
Jam 17.10, Penthouse di Atlanta.
Setelah begitu lama bersembunyi, hanna akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya, ketika hari sudah mulai sore, dia tidak akan bisa keluar dengan mudah jika dia menunggu sampai jam malam tiba, karena penjagaan semakin di tingkatkan.
Hanna mencari-cari cara agar dia bisa keluar dari penthouse ini dengan aman, dan tidak ada yang mencurigainya sama sekali. Maka hanna memeriksa sekelilingnya, dia melihat pakaian yang tersusun rapi, dia akhirnya menemukan pakaian seorang pelayan, Hanna kemudian mengenakannya, celemek hitam menggantung di hadapannya, dia mengikat rambutnya tinggi-tinggi dan mengintip dari celah pintu, ketika dari kejauhan dia melihat seorang pelayan menuju ke ruang laundry itu, maka hanna bersiap untuk menyergapnya, dia sembunyi di balik pintu. Seorang pelayan wanita yang usianya tidak jauh dari hanna masuk ke dalam, dia membuka ruang laundry dan hendak mengambil tumpukan kain putih untuk di bawa ke dapur.
Hanna segera menutup mulut pelayan itu dari belakang dan memukul tengkuknya cukup keras, pelayan itu akhirnya jatuh pingsan.
"Maafkan aku, sebentar lagi kau akan sadar." Bisik hanna.
Dia mengambil tumpukan pakaian dan membawanya keluar, sebelum itu, dia mengenakan masker seperti halnya pelayan tadi dan mengangkat tinggi-tinggi tumpukan kain, dan hanna mulai berjalan, menuju ke dapur, para pengawal terlihat sibuk mencarinya, mengelilingi semua tempat, tiga orang pengawal berjalan mendekatinya, hanna berjalan tenang, tanpa terlihat mencurigakan, salah satu pengawal sempat meliriknya, tapi hanna dengan tenang berjalan terus dengan wajah datar tanpa melirik mereka.
Akhirnya hanna telah tiba di pintu dapur, ruangan besar dengan beberapa chef sedang berada di sana, Suara dan harum masakan menguar memanjakan hidung dan suara-suara panci yang beradu, menimbulkan celah dan kesempatan bagi hanna untuk meliuk di antara sibuknya orang-orang di dapur, dia akhirnya sampai di pintu belakang.
Hanna meletakkan kain-kain itu, kemudian mengambil kerdus kosong yang sudah menumpuk, dia kemudian mengangkatnya sama seperti pelayan lainnya, kemudian dia naik ke atas mobil barang itu dan menyelinap masuk ke dalam dan bersembunyi. Untungnya tubuh Hanna kecil, sehingga ia menutupi seluruh tubuhnya dengan kardus yang akan dibawa keluar oleh mobil barang pengantar pasokan makanan.
Napas hanna memburu, jantungnya berdegup kencang, dia pergi begitu saja tanpa membawa apapun, dan tidak tahu mobil ini akan membawanya kemana.
"Semua sudah beres?" Tanya seorang pelayan pria kepada supir mobilnya.
"Semua sudah beres, aku akan segera pergi." Ucapnya. Pria itu naik ke mobil dan mulai menyalakannya, mobilpun melaju, melintasi area parkiran penthouse, di sana berdiri sekelompok pengawal yang sedang berlari dari satu tempat ke tempat lainnya.
"Mereka terlihat sibuk, mereka mencari sesuatu?" Ucap sang supir.
"Sst, jangan bicara yang bukan urusan kita, masuk ke tempat sini saja, sudah membuatku takut, jangan sampai pengawal-pengawal itu mendengarmu, kita hanya bekerja sesuai dengan urusan kita." Tegur seorang pria yang lebih muda yang duduk di sampingnya.
Pria itu menutup mulutnya dan tidak berbicara lagi sampai keluar dari tempat itu.
~
Hanna merasakan guncangan ketika mobil melaju, dia bisa mendengarkan perbincangan mereka berdua, meskipun sedikit samar.
Apakah segitu menakutkannya Keluarga Caesaar? dia kan hanya seorang pengusaha biasa meskipun kekayaannya keterlaluan, tetapi wajar kan kalau mereka hidup dalam kemewahan, tetapi kenapa mereka begitu ketakutan? Pikir hanna.
Seketika pertanyaan yang ada di dalam pikirannya, terjawab oleh kedua orang yang sedang berbincang di depannya.
