
Mobil Xaphier berhenti di depan mansion ayahnya, dia segera turun dari mobilnya dan masuk ke dalam mansion. Dia menemukan pamannya sedang berbisik-bisik di salah satu sudut di dekat koridor kosong, entah mengapa Xaphier mendekati pamannya dengan sembunyi-sembunyi dan mencoba mendengarkan percakapannya.
"Kau sudah membereskannya bukan?! Bagus ! Segera bereskan bukti-bukti sebelum mereka menyelidiki kasus ini dan satu lagi, mereka semua yang terlibat segera pergi dari negara ini, setidaknya selama beberapa tahun, jika sudah aman kalian bisa kembali." Ucapnya dia melengkungkan Senyumnya.
Dia berbalik dan terkejut karena Xaphier berdiri di sana dengan pandangan tajam menatap pamannya.
"Xaphier?! Apa yang kau lakukan di tempat ini aku baru saja......
"Jadi, semua yang terjadi karena ulah paman !" Bentak Xaphier begitu murka, dia tergagap kemudian maju beberapa langkah menarik tangan Xaphier dan mencari kamar kosong agar dia bisa berbicara dengan tenang tanpa ada yang mendengarkan pembicaraannya.
"Semua ini kulakukan untukmu Xaphier, aku tidak mau kau kehilangan segalanya hanya karena kedatangan gadis kecil itu." Wajah bulat Thomas mendelik menatap Xaphier.
"Jika anak itu tiba-tiba hadir ketika ayahnya sudah begitu tua, kita semua pasti akan berpikir seluruh aset dan harta kekayaan tuan caesaar akan di berikannya kepada anak kandungnya sendiri bukan kepadamu." Ucap Thomas meyakinkan Xaphier yang terlihat Sebentar lagi akan mengamuk.
"Semua... semua itu untuk dirimu Xaphier, paman melakukan semua ini hanya untukmu." Ucapnya.
Xaphier menghembuskan tangannya ke samping. "Bukan ! Bukan untukku kau melakukan semua ini karena hanya kepentingan dan keegoisanmu saja, jika kau memikirkanku kau pasti tidak akan membiarkan orang yang kusayangi pergi meninggalkan aku secepat itu, gara-gara paman menculik Celia, ibu yang baru kumiliki dengan cepat pergi meninggalkan aku dan kini kau ingin menghilangkan Celia juga?" Geram Xaphier begitu murka.
~
Pagi itu Daren sama sekali belum kembali untuk sekedar berganti baju, dia masih mencari keberadaan lexia yang entah dimana, sekali lagi dia mengelilingi lokasi tempat mobilnya jatuh dan dia tidak menemukan apapun. Dia menelepon evan dan segera menjemputnya di tempat yang di tunjukkan.
Daren duduk di sisi jalan, tubuhnya kembali bergetar, apa yang harus dia lakukan jika dia tidak menemukan lexia? Bagaimana hidupnya jika tanpa lexia?" Berpikir seperti itu membuat Daren menggigil, tidak lama kemudian mobil yang dikendarai Evan telah tiba dan segera masuk ke dalam mobilnya.
"Sir, anda baik-baik saja?" Tanya Evan melihat Daren berantakan dengan bercak darah masih melekat di kemejanya. "Sir, kami menangkap gambar wajah seseorang yang pernah mengintai villa, ada beberapa orang yang tertangkap cctv saat itu."
"Bagus ! Segera selidiki mereka semua, temukan sampai berhasil, Mereka harus mendapatkan pembalasanku." Ucap Daren. "Kita harus segera menemukan keberadaan lexia, sekarang ! Aku tidak ingin menunggu lama " Ucapnya.
"Baik sir."
~
Pintu itu terbuka dengan begitu keras, wajah murka tuan caesaar terlihat mengerikan, dia melangkah mendekati Thomas dan segera memberikan satu pukulan di wajahnya hingga dia jatuh di lantai.
"Kau sama sekali tidak berubah Thomas, karenamu...KARENAMU AKU KEHILANGAN ISTRI DAN PUTRIKU." Teriak tuan caesaar. Sekali lagi dia memukul wajah Thomas, dia cukup kuat untuk menahan serangan tuan caesaar, dia terduduk di lantai dan menatap tajam ke arah tuan caesaar.
