The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Rencana Melda


__ADS_3

Oklahoma city, 20.00


Penthouse itu begitu mewah, warna hitam dan putih mendominasi tempat itu, segala perabotan yang ada di dalam sana terlihat mewah dan tentu saja mahal. Ketika Nara pertama kali sampai di tempat ini, dia berdiri di tengah-tengah ruangan, bingung dan khawatir menjadi satu, sambil memegang tas di tangannya, matanya menerawang tempat itu, pria bernama jedan begitu saja meninggalkannya setelah di antar, Nara yang bingung ikut berjalan di belakangnya.


"Kamar nona di sebelah sana." Dia menunjuk salah satu kamar yang cukup luas, setelah menunjukkan kamar untuk Nara, Dia memberikan jadwal sehari-hari tuan Xaphier kepada Nara, akhirnya setelah tugasnya selesai jedan pun pergi. Dengan perasaan khawatir dan takut Nara melangkahkan kakinya ke kamar yang ditunjukkan untuknya. Dia membukanya lalu menatap ruangan itu, satu tempat tidur yang cukup besar, lemari pakaian yang terlihat mewah serta perabotan lain yang mahal ada di sana.


Nara meletakkan tasnya di kaki tempat tidur, dia mengelilingi kamarnya lalu duduk di salah satu kursi di dekat jendela. Ruangan itu sangat bagus untuknya. Nara memegang beberapa lembar kertas yang ada di tangannya kemudian membacanya.


Matanya melotot, "Ap..apa ini? Apa aku harus melakukan semua tugas ini?" Ucapnya. Dia membaca poin per poin yang harus di lakukannya sebagai seorang sekretaris pribadi, dan yang Nara tidak sangka sama sekali adalah pribadi yang di maksud di sini betul-betul pribadi. Contohnya, jam 08.00 Nara sudah ada di kamar Xaphier dan memasangkan dasinya, itu salah satu poin yang harus di lakukan Nara, dan seketika Nara berdiri dari tempat duduknya karena tidak percaya ketika dia membaca satu persatu tugas yang harus dilakukannya.


"Apa ini? Ini tidak ada bedanya dengan masuk ke sarang harimau, poin nomor 5, jika tuannya tidak bisa tidur, Nara akan ada di sampingnya menungguinya sampai tuannya dapat tidur. Apakah dia sedang bermain-main denganku? dia pikir aku menjual diriku untuknya? Aku akan berbicara kepadanya, aku mundur aku tidak akan melakukan pekerjaan ini, meskipun gajinya Beberapa kali lipat."


Nara segera memegang tasnya dan hendak keluar dari kamar itu. Dia membuka pintunya lalu keluar dari kamar berjalan melewati ruangan besar, ketika Nara mau membuka pintu keluar, pintu sudah membuka dengan sendirinya. Xaphier membuka pintu dan sontak Nara mundur beberapa langkah. Xaphier menatap Nara dan menatap tas yang ada di tangannya.


"Kau mau pergi?" Tanyanya.


"Erm ya, aku..aku menolak bekerja denganmu, kau menganggapku lelucon ya?" Ucap Nara menatap wajahnya, ketakutannya Seketika menghilang. Xaphier tersenyum miring, dia berjalan ke pantry lalu menuangkan minuman di gelas dan menyesapnya.


"Lelucon? Apa maksudmu?" Xaphier duduk di sana sambil menyilangkan kakinya menatap Nara yang berdiri di hadapannya.


"Mengapa aku harus melakukan pekerjaan yang tidak masuk akal ini?" Dia melempar kertas itu di hadapan Xaphier.


Xaphier terkekeh, dia menyesap lagi minumannya. "Bukankah itu yang harus sekretaris pribadi lakukan? Lagi pula kau tidak bisa mundur Nara kau tidak bisa berhenti sesuka hatimu, jika kau keluar dari sini berarti kau melanggar kontrak, kau harus membayar ganti rugi yang sangat besar jika kau pergi begitu saja."


"Tapi..tapi aku belum menandatangani apapun." Ucap Nara dengan tercengang, kepalanya seakan-akan tertusuk-tusuk.