"Aku baru 3 tahun bekerja membawa barang pasokan kebutuhan mereka, kau tahu kan para pelayan kadang ada yang suka bergosip, aku ikut mendengarkan semua gosip mereka, dan kau tahu apa yang mereka katakan?"
"Apa?" Tanyanya.
"Orang yang tinggal di penthouse itu bukan hanya seorang pengusaha biasa, dia adalah keturunan dari Caesaar Corporation yang terkenal di Amerika, terus mereka bilang, putranya adalah seorang mafia terkenal di milan, kau tahu kan bagaimana kelompok mafia bekerja." Dia kemudian menggeleng. "Jadi, jaga ucapanmu kalau masuk ke tempat itu, kita ini hanya orang biasa yang tidak mengenal dunia seperti itu." Ucap pemuda tadi.
~
Hanna yang telah mendengarkan semua pembicaraan mereka lalu membelalak, ketakutannya semakin menjadi-jadi. Pilihan yang sangat tepat untuk lari dari pria itu. Pikir hanna.
Sudah sejam mobil yang di tumpanginya melaju, hari pun sudah malam, akhirnya mobil truck pemasok makanan itu berhenti, dan merasakan pergerakan mereka ketika mereka keluar dari mobil.
"Aku ada di mana?" Ucap hanna di dalam kegelapan, dia menyingkirkan kardus-kardus itu, lalu menyelinap dan menengok ke kiri dan kanan, ketika mereka telah masuk di salah satu minimarket, hanna membuka pintu mobil itu dan kemudian menunduk, lalu ketika dia merasa sudah aman, Hanna akhirnya berlari menjauhi mobil truck mini itu.
Hanna berlari sekencang-kencangnya, untung saja mereka masih ada di pusat kota, dan jalan masih ramai oleh lalu lalang orang-orang. Hanna mengusap keringat yang menetes di keningnya, tujuannya sekarang adalah mencari trucknya dan mengambil dompet serta uang yang dia kumpulkan dan kembali ke flatnya.
Ketika hanna hendak berbelok, dan menuju ke truck kopinya yang telah di tutupi oleh terpal, dia berhenti berjalan dan cepat-cepat bersembunyi, beberapa pria berpakaian hitam telah berada di sekeliling trucknya.
"Ck sial, mereka ada di mana-mana." Hanna berjalan dan menuju ke flatnya yang kusam, hanya itu satu-satunya tempat untuk kembali saat ini.
~
Dazon berada di ruangannya, dia kembali memutar cctv di ruangannya, ketika melihat hanna masuk dan mendengarkan semua ucapan Thomas. Dia juga tidak tahu jika wanita yang menjadi salah satu korban Riel adalah teman hanna.
Ketukan terdengar dari pintu ruangannya.
"Masuk." Perintahnya.
Loue masuk dan berdiri di depan dazon setelah menundukkan sedikit kepalanya.
__ADS_1
"Sir, kami sudah mendapatkan hasil rekam cctv ketika nona hanna melarikan diri, silahkan tekan monitor nomor 7."
Dazon segera memindahkan monitornya dan menekan tombol 7, mereka berdua melihat hasil rekam sore itu yang terjadi di dapur, seorang wanita yang mengenakan pakaian pelayan dan membawa kardus-kardus yang menumpuk, dia lalu naik ke atas truck pemasok barang dan bersembunyi di dalam sampai mobil itu melaju.
Dazon meletakkan jarinya di keningnya, dia masih terdiam membuat suasana terasa hening dan tidak mengenakkan, keheningan itu membuat aura di sekitar mereka tampak lebih mengerikan.
"Perintahkan para pengawal untuk memeriksa truck itu dan periksa di sekitar truck kopi tempat hanna berjualan, dan kirimkan para pengawal lainnya untuk memeriksa flat miliknya, mungkin saja malam ini dia kembali ke flatnya, dia tidak memiliki tempat selain di sana." Ucap dazon dengan suara dingin dan datar, suaranya masih datar, tidak ada terdengar geraman atau bentakan yang keluar dari mulutnya, tetapi orang-orang yang melihat wajahnya, dapat mengetahui dengan jelas, jika kali ini tuannya sangatlah marah.
~
Hanna masih berjalan sepanjang jalan menuju ke flatnya, dia harus bisa masuk ke flatnya, segala miliknya ada di dalam sana, uang serta tabungannya, serta pakaiannya, sedikit lagi, dia akan tiba di bangunan yang berbentuk cembung itu.
Hanna berjalan lebih cepat, dia ingin cepat sampai ke flatnya dan mengistirahatkan tubuhnya, kemudian dia harus menelepon yessy dan memastikan dia baik-baik saja.
