
Bunyi lift berdentang dan membuka, "silahkan lewat sini Nona." Ucapnya.
Sebuah pintu besar berwarna coklat keemasan dan terukir dengan huruf D besar di depannya.
"Silahkan masuk, tuan sudah menunggu anda di dalam." Ucapnya lagi.
"Tuan? Apa dia pria kurang ajar yang telah menciumku itu?" Ujarnya.
Pria itu hanya diam dan membukakan pintu coklat itu untuk Hanna, Setelah dia masuk, pintu kemudian menutup. Hanna menatap ruangan mewah dan luas dengan didominasi warna putih, biru dan gold, terlihat sangat mewah, Hanna berjalan perlahan menatap di sekelilingnya. Jendela kaca raksasa terpampang di sisi kanannya, memperlihatkan pemandangan kota Georgia dari atas di tempatnya berdiri.
"Kau cukup keras kepala juga, kau tidak tepat waktu."
Suara itu membuat Hanna terlonjak ke belakang, dia kemudian mencari dimana suara itu berasal, pria itu berdiri di sana dengan sikap arogannya seakan ingin memperlihatkan kemewahan yang dimilikinya.
Hanna menelan ludahnya, dan mencoba membuka suaranya yang tertahan.
"Apa yang kau inginkan." Ucap Hanna mundur sedikit.
"Dazon tersenyum miring, dia kemudian menatap keseluruhan diri Hanna dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Apa yang kuinginkan adalah, kau." Ucapnya sambil melengkungkan bibirnya.
"Karena kau sudah menolak untuk bekerja di perusahaanku, dan tidak datang ke kantor seperti yang kuinginkan, maka tidak ada pilihan lain selain kau menjadi milikku." Ucap Dazon.
"Milik? Kau gila, memangnya apa salahku kepadamu." Ucap Hanna, suaranya cukup tinggi membuat Dazon terpancing untuk terus mendekatinya.
"Kesalahanmu? Kau memang memiliki kesalahan padaku, dan untuk itu aku harus membalasnya bukan? Jadi kau harus menjadi milikku." Ucapnya.
"Aku tidak perlu meladeni ucapanmu, aku mau pulang, kau bisa cari wanita lain yang bisa kau jadikan milikmu." Ucap Hanna segera berbalik dan membelakangi Dazon.
Hanna memegang gagang pintu itu tetapi tidak bisa terbuka, pintu itu telah terkunci dari luar. Hanna berbalik, menatap dazon dengan pandangan marah.
"Buka pintunya, jika kau tidak membukanya, aku akan menelepon polisi dan mengatakan kau menculikku dan mengurungku di sini." Ancam Hanna.
Dazon terkekeh, "teleponlah, aku ingin melihat, apa yang akan kau katakan ketika kau menelepon mereka." Ucapnya.
Hanna menggigit bibirnya, bagaimanapun ancamannya sia-sia, ponselnya tidak ada di tangannya, masih ada di tasnya di dalam Truck, untung saja di sekitar Complex city, dia mengenal baik Oficer yang berjaga di sekitar daerah situ, sehingga trucknya akan aman, meskipun di tinggalkan di sana, tapi bagaimanapun juga, dia harus segera keluar dari gedung sialan ini.
Dazon berjalan pelan, layaknya singa sedang mengintai mangsanya, berjalan perlahan-lahan kemudian di waktu yang tepat dia akan menyerangnya.
"Jadilah milikku, ini bukan pilihan tetapi keharusan, aku tidak suka mengulangi ucapanku pada sesuatu yang kuinginkan Hanna."
"Kau tidak memiliki hak untuk memaksaku, aku bahkan tidak mengenalmu." Ucap Hanna mencoba menghindari pria tinggi di hadapannya ini.
"Kau yakin tidak mengenalku?" Tanyanya.
Mata Hanna melebar, kembali dia menatap dengan cermat wajah lelaki yang berjalan di hadapannya, sikap arogan, angkuh, wajah tampan dan senyum sinisnya, pernah dia lihat wajah pria ini di suatu tempat, meskipun wajahnya familiar, tapi Hanna masih belum mengenalinya.
"Bagaimana kalau aku menyebut nama Dazon Caesaar, apa sekarang kau mengenalnya?" Ucap Dazon, kini kedua tangannya memenjarakan Hanna pada kedua tangannya.