Xaphier menyandarkan lengannya di sofa lalu terkekeh. "Saat kau terima pekerjaan ini, berarti kau sudah menyetujui semuanya Nara, kau tahu? puluhan orang mendaftar untuk pekerjaan ini, tapi hanya kau yang lulus, jika kau pergi begitu saja kau sudah membuang waktu yang di curahkan perusahaanku untuk mencari sekretaris pribadiku."


Nara menggigit bibirnya, dia mundur beberapa langkah. "Be..berapa yang harus aku bayar untuk ganti rugi itu?" Tanyanya. Xaphier kembali terkekeh.


"Entahlah mungkin ratusan juta dollar." Nara terkejut, kali ini dia tidak memiliki pilihan lain, dia menggenggam tasnya kuat-kuat lalu menatap marah kepada Xaphier yang begitu angkuh duduk di hadapannya.


~


Hembusan napas lexia begitu kuat, dia tidak bisa mendorong Daren dari tubuhnya, dia sekarang sudah tersesat, tangannya dipegang erat oleh Daren memenjarakannya di atas kepalanya. Lexia berhasil mendorong Daren, tetapi Daren yang sudah tidak sadarkan diri masih menggempur lexia dengan segenap kekuatannya, dia membuatnya merasakan kembali hentakan Daren di tubuhnya, suara desahan cukup keras terdengar memenuhi ruangan, Daren yang sudah menahan dirinya begitu lama pasca lexia melahirkan akhirnya dapat melepaskan hasratnya malam itu dan memiliki Lexia sepenuhnya.


Daren menarik pinggang lexia agar dia dapat memeluknya, lexia masih belum bisa mengatur napasnya kembali normal lalu membalikkan badannya ke arah Daren, hingga tubuh mereka saling berhadapan.


"Kau baik-baik saja sayang? Bagaimana dengan tubuhmu?" Bisiknya.


"Erm, aku baik-baik saja Daren, kau seperti kesetanan saat melakukannya, tubuhku terasa sakit ." Ucapnya. Daren tersenyum kemudian dia menarik tubuh lexia dan memeluknya. "Tidurlah sayang sebelum Ax bangun dari tidurnya.


~

__ADS_1


Rentetan kejadian yang mempermalukan dirinya membuat wanita yang tengah menatap dirinya di depan cermin dan memandangi dirinya begitu lama itu memikirkan siasat lain untuk membalas perbuatan mereka semua yang telah mempermalukan dirinya. Semenjak dia di angkat menjadi bagian dari keluarga caesaar dia telah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa tidak ada seorangpun yang dapat merendahkannya, memandangnya sebelah mata, dirinya yang sudah memiliki segalanya dapat menaklukkan apapun dan siapapun.


"Lexia, Daren dan xaphier kalian semua harus menerima pembalasan pedihku." Ucapan dendam membara membuat wajah melda terlihat lebih mengerikan dibandingkan biasanya, dia kembali mengambil napas agar dapat mengendalikan emosinya, kerutan di wajahnya dapat menambah keriput di wajahnya yang sudah tua.


"Tenanglah Melda, kau nantinya akan tertawa keras melihat kehancuran gadis tidak tahu diri itu, aku akan mengambil apa yang paling berharga milikmu dan kau akan menangis dan memohon maaf kepadaku dan menyesali karena berurusan denganku."


Dia kembali tersenyum di depan cermin dan menyapu pipinya dengan polesan make up dengan memberikan sentuhan wewangian agar dia selalu wangi dan tampak muda. Sekali lagi dia tersenyum di depan cermin besar dan memegang pantulan dirinya sendiri "kau sempurna Melda, semua pria tunduk kepadamu, dan pria itu....Daren, sebentar lagi dia akan menjadi milikku." Senyumnya merekah, membayangkan semua itu membuat adrenalinnya terpacu dan ingin membuat semua impiannya menjadi kenyataan.