Sayangnya kedua kakinya terhenti ketika dia hendak membelok, tiga mobil berwarna hitam sudah berbaris di sana dengan pria-pria berpakaian hitam, mereka sudah mengepung bangunan itu.
"Sial ! Sekarang bagaimana? Aku harus segera masuk ke kamarku, meskipun mereka telah mengganti kuncinya, aku memiliki akses masuk yang tersembunyi, mengingat bangunan itu sudah tua dan kusam, banyak tempat-tempat yang bisa di lewati untuk bisa masuk ke pintu rahasia ke dalam tanpa ketahuan." Gumam hanna sambil mengintip dari balik tembok.
Hanna kembali menundukkan kepalanya, ketika sebuah mobil mewah berwarna hitam baru saja datang, pria itu keluar dari mobilnya setelah salah seorang pengawal membukakan pintu mobil untuknya.
Hanna membelalakkan matanya, pria itu dazon, dia datang sendiri ke flatnya, dia lalu menatap jendela kamar hanna yang gelap, dia kemudian bersandar di mobilnya sambil menerima telepon.
"Kenapa dia begitu bekerja keras sih? mereka apakan yessy, dimana yessy, apa pelaku itu membunuhnya dan para mafia itu melenyapkan tubuh yessy untuk menyelamatkan teman mereka dari tuduhan !" geram hanna.
Hanna sangat marah, mereka orang-orang egois hanya mementingkan kepentingan dirinya, jika yessy memang telah wafat, mereka apakan tubuhnya, lalu bagaimana dengan mayat yessy. Pikir hanna, pandangannya semakin tajam ketika menatap dazon dari kejauhan.
~
Hanna masih bersandar di salah satu dinding, dia menunggu agar mereka pergi dari sana, tetapi sepertinya dazon betah berlama-lama bersandar di mobilnya sambil memandang langsung ke jendela hanna di lantai 7, Hanna mendengus, dia hanya akan tersakiti jika bersama dengan pria itu, dia tidak mampu memberikan apa yang diinginkan oleh hanna.
Dia hanya mau hanna menjadi wanitanya, hanya sambai batas tertentu, sampai dia menemukan wanita yang menurutnya pantas bersanding di sampingnya dan di bawa ke keluarganya, dan setelah itu dia bisa dengan seenaknya membuangnya, setelah menemukan wanita yang sepadan dengannya, jadi untuk itu hanna lebih baik mengakhiri semua ini dan mengubur hatinya yang sedikit terbuka untuk pria itu dalam-dalam.
~
"Tidak ada sir, tetapi kami sudah memeriksa cctv di sepanjang jalan yang di lalui oleh truck pemasok itu, nona hanna rupanya berhenti di salah satu minimarket dan langsung berlari menjauh, mungkin dia hendak kembali ke trucknya tetapi karena pengawal kita sudah berjaga di sana, kemungkinan besar dia bersembunyi, tuan."
"Cari terus, dia tidak mungkin pergi jauh, apalagi dia tidak membawa apapun bersamanya." Dazon menggeram, gadis itu benar-benar ceroboh, di tempat yang rawan dan berbahaya, apalagi di malam hari seperti ini, bagaimana jika dia bertemu orang jahat yang melakukan sesuatu yang buruk kepadanya.
Dazon kembali mendongakkan kepalanya ke kamar di lantai 7, tidak ada yang berubah, masih gelap tidak ada cahaya sedikitpun.
~
Kehadiran pengawal-pengawal dazon rupanya membuat Riel terbangun dari tidurnya, dia mengintip dari jendela kecil yang gelap, matanya tertuju kepada dazon lalu tidak jauh di sana, dia dapat melihat dari kejauhan seseorang sedang bersembunyi di balik bangunan dekat dengan tempat sampah.
Dia terkekeh, kemudian riel mengenakan hoddienya yang panjang dan mengenakan penutup kepalanya, dia memutari tempat itu mencari jalan aman lain selain lift dan tangga darurat, dia akhirnya sampai ke pintu belakang, dia melihat di sekitarnya, tidak ada siapapun, matanya tertuju ke depan dan siapa yang sangka seseorang memanggilnya.
"Riel !" Ucap pria itu.
Riel berbalik, dia menatap paulo yang berdiri tidak jauh darinya.
Tanpa mendengarkan ucapan paulo, Riel berlari kencang, menjauhi para pengawal yang mengejar-ngejarnya. Suasana saat itu terlihat membingungkan bagi hanna, dia bingung karena para pengawal itu mengejar seorang pria alih-alih dia sendiri.