"Dazon Caesaar?" ucap Hanna dengan pandangan seakan dia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, "Kau..kau tuan muda itu?" Ucap Hanna begitu terkejut.
"Kau sama sekali tidak mengenaliku?" Tanyanya.
Kenapa dia tidak mengenalku? Padahal waktu itu aku langsung mengenalinya ketika pertama kali bertemu dengannya.
Pikir Dazon dengan jengkel, meskipun dia mengenalinya, tetapi dia harus memeriksa mengenai data dirinya untuk memastikan bahwa dia adalah Hanna yang dia cari.
"Le..lepaskan aku, apa tujuanmu melakukan ini? Meskipun dulu aku bekerja di mansionmu, tetapi itu kan dulu, sekarang kau bukan lagi tuan muda bagiku." Ingin sekali Hanna berpaling dari menatap wajahnya.
"Tentu, kau bisa memanggilku sesuka hatimu, kalau begitu panggil namaku." Ucap dazon.
"Nama? Ke..kenapa aku harus memanggil namamu?"
"Ayo panggil namaku."
Hanna menggigit bibirnya, banyak yang ingin keluar dari bibirnya, seperti umpatan kasar yang bertubi-tubi, tetapi ingatannya membawa Hanna ke masa dia bekerja di kediaman Caesaar, sehingga secara otomatis mulutnya membuka dengan ucapan tuan di depan namanya.
Bodoh Hanna, kau bukan lagi pelayan di tempat itu, kau bisa mengumpatnya semaumu, ayo, kau pasti bisa.
"Le..lepaskan aku Dazon." Napasnya terdengar tertahan ketika dia mengucapkannya, entah mengapa lidahnya terasa beku hanya dengan menyebut namanya.
Dazon tersenyum miring, dia sudah berdiri di hadapan Hanna, "Permulaan awal yang bagus Hanna, kau harus mengingat namaku, itu langkah awalnya."
"Sekarang, kita makan siang bersama." Perintahnya.
Dazon berbalik, menuju ke meja makan, meninggalkan Hanna yang masih berdiri mematung di depan pintu, tubuhnya masih gemetar, dia pikir lelaki ini akan melakukan Sesuatu yang buruk kepadanya.
"Kemarilah, dan hentikan kecemasanmu itu, aku belum akan melakukan apapun padamu dulu, kemarilah, aku tidak punya waktu banyak."
Dia duduk di sana dengan elegan dan terlihat pantas duduk di meja mewah dengan sarapan lezat. Hanna berjalan perlahan, Setelah sampai di meja makan, dia mengambil tempat duduk yang cukup jauh dari Dazon.
"Duduk." Perintahnya.
Hanna duduk dengan tenang, matanya masih terlihat waspada menatap dazon dari seberang tempat duduknya.
Hanna masih belum menyentuh makanan di depannya, tentu saja dia tidak akan makan makanan itu, siapa yang akan tahu apa yang sudah di taruh di dalam makanannya, orang bodoh pun tahu kita tidak boleh menerima apapun di sarang musuh.
"Makanlah." Ucap Dazon, perlahan menatap wajah perlawanan di hadapannya. Dazon menyeringai senang, meskipun dia tidak makan setidaknya wanita ini duduk di sana menemaninya makan.
"Apa kau pikir aku menaruh sesuatu di dalam makananmu? Aku bukan tipe pria seperti itu, jika aku menginginkanmu, sekarang juga kau bisa kumiliki tanpa perlu menaruh obat atau apapun di makananmu."
Wajah Hanna memucat, dia ingin mengatai lelaki dihadapannya dengan umpatan yang paling kasar, tetapi mulutnya seakan terkunci rapat.
~
Sebuah Night club yang fantastis, bisa dibilang hanya orang berkelas yang menyedot uang banyak bisa masuk ke club para CEO terkenal di Amerika. Langkahnya begitu elegan, dia masuk lalu menyapa teman-temannya di sana.
"Hai Daneil, kau datang juga." Ucap salah seorang pria yang duduk di sudut. "Aku yakin kau pasti akan datang, tapi berbeda dengan Dazon, dia tidak akan datang lagi kali ini." Ucap salah satu temannya yang masih memutar-mutar gelas di depan wajahnya.
__ADS_1
"Haha, tenanglah, Dazon akan datang." Ucap Daneil segera menghubungi Dazon. Dia segera keluar dari ruangan dan berdiri di salah satu sudut di koridor itu.
