
Mata safir itu layaknya sedang memindai pria yang duduk di hadapannya, entah apa yang pria ini pikirkan sampai-sampai berani melakukan hal seperti ini.
"Apa yang kau inginkan sampai melakukan hal ini?" Ucap lexia dengan ketus, sikap permusuhan yang dia tampilkan semakin membuat pria yang duduk di hadapannya semakin tertarik dan terlihat di wajahnya betapa menyenangkannya sekarang yang dia lakukan.
"Kau menikah, ya tentu aku tahu." Ucapnya tetapi lebih kepada dirinya sendiri, matanya kembali menatap mata safir yang menantangnya.
"Tetapi..aku tidak perduli nona lexia, biasanya apapun keinginanku selalu tercapai seperti yang aku inginkan."
"Apa sih yang kau bicarakan, kau gila ya?" Bentak lexia.
Adrick terkekeh, dia memajukan tubuhnya kedepan sambil berucap dengan pelan dan perlahan. "Aku menginginkan sesuatu...darimu."
Lexia menatapnya seperti pandangan kepada orang yang tidak waras. "Kau masih waras?" Ucap lexia terpaku dengan senyuman yang masih betah di bibir pria berahang tegas itu.
"Aku tidak pernah segila ini sebelum aku bertemu denganmu." Ucapnya lagi. Seorang pelayan datang dengan membawa dua minuman yang menghangatkan tubuh yaitu secangkir kopi dan secangkir teh.
"Minumlah agar tubuhmu hangat lexia." Ucapnya.
Lexia yang selalu waspada tidak semudah itu menerima apa yang diberikan pria aneh di depannya, dia sama sekali tidak menyentuh cangkir berisi teh yang mengepul dan dapat menghangatkan tubuhnya dari sengatan dingin di luar sana.
"Aku tidak menaruh apapun di minumanmu lexia, tenanglah aku tipe pria menyukai wanita dalam keadaan sadar, hingga dia dapat merasakan diriku sepenuhnya.
Meskipun dia mencoba menenangkan lexia tetapi lexia sama sekali tidak menyentuh cangkir berisi teh itu pandangannya masih sama, dia menatap wajah Adrick dengan pandangan permusuhan.
Seseorang membuka pintu restaurant dan melihat seorang pengawal menghampirinya lalu membisikkan sesuatu kepadanya.
Dengan santai tanpa terintimidasi dengan sesuatu yang dibisikkan oleh pengawalnya, Adrick masih duduk dengan tenang, tidak lama kemudian matanya beralih kepada sosok yang membuka pintu Restaurant dengan wajah murka, seakan ingin membunuhnya Sekarang juga.
"Selamat malam tuan Burchard, senang berjumpa denganmu." Ucapnya dengan tenang.
Lexia yang mendengar suara pintu yang membuka ikut berbalik dan melihat Daren sudah berjalan cepat ke tempatnya dan menarik lexia ke dalam dekapannya, matanya tajam menatap Adrick Rudolf yang menyesap minumannya.
Tanpa menunggu waktu, Daren mendekat kepada Adrick yang tengah duduk dan kemudian menarik keras kerah kemejanya hingga tubuhnya ikut tertarik.
"Apa yang kau inginkan sampai membawa istriku ke hadapanmu, jangan melibatkan istriku." Ucap Daren.
Adrick menatapnya dengan pandangan tajam sambil terkekeh, senyum mengerikan melintas di wajahnya yang tadinya ramah kepada lexia, kini telah berubah menjadi seringai pembunuh.
Kekehan terdengar dari suara Adrick, dia sama sekali tidak merasa terintimidasi dengan datangnya daren dan sikap impulsifnya.
"Apa yang aku inginkan? Sudah jelas bukan, kau pasti tahu apa yang aku inginkan."
__ADS_1
"Aku menginginkan lexia." Ucapnya perlahan.
~
Xaphier melangkah masuk kedalam restaurant itu tatapannya jatuh kepada Adrick dengan pakaian yang di tarik keras oleh Daren.
"Apa yang kau inginkan tentu kali ini tidak akan pernah kau dapatkan Adrick, lexia adikku telah menikah dan memiliki suami serta putra, ini peringatan dariku, jauhi lexia, aku tidak main-main dengan yang aku katakan, jika kau meneruskan apa yang menjadi tujuanmu tentu kau tahu resiko yang harus kau hadapi, jika kau bersikeras maka kau akan menghadapi keluarga besar Caesaar." Ucap Xaphier dengan mata berkilat tajam.