Hanna kembali mengintip, tetapi sayangnya, dia tidak memperhatikan pengawal-pengawal yang lari dan mengejar seorang pria, dan sedang menuju ke arahnya, dia terjatuh dan terduduk di dekat tempat sampah.
"Ck, sial ! sakit." Ucap hanna mengibas-ngibaskan kotoran di celananya dan tangannya. Dia mendongakkan kepalanya karena merasakah bayangan gelap menutupinya.
Seseorang melipat kedua tangannya di hadapannya, dia tinggi menjulang menatap hanna dengan pandangan tajam.
"Sudah cukup bermain kucing-kucingannya hanna, kita kembali sekarang."
Hanna terkejut, kakinya menjadi lemas, susah payah dia pergi dari penthouse itu, tetapi akhirnya dia tertangkap juga dan lelaki ini sendiri yang menangkapnya.
"Tidak mau ! Aku tidak mau kembali ke tempat kurunganmu, kau tidak bisa melakukan ini padaku," teriak Hanna.
Senyum miring mengejek terbentuk di wajahnya, membuat hanna lebih menantang pria yang telah memegang lengannya kuat.
__ADS_1
"Kenapa kau menolak keinginanku hanna, tidak ada yang dirugikan di sini, jika kau menerimanya, kebutuhan hidupmu akan terjamin, apa yang kau inginkan, sehingga kau bersikeras lari dariku!" Hanna hanya menatapnya tanpa menyuarakan pikirannya, tetapi ingin sekali dia berteriak dihadapannya.
perempuan bodoh mana yang ingin di jadikan seorang j4lang, tanpa mendapatkan cinta dari pria yang dia inginkan, dan pada akhirnya dirinya akan dibuang suatu hari nanti, aku tidak sebodoh itu, lebih baik dari awal hubungan ini tidak terjadi.
"Apa kau tidak mengerti, aku bilang, aku tidak mau ! Jadi lepaskan aku, aku tidak mau berurusan denganmu, aku tidak mau bersama orang yang melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, apa begini caramu mendaptkan semuanya? Dan katakan padaku di mana kau sembunyikan yessy, di mana kau sembunyikan mayatnya !" Teriak Hanna, kini air matanya jatuh di pipinya, menatap mata dazon yang balas melihatnya dengan wajah menggelap.
Hanna memukul-mukul lengan dazon yang mencengkram tangan hanna begitu kuat hingga hanna nampak kesakitan, dia membawa hanna begitu saja ke dalam mobilnya tanpa memperdulikan tangis dan teriakannya.
Hanna melawannya sekuat tenaga, kakinya terseret-seret hingga tiba di depan mobil yang sudah membuka.
"Masuk !" Perintahnya
Hanna masih melakukan perlawanan yang kuat, dia tidak mau lagi mengikuti keinginan lelaki ini, bagaimanapun kemarahan dazon, dia akan tetap melawannya.
Hanna masih bertahan di depan pintu mobil menatap menantang dazon, "Jadi, kau lebih suka di paksa? Baik, jika itu yang kau inginkan hanna, aku akan mengabulkannya."
Mata hanna melebar tatkala dazon menarik keras tubuh hanna hingga membentur tubuhnya dan di angkatnya hanna dengan paksa masuk ke dalam mobil. Secepat itu mereka berdua telah berada di dalam mobil.
"Berangkat !"
"Baik tuan."
Dazon menekan tombol di sampingnya sehingga muncul pembatas berwarna hitam. Hanna masih melawan kepada dazon, dia hendak memukul apa saja bagian tubuh dazon, meskipun hanna tahu bahwa kekuatannya tidaklah sebanding dengan kekuatan pria ini, kedua tangannya, di genggam erat, mobil itu tetap stabil melenggang di jalan raya malam itu meskipun keduanya masih berkutat melawan satu sama lain.
Dazon kini memenjara hanna, kedua tangannya di genggam erat di atas kepalanya, hingga hanna tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya melemah karena sejak tadi siang perutnya belum diisi, hanya air matanya saja yang jatuh di pipinya.
"Berhenti melawan hanna, kau tidak bisa melawanku, jadi hentikan sikap keras kepalamu dan perlawananmu."
Dazon kemudian mengangkat tubuh hanna di pangkuannya dan memeluknya erat, dia membiarkan hanna menangis sejadi-jadinya di dadanya. Dia tahu hanna begitu sedih karena kematian sahabatnya sehingga dia lepas kendali seperti ini. Hanna terus menangis dan sesenggukan, tangannya masih memukul pelan dada dazon, air matanya membasahi kemeja dazon, hanna memegang erat kemejanya hingga kusut berantakan.