~
"Hai Daz, aku sekarang berada di Club Night Grey, aku menunggumu Daz."
"Aku tidak bisa datang ke club Niel, aku memiliki seorang tamu," ucap Dazon memperhatikan wajah tertidur pulas di atas sofa empuk yang ada di ruangannya.
"Kau punya tamu? Jangan katakan kalau tamumu itu seorang wanita?"
"Kau benar, memangnya kenapa kalau tamuku seorang wanita?"
"Karena Jennifer sudah berusaha membujuk Ketty, rekan kerjanya untuk makan malam bersama, dia sengaja ingin mengatur pertemuanmu dengannya, Sepertinya wanita bernama Ketty tertarik denganmu, padahal dia belum melihat dirimu Daz."
"Lupakan, aku tidak tertarik menjalin hubungan dengan seorang wanita sekarang ini, sampaikan pada Jennifer."
Dazon menutup teleponnya, tanpa Mendengarkan lebih lanjut Daneil berbicara.
Dazon duduk di sana menatap sepanjang malam wanita yang tertidur begitu saja di Sofanya rentan tanpa pertahanan, Dazon duduk di hadapannya sambil menopang dagu.
Perasaannya belum jelas kepada wanita ini, tetapi satu hal yang nyata yang dirasakan oleh Dazon, dia menyukai keberadaan Hanna di sampingnya, meskipun dia tahu menempatkan wanita ini di sampingnya merupakan hal yang sangat berbahaya, tetapi keinginannya jauh lebih kuat untuk terus memaksa wanita ini berada di sampingnya.
Dazon berdiri, dia kemudian menuju ke meja pantry dan menuangkan segelas wine lalu menyesapnya. Ponselnya berbunyi, Dazon menjawab telepon dari Daneil.
"Daz, aku masih ada di club, kau yakin tidak ingin datang?"
"Tidak Neil, aku tidak akan datang," ucap Dazon.
"Kau pria membosankan, c'mon man, temani aku di sini, Sebentar lagi aku akan menikah, setidaknya kau menemaniku menikmati pesta bujangku yang akan berakhir Sebentar lagi." Ucapnya setengah teriak.
"Kau mabuk Niel, aku tidak akan kesana, ngomong-ngomong kau akan segera menikah, apa sekarang kau bersama dengan seorang wanita lain tanpa Jennifer?" Tanya Dazon dengan mata menyipit.
Terdengar suara tawa keras di seberang telepon.
"Kau sungguh pria mafia yang kolot Daz, tentu saja tidak ada, Jennifer akan membunuhku jika dia mengetahuinya, hanya beberapa temanku saja yang membawa wanita mereka."
Suara tawa Neil masih terdengar di sana, bunyi musik yang berdentum keras dapat di dengar oleh dazon.
"Aku tutup Neil, sebaiknya kau segera pulang sebelum kau benar-benar mabuk." Ucapnya.
"Oke, oke kawan, kau terdengar seperti paman Xaphier." Ucap Neil sambil terkekeh.
Dazon menutup ponselnya, dia kemudian berbalik ketika merasakan sebuah pergerakan dari belakangnya. Wanita itu telah bangun dari tidurnya, dia terlihat bingung dan masih mengumpulkan memorinya. Pandangannya jatuh kepada Dazon yang berdiri di depan jendela kaca yang terbentang luas di hadapannya.
"Ka...kau, kenapa aku masih di sini?" Ucap Hanna, dia berdiri dengan cepat, matanya mengerjap, dia merutuki dirinya sendiri, tertidur di tempat ini dengan nyenyaknya, bagaimana jika pria itu melakukan sesuatu yang buruk kepadanya?
Dazon menyeringai, berjalan lebih mendekat ke tempat Hanna berdiri.
"Kita makan malam sekarang, siang tadi kau tidak makan, kau pasti lapar." Ucap Dazon, dia mengambil ponselnya dan menyuruh seseorang menyiapkan makan malam untuk Hanna.
"Aku mau pulang, sekarang !" Bentak Hanna.
"Jangan membantahku, kau harus makan, bukankah kau suka makan? Kau suka makan sembunyi-sembunyi ketika kau masih bekerja di mansionku dulu di Oklahoma." Ucap Dazon sambil tersenyum mengejek.