"Kau tidak pantas berada di keluargaku " ucap tuan Caesaar. Beberapa pengawal sudah berdiri di sana dan ingin membawanya tetapi Xaphier menahannya.
"Tahan !" Ucap Daren, dia berbalik dari wajah pamannya. Dia sedikit menunduk dan berbicara kepadanya. "Dimana Celia paman? Katakan dimana paman menyembunyikan celia !" Desisnya. Tanpa penyesalan pamannya tersenyum.
"Dia sudah tiada, dia telah jatuh ke jurang dan...."
"Bukan ! Wanita yang masuk ke dalam jurang bukanlah Celia tapi orang lain, katakan kepadaku siapa komplotan yang telah mengintai villa Daren selama ini. Katakan kepadaku !"
Wajah Thomas memerah, 'mereka membohongiku? Mereka memang tidak berguna, sial !' gumamnya.
Xaphier menggelengkan kepalanya, "jadi selama ini kau hanyalah paman yang tidak berguna yang selalu berada di sampingku. Bawa dia !" Ucap Xaphier. akhirnya Pengawal-pengawal itu membawanya.
"Aku harus segera mencari Celia, ayah ! Dia dalam bahaya." Ucapnya kepada tuan caesaar. Dia memegang dadanya yang sakit setelah kepergian Xaphier.
__ADS_1
"Tuan caesaar anda baik-baik saja? ucap salah satu pelayan dan membawanya ke ruang istirahatnya. "Aku baik-baik saja, aku hanya ingin istirahat sebentar saja." Ucap tuan Caesaar.
Sejak saat itu pencarian terus dilakukan, Xaphier memaksa pamannya agar memberitahu orang-orang yang telah terlibat dengan kejadian ini, begitupun Daren tiada henti mencari keberadaan lexia.
~
~
Pinggiran kota Tulas,
Lima bulan telah berlalu sejak kejadian yang menimpa lexia, sekarang perutnya sudah membesar, lexia masih tinggal di Samping rumah nyonya Elma yang hidup seorang diri tetapi dia di temani oleh anak-anak asuhnya, mereka semua sangat menyayangi Elma seperti orang tua kandung mereka sendiri.
Lexia tinggal di rumah kecil itu, meskipun kecil namun tempat itu sungguh indah dan asri, lexia menanam bunga-bunga di sekitar halamannya sehingga bunga-bunga tumbuh subur di pekarangannya.
"Lexia, lexia ini untukmu, bunga ini aku petik sendiri di sekolah." Ucap eric malu-malu, Eric kecil itu berusia 5 tahun dan sangat menyukai lexia, setiap sepulang dari sekolah dia pasti memberikan bunga kepada lexia, setelah itu lexia memberikan biskuit kepada Eric, dia akan melompat senang jika lexia menyuruhnya untuk makan siang bersamanya.
Nyonya Elma menghampiri lexia yang sedang menata bunga di halaman rumahnya sambil bersenandung. Dia berbalik ketika melihatnya berdiri di samping tiang rumah. Lexia lalu tersenyum menatapnya.
"Lexia kau belum menghubungi suamimu?" Tanyanya.
Lexia menghentikan kegiatannya. "Aku...lupa nomor teleponnya." Ucapnya berbohong dan menggaruk hidungnya yang tidak gatal. Dia belum bisa kembali karena takut jika orang-orang itu masih mengejarnya dan akan membunuhnya.
"Tapi ini sudah lima bulan sayang dan kandunganmu sudah semakin besar, kau membutuhkan suamimu sayang, bagaimana dengan suamimu? dia tidak menghubungimu? Tanyanya. Lexia hanya tersenyum tipis tidak memberikan jawaban kepada nyonya Elma. Lexia menghembuskan napasnya dan duduk di salah satu kursi kosong, dia menatap bunga-bunga indah yang ada di hadapannya.
"Aku merindukanmu Daren." Bisik lexia sambil menatap langit yang cerah.
~
Sudah Lima bulan Daren berpisah dengan lexia, tetapi dia tidak berputus asa mencari keberadaan lexia, sewaktu daren menemukan pelaku yang menculik lexia, salah satu penculiknya mengaku jika dia tidak memiliki niat untuk membunuh lexia, dia melepaskan lexia karena dia sama dengan istrinya yang sama-sama hamil, jadi dia menyuruhnya untuk bersembunyi sejauh mungkin sampai keadaan aman kembali.