Dazon hanya menerimanya, dia menghalau rambut hanna yag berjatuhan di wajahnya, dia memeluknya erat merasakan hanna kini bernapas normal dengan tenang, air matanya masih menggenang, dazon menatapnya, dia kini tertidur lelap, dia lalu memberikan kecupan kecil di bibirnya.
"Selamat datang hanna, kau pulang kembali kepadaku." Bisik dazon ketika mobil mereka sudah masuk di pelataran parkiran.
~
~
"Bagaimana kita bisa mempercayai ucapannya, meskipun keluarga mereka tersohor, tetapi dari jejak mereka yang paling dalam, kita tahu bahwa keluarga Caesaar sejak dulu memiliki darah seorang mafia, bukan murni perusahaan multi mega yang membesarkan namanya, tetapi ada kelompok mengerikan di belakangnya yang selama ini bergerak atas nama Caesaar." Ucap detektif Rainy.
"Kita tidak melihat kepentingan khusus di dalamnya, pria itu hanya melaporkan cerita yang sesungguhnya mengenai penemuan mayat seorang wanita di tanah pekuburan itu, entahlah semua masih kabur, sebaiknya kita terus memantau di tempat kejadian, mungkin saja pelaku bersembunyi di sekitar tempat itu." Ujar detektif Nick.
~
~
Malam itu hanna berbaring di tempat tidur sambil bergelung di tempat terhangat, dia semakin memajukan tubuhnya mencari-cari kehangatan yang nyaman, tepat di rengkuhan tangan besarnya, hanna membenamkan wajahnya, menghirup wangi segar Aftershave di balik kemejanya yang sudah terlepas kancingnya karena seringnya hanna tarik.
"Aku bisa gila kalau tingkahmu seperti itu hanna." Gumam dazon di kegelapan malam di ruangan itu, cahaya yang masuk hanya dari lampu yang di pancarkan dari jendela besar di kamar itu. Tepat tengah malam, ketika hanna terbangun dari tidurnya, dia merasakan sesuatu mengusap punggungnya hingga sampai ke pinggangnya, dia mencoba mengingat-ingat semuanya, akhirnya dia tersadar, dia mengingat tangisnya pecah, dia memukul-mukul tubuh lelaki itu dengan keras.
Napas yang normal dari hanna tiba-tiba mengeras, dan dazon menyadarinya, dia kemudian menoleh, mengalihkan pandangannya ke hanna, mata mereka saling bertemu, dazon tersenyum kepadanya.
"Kau bangun?" tanyanya
Dengan kikuk, hanna mengangguk, dia merasa kedekatan mereka yang begitu intim membuat hanna merasa ingin membenamkan wajahnya di bawah selimut. Dazon memutar tubuhnya langsung menghadap hanna.
"Kau tidak apa-apa?" bisiknya. Hanna mengangguk, jantungnya berdetak tidak menentu, tatapannya tidak bisa lepas darinya.
"Aku ingin menciummu Hanna, sekarang !" ucapnya riba-tiba.
Hanna mengerjap dia berkedip beberapa kali, tanpa menunggu jawaban dari Hanna, dazon sudah menguasai bibirnya, membuatnya hanyut dalam ciuman dazon yang dalam intens dan lembut, sangat berbeda dengan ciuman kasarnya waktu itu, hingga hanna larut dalam dekapannya. Dazon mengangkat wajahnya, mereka saling menatap.
"Aku tidak akan menyentuhmu malam ini, kau pasti lelah dan capek setelah kejar-kejaran dengan pengawalku sore tadi, tetapi bersiap-siaplah, jika waktunya nanti akan tiba hanna, aku tidak menerima jawaban tidak, kau mengerti?" Ucap dazon dengan pancaran mata menggelap dan napasnya kian kejar mengejar, seakan sesuatu telah menyakitinya, dan telah di tahannya, sehingga dia terlihat ingin menggeram keras.
"Tidurlah ! malam ini sepertinya aku tidak bisa tidur bersamamu dan memelukmu, malam ini aku akan bekerja di ruanganku, jika tidak, entah apa yang akan aku lakukan kepadamu." Ucapnya, dia kemudian berdiri dari tempat tidur, mengetatkan bathrobe berwarna hitamnya, sebelum keluar, dia menghampiri hanna mengecupnya dan segera keluar dari kamar.
__ADS_1