"Ap...apa kau bilang? Sejak kapan aku.." Hanna seperti memutar memorinya kembali, mengingat-ingat hal memalukan apa yang pernah di lakukannya selama bekerja di mansionnya, pipinya memerah, dia kini mengingatnya, perutnya sering kali berbunyi setiap tengah malam, dan dia dengan sembunyi-sembunyi makan di balkon seorang diri di sana, dan hanya beberapa kali dirinya kedapatan oleh tuan muda yang kini berdiri di hadapannya.
Ketukan terdengar dari pintu ruangannya.
"Masuk." Ucap Dazon.
Para pelayan membawa makanan yang lezat menggiurkan mengeluarkan aroma yang begitu wangi menggugah selera. Hanna mengintip dari balik bulu matanya, makanan itu tersaji lezat, apalagi sekarang ini perutnya sudah protes, ingin segera di isi.
Dazon memperhatikannya sambil tersenyum, dia berjalan ke meja makan, lalu duduk di sana. Sedangkan hanna masih berdiri kikuk, sesekali melirik meja makan yang mengeluarkan aroma wangi yang membuat perutnya semakin berbunyi.
"Kemarilah, perutmu lebih jujur di bandingkan dirimu." Ucap Dazon. Hanna menyeret kakinya menuju meja makan, lalu duduk di hadapan Dazon. Meja makan itu tidak besar, hanya berbentuk lingkaran. Sehingga jarak Dazon dan Hanna, begitu dekat.
"Makanlah." Perintah Dazon.
Hanna ingin sekali membantahnya tetapi protes di perutnya sungguh keterlaluan, bunyinya semakin besar, kini dia menekan egonya, dan kemudian mengambil pisau dan garpu, lalu mulai menyuap makanannya kedalam mulutnya.
Mereka berdua menikmati makan malam, meskipun mereka makan begitu larut, Karena jam menunjukkan tepat pukul 1 malam.
Ponsel Dazon kembali berbunyi, dia segera mengangkatnya. "Ya Daneil, aku tidak akan datang." Ucap Dazon tanpa mendengar suara dari seberang teleponnya.
Hening sejenak, tidak ada suara apapun terdengar.
"Daneil, kau di sana?" Tanyanya.
"Daz...Daz, bagaimana ini Daz, bantu aku."
Matanya menatap ke arah hanna yang makan dengan lahap, dia kemudian berdiri dari tempat duduknya lalu pergi agak menjauh dari tempat duduk Hanna.
"Ada apa Daneil?" Tanyanya.
"Aku...aku berada di gang gelap di samping salah satu gedung tinggi, aku tidak tahu berada di mana, tiba-tiba saja aku terbangun dan berada di sini, bantu aku Dazon." Ucap Daneil, suaranya terdengar putus asa.
"Apa yang terjadi."
"Aku tadi begitu mabuk, dan ketika aku terbangun, aku berada di bangunan kosong yang begitu gelap."
"Memangnya kau tidak membawa pengawal-pengawalmu?" Tanyanya.
"Tidak, hari ini aku tidak membawa mereka." Suaranya tercekat mengerikan.
"Neil, kau baik-baik saja, aku akan segera ke tempatmu sekarang, jangan bergerak dari sana."
"Daz?" Ucap Daneil dengan suara bergetar.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Entah mengapa tanganku dipenuhi dengan darah seseorang, ada mayat wanita di sampingku." Ucapnya tertahan.
Tanpa bertanya lagi, Dazon segera menutup ponselnya, dia segera menuju ke tempat Daneil dan segera melacak keberadaan Daneil melalui sambungan ponselnya.
Tanpa Dazon sadari Hanna sudah berdiri di sampingnya.
"Apa yang kau lakukan di sini." Bentak dazon kepadanya. Dia marah karena Hanna mencuri dengar pembicaraannya.
Hanna terkejut, dia mundur beberapa langkah, "lepaskan aku, aku ingin pulang." Ucap Hanna balas menantangnya.
Dazon menatap tajam padanya. "Tidak, kau tunggu aku di sini, kau tidak akan kemana-mana." Perintahnya.
"Kau tidak punya hak memperlakukan aku seperti ini, aku bukan lagi pelayanmu yang bekerja di mansionmu, sekarang lepaskan aku."
