The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Terbujur kaku


__ADS_3

~05.15 Manhattan.


Udara di pagi itu sangat dingin, lexia yang sedang duduk di dalam mobil sedikit menggigil karena dress panjang itu berbahan tipis dan dia tidak mengenakan jaket atau sweater hingga tubuhnya kedinginan, Sesekali lexia merasakan angin dingin menerpa tubuhnya hingga ia merasa badannya menggigil.


Mobil yang mereka tumpangi kini berhenti di mansion Tuan Robert, telepon dari Barbara kepada Sebastian membuat dia menunggunya di depan gerbang dan mempersilahkan mobilnya masuk ke pelataran mansion.


Lexia menyadari jika mereka sudah sampai dan jantungnya mulai berdetak cepat, lexia memikirkan nasib apa yang akan menunggunya ketika dia bertemu dengan tuan Robert, apakah kepalanya akan di tembak atau dia akan di siksa sampai dia mati ataukah dia akan memenjarakannya lalu membuang tubuhnya di jalanan, semua pemikiran mengerikan lexia membuatnya merinding.


Lexia memegang erat botol kecil yang tersembunyi di tangannya, tidak ada yang menyadari apa yang telah di genggam lexia.


Lexia keluar dari mobil itu dan Barbara yang tepat di sampingnya. "Selamat pagi nyonya, kejutan ini pasti akan membuat tuan Robert senang, silahkan lewat sini." Ucap Sebastian.


Dia berjalan di hadapannya, lexia di pegang oleh dua orang penjaga dan membawanya ke tempat yang di tuju. ketika penutup matanya di buka nampaklah ruangan luas dengan dekorasi yang mewah. Ruangan itu familiar untuk lexia karena dia pernah masuk ke mansion itu.


Lexia duduk di salah satu kursi layaknya seorang tamu kehormatan tapi sayangnya kedua tangannya dan mulutnya masih terikat dan tertutup oleh lakban.


"Tunggu di sini nyonya, jika tuan Robert telah bangun dia akan segera datang kemari." Ucapnya.


Barbara tersenyum puas sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke lengan kursi, matanya menjelajahi ruangan dan akhirnya jatuh kepada lexia yang duduk tidak jauh darinya


"Gadis bodoh, sekarang kau bisa menikmati hukuman tuan Robert karena telah membohonginya, gadis kecil sepertimu yang hidup di tempat kotor tidak akan ada gunanya untuk hidup, seharusnya kau tidak pernah muncul di keluarga kami jika kau mencuri kesempatan seperti ini, untung saja kakek dan nenekmu telah wafat, jadi tidak ada yang perlu di korbankan selain dirimu yang tidak berharga."


Lexia menatap Barbara begitu emosi, dia sampai menggigit bibirnya Karena begitu geramnya karena dia berani menyebut-nyebut nama kakek dan neneknya.


"Apa yang kau lihat? Kau bahkan tidak bisa berbicara dengan bebas, jadi hentikan pelototanmu itu, kau tampak mengenaskan." Ucapnya sambil tersenyum menyebalkan.


~


Daren baru saja tiba di mansionnya tetapi salah satu orang kepercayaannya memberitahu jika lexia di bawa oleh nyonya Barbara ke mansion tuan Burchard.


Daren begitu murka, dia begitu marah sampai-sampai selama di dalam perjalanan dia menelepon semua pengacaranya dan mengambil alih aset yang menjadi milik Barbara di pindahkan atas nama daren tanpa tersisa sama sekali bahkan harta yang di simpannya Secara sembunyi pun Daren ambil alih semuanya tanpa bersisa.


Jantung daren berdetak keras, mobil yang dikendarainya berkecepatan tinggi menembus udara pagi yang dingin, dia berdoa semoga tidak ada sesuatu yang terjadi kepada lexia.


~


Pintu itu membuka dan tuan Robert sudah masuk ke ruangan pribadi yang tidak bisa dimasuki siapapun tanpa izin darinya, sebastian dan juga Barbara ada di sana.


Mata tuan Robert memicing ketika menatap lexia.


"Kenapa dia diikat?" Tanyanya.


"Kami hanya berjaga-jaga dia akan melarikan diri lagi tuan." Ucap Barbara dengan sedikit tersenyum. Lexia memegang erat botol di tangannya.


"Buka ikatannya dan lepas lakban itu dari mulutnya, aku ingin bicara kepadanya." Titah tuan Robert.


