
Dia melangkah cepat diikuti sekertaris dan pengawal-pengawalnya. "Ayah mau kemana?" Ucap Alvin berlari kecil ketika melihat ayahnya sedang berjalan tergesa-gesa.
Matanya berkilat menatap Alvin. "Apa yang sedang kau sembunyikan Alvin? Ada yang mengatakan kau sedang bersama gadis penyamar itu ke pesta, kau tahu tentang dia, tetapi kau menyembunyikannya dari ayah." Ucapnya dingin.
Alvin menggaruk hidungnya yang tidak gatal. "Hanya bersenang-senang dad, lagi pula lexia sudah melarikan diri lagi, aku tidak tahu dia pergi kemana." Ucapnya.
"Jangan pernah mengelabui ayah Alvin, kau tahu bukan, ayah ingin menemui gadis penyamar itu, dia harus menerima segala perbuatannya yang telah berbohong." Ucapnya, kemudian dia kembali melangkahkan kakinya menuju ke luar pintu. Beberapa pengawalnya sudah berbaris di sana menunggunya dan membukakan pintu mobil untuknya.
Alvin menatap kepergian ayahnya lalu mengambil ponselnya. "Bagaimana? Kalian menemukan dimana keberadaan Daren?" Seketika dia terkejut mendengar informasi yang disampaikan oleh orang-orangnya.
"Bagus, terus pantau mereka berdua dan jangan sampai tuan Robert mendapatkan informasi ini, kau mengerti?"
Alvin menutup ponselnya lalu tertawa. "Jadi, kau memutuskan menikahinya daren? Aku tidak bisa memikirkan bagaimana tubuh lexia sekarang ini karena ulahmu daren." Ucap Alvin.
~
Mereka berdua sedang sarapan meskipun sekarang sudah menjelang makan siang, lexia menatap jengkel kepada Daren yang tidak henti-hentinya berbuat semaunya di tubuhnya.
"Siang ini aku harus kembali ke Manhattan lexia, dua hari lagi aku akan kembali." Ucap Daren.
Lexia tidak menanggapinya, dia masih kesal kepada Daren, setiap mereka melakukannya, Daren sama sekali tidak mendengarkan ucapan lexia ketika dia memohon agar Daren berhenti.
"Kau mendengarku sayang." Ucap Daren.
"Lexia?"
"Ya, aku mendengarmu." Ucap lexia tanpa memandang wajah daren.
Daren menghembuskan napasnya dan berdiri dari tempat duduknya. Lalu berjalan ke arahnya.
"Em tubuhmu baik-baik saja?" Ucapnya.
Daren memperhatikan wajah lexia yang sedang marah.
"Untuk apa kau bertanya? Kau sudah lihat sendiri bagaimana tubuhku yang masih memar." Lexia berdiri dan melemparkan serbet ke wajah Daren dan lari ke kamarnya kemudian menguncinya.
Bibir Daren menipis dia menyusul lexia dan mengetuk-ngetuk pintu itu dengan keras.
"Lexia buka pintunya sekarang !" Ucapnya dari balik pintu. Dia menggedor keras pintu itu. "Sial !" Umpat Daren.
"Aku akan Segera kembali lexia." Teriak Daren karena Evan sudah menunggunya di bawah tangga beserta pengawal lainnya.
Lexia menatap Daren dari jendela kamarnya. Dia sekilas berbalik sehingga mereka saling menatap, lexia lalu menyembunyikan dirinya. Helikopter itu sudah menunggu Daren untuk membawanya ke Manhattan, akhirnya helikopter itu menjauh ketika lexia menatapnya dari kejauhan.
~
Seseorang berlari tergopoh-gopoh menemui Barbara dan membisikkan sesuatu di telinganya.
"Apa yang kau katakan itu? Bagaimana bisa Daren tidak ada di UK?" Bentaknya.
"Nona Carol menelepon pagi ini nyonya, dia langsung menuju mansion yang ada di London tapi tidak ada seorangpun yang ada di sana, tuan Daren tidak ke UK Minggu ini." Ucapnya.
"Apa yang sebenarnya Daren lakukan? Jangan bilang dia mencari gadis pemulung itu?" Teriaknya.
__ADS_1
Dia menelepon ponsel Daren tapi tidak tersambung, lalu membanting ponselnya di atas meja.