Dazon sama sekali tidak punya waktu untuk meladeni sikap membangkang hanna, dia harus segera menuju ke tempat Daneil, Sebelum orang lain menemukannya.
Dazon menggertakkan giginya, menarik tangan Hanna dan membawanya masuk ke dalam kamarnya, perlawanan Hanna semakin kuat, dia memukul-mukul keras apa saja bagian dari tubuh Dazon, agar tangannya terlepas, Dazon kini mengangkatnya, menggendongnya ala bridal dan membawanya ke kamarnya, dia membanting tubuh Hanna di atas tempat tidur, sehingga tubuh Hanna jatuh di atas tempat tidur seperti barang yang di buang.
"Tunggu aku di sini, jangan kemana-mana." Perintahnya. Dazon segera pergi, dia tidak memperdulikan teriakan marah Hanna kepadanya, Hanna segera bergegas berdiri dari tempat tidur dan mengejar Dazon, tetapi sayangnya, Dazon sudah mengunci pintu kamarnya. Lalu bergegas pergi meninggalkan Hanna yang menggedor-gedor keras pintu itu.
~
Dazon segera memecah malam dengan mengendarai mobilnya beserta Thomas dan beberapa mobil pengawal yang ikut dengannya. Dia sudah menemukan keberadaan Daneil, dia berada di sebelah barat daerah Town berdekatan dengan jalan China town, dia berhenti di sebuah bangunan terlantar kusam tidak berpenghuni, gelap dan di penuhi mobil-mobil berkarat yang tertumpuk di sana, sulur-sulur merambat di bagian atapnya, serta bongkahan batu cukup besar di sekitar daerah bangunan itu.
Dazon melihat Daneil berdiri di sana, di bawah bangunan itu, dia terlihat pucat, tetapi seketika dia bernapas lega ketika melihat kedatangan Dazon.
"Ada apa Neil?" Tanya Dazon, ketika melihat mayat wanita yang tubuhnya bersimbah darah, Neil menggaruk kepalanya kasar, matanya memerah.
"Aku sama sekali tidak mengingat apa yang terjadi Daz, waktu aku terbangun wanita yang sudah tidak bernyawa ini, berada di sampingku dan tanganku sudah berlumuran darah, aku tidak mengingat apapun." Ucapnya dengan tubuh bergetar.
Dazon sedikit menunduk, memperhatikan dengan seksama mayat wanita itu, pakaiannya sangat minim, seperti dia baru saja selesai berpesta di sebuah club, kulit kecoklatan dan berambut pirang mencolok. Luka sayatan kasar terlihat di sepanjang lehernya.
Thomas ikut mendekat dan menatap lebih dekat kepada mayat wanita itu. "Luka sayatan yang sama dengan korban yang lainnya tuan." ucap Thomas.
"Kau mengetahuinya Thom?" tanyanya.
"Ya tuan, sejak pembunuhan di dekat tempat transaksi yang kita lakukan, saya melihat luka yang sama di tubuh korban, saya yakin pelakunya orang yang sama." ucapnya.
Dazon kemudian berdiri, lalu menatap Daneil yang terlihat bingung. "Sebaiknya kita pergi dari sini, sebelum fajar menyingsing, kau ikut denganku, kita harus bicara." ucap Dazon.
Daneil segera mengangguk. "Thomas, singkirkan semua barang bukti, jangan sampai ada yang tersisa sedikitpun, cctv, black box, rekaman apapun yang menunjukkan keberadaan kita pernah datang ke tempat ini, dan tanpa kesalahan sedikitpun." perintahnya.
"Baik tuan." ucap Thomas.
"Tuan, bagaimana dengan mayat wanita ini?" tanyanya.
"Kita tidak bisa membiarkan dia ada di tempat ini, bagaimanapun sidik jari Daneil sudah pasti menempel di tubuh korban, pastikan mayat ini menghilang, siapapun tidak boleh tahu keberadaannya, kau tahu maksudku bukan?" ucap Dazon.
"Baik." Thomas segera menyisir tempat itu bersama Pengawal-pengawalnya yang lain, membersihkan area bangunan itu dari segala bukti bahwa Daneil terlibat. Dazon dan Daneil segera menuju ke dalam mobil, dia membawa Daneil ke tempat yang aman.