Sebastian membuka ikatannya, lalu menarik lakban itu dari mulut lexia.


Tuan Robert duduk di kursinya menatap tajam ke arah lexia. "Kau tahu kenapa kau ada di sini?" Tanyanya.


"Tidak, aku tidak tahu." Jawab lexia yang sedikit lebih berani ketika langsung menghadapinya.


"Kau tidak tahu?" Ucapnya.


"Gadis bodoh, apa yang kau katakan!" Bentak barbara.


"Jangan menyelaku, aku hanya ingin bicara kepadanya." Ucap tuan Robert.


"Aku hanya dipekerjakan oleh nenek di sebelahku ini karena putrinya sakit, dan katanya anda terlalu menyeramkan untuk mengetahui kondisi lovelia, dia mengatakan lovelia dalam bahaya jika anda tidak terima putrinya yang sakit-sakitan." Ucap lexia lancar.


Barbara begitu geram, dia tidak menyangka ular kecil ini menyerang balik kepadanya.


"Ja..jangan mendengarkan dia tuan Robert, dia hanya ingin membela dirinya."


"Diam!" Bentak tuan robert, mulut Barbara berubah mengkerucut.

__ADS_1


"Jadi, kau dipekerjakan oleh Burchard untuk menggantikan cucuku, kenapa kau mau mengantikannya?" Tanyanya.


"Waktu itu nenekku sakit dan aku butuh uang untuk pengobatannya, jadi aku harus bekerja bukan?" Lexia menjawab dengan lantang langsung menatap manik mata tuan Robert.


Tuan Robert memiringkan kepalanya, wajah gadis ini pernah di lihatnya di suatu tempat tapi dia tidak mengingatnya.


"Dimana Ayah dan ibumu?" Tanyanya.


"Entah, aku di asuh oleh kakek dan nenek Kenzo sejak berusia 4 tahun." Ucap lexia menaikkan bahunya.


Barbara mendengus mendengar asal usul lexia yang tidak jelas. Tuan Robert berpikir sebentar dan meneruskan pertanyaannya.


"Meskipun kau bekerja kepada keluarga Burchard, aku tetap tidak bisa mentolerir kebohonganmu kepada keluarga Robert. Keluarga Burchard masih terhubung dengan keluargaku, kami dihubungkan karena adanya lovelia jadi aku memaafkan kesalahan mereka, tetapi kau?"


Tuan Robert menaikkan alisnya. "Kau hanyalah orang asing yang berbohong kepadaku." Ucapnya


"Meskipun kau sudah menikah dengan Daren tetapi sudah terlambat, aku akan menghukum karena kebohonganmu." Ucapnya.


Lexia menatap tajam kepada tuan Robert. "Jadi, apa hukumanmu kepadaku?" Tanyanya.


Tuan Robert tersenyum miring, dia tidak menyangka gadis dihadapannya ini tidak takut sama sekali kepadanya.


"Aku akan memikirkannya, hukuman apa yang pantas bagi seorang pembohong." Ucapnya santai. Barbara menautkan kedua tangannya berharap hukumannya berat.


"Kau akan....


Lexia lalu terbatuk-batuk, lalu matanya melotot, dia memegang kerongkongannya yang terasa perih. 'Sial ! harusnya lovelia mengatakan kepadaku kalau reaksinya akan seperti ini.' batin lexia setelah meminum obat itu tanpa di perhatikan oleh Barbara. kerongkongannya panas dan dia merasakan panas di seluruh tubuhnya.


Panas dikerongkongannya terasa menyengat dan tiba-tiba saja jantungnya berhenti berdetak, lexia jatuh di kursi, terbujur kaku dengan mata menutup.


"Ap...apa yang terjadi Sebastian, periksa gadis itu, apa yang terjadi dengannya." Ucap tuan Robert begitu terkejut.


Sebastian menghampiri tubuh lexia dan memegang denyut nadi di tangan dan lehernya, dia lalu menatap tuan Robert dan menggelengkan kepalanya.


"Dia telah tiada tuan, sepertinya dia terkena serangan jantung." Ucap Sebastian.


"Me..mengapa, coba periksa lagi." Ucapnya.


Barbara yang tidak percaya dengan ucapan Sebastian lalu maju dan menghampiri lexia, dia memegang dada sebelah kiri dan tidak merasakan denyutannya lagi, barbara mundur beberapa langkah tidak menyangka jika gadis ini terkena serangan jantung dan mati begitu saja.


