The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Kejutan dari tuan Robert


__ADS_3

Malam sudah begitu larut, daren baru saja kembali dari hotel Manhattan, dia baru saja kembali tepat pukul 2 malam. Mata lexia terbuka di dalam kegelapan, dia mendengar suara mobil yang menutup dari kejauhan.


Lexia mendengus, ck bukan urusanku, pria itu melakukan apapun bukan urusanku, "tidurlah lexia, besok aku harus bangun pagi-pagi sekali." Ucap lexia.


Daren baru saja tiba di lantai 5 di mansion itu, dia melangkah mendekati kamar lexia, tetapi dia urungkan dan kembali ke kamarnya.


Daren melepaskan jas dan dasinya tinggal kemejanya saja yang tertinggal, nency begitu gencar menggodanya malam ini hingga dia terpaksa meninggalkannya dalam keadaan setengah sadar dari mabuknya, tentu daren menginginkan tubuh seorang wanita tetapi ketika dia sudah setengah telanjang di hadapannya, tiba-tiba bayangan wajah lexia yang sedang mengatainya pria mesum menyadarkannya, dia kemudian meninggalkan nency begitu saja hingga dia berteriak marah merasa begitu terhina ketika di tolak oleh Daren.


~


Pagi itu Daren dan lexia di kejutkan dengan kedatangan tuan Robert dan Alvin ke kediaman Burchard, dia tidak menyangka mereka akan datang tanpa menghubunginya terlebih dahulu.


Lexia berlari terburu-buru, hingga dia hampir terjatuh, alvin yang melihatnya segera membantunya.


"Hati-hati lovelia, nanti kau jatuh." Ucap alvin memegang lengan lexia dan menariknya agar dia dapat berdiri. Alvin melihat sesuatu yang aneh ketika menatap lovelia.


"Apakah kau mengenakan softlens? Mengapa warna matamu berubah warna menjadi safir cerah, kau tidak suka dengan warna matamu yang hijau?" Tanyanya.


Lexia menyadari kecerobohannya, untung saja dia belum sampai di depan tuan robert, Hanya Alvin saja yang melihatnya.


"Se..semalam aku lupa melepaskannya, tunggu sebentar aku melepasnya dulu." Lexia lalu masuk ke dalam lift dan terburu-buru masuk ke kamarnya dan mengenakan softlensnya berwarna hijau.


"Sial ! Mengapa aku lupa? Kenapa juga dia datang pagi-pagi begini?" Ucap lexia menggerutu, dia memasang softlensnya lalu memperbaiki penampilannya kemudian segera masuk ke dalam lift untuk menemui tuan Robert.


"Tentu kau sangat terkejut dengan kedatanganku tuan Burchard, aku ke sini ingin membawa Lovelia ke Italia, aku ingin membawanya jalan-jalan bersamaku, kalau kau tidak sibuk, ikutlah bersama kami, jika kau mengkhawatirkan keponakanmu. Begitupun Alvin, dia yang merencanakan perjalanan ini, karena dia ingin berjalan-jalan dengan lovelia.


Lexia baru saja datang dengan terburu-buru, dia menghampiri mereka yang duduk di sana, Alvin menatapnya, wajahnya sedikit terlihat aneh ketika menatap lexia, sesuatu hal yang membuatnya berpikir mengenai lovelia, jika dia memperhatikan, wajahnya sama sekali tidak memiliki kemiripan, baik dari kakaknya maupun dari Barbara ibunya.

__ADS_1


Alvin sejak tadi memandang lexia, dia duduk dengan gelisah, dia melirik daren, lalu wajahnya berubah menjadi cemas ketika tuan robert menyebut Italia, dia sontak menggeleng pelan ke arah daren.


"Kau tidak ingin pergi bersama kakek, lovelia?" Ucap Alvin.


"Aku..aku mau sih tapi....


Wajah khawatir lexia terlihat di mata Alvin. Mengapa dia bertingkah seperti itu? Mengapa dia begitu tidak ingin pergi bersama dengan ayah? Pikir alvin.


"Tapi?" Tanya Alvin.


Mata lexia membulat sempurna ketika memalingkan wajahnya ke Daren.