Daren melepaskan kerah baju milik Adrick kemudian menarik lexia ke dalam pelukannya.
Daren menarik tangan lexia dan segera keluar dari tempat itu. Tetapi Xaphier masih berada di dalam restaurant yang kosong sambil saling menatap tajam. Kekehan terdengar dari suara tajam Xaphier.
"Ck jauhi adikku, ini peringatan untukmu, jika kau tidak mengindahkan peringatanku, aku tidak akan sungkan-sungkan, selama ini permusuhan diantara keluargamu dan keluargaku hanya terdengar dari omongan orang-orang tetapi kali ini aku akan menghancurkan semuanya jika kau melewati batas Adrick." Ucapnya, Xaphier meninggalkan Adrick dengan segala ancaman yang diucapkan Xaphier kepadanya.
~
Tangan itu menggenggam erat lexia, Daren naik ke mobil terpisah dari Xaphier, dia sendiri yang membawa mobilnya. Dia masih diam tidak bersuara sedikitpun, kemarahanya tampak mengerikan, lexia berupaya tidak berbicara karena sikap keteledorannya sehingga dia dapat terpancing, seharusnya dia memastikan semuanya dulu sebelum dia berangkat.
Setelah 20 menit yang terasa sehari, barulah lexia berani bersuara.
"Daren?" Ucapnya.
Daren menepikan mobilnya disudut jalan yang gelap. Matanya masih menatap ke depan, mencoba menahan emosinya.
Lexia menggeleng. "Dia hanya berbicara kepadaku, dia tidak melakukan apa-apa." Jawab lexia.
Daren mencoba menahan emosinya sekuat mungkin, tiba-tiba dia menarik lexia kepelukannya dan memeluknya erat-erat.
"Daren ! Ax nanti terbangun." Ucap lexia.
Daren melonggarkan pelukannya, dia menggendong putranya, kemudian daren kembali menarik lexia ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher lexia. "Aku akan gila jika tidak menemukanmu lexia, untung saja seorang pemuda meneleponku dan mengatakan tentangmu." Bisik daren.
"Foto ! apakah foto itu kau dan seorang wanita di club? kalian minum bersama." ucap lexia mendorong Daren agar dia menatapnya.
"Karena itukah kau mengabaikan teleponku?" ucap Daren menahan tubuh istrinya di pangkuannya. Dia menyapu bibir lexia dengan jempol tangannya.
"Xaphier ada disana lexia, wanita itu tiba-tiba datang kepadaku tetapi aku tentu saja menolaknya, entah mengapa foto itu terkirim kepadamu."
"Jadi mengapa kau ke club? kau sendiri bilang kau sedang sibuk, dan kau tidak meneleponku seharian !" lexia kini meluapkan perasaan galaunya, meskipun dia mencoba cuek dan tidak perduli, tetapi dia ingin mengetahui kabar suaminya di seberang kota sana.
Daren memberikan kecupan perlahan di bibir lexia, menciumnya perlahan dan sedikit menggigitnya. "Aku memang sibuk tetapi tepat tengah malam pekerjaan kami selesai, Carol dan suaminya mengajak kami untuk minum sebentar, dan aku tidak meneleponmu karena aku pikir kau sudah tertidur pulas, aku tidak akan mengkhianatimu lexia, kau dan Axton sangat penting dan berarti dalam hidupku, aku tidak akan melakukan sesuatu yang membuatku kehilanganmu." ucap Daren sambil menyapu bibir lexia dengan bibirnya, lalu kembali menenggelamkan bibirnya di kedalaman diri lexia, mencecapnya dan meluapkan segala kegelisahannya yang tertuang dengan ciuman panjang Daren.
__ADS_1
Mata biru yang dalam itu menatap mobil yang berhenti di sisi jalan dengan penerangan yang gelap, dia melirik mobil yang dia yakini adalah mobil lexia bersama pria itu. Adrick menatap sekilas dan segera memalingkan wajahnya, satu jarinya berada di bibirnya lalu tersenyum miring.
"Ini belum selesai lexia, permainan akan menjadi semakin menarik." ucapnya.
~
Daren tidak membawa lexia ke mansion melainkan membawanya dan Ax ke salah satu hotel milik Burchard, setelah sampai di kamar super VVIP yang juga merupakan kamar khusus milik daren dan tidak ada seorangpun yang pernah ketempat ini selain lexia dan Daren.