Daren mencoba mendatangi rumah kumuh milik kakek dan nenek lexia di lokasi pembuangan sampah terbesar di kota itu, tetapi tidak ada apapun di sana. Daren memutar mobilnya dan akan kembali ke villanya tiba-tiba Xaphier menghubungi daren.
"Halo Daren kau ada di mana?" Tanyanya.
"Aku sedang berada di mobil, aku akan segera kembali ke villa." Jawab Daren.
"Aku ingin menanyakan sesuatu, apakah lexia waktu itu mengenakan kalung yang kuberikan sewaktu kejadian itu terjadi?" Tanyanya.
Daren mengernyitkan dahinya. "Aku yang menyimpan kalung itu Xaphier, lexia tidak mungkin mengenakannya." Ucap Daren.
"Kenapa kau yang menyimpannya? aku kan memberikannya kepada lexia?" Daren setengah tersenyum mengingat raut wajah lexia yang cemberut ketika kalung itu diambil dari tangannya.
"Ada apa dengan kalung itu?" Tanyanya.
"Aku sudah menyelipkan alat pelacak di kalung yang kuberikan kepada lexia, aku memberikannya kepada lexia karena dia pernah menghilang sewaktu kecil dan ternyata kejadian itu terulang kembali." Ucap Xaphier.
"Aku akan memeriksanya ketika aku sampai di villa." Ucap Daren lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke villa.
~
__ADS_1
Gadis yang sedang berdiri di depan cermin dengan wajah cantik bermata hijau itu mengenakan dress berwarna pink lembut nan indah tengah berdiri sambil memperhatikan dirinya lalu berputar di depan cermin. Dia sangat bersyukur karena lovelia sudah sembuh dari sakitnya, kali ini dia bisa keluar dari rumah, bahkan pergi ke pesta pun dia bisa, kulitnya kembali normal.
Pintu itu membuka, nampak wajah Barbara yang semakin menua berdiri di ambang pintu sambil tersenyum memperhatikan putri cantiknya.
"Kau sudah siap? Kita berangkat sekarang." Ucap Barbara dengan wajah sumringah melihat kecantikan putrinya. Kali ini dia mengharapkan lovelia dapat bertemu pria mapan yang tampan di pesta itu.
Mereka masuk ke dalam mobil dan segera menuju ke sebuah pesta yang di adakan oleh keluarga besar dari teman Barbara, dia pemilik berlian terbesar di new York. "Mommy apakah paman Alvin juga akan datang ke pesta itu?" Tanyanya.
"Sepertinya tidak, mungkin dia sedang sibuk bersama dengan Daren mencari keberadaan lexia, entah mengapa aku masih belum menyukai gadis itu padahal aku sudah tahu dia putri salah satu orang paling terkenal di Milan. Ugh, entahlah berhenti bicara lovelia kepala ibu pusing, apalagi sebentar aku harus berbasa basi dengan Nyonya-nyonya yang ada di sana, membuat kepala ibu tambah sakit.
Lovelia menatap jalanan padat di luar jendela kaca mobilnya dan menatap orang-orang yang berlalu lalang, wajahnya sedikit kecewa dia mengharapkan paman Alvin datang ke pesta itu.
~
Daren tiba di villanya dengan berjalan tergesa-gesa, setelah itu dengan cepat dia naik ke lantai 2 dan memeriksa tempat penyimpanan kalung yang diberikan Xaphier, dia membuka kotak beludru itu dan ternyata isinya kosong, Daren begitu terkejut, kotak itu jatuh begitu saja dari tangannya. Daren segera mengambil ponselnya dan menghubungi Xaphier.
"Lexia mengenakan kalung itu, beritahu aku Xaphier di mana lokasi lexia saat ini !"
~
Gadis bermata biru itu baru saja pulang dari tempat kerjanya dan segera menyimpan tas di kamarnya, lalu segera membantu bibi Elma menyiapkan makan siang. Dia mencari-cari bibi Elma di dapur itu tetapi hanya lexia saja yang ada di sana sambil mengaduk sup di panci.