"Dia baru saja memulai pelajarannya untuk semester ini karena lovelia terlambat mengikuti pelajaran yang lalu karena sakit." Ucap daren kepada mereka berdua.


"Sayang sekali kalau begitu, padahal aku ingin mengajak lovelia berkeliling Eropa." Ucap tuan Robert terdengar kecewa.


"Lain kali saja jika kau memiliki waktu liburan, hubungi kakek." Ucapnya, dia lalu berdiri begitupun Alvin yang berada di sampingnya. Alvin masih memandang lexia dengan curiga, matanya mengerling daren, dan memperhatikan setiap tingkah lakunya.


Alvin masuk ke dalam mobilnya ketika ayahnya telah berada di dalam, matanya masih memandang mereka berdua dari kejauhan, sikap daren yang terlihat santai tetapi tidak fokus, dan terlihat terkejut dengan kedatangan kami, apa yang mereka sembunyikan? Alvin yakin daren menutupi sesuatu dari mereka berdua dan Alvin akan mengetahuinya.


~


"Hufff, kenapa mereka datang pagi-pagi begini, sial ! Jantungku seperti mau melompat melihat tuan Robert." Gumam lexia di samping daren.


Daren menatap lexia, dia kemudian berjalan dan meninggalkannya sendiri di sana. "Ukh untung saja alasan belajar membuat tuan itu menyerah, meskipun begitu aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya keliling Eropa, keluar dari negara ini saja aku belum pernah." Ucap lexia berjalan melihat pemandangan di luar rumah, pohon-pohon tertata rapi dengan penjaga di setiap pohonnya mereka berdiri bagaikan patung.


Lexia menggeleng heran menatap para penjaga yang berdiri bagaikan patung, dia lalu berdiri di hadapan seorang penjaga dan memperhatikannya.

__ADS_1


"Apakah kau tahu pohon ini sebenarnya tidak memiliki buah?" Ucap lexia, berbicara asal. Penjaga itu masih diam tidak berbicara sedikitpun, dia seakan tidak mendengarkan perkataan lexia.


'ini menarik', gumam lexia.


Lexia mengangkat tangannya dan melambaikan jari-jarinya di depan wajah penjaga itu, seakan dia tidak melihat lexia, matanya lurus memandang ke depan tidak menghiraukan lexia yang melambai-lambaikan tangannya.


Lexia tidak menyadari bahwa daren sejak tadi memperhatikan segala tingkahnya dari dalam jendela besar di ruangannya yang langsung menghadap ke taman.


Pria yang berdiri di hadapan lexia yang usianya terlihat seperti Edo seperti sedang menahan kemarahannya, 'ck, dia ingin bertingkah profesional.' gumam lexia. Meskipun lexia bergumam, pria itu bisa mendengarkan segala perkataan lexia.


'jelek', ucapnya pelan kepada pria itu.


'Kau terlihat gendut'.


Pria itu mengerling lexia, rahangnya terlihat kaku ketika melihatnya.


'Apa?! kalau kau tidak suka berbicaralah bodoh! kau tuli ya.' gumam lexia dia lalu tertawa melihat penjaga itu menahan kemarahannya.


Lexia tertawa jahat, 'ini menarik, memang berapa kau di bayar untuk tetap diam di tempat.' ucap lexia.


Daren sudah berada di belakangnya sambil melipat kedua tangannya, dia memperhatikan dan mendengar segala perkataan lexia sejak tadi, dan hal ini membuatnya tertarik.


"Apa kau sedang bosan? Mengapa kau mengganggu penjaga itu." Ucap Daren.


Lexia terkejut, dia segera berbalik. "Bosan? Aku hanya......


Matanya tiba-tiba membelalak menatap seseorang yang begitu di kenalnya, untung saja dia segera berbalik agar daren tidak menyadari apa yang dilihat lexia.

__ADS_1


"Masuklah, pelajaranmu akan segera di mulai." Ucap daren menarik tangan lexia dan menggenggamnya, pria itu terkejut melihat pemandangan di hadapannya.


"Lexia bodoh itu, mengapa dia membiarkan pria itu memegang tangannya." Ucap Edo sambil membelalak menatap lexia dan daren.


__ADS_2