~


Kediaman Burchard, 08.15


Tuan Robert baru saja kembali ke mansionnya, setelah pekerjaan yang menyita banyak waktunya di kantor, pagi itu dia kembali, Sebastian yang selalu mendampinginya berjalan di belakangnya, sentuhan tongkat di tangannya yang menyentuh lantai tiba-tiba terhenti, dia menatap pemandangan yang selama ini dikhawatirkannya, dia menatap Alvin dan lovelia sedang duduk bersama di taman pagi ini sambil tertawa dan bercanda, pemandangan itu membuat risau tuan Robert, dia tidak ingin memikirkan kemungkinan itu akan terjadi tetapi sebelum itu terjadi dia harus melakukan sesuatu memisahkan mereka berdua hingga hubungan yang tidak mungkin itu tidak akan terjalin.


Sebastian berjalan menghampiri mereka berdua yang sedang duduk di taman, dia membungkuk sedikit ketika telah tiba di tempat tuannya.


"Tuan Alvin, anda di panggil oleh tuan Robert , beliau menunggu anda di ruangannya." Ucap Sebastian kemudian mundur lalu pergi.


Alvin menatap Lovelia yang masih menatap majalah yang ada di tangannya, majalah itu pemberian Alvin kepada lovelia, ucapan lovelia mengenai negara-negara yang ingin dikunjunginya serta kota-kota yang ada di Amerika yang belum pernah di lihat seumur hidupnya, hingga Alvin membeli beberapa majalah untuk Lovelia.


"Aku menemui ayah dulu Lovelia, tunggu aku di perpustakaan." Ucap Alvin.


Lovelia mengangguk dia tersenyum senang lalu beranjak ke perpustakaan. Alvin berjalan ke ruangan ayahnya, setelah mengetuk beberapa kali, Alvin membuka pintu dan masuk keruangan ayahnya.


Alvin menatap ayahnya tanpa menyentuh foto-foto itu. "Mengapa ayah seperti ini? Jangan memaksaku ayah, jika saatnya tiba aku akan memperkenalkan wanita yang akan mendampingiku kepada ayah, ini tidak seperti ayah yang biasanya."


Tuan Robert mengambil napas panjang lalu menyandarkan punggungnya di kursi. "Jika kau tidak mau bertemu dengan wanita-wanita itu, aku akan menjauhkanmu dari lovelia, kau tidak bisa bersamanya Alvin, dia itu Putri dari kakakmu sendiri."


Alvin seakan tidak ingin mendengarkan ucapan ayahnya, dia beranjak dari kursinya, lalu menatap ayahnya.


"aku tahu ayah, aku tidak pernah lupa itu." Ucap Alvin, wajahnya seakan menggambarkan kekecewaan yang besar, dia tahu meskipun mereka berdua memiliki perasaan yang sama tetapi mereka tetap tidak bisa bersama.


~


Tulas, Villa 08.00


Matahari membawa cahayanya dengan terang, sinarnya masuk ke jendela kamar villa mewah itu, kedua insan itu masih tertidur pulas karena kelelahan dengan kegiatan panas mereka semalam, Daren tak henti-hentinya menghentakkan dirinya ke tubuh lexia hingga lexia sungguh kewalahan menghadapi daren, setelah percintaan panas mereka Ax menangis tepat sebelum mereka tidur Ax sang putra bangun dari tidurnya ingin segera menyusu kepada ibunya. Mereka berdua terjaga sampai Ax tertidur pulas dan tidak menangis lagi, setelah itu keduanya tertidur dengan pulas.


Lexia membuka kedua matanya, dia bangun dan menatap wajah putranya yang masih tertidur lelap, dia memberikan kecupan selamat pagi kemudian bangun dan masuk ke kamar mandi kemudian membersihkan tubuhnya.


Setelah keramas dan nampak segar, lexia duduk di tepi kolam renang sambil menyambut sinar pagi hari yang menghangatkan tubuhnya sehabis mandi. Matanya mengerling ponsel yang bergetar di sampingnya. Nomor itu panggilan yang sama dengan nomor Melda yang pernah menghubunginya. Lexia mengabaikannya, dia tidak perlu mengangkat ponsel wanita gila itu. bunyi pesan terdengar kembali dari ponselnya dan lexia membaca pesan itu.


"Angkat teleponmu lexia ! aku ingin berbicara denganmu, kau mungkin menyukai apa yang akan kukatakan jadi angkat teleponmu."

__ADS_1


Lexia masih mengabaikan pesan wanita itu kemudian tidak lama, pesan itu datang lagi di ponsel lexia.