Setelah mobil Dazon menjauh, Thomas sudah membereskan segalanya, tidak tersisa sedikitpun jejak rekam keberadaan mereka, dia sudah memastikan semuanya. Matanya kini terpaku pada mayat wanita berambut pirang itu, dia kemudian mendekatinya, lalu membaca identitas wanita itu.
"Yessy Rush." ucap Thomas. Dia kemudian berdiri dan menatap matanya. "Bawa dia, hilangkan semua bukti hingga tidak tersisa." ucapnya.
~
Gedoran cukup keras di lakukan oleh Hanna hingga kedua tangannya sakit. "Ck sial, tidak bisa di buka, akupun tidak membawa ponselku, masih berada di dalam tas di Truck kopi, aku tidak memiliki seseorang yang bisa kuhubungi kecuali Yessy." ucap Hanna.
Malam semakin larut, matanya juga sudah mulai memberat tak tertahankan, dia duduk di sudut tempat tidur, tanpa bisa menahannya lagi, Hanna tertidur pulas dan terbuai dalam mimpinya.
~
~
Daneil berjalan hilir mudik, di dalam salah satu ruangan di lantai teratas penthouse milik Dazon.
"Ingat kembali Neil, mengapa kau bisa berakhir di bangunan tua itu, apa kau tidak bisa mengingat sedikitpun?" tanya Dazon yang menatap Daneil yang berjalan mondar mandir di hadapannya.
"Mm, waktu itu aku meneleponmu di luar ruangan, karena suara di dalam terlalu berisik sekali." ucapnya, dia memijat-mijat kepalanya, mencoba memutar kembali sebagian ingatannya yang kabur.
"Setelah aku meneleponmu, aku melihat seseorang Daz." ucapnya, dia kemudian berhenti mondar mandir, matanya membelalak karena mengingat sedikit hal penting.
"Seseorang? siapa." tanya Dazon.
"Seorang pria memakai mantel hitam, dia berdiri di bawah salah satu lampu di koridor yang temaram, siluetnya juga sedikit mengerikan, aku tidak melihat wajahnya, tetapi dia pria dengan tubuh tinggi." ucapnya sambil menjentikkan jarinya.
Dazon melipat kedua tangannya. "Kau yakin tidak mabuk saat itu?" tanyanya.
"Tidak, tentu saja tidak, oke aku mengakui, aku minum sedikit tapi aku sangat sadar daz."
"Apa kau bisa mengingat sedikit saja, sesuatu yang mencurigakan darinya." tanyanya.
Daneil memegang kepalanya, dia berpikir begitu keras. Dia kemudian mengerutkan hidungnya. "Bau, aku mencium bau wewangian yang menyengat, sangat menyengat di koridor itu, wangi aneh yang membuatku ingin bersin." ucapnya.
"Wewangian seperti apa neil." tanyanya.
"Entah, tetapi aku bisa memastikan wanginya seperti apa, jika aku bisa mencium sekali lagi bau wewangian itu." ucapnya sungguh-sungguh.
Dazon menghembuskan napasnya, "Meskipun kau terbukti tidak bersalah, tetapi sayang sekali kau berada di sana bersama korban itu Neil, jika seseorang melihatmu di sana, dia akan menuduhmu sebagai pelaku dari semua korban pembunuhan berantai ini, jadi hanya satu cara untuk membebaskan dirimu dari segala tuduhan." Ucap Dazon.
Mata Daneil membelalak, "Ap...apa itu Dazon." tanyanya.
"Kita harus menemukan pelaku sebenarnya, dan membuatnya mengakui segala perbuatannya, dan kau tahu yang paling aneh dari semua ini?" ucapnya.
"Aneh?" tanyanya.
"Ya aneh, karena sepertinya pelaku mengetahui identitasmu Neil, dia bermaksud menjadikanmu kambing hitam dan membuatmu menjadi pelaku pembunuhan ini."
"Kau bercanda Daz? mengapa psikopat itu tahu tentangku? aku sama sekali tidak memiliki banyak musuh seperti dirimu, aku kan bukan mafia, aku hanyalah pengusaha normal yang sedang jatuh cinta dan sebentar lagi akan menikah, aku bahkan tidak pernah membunuh seekor semut sekalipun." ucap Daneil dengan hidung kembang kempis.
__ADS_1
Dazon menggeleng, "Entahlah Neil, untuk sementara kau sembunyi dulu di sini, sementara aku akan menyelidiki kasus ini dan mencari pelaku itu."