
Senyuman daren membuat lexia begitu jengah, dia sudah bosan dengan tingkah mesum yang di tahannya, kenapa dia bersikap seperti itu padaku? Dia kan punya wanita-wanita cantik yang bisa memuaskan keinginannya kapan saja.
"Ganti pakaianmu kita akan makan siang." Ucap Daren.
"Ganti? Tapi baru beberapa jam yang lalu aku memakainya bahkan belum sampai setengah hari." Sambil menatap baju formal panjang yang di kenakannya.
"Ganti ! Aku menunggumu di luar." Titah daren.
Lexia mengambil napas panjang mencoba menahan kemarahannya melihat perintah Daren kepadanya. Pukul 11.10 lexia keluar dari kamarnya dengan bantuan salah satu pelayan yang mendandani lexia.
Daren sudah menunggunya sambil menelepon seseorang. Dia memberikan perintah kepada lexia agar duduk di hadapannya.
"Tentu jack aku akan segera ke tempatmu." Ucap Daren.
"Kita akan kemana?" Tanya lexia.
"Hari ini kita akan makan siang dan kau akan menemaniku ke pertemuan rekan bisnisku." Ucapnya.
"Kenapa aku harus ikut?"
"Karena aku menginginkanmu untuk ikut, berhenti bertanya, sekarang kita pergi." Ucap daren lalu keluar dari ruangannya diikuti oleh lexia.
Setelah setengah jam perjalanan, mereka tiba di sebuah rumah besar yang terlihat begitu mewah, lexia menatap tempat itu dengan berjalan perlahan.
'Harusnya dia pergi sendiri saja, kenapa sih dia mengajakku, atau ajak saja wanita-wanita yang lainnya.' gumam lexia yang berjalan di belakang daren.
Daren terkekeh mendengar setiap celotehan lexia di belakangnya. Tiba-tiba dia berbalik kepada lexia.
"Jaga tingkah lakumu lexia dan ingat namamu lovelia."
Lexia hanya mengedikkan bahunya dan mengikuti daren. Ruangan yang sangat besar dengan kaca besar sebagai dindingnya dan kolam renang besar dapat di lihat melalui jendela itu, orang-orang sudah berkumpul di sana, para pebisnis dan rekan bisnis daren semua ada di sana, musik mengalun dengan lembut.
'Apakah ini perkumpulan orang-orang kelas atas?' gumam lexia, 'Ck, untuk apa sih dia membawaku kemari '
Seorang pria menyapa daren, mereka terlihat akrab, daren tertawa ketika bertemu dengan temannya bernama jack, dia terlihat normal jika saja dia tertawa seperti itu, dibandingkan wajah dingin serta ancaman- ancaman yang selalu lexia dengar di telinganya.
"Dia lovelia, keponakanku." Ucap Daren.
Jack menghampiri lexia dan menjabat tangannya, sepertinya usia pria ini tidak jauh berbeda dengan daren, matanya seperti menari-nari ketika melihat lexia.
"Kau memiliki keponakan sangat cantik daren, aku tidak pernah tahu." Ucapnya.
Lexia hanya tersenyum tipis, dia lalu membawa daren kepada tamu-tamu lainnya sementara lexia berjalan di belakangnya.
Sesuatu mengalihkan perhatiannya, dia melihat pria bernama Ryan Anthony ada di sana bersama teman-teman lainnya.
"Apakah dia juga teman daren?" Tanyanya.
__ADS_1
Mata Ryan menangkap kedatangan daren beserta lexia, wajahnya tiba-tiba berubah, dia tersenyum melihat kedatangan lexia dan menghampirinya.
"Lovelia?" Ucapnya dengan senyum tampannya.
Lexia menatapnya dengan membalas senyumannya meskipun mata daren tertahan di wajahnya ryan.
"Selamat siang tuan Burchard." Ucap Ryan.
"Selamat siang, saya terkejut melihat Anda dan nona lovelia hadir di sini."
"Ya, salah satu rekan bisnisku mengundangku kemari." Ucap daren singkat.
"Silahkan masuk, sebentar lagi pertemuannya akan dimulai." Ucapnya.
'Pertemuan? jadi kapan makan siangnya? Apakah aku harus mendengarkan pembicaraan mereka yang membosankan?' gumam lexia dengan wajah cemberut menatap punggung daren.
Lexia berjalan ogah-ogahan di belakangnya, menatap meja di tengah-tengah ruangan dengan berbagai makanan ringan dan cake yang terlihat lezat.
Lexia berjalan cepat menghampiri daren yang tengah berbincang dengan beberapa rekan bisnisnya.
"Paman, bolehkah aku pergi ke sana?" Sambil menunjuk meja yang di penuhi kue-kue yang lezat.
Daren menatap tempat yang dituju lexia, "Tentu, aku ada di sini jika kau mencariku."
Matanya berkilat tajam menatap wajah lexia yang berakting dihadapannya dengan bergelayut manja di pergelangan tangan daren, dia tersenyum manis membuat jantung daren berpacu, meskipun itu hanya akting dari lexia tetapi hal itu begitu mempengaruhi daren.
Lexia berjalan cepat, senyum pura-puranya seketika menghilang dari wajahnya ketika dia meninggalkan daren dan jack.
