The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 69


__ADS_3

Hanna tampak mempesona, dia berdiri di dekat jendela menunggu lexia menyelesaikan penampilannya. Dazon melirik hanna dari belakang punggungnya.


"Kenapa kau ingin ke pesta amal itu hanna?" Tanya dazon yang masih menggendong putranya di dalam pelukannya, hanna lalu berbalik ketika mendengar suara dazon dari arah belakang. Dazon terlihat terkejut ketika melihat hanna mengenakan gaun pesta itu, dia nampak sangat cantik dan mempesona.


"Kenapa, tidak boleh?" Ucap hanna.


Dazon menyipitkan matanya, mendengar jawaban ketus hanna, "Apa kau ingin memperlihatkan tubuhmu itu dan mencari tangkapan lain?" Ucapnya tajam.


Hanna menatap tajam dazon, "jika aku beruntung saja."


Ucapan hanna telah memprovokasi dazon, dia berjalan mendekati hanna dan mendesaknya hingga ke dinding. "Jangan mencobanya hanna, aku tidak akan membiarkannya, kau itu masih istriku, jangan melakukan sesuatu yang memprovokasiku hanna sayang, atau kau akan menyesal." Ancam dazon sambil mencengkram pinggang hanna hingga turun ke bagian belakang punggungnya. Mereka masing-masing saling menatap tajam.


"Hei, kalian baik-baik saja?" Suara lexia muncul di belakang mereka, dia baru saja selesai di dandani dan melihat sedikit pertengkaran antara dazon dan hanna.


Dazon mundur beberapa langkah dan melepaskan tangannya dari tubuh hanna. Jantung hanna masih berdetak tidak karuan ketika dazon menyentuhnya.


"Sebentar lagi kita akan berangkat sayang, dan dazon, kau juga sebaiknya pulang dan bersiap-siap, kakek menunggumu di acara amal itu."


Dazon berbalik masih menggendong putranya, dia memberikan darko kepada lexia dan segera pergi dari rumah hanna.


"Kau baik-baik saja hanna?" Tanya lexia. Hanna tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Dia kemudian menggendong darko dan memberikannya kepada pengasuhnya.


"Hubungi aku secepatnya jika sesuatu terjadi." Ucap hanna kepada ketiga pelayan yang menemani darko malam itu.


"Baik nyonya." Ucap mereka bertiga.


"Jangan khawatir hanna, aku sudah mengirimkan beberapa penjaga di setiap sudut rumah, jadi kau tidak perlu khawatir."


Mereka akhirnya berangkat ke pesta, perjalanannya memakan waktu 20 menit hingga sampai di pesta itu, hanna menarik napasnya, dia terlihat kaku menginjakkan kakinya lagi ke pesta samacam ini.


Ketika mereka tiba di gedung pesta itu, lexia membawa hanna memasuki ball room yang mewah, Lexia mengajak hanna masuk ke dalam ruangan yang sudah di penuhi banyak orang, dia seakan menyeret hanna ketika masuk dan segera menuju ke tempat daren berdiri dan sedang berbincang bersama rekan bisnisnya.


"Hai sayang, kau sudah lama datang?" Ucap lexia segera mengecup bibir daren ketika mereka bertemu.


"Sejak 10 menit yang lalu sayang," lexia menyapa teman daren sambil sedikit mengobrol. Sedangkan hanna terlihat canggung sambil menatap banyaknya wanita-wanita cantik yang hadir di pesta malam ini.


"Dazon sudah datang?" Tanya lexia sambil memperhatikan orang-orang yang berada di dalam pesta.


"Ya sayang, dia tadi sedang berbincang dengan teman-temannya di sana, hai hanna kau tampak cantik malam ini." Ucap daren menyapa hanna, Daren lalu memberikan isyarat kepada lexia, lalu menunjuk ke arah hanna. Lexia lalu menganggukkan kepalanya.


"Hanna sayang, ikut aku, bibi akan memperkenalkanmu dengan beberapa teman-teman bibi." Lexia kembali menyeret hanna dengan menggenggam tangannya menemui beberapa kenalannya di sana, mereka melewati ruangan di tengah-tengah pesta, sudah banyak para taipan tampan yang hadir di tempat itu, ketika lexia ingin mendekati teman-temannya yang sedang bercerita, seseorang memanggil namanya.


