The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part Dazon : 45


__ADS_3

Siang itu mobil dazon sudah berada di salah satu hotel terkenal di Atlanta. Dia segera keluar dan segera menuju keruangan VVIP di tempat ayah ibu dan adiknya berada. Manager hotel yang mengenal dengan sosok dazon, kembali muncul di hadapannya dan menyambutnya dengan tersenyum lebar, seakan dazon datang ke hotel itu untuk bertemu dengannya.


"Tuan Caesaar anda kembali lagi." Ucapnya dengan nada suara menyiratkan keakraban di antara mereka.


"Saya akan mengantar anda menemui keluarga anda, dia berada di ruangan golden Suite special di hotel kami." Dazon tidak menjawab pertanyaannya, dia berdiri di sana, seakan memikirkan sesuatu yang lain, dia berjalan dibentengi pengawal-pengawalnya.


Dengan senang hati wanita bernama Audy berjalan di hadapannya dan