Lexia mengambil beberapa cake di piringnya dan mulai memakan kuenya dengan cara yang paling anggun, membuat dirinya tersedak karena begitu lamanya mengunyah.
"Minumlah." Ucap seorang pria memberikan air putih kepada lexia.
Lexia meminumnya dengan lega, dia lalu berbalik dan menatap pria itu. "Sir Ryan, trims minumannya, aku bisa mati tercekik karena kue ini." Ucap lexia masih terbatuk-batuk.
Ryan tertawa, pembicaraan dengan lexia selalu membuatnya tertarik dan tidak membosankan untuk di dengar.
"Lihat, Sepertinya seorang pria mendekati keponakanmu daren." Ucap Jack yang memperhatikan lexia sejak tadi.
Daren mencari-carinya dan mendapati pengajar lexia bernama Ryan sedang ngobrol dengannya sambil tertawa.
"Jangan memarahinya, wajar saja kan dia dekati pria-pria dengan wajah cantik dengan tubuh indah seperti itu." Ucap Jack.
"Ups, aku lupa dia keponakanmu daren." Mata tajam daren memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Coba kutebak, kau pasti dipaksa hadir di tempat ini oleh pamanmu."
Lexia mengangkat bahunya, "Hem, ya kau benar, sungguh membosankan." Ujar lexia.
__ADS_1
Sebuah senyuman menghiasi wajah Ryan, mereka berdua berbincang-bincang lalu lexia menatap seseorang yang begitu dikenalnya.
'Apa? Alvin? Mengapa dia ada di sini.' lexia melihat alvin sedang berbincang dengan daren bersama pria bernama jack.
"Aku permisi sebentar." Ucap lexia tiba-tiba meninggalkan Ryan. Dia berjalan lalu berbelok menuju ke toilet. Lexia mencuci kedua tangannya lalu menatap dirinya di cermin.
Setelah keluar dari toilet, lexia berjalan mengitari tempat itu mencari ruangan besar tadi, seseorang lalu memanggil namanya membuat lexia berbalik.
"Psst, lexia." Ucapnya dengan berbisik
"Lexia."
Lexia menatap seorang pria yang baru saja keluar dari dapur dengan memakai baju putih dan topi putih dia lalu membuka topinya.
"Edo? Apa yang...." Edo menarik tangan lexia lalu masuk ke sebuah ruangan kecil tempat penyimpanan alat-alat kebersihan.
"Ugh susah sekali menyelinap di tempat mewah ini." Ucap Edo.
"Edo ! Apa yang kau lakukan di tempat ini?" Ucap lexia sambil bersedekap menatapnya.
"Tentu saja karena aku ingin menemuimu, lihat dirimu ck kau seperti nona kaya yang menjengkelkan lexia." Ucap Edo sambil bersiul.
"Tutup mulutmu bodoh! Aku harus pergi Edo, jika daren memergokiku berada di sini aku yang akan sial." Ucap lexia memegang pintu ingin keluar dari sana.
"Apakah kau baik-baik saja di sana? Erm..maksudku kau tidak apa-apa kan? Kau tidak tidur bersama pria itu kan?" Tanya Edo sambil menggaruk kepalanya.
Lexia memukul kepala Edo. "Apa aku gila, mengapa aku harus tidur dengan pria mesum itu?" Ucap lexia tidak mengerti.
Edo memutar bola matanya. "Kau betul-betul naif lexia, maksudku bukan hanya tidur, kau...erm melakukannya dengan pria itu?" Ucap Edo.
Lexia menggeram, lalu memukul-mukul tubuh edo.
"Ouch sakit lexia berhenti!" Teriak Edo mencoba melindungi tubuhnya dari pukulan lexia.
"Aku memang mencari uang bodoh, tapi aku tidak serendah itu sampai harus tidur dengannya, dia saja yang ingin menyerangku." Ucap lexia.
"Apa, Menyerang? Maksudmu menyerang apa lexia." Edo terlihat marah.
"Ck kau ribut sekali, yang penting aku bisa melindungi diriku sendiri jadi hentikan wajah idiotmu yang khawatir itu, aku baik-baik saja, sebaiknya aku kembali sebelum Daren melihatku." Lexia akhirnya pergi meninggalkan Edo yang masih khawatir kepadanya.
Lexia kembali di tempat itu, semua nampak normal sampai seseorang menarik tangan lexia dan membawanya ke tempat yang lebih sepi.
"Kau dari mana saja lexia, apa yang kau lakukan?" Daren mengurung lexia di kedua tangannya sehingga ruang gerak lexia begitu terbatas.
"Aku dari toilet." Jawab lexia menatap daren tajam.
"Toilet? Selama ini? Kau berbohong padaku." Tuduhnya.
__ADS_1
"Apakah aku juga harus menjelaskan kepadamu apa yang kulakukan di dalam toilet?" Ucap lexia sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"Jangan berbuat macam-macam, jika aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku, kontrak batal dan kau akan merasakan bagaimana kemarahanku lexia, aku akan membuat tubuhmu jadi milikku kau menyukainya atau tidak, kau mengerti? Kau belum merasakan kemarahanku lexia." Mata tajamnya berkilat menatap mata lexia.