"Lexia."


Lexia berhenti dan kemudian berbalik, matanya sedikit membelalak ketika menatap pria yang berdiri di sana.


Pria itu? siapa namanya, ck aku lupa, Oh ya Aldrik Rudolf.


"Hai lexia, apa kabar?" Ucap pria bermata biru itu, dia tidak berubah dari sewaktu terakhir kali lexia bertemu dengannya.


"Oh halo, em apa kabar." Senyum lexia, matanya melirik kepada seorang pria yang berdiri di samping Rudolf, seorang pria tampan yang seusia dengan Ax atau dazon, dengan mata biru yang terang, rambut coklat tersisir ke belakang dengan rapi, dia menatap lexia sambil tersenyum sopan.


"Aku baik lexia, kau tetap tidak berubah sewaktu terakhir kali kita bertemu, kau tetap sangat cantik, aku pikir waktu tidak menangkap usiamu, kau tetap sangat cantik dan menawan." Suara deheman terdengar dari pria yang ada di sampingnya.

__ADS_1


"Paman? Ehhem aku ada di sini." Ucap pria yang ada di sampingnya.


Seketika Adrick tersadar lalu tersenyum sambil menggeleng, dia tidak menyangka lexia sekali lagi dapat menghipnotisnya, keberadaannya membuat adrick lupa waktu dan tempat.


"Perkenalkan, dia keponakanku namanya Kent Rudolf." Senyumnya.


"Sekarang aku bisa bertemu dengan anda yang terkenal, pamanku beberapa kali menyebut nama anda Nyonya, bahkan ketika bibi masih hidup."


"Hentikan kent." Tegur sang paman, keponakannya hanya tertawa ketika melihat pamannya yang biasanya terlihat sangar, menyeramkan dan tegas di depan orang-orang, kini nampak menciut bagaikan seorang remaja yang baru berkenalan dengan seorang wanita.


"Oh ya senang berjumpa dengan kalian berdua." Ucap lexia dengan senyum ragu, dia merasa ada tatapan tajam mengarah ke tempatnya berdiri.


"Apakah dia putrimu?" Tanya Adrick, menunjuk ke tempat hanna berdiri.


"Perkenalkan namanya Hanna Caesaar dia adalah keponakanku." Ucap lexia. Langkah sepatu yang berat dan suara tertahan terdengar dari belakang Adrick Rudolf, dia melihat daren telah datang dan berdiri di sana.


"Selamat malam." Ucap daren beridiri tepat dibelakang adrick, mereka kemudian saling menatap, senyum arogan masing-masing terpancar dari kedua pria yang sama-sama saling menatap tajam.


"Tidak di sangka kita bertemu lagi tuan Adrick." Senyum daren, senyuman melengkung menampilkan sikap menantang dan sinis jika dia berani mendekati istrinya.


"Senang berjumpa dengan anda juga tuan Burchard, aku tidak tahu anda juga berada di sini."


Lexia terlihat bingung, dia berencana mencari teman-temannya untuk di ajak bekerja sama untuk memanas-manasi dazon, tetapi kenapa dia yang malah membuat daren marah?


Hanna mundur sedikit, dia menghindari percakapan sinis dan saling sarkas itu, diantara kedua pria tampan yang masing-masing terlihat saling menantang.


Hanna melihat sekelilingnya dan matanya menangkap keberadaan dazon yang sedang berdiri di ujung sana saling berbincang dengan teman-temannya, termasuk beberapa wanita yang berdiri di antaranya.


"Hay, sepertinya kau masih menunggu bibimu," ucap pria bermata biru itu, dia berbalik menatap ketiganya.


"Mereka tidak akan berhenti saling menilai dan menantang, memang bibimu sangat cantik, tidak heran paman Adrick seperti terhipnotis." Ucapnya.


"Nama anda hanna Caesaar, bukan?" Tanyanya.


"Em, panggil saja hanna." Ucap hanna dengan kikuk, pria itu tersenyum melihat hanna menatap seseorang dari kejauhan.