"kau sungguh keras kepala lexia ! gadis sampah sepertimu seharusnya mendekam di tempat sampah seperti dimana dirimu berasal, Daren sungguh tidak beruntung bertemu denganmu."


Lexia tersenyum miring, dia kembali mengirimkan pesan kepada Melda.


"Bagaimana rasanya titipan tamparanku? itu hadiah kecil dariku karena berani mengganggu suamiku."


Pesan terkirim kepada melda, lexia menyimpan ponselnya di atas meja dan kembali menyandarkan kepalanya di kursi santai tempatnya duduk. Ponselnya berdering dan nomor itu kembali muncul di layar ponselnya.


"Nenek itu tidak menyerah juga rupanya." ucap lexia, dia akhirnya mengangkatnya dan mendengar suara Melda dari telepon.


"Apa maumu ! Kau belum jera juga dengan tamparan Xaphier.


Suara kekehan terdengar dari seberang telepon.


"Hadiahmu itu tentu harus dibalas bukan? tunggu saja kau akan ....


Klik, Ponsel dimatikan, lexia merasa tidak perlu mendengar ocehan mengenai dendam kusumat Melda dan sumpah-sumpahnya.


~


Dia membanting ponselnya di lantai, kemarahan menguasainya, napasnya naik turun hingga dia memijat-mijat keningnya karena tiba-tiba saja kepalanya sakit.


"Gadis kecil itu berani sekali menutup teleponku seperti itu. Terdengar kaki yang di hentak kencang di koridor di mansion itu, mereka semua sarapan dimeja makan. Tuan caesaar berbalik mendengar suara berisik dari sepatu melda yang dihentak di lantai.


"Mengapa kau begitu berisik melda?" ucap tuan Caesaar kepadanya. Melda kemudian duduk di salah satu tempat duduk di meja makan dan bergabung dengan tuan caesaar. Dia mengerling tuan caesaar dan berhati-hati berbicara kepadanya.


"Sudah lama celia tidak kemari membawa putranya paman, apa kau tidak mau melihat cucumu? tidak lama lagi putranya akan tumbuh besar, dan kau akan kehilangan moment melihat cucumu tumbuh besar." ucap Melda.


Ucapan Melda ada benarnya juga, pikir tuan caesaar. Dia menghembuskan napasnya lalu segera bangkit dari duduknya. Tidak lama setelah dia tiba di ruangannya tuan caesaar segera menelepon Daren menanyakan kabar lexia lalu memintanya agar membawa Ax ke mansionnya, dia ingin melihat cucu kesayangannya.


~


"Telepon dari tuan Caessar, dia ingin kita menginap di mansionnya." ucap Daren sambil berbaring di samping Ax. Lexia tiba-tiba melipat kedua tangannya, dan menghembus napasnya kasar.


"Pagi tadi nenek sihir itu meneleponku, entah apa yang ingin dia sampaikan tetapi kututup saja ponselku, aku tidak mau mendengarkan ocehan gilanya, dan aku yakin dia ikut campur dengan keinginan ayah memanggil kita." ucap lexia, memikirkan bertemu dengan wanita itu membuat lexia memikirkan banyak hal di kepalanya.


"Entahlah lexia apakah ide yang bagus pergi ke sana sedangkan wanita mengerikan itu ada di tempat itu menunggu kita dengan segala rencana yang entah apa itu." ucap Daren menggendong Ax. "yang kau katakan benar juga tapi apa yang akan ayah katakan jika kita tidak pergi mengunjunginya?" ucapnya.


"Sudahlah Daren, rencana apapun yang dia pikirkan aku akan menghadapinya, yang terpenting kita menemui ayah, dan satu lagi hal yang penting jangan sekali-kali menerima pemberian apapun darinya wanita itu penuh rencana." ucap lexia


"Aku akan menghubungi Xaphier dan mengatakan kedatangan kita berdua ke mansion." ucap lexia. Entah mengapa kedatangan mereka kali ini penuh dengan ancaman dan bahaya yang harus mereka hadapi semenjak Melda tinggal di mansion itu semuanya terasa harus di waspadai.

__ADS_1


__ADS_2