Pintu tiba-tiba membuka, nampak wajah Alvin yang menegang, hal seperti ini pernah terjadi di masa lalunya, matanya tajam menatap ayahnya.


"Bagaimana bisa, itu tidak mungkin gadis ini...." ucap tuan Robert.


Langkah yang terburu-buru itu masuk begitu saja membuka dengan paksa pintu itu. Tubuhnya menjadi kaku menatap tubuh istrinya yang terbujur kaku, langkahnya pelan menghampiri lexia.


Dia mengguncang tubuh lexia. "Lexia ! Lexia bangun lexia, BANGUN !" Teriak Daren, dia menepuk-nepuk pelan pipi lexia agar dia bangun tetapi dia merasakan tidak ada kehidupan di tubuhnya.


Daren memeluk tubuh lexia, wajahnya sudah pucat tidak ada napas kehidupan di tubuh lexia. "Dia baik-baik saja sewaktu aku membawanya kemari, dia bahkan berbicara kepadaku, dan menjawab pertanyaan tuan Robert." Ucap barbara.


"Bukankah ini bagus? Lagi pula tuan Robert tidak akan repot-repot lagi mengurus gadis kecil ini, dia pergi dengan sendirinya." Ucap barbara. Mata tuan Robert memicing menatap Barbara.


"Apa yang kau katakan!? Kau pikir aku sehina itu sampai-sampai harus melakukan perbuatan keji seperti itu." Bentak tuan Robert hingga Barbara terdiam.


Daren memeluk tubuh lexia erat-erat, dia sama sekali tidak percaya jika lexia terbujur kaku. Dia ingin membawanya ke rumah sakit tapi sepertinya itu tidak perlu lagi. Daren berdiri memandang tubuh kaku lexia.


"Daren, mengapa kau seperti ini, kau harusnya sadar dia telah wafat, itu pilihan terbaik untuknya."


Satu tamparan keras melayang di wajah Barbara hingga ia jatuh terjerembab di lantai dan terhuyung-huyung. Alvin menatap daren yang mengangkat tubuh lexia.


Wajah Barbara seketika mengeluarkan darah dari hidungnya, dia tidak menyangka Daren akan memukulnya seperti ini.


"Da...daren, kau berani memukul kakakmu sendiri demi wanita itu?" Ucapnya terbata-bata.


Wajah mengerikan Daren menatap langsung kepada Barbara. "Kau bukan kakakku, kau bukan keluarga Burchard, aku akan pastikan kau akan melepaskan nama Burchard dan akan menyingkirkanmu." Ucap Daren dingin.

__ADS_1


Tubuh Barbara bergetar hebat, dia ketakutan menatap wajah Daren yang memandangnya dengan pandangan membunuh.


"Aku akan membalas semua yang kau lakukan kepada istriku tuan Robert, kalian akan mendapatkan balasanku, ingat itu." Ucap daren menatap tajam wajah tuan Robert dia mengangkat tubuh lexia dan pergi dari tempat itu.


~


Daren membawa tubuh lexia menuju ke villanya di Manhattan, tubuhnya masih kaku nampak jelas tidak ada kehidupan di sana.


"Lexia? Lexia!?" Bisik daren menepuk-nepuk pipi lexia. "Bangun lexia." Bisiknya.


'Tunggu setelah satu jam paman, lexia akan segera kembali lagi.'


Begitu yang di ucapkan lovely padanya ketika dia baru saja tiba di mansion.


~Flashback


"Paman Daren!?" teriak lovelia dari luar rumah, dia sengaja menunggu Daren di dekat pintu keluar.


"Lovelia kenapa kau keluar rumah?" ucap daren menatap keponakannya yang sebelah wajahnya masih berbalut perban.


"Lexia, dia di bawa oleh ibu ke rumah tuan Robert dan....." lovely kemudian membisikkan sesuatu kepada pamannya jadi hanya pamannya saja yang tahu apa yang dikatakan lovelia.


Daren begitu terkejut mendengarkan ucapan lovelia. "Cepatlah pergi paman Daren sebelum mereka membawa lexia pergi."


~


"Evan, kita kembali ke Oklahoma." Ucap Daren.


"Baik sir." Evan hanya mengikuti apa yang diucapkan oleh tuannya meskipun dalam hati Evan masih bertanya-tanya mengapa tuannya memegang mayat istrinya dan membawanya ke villanya di Oklahoma.