"Kau menatap seseorang, siapa?" Tanyanya.


Kenapa pria ini ingin tahu?


"Bukan apa-apa, aku hanya ingin mengambil minum." Ucap hanna.


"Kalau begitu tunggu sebentar, itu adalah tugas seorang pria, tunggu saja di sini." Dia berkedip lalu beranjak ke tempat minuman yang terletak agak jauh dari tempat mereka berdiri, Hanna menghembuskan napasnya, tidak di sangka dia bisa mengobrol dengan seorang pria asing, dia terlalu sibuk untuk mengurusi semuanya sampai-sampai dia jarang berkenalan dengan orang-orang.


~


"Hei daz, bukankah itu hanna?" Ucap Ax yang berdiri disamping Ax, mereka tengah berkumpul bersama rekan-rekan bisnisnya, beberapa wanita juga bergabung di sana.


Dazon mencari-carinya dan menemukan hanna sedang berdiri di dekat jendela di tengah-tengah pesta, dia sedang berbincang dengan seorang pria, dazon tidak mengenalinya, mereka tampak akrab dan berbincang sambil tertawa. Rahangnya tiba-tiba mengetat sempurna, dia menyesap minumannya, dan menaruhnya di atas meja dengan suara yang cukup keras, Ax dan fairley yang ada di sana terkejut, dazon segera berjalan dan menghampiri tempat dimana hanna berdiri.


Hanna sekarang berdiri menunggu pria itu membawa minuman, dan tidak menyangka seseorang memegang tangannya lalu menariknya, hanna mengangkat kepalanya dan menatap dazon yang memegang erat lengannya dan membawanya ke suatu tempat di dalam ruangan tertentu yang terlihat cukup sepi. Hanna membeliak, dia mencoba melepaskan dirinya dari dazon yang terlihat marah.


"Lepaskan tanganku dazon, apa yang kau lakukan sih, lepaskan ! tanganku sakit." Ucap hanna dengan suaranya yang keras, tetapi dazon sama sekali tidak memperdulikan setiap ucapan hanna yang terlihat seperti terseret.

__ADS_1


Dia kemudian berhenti di tempat sepi tidak ada seorangpun yang lewat di tempat itu. "Jadi, sekarang kau menggoda seorang pria? Kita belum berpisah dengan benar, tetapi kau sudah tidak tahan mencari pria lain?" Ucap dazon dengan suaranya yang berat dan menuntut.


"Terserah apa yang ingin kau katakan daz, lepaskan tanganmu." Ucap hanna.


Dazon beralih memenjara hanna di sana hingga tubuh mereka saling menempel sempurna, hanna dapat merasakan napas dazon di wajahnya, hanna mengeluh dan memekik ketika dazon dengan sengaja memberikan kecupan di leher hanna dan menandainya di sana.


"Apa yang kau lakukan daz! Orang-orang akan melihat tanda itu." Ucap hanna marah.


"Supaya mereka yang melihat tahu bahwa kau telah dimiliki oleh seseorang, kau tidak akan bisa pergi dariku hanna, aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku, apapun yang terjadi, kau mengerti !" Ucap dazon, dengan kasar dia menyerang bibir hanna hingga kepalanya menempel erat di dinding. Dia melepaskan ciumannya ketika hanna mulai mengeluh, napas hanna kini tidak beraturan, mereka kemudian saling menatap.


"Kita pergi, sekarang !" Ucap dazon, dia menarik tangan hanna dan segera meninggalkan pesta itu dan segera memberikan isyarat kepada petugas valet untuk membawa mobil mereka.


~


Lexia mencari-cari hanna, dia mencari-carinya, tetapi dia tidak menemukannya. "Apa kalian melihat hanna?" Tanya lexia kepada Axton dan fairley.


"Sepertinya dazon membawanya pulang, sebenarnya apa yang ibu rencanakan, dazon terlihat sangat marah." Ucap Ax.


"Hehe, benarkah? Aku hanya sedikit memanas-manasi dengan membawa hanna ke pesta amal ini, siapa yang sangka ada pria lain yang mendekatinya." Ucap lexia tanpa merasa bersalah.