"Kenapa kita tidak langsung ke mansion Daren?" tanya lexia sambil membaringkan putranya di atas tempat tidur lalu melepaskan sweater dan jaket Axton serta sepatunya.
Daren membawa tas milik lexia dan menaruhnya di dekat lemari, kemudian segera ke pantry mengambil dua minuman dan diberikannya kepada lexia.
"Perjalanan masih jauh sayang, aku tidak ingin Ax berlama-lama di dalam mobil, tubuhnya nanti sakit semua." ucapnya. lexia mengeluarkan tissue basah untuk mengusap kedua tangan putranya serta membersihkan kakinya, setelah itu menyelimutinya.
"Kemarilah." ucap daren. Dia menjambret pinggang lexia dan segera saja lexia sudah duduk di atas pangkuan Daren. "Aku merindukanmu lexia." bisiknya.
Daren mendorong tubuh lexia hingga dia terperangkap di sofa yang empuk dengan Daren yang menjulang di atasnya. "Jangan pernah menghilang dariku, dan satu lagi...sikapmu yang tidak menghiraukanku kemarin siang hingga malam hari membuatku ingin segera membenamkan diriku dalam-dalam di tubuhmu."
Daren memegang kedua tangan lexia dan menyusuri setiap jengkal yang terpampang di hadapannya. "Kau milikku, tidak ada yang bisa merebutmu dariku." ucap Daren. Lexia mencebik ketika merasakannya, sesuatu mengeras di bawah sana berusaha untuk keluar dan menuntaskan sesuatu yang berdenyut dan membebaskannya.
Daren memberikan isyarat kepada lexia bahwa dia menginginkannya sekarang juga. "Aku merindukanmu lexia, rasanya sudah seperti setahun ketika aku tidak menyentuhmu seminggu ini, itu sangat menyiksaku, kau tahu?" ucap Daren mulai memainkan tangannya di setiap jengkal diri lexia dan berakhir di kelembutan lexia yang membuatnya memekik.
Daren tersenyum sambil memberikan hadiah kecupan-kecupan panas yang membuat tubuh lexia menggeliat tidak tenang, tubuh lexia hanyut malam itu di bawah kuasa Daren yang membenamkan dirinya dalam-dalam ke dalam diri lexia.
~
Nara berlari ke pintu ruang tamu ketika mendengar seruan mesin mobil, mendengarkan langkah kaki semakin mendekat ke pintu membuatnya tidak sabar kemudian membuka pintu itu mendahului kepala pelayan yang sejak tadi berdiri di sana, dia ikut menunggu kedatangan tuan Xaphier karena melihat Nyonya Xaphier masih duduk menunggu kepulangannya.
Pintu membuka, Xaphier heran menatap pintu yang membuka dan wajah Nara yang cemas sedang menunggunya.
"Kau belum tidur Nara?" tanyanya, matanya melirik pada kepala pelayan yang sedikit membungkuk dan segera meninggalkan tuan dan Nyonyanya di sana.
"Aku..aku sangat khawatir, bagaimana keadaan lexia, Xaphier? aku begitu mencemaskannya, dia tidak apa-apa kan?" Xaphier tersenyum, mata biru itu seakan menghilangkan lelah Xaphier. Dia menghentikan kicauan Nara dengan cumbuan yang membuatnya megap-megap kehilangan oksigen untuk bernapas.
"Lexia baik-baik saja, Sekarang dia bersama Daren." jawabnya setelah melepaskan bibirnya.
"Mereka tidak kembali, aku duduk sepanjang malam di sini." ucap Nara sambil mengatur napasnya agar normal kembali.
"Oh ya, mungkin saja mereka pergi ke suatu tempat, Daren ingin memberikan pelajaran kepada lexia agar berhati-hati ketika menerima informasi." jawabnya sambil menggandeng Nara menuju ke kamar mereka.
"Pe.. pelajaran? pelajaran apa maksudmu Xaphier?" tanya Nara dengan lugu, membuat Xaphier menghentikan langkahnya lalu memberikan sekali lagi kecupan karena istrinya begitu menggemaskan. Xaphier tersenyum dan mengangkat satu alisnya.
__ADS_1
"Menurutmu pelajaran apa yang akan diberikan oleh daren kepada lexia malam-malam begini?" ucap Xaphier dengan suara menggoda, akhirnya Nara mengerti, tiba-tiba semburat merah perlahan merangkak naik ke pipinya membuatnya sedikit tertunduk dan memegang kedua pipinya yang tiba-tiba memanas.