluarkan, sama sekali tidak berguna, kakinya meronta seiring tangannya menjangkau tali yang ada di lehernya.


Kekehan itu semakin jelas.


Hari ini sampai di sini dulu mey, kita akan melanjutkan kembali ketika kau melakukan sesuatu yang membuatnya kesal dan membahayakan dirinya, aku akan datang lagi kepadamu dan bermain-main bersamamu.


Tali itu terlepas dari lehernya. Mey segera mengambil napas panjang, dan mencoba duduk, napasnya masih tidak teratur, "Siapa itu, siapa yang berani melakukan hal ini kepadaku." Gumam mey sambil terbatuk.


~


~


Mereka semua telah kembali dari rumah sakit, hanya dazon dan dua pengawal yang menemaninya, sementara itu berita mengenai kelahiran hanna telah sampai ke telinga Xaphier dan Nara, mereka senang sekali tetapi mereka tidak bisa segera kembali ke Atlanta, karena badai malam itu sangat lebat.


"Aku lelah sekali, besok aku akan kembali menjenguk dazon." Ucap daneil. Mereka segera masuk ke kamar mereka masing-masing.


Tiba-tiba daneil berhenti berjalan, dan berbalik kepada mereka semua. "Apakah nama yang dipilihkan oleh kakek tidak tampak mengerikan? mengapa dia memberi nama putra dazon seperti itu?" Ucapnya.


"Menurutku terdengar keren," Ucap fairley, lagi pula sangat mirip dengan nama ayahnya." jawabnya.


"Darko Caesaar, kita akan menyambut si kecil itu di keluarga besar Caesaar." Ucap axton.


~


Sementara itu, dazon telah berada di samping hanna ketika dia telah melahirkan putra tampannya, dia menggenggam jemarinya erat dan menghapus peluh yang masih betah berada di kening Hanna.

__ADS_1


"Aku mencintaimu hanna, kau sudah melakukan yang terbaik untuk kita," Bisik Dazon ditelinga hanna. Dia melirik dan menatap bayi yang berada di dalam box bayi dengan tempat steril, agar bayi kecil mungil itu terlindung dari bakteri dan virus yang berbahaya.


"Ayah dan ibu ada di sini Darko, ayah akan selalu menjaga dan menuntunmu ke jalan yang jauh dari jalan kakekmu Reaver." Ucap Dazon.


__ADS_2