Evan adalah ajudan dan orang kepercayaan Daren, usianya tiga tahun lebih tua dari Daren tetapi sejak usia Daren begitu muda dia sudah menjadi orang kepercayaan Daren. Evan memperbaiki gagang kacamatanya tetapi sesekali melirik apa yang dilakukan daren, dia berbicara kepada tubuh lexia yang telah tiada.


Perjalanan jauh kembali di tempuh oleh Daren, dari Manhattan ke Oklahoma di Tulas, dan akhirnya mereka tiba di villanya.


Sesampainya di villa, Daren membaringkan tubuh lexia di atas tempat tidur, tanpa letih sedikitpun dia membersihkan tubuh lexia dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Karena letih, Daren membaringkan tubuhnya di samping lexia dan memeluknya erat lalu tertidur pulas.


Evan membuka kamar tuannya perlahan dan menatap nanar dengan ekspresi sedih di wajahnya, entah bagaimana caranya menjelaskan kepada Daren bahwa lexia telah tiada, dia kembali menutup pintu itu dan membiarkan Daren bersama lexia di saat-saat terakhirnya, pikir Evan.


Tubuh itu mulai bergerak, panas di tubuhnya mulai terasa karena pelukan daren yang terasa melilitnya. 'Ugh berat sekali.' batin lexia.


'Ck aku ketiduran, aku begitu letih dan sedikit demam', perlahan-lahan lexia membuka kedua matanya dan menatap Daren yang sedang tertidur pulas, dia menatap dirinya, tubuhnya sudah bersih dan bajunya sudah diganti oleh Daren.


Seseorang membuka pintu kamarnya, mereka saling bertatapan, Evan terjatuh manakala melihat lexia telah duduk di samping daren dan melambai kepadanya.


"Di..dia bangun, kenapa, kenapa dia bangun apa dia hantu?" Ucapnya, lalu berlari turun kelantai satu. Lexia menatap Daren dan berbaring di sebelahnya.


"Ugh, Aku yang bangun, Daren yang tidur, ck apa perlu kubangunkan ya?" Ucap lexia memencet hidung Daren dan mengecupnya lalu terkikik karena dia menjepit hidung Daren hingga ia mengeluarkan bunyi yang aneh yang keluar dari hidungnya.


Daren terbangun dan perlahan membuka matanya, dia masih mengantuk tetapi dia kesusahan mengambil napas. Matanya memandang lexia yang terkikik. Daren tiba-tiba terduduk dia menarik tubuh lexia dan memegang kedua pipinya.


"Syukurlah kau sudah bangun sayang aku sangat mencemaskanmu, aku seperti gila ketika melihatmu terbujur kaku di sana, meskipun lovelia memberitahukan jika kau meminum obat itu tetapi merasakan tubuhmu yang kaku dan mulai dingin membuatku.....


Daren terdiam, Daren yang biasanya tenang dan terlihat begitu kuat dan arogan kini nampak rapuh di hadapan lexia.


"Aku baik-baik saja Daren." Bisik lexia, dia memeluk tubuh Daren yang gemetar dan memeluknya erat di tubuhnya. "Ide cemerlang ini berasal dari lovelia jadi tuan Robert tidak bisa menyalahkan aku dengan kebohongan kali ini." ucap lexia.


Daren menarik wajah lexia dan mengecup seluruh wajahnya satu persatu, lalu berakhir di bibirnya yang membuka. "Aku tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi, aku akan melindungimu lexia." ucap Daren menarik tubuh lexia di pelukannya.


~


Wajahnya terlihat lebam, ada bercak darah di kerah bajunya karena tamparan keras Daren, dia begitu sakit hati dan sangat marah, sesampainya di mansion dia mendapati pengacaranya telah menunggunya di ruang tamu. Barbara menatapnya dengan heran.


"Ada apa tuan Andres mengapa anda datang kemari?" ucapnya.


"Sebelumnya saya ingin anda membaca surat ini." Barbara membukanya dan seketika dia terkejut dan terguncang setelah membacanya.

__ADS_1


"Apa maksud semua ini tuan Andres?" tanyanya.


"Seluruh Aset nyonya sudah di pindah tangankan atas nama tuan Daren, ini permintaan dari tuan Daren sendiri, satu hal lagi yaitu nama belakang anda, kita perlu membicarakannya kembali." ucapnya.


__ADS_2