Tidak lama berselang pintu mansion itu terbuka dan Daren sudah ada di sana, dia berjalan dengan Evan dan beberapa pengawalnya.
"Nyonya sepertinya tuan Daren sudah pulang." Ucap pelayan wanita paruh baya yang setia kepada Barbara, melaporkan Segalanya kepada barbara sampai hal kecil sekalipun.
"Dari mana saja kau daren!" Dia bersedekap memandang wajah daren. "Mereka bilang kau pergi ke UK beberapa Minggu tetapi kata carol kau tidak ada di sana."
"Carol?? Untuk apa dia datang ke UK?" Ucap Daren menatap tajam kakaknya.
"Tentu saja agar hubungan kalian kembali dari pada kau memikirkan niatmu untuk menikahi gadis yang tidak jelas asal usulnya itu, lagi pula hubungan kalian masih bisa terjalin, kau bisa memaafkan...
"DIAM!" Bentak daren menatap kakaknya yang selalu mengaturnya.
"Berhenti mengurus kehidupanku Barbara, mengenai Carol, jika dia sekali lagi datang karena suruhanmu aku pastikan perusahaannya akan aku hancurkan, jadi berhentilah menjodohkan aku dengan wanita-wanita pilihanmu. Oh ya, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu kepadamu kalau aku sudah menikah dengan lexia."
Daren berlalu dan masuk ke dalam lift tanpa memandang wajah kakaknya yang terperanjat, dia mematung, bibirnya terbuka karena dia tidak percaya dengan ucapan daren."
Barbara melangkahkan kakinya lalu menekan tombol lift agar membuka.
Dia menyusul Daren ke ruangannya lalu membuka pintunya.
"Menikah?? Apa kau gila Daren, jangan bercanda kau tahu yang telah kau bicarakan?? Bagaimana bisa kau melakukan itu Daren?" Bentak barbara memukul mejanya dan melotot kepada Daren.
Daren duduk di ruangannya lalu memeriksa beberapa dokumen yang diberikan Evan padanya, tanpa menggubris barbara yang berteriak di hadapannya.
"Berhenti mengurus hidupku seperti kau mengekang putrimu, dia sudah cukup sehat untuk mengelilingi rumah ini dan kau masih menguncinya di lantai 7, kau tidak tahu lovelia begitu kesepian." Ujar daren sambil menandatangani beberapa kertas yang ada dihadapannya.
Daren berhenti dan menatap tajam Barbara. "Jangan memanggilnya gadis pemulung, karena sekarang dia adalah istriku, kau harus menerimanya Barbara kau suka atau tidak!" Ucap Daren.
"Kau gila Daren, beraninya kau menikahinya, kau tidak tahu darah apa yang mengalir dari gadis kotor itu." Ucapnya dengan suara tersengal-sengal.
Daren memukul keras mejanya. "Aku tidak akan membiarkan jika kau memanggilnya seperti itu Barbara, dia sudah menjadi istriku."
"Aku.tidak.akan.pernah.menyetujui pernikahan itu Daren, tidak !." Teriaknya, Barbara akhirnya keluar dari kamar Daren.
"Kau terima atau tidak aku tidak perduli." Ucap Daren di sela-sela menandatangani beberapa kertas yang ada di hadapannya.
~
Hari itu lexia berjalan-jalan di sekitar villa, beberapa pengawal berada di dalam maupun di luar villa, terlihat begitu berlebihan.
"Aku kan bukan seorang putri kerajaan, mengapa pengawalannya begitu ketat." Ucap lexia menatap para pengawal yang berdiri bagaikan patung dan mengawasi kemana lexia berjalan.
Lexia menatap air mancur bertingkat yang berbentuk lingkaran itu, dia berdiri di sana cukup lama dan mengulurkan tangannya, dia kemudian menatap tubuhnya, lexia merasakan tubuhnya tidak sama seperti dulu lagi, setelah malam-malam yang di lalui oleh lexia bersama Daren. "Apakah aku harus menerimanya begitu saja? Hidupku bersamanya?" Ucap lexia, dia menghapus kasar air mata yang jatuh di pipinya, memorinya membawa lexia kepada kakek dan nenek Kenzo yang sejak kecil merawatnya.