"Seharusnya Mommy mengkhawatirkan diri sendiri dari pada mengkhawatirkan dazon dan hanna, lihat saja wajah dad, sepertinya mom sudah membuat dad marah besar."


Lexia menghela napas, "Aku dan adrick hanya berbincang sebentar, dia kan kenalan mommy, tentu saja ibu sedikit berbincang kepadanya, jangan khawatir, aku akan mengatasi ayahmu nanti malam." Ucap lexia sambil berkedip kepada mereka berdua.


"Mommy betul-betul pencari masalah." Ucap Ax.


~


Dazon membawa hanna entah kemana, dia hanya mengendarai mobilnya menjauh dari pesta itu, dia juga tidak membawa hanna kembali ke rumahnya.


"Kita mau kemana dazon, kenapa kita tidak pulang saja, darko menungguku." Ucapan hanna tidak di perdulikan olehnya, dia terus membawa hanna mengendari mobil membelah malam. Wajah dazon terlihat sangat marah, dia sama sekali tidak menggubris hanna yang berada di sampingnya.


Dazon membawanya ke salah satu hotel berbintang, mereka tiba di parkiran hotel mewah itu, Hanna sama sekali tidak bergerak dari tempat duduknya ketika menyadari kemana dazon membawanya.


"Untuk apa kita datang kesini, aku ingin pulang dazon, apa yang kau pikirkan, apa karena kau marah dan kau ingin melakukan seenaknya kepadaku?" geram Hanna.


"Ikut aku." Hanya itu yang keluar dari mulut dazon, dia segera membawa hanna ke dalam hotel, lalu menggenggamnya erat. Tanpa di sangka seseorang menegur dazon, dia adalah salah satu rekan bisnisnya yang berasal dari italia. Mereka sedikit berbincang, pria itu dan dazon berbahasa italia dengan fasih dan lancar, mereka saling berbincang sebentar.


Hanna berusaha melepaskan tangan dazon, tetapi sedikitpun tangannya tidak kendor ketika menggenggam tangan hanna. Selesai berbicara, dazon kembali membawa hanna, mereka masuk ke dalam lift, di ruang sempit itu nampak jelas napas dazon memburu, kemarahan dan kecemburuan sepertinya telah membutakannya.


Mereka keluar dari dalam lift ketika mencapai lantai 30, dazon membawa hanna dalam suatu ruang yang tertulis di atasnya suit VVIP, dazon membuka pintu kamar dan segera menutup pintunya.


Hanna tidak akan membiarkan dia melakukan dengan seenaknya, dia terlebih dahulu harus membela dirinya sebelum dazon menyerangnya. "Kenapa kau sangat marah hanya karena aku berbincang dengan seorang pria? aku tidak melakukan sesuatu yang buruk, kami hanya berbincang." Ucap hanna membela dirinya.


"Aku bahkan tidak menaruh foto-fotoku di sosmed dan tertawa lepas dengan pria lain." Seru hanna dengan nada sinis kepada dazon.


"Jadi kau ingin membalasku dengan bersama pria lain?" Seringai dazon makin jelas, sepertinya dia sangat marah karena perlawanan hanna. Tanpa menunggu lagi, dazon mendorong hanna ke atas tempat tidur.


"Kau tidak bisa melakukannya dazon, kau jangan memperlakukanku dengan semaumu." teriak hanna. Dazon telah menjulang di atas tubuh hanna, dia kemudian menggenggan kedua tangan hanna.


"Kau adalah istriku, tentu saja hal seperti ini wajar kita lakukan, memuaskan istriku bukankah merupakan kewajibanku juga, bukan?" bisik dazon dengan nada sensual di telinga hanna.


dia memulai dengan menyerang bibir hanna sekuat tenaganya, dressnya sudah setengah terbuka tidak karuan, dazon tidak menunggu-nunggu lama, dia menghentak tubuh hanna, hingga malam berangin itu menjadi malam panas bagi keduanya, malam yang membuat dazon tersadar bahwa wanitanya bisa di rebut kapan saja jika dia lengah sedikit saja.

__ADS_1


__ADS_2