"Lexia? kenapa kau yang masak?" Apakah perutmu tidak sakit lagi? Berikan padaku sendok itu, kau harusnya duduk dan jangan banyak bergerak, semalam perutmu sakit bukan?"
Lexia mengangguk dan tersenyum tipis. "Bibi Elma sedang ke pasar, kali ini aku tidak bisa membantunya." Ucap lexia duduk sambil mengelus perutnya yang sekarang sudah cukup besar. Gadis itu menghela napasnya ketika melihat piring dan gelas yang belum dicuci bertebaran di westafel .
"Anak-anak nakal itu tidak membereskan peralatan makannya Sebelum ke sekolah." Ucapnya.
Lexia menatap wajah cantik gadis berusia sama dengannya, kulitnya begitu pucat namun cantik dan bening, matanya berwarna biru laut dengan hidung yang mungil dan cantik, rambutnya berwarna coklat yang dalam sangat kontras dengan kulitnya.
"Nara, bagaimana kalau kita nanti berjalan-jalan di tepi sungai sore ini?" Ucap lexia sambil menyiapkan segala peralatan makan di meja makan. Nara tersenyum manis kemudian mengangguk.
Setelah makan siang mereka berdua berjalan-jalan di dekat sungai yang di penuhi dengan bermacam-macam bunga yang indah, lexia yang akhir-akhir sangat suka akan bunga tersenyum senang sambil memegang perutnya lalu memetik bunga berwarna pink dan menghirup wanginya. Dress panjang selutut berwarna putih dipadukan dengan sweater berwarna putih menambah kecantikan lexia sore itu.
"Nara, apa sebaiknya kita memetik beberapa tangkai bunga dan menghiasi meja makan malam ini? Aku pikir akan...." lexia tiba-tiba berbalik karena mendengar langkah kaki yang berat sedang menghampirinya. Daren kini memandangnya, wajah yang begitu di rindukannya tengah memandangnya penuh dengan kerinduan. Lexia mengerjap, wajah tampan Daren sedang berdiri di hadapannya.
"Da..Daren?" Ucap lexia. Dia berkedip beberapa kali ingin memastikan bahwa pria yang dicintainya itu betul-betul Daren yang tengah berdiri dihadapannya.
Wajahnya terlihat marah, dia berjalan menuju lexia, ketika jarak tidak ada lagi diantara mereka, Daren mengangkat tangannya dan membelai wajah cantik lexia.
"Kau membuatku menunggu terlalu lama lexia, kau membuatku mencarimu seperti ingin membuatku gila, kau tidak memikirkan perasaanku yang mencari-carimu tidak tentu arah, aku sangat mencemaskanmu lexia." Ucap daren keras.
Napasnya memburu, rahangnya tertarik mengencang karena menahan kemarahannya, dengan kasar dia menarik tubuh lexia dan memeluknya dengan erat. Pelukan Daren sampai-sampai membuat lexia sesak dan kakinya terangkat sampai tidak menyentuh tanah.
Dia melepaskan pelukannya, dan menatap wajah lexia. "Aku mencintaimu." Bisik daren, lexia mendekatkan wajahnya, tanpa menunggu lama Daren memberikan ciumannya kepada lexia, ciuman daren yang dalam membuat lexia kesulitan bernapas dan tubuhnya terangkat hingga tidak menapaki tanah kembali.
Xaphier berdiri tidak jauh dari keberadaan Lexia dan daren, di sampingnya Nara sedang berdiri juga di sana dan memandang siaran langsung adegan Daren dan lexia sedang berciuman. Dia menelan ludahnya, mata birunya melotot menatap keduanya seakan saling memakan wajah satu sama lainnya.
"Lexia hebat ! Dia punya suami yang begitu tampan iya kan?" Ucap Nara sambil mendongakkan kepalanya kepada Xaphier yang berdiri di sampingnya. Xaphier hanya menaikkan satu alisnya dan bertanya kepada Nara.
__ADS_1
"Berapa usiamu?" Tanyanya.
"Usiaku sama dengan lexia koq, tapi Lexia hebat begitu muda dia sudah memiliki suami yang tampan dan akan memiliki bayi, dia sungguh beruntung." Senyum tulus Nara membuat Xaphier melirik ke wajah cantiknya.