Waktu itu lexia kecil berumur 4 tahun, dia duduk seorang diri di gank sempit memperhatikan hilir mudik orang-orang yang melewatinya begitu saja, lexia kecil menatapnya dengan tubuh kering kerontang karena begitu lapar, sampai nenek Kenzo menghampirinya dan membawanya pulang ke rumahnya di tempat pembuangan sampah itu.
Lexia menitikkan air matanya, bahkan sampai sekarangpun dia masih belum sempat mengunjungi makam neneknya.
"Aku merindukan kalian." Bisik lexia.
Wajah murung lexia masih menghias di wajahnya, lexia membaringkan tubuhnya di tempat tidur karena seharian berjalan membuatnya lelah.
__ADS_1
Ponsel di kamar lexia berdering, dia segera mengangkatnya, terdengar suara Daren di seberang telepon.
"Kau baik-baik saja sayang?" Ucapnya.
"Ya, aku baik-baik saja." Jawab lexia.
"Besok aku akan pulang, dan..Barbara sudah tahu tentang pernikahan kita, jadi sebaiknya kau bersiap-siap dengan reaksinya, kau tahu sendirikan kau tidak begitu cocok dengannya." Ucap Daren.
"Emm, ya aku tahu."
"Kau masih marah?" Tanya daren.
"Tidak, aku tidak marah." Jawabnya.
"Jadi, apa yang membuatmu begitu marah sayang?"
Bibir lexia begitu tipis, tentu saja Daren mengetahui penyebab lexia marah padanya, tetapi tidak mungkin lexia menceritakan kepadanya, dia cukup malu untuk mengatakan bahwa daren malam itu begitu liar hingga dirinya beberapa kali pingsan dan ingin berhenti.
"Kau bodoh!" Ucap lexia, lalu menutup telepon itu dengan pipi bersemu. "Dia sengaja bertanya seperti itu agar aku mengingatnya lagi, dasar mesum." Ucap lexia, meskipun begitu bibir lexia tertarik seperti tersenyum.
~
Suasana hatinya begitu buruk, William Luther keluar dari kantornya dan berjalan diparkiran untuk segera menghadiri meeting dengan rekan bisnisnya.
Seseorang berjalan menghampirinya dan tersenyum miring dihadapannya.
"William Luther?" Ucap pria itu.
William berbalik dan menatap Alvin berdiri di sana dengan senyum bersahabat. Dia mengernyitkan dahinya, tentu dia tidak mengenal Alvin, tetapi Alvin mengetahui mengenai latar belakangnya.
"Aku Alvin Robert, senang berjumpa denganmu." Ucapnya.
William menjabat tangannya tetapi nampak terkejut dengan kedatangan putra satu-satunya dari tuan Juan Robert yang terkenal itu.
"Anda punya waktu? Bagaimana kalau kita bicara sebentar." Ucap Alvin masih dengan nada suara yang ceria.
William menganggukkan kepalanya, tentu saja meetingnya bisa di tunda dahulu karena yang akan bicara dengannya bukanlah orang yang bisa diabaikan begitu saja.
~
Malam kembali datang dan lexia masih seorang diri di villa milik daren itu, meskipun luas, lexia tidak bisa kemana-mana, dia hanya berjalan di sekitar area villa dengan pengawasan pengawal yang siaga 24 jam yang berdiri di setiap sudut jalan masuk.
Lexia duduk di ruang santai sambil menatap TV tetapi sayangnya tidak ada film yang menarik untuk ditontonnya. Dia menyandarkan kepalanya di sofa dan tanpa sadar lexia tertidur pulas di sana.
Tepat jam 2 dini hari, Daren kembali ke villa dan menatap lexia yang berbaring di sana seorang diri. Dia mengangkatnya lalu membawanya ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur.
Daren segera menyelesaikan pekerjaannya hari itu, jadi dia bisa segera kembali ke villa meskipun dengan Barbara yang mati-matian ingin ikut dengan Daren.
Daren melepaskan jas dan kemejanya kemudian mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi, setelah mandi dia segera bergabung dengan lexia, dia menariknya agar panas tubuh lexia dapat di rasakannya di malam yang berangin itu. "Kau milikku lexia." Bisik daren, membuat kerutan di alis lexia terbentuk ketika dia tidur.
๐บ
Tmn2 readers tersayang๐ dukung author donk dengan beri vote like and comentnya yaaaa biar lebih semangat nulisnya ๐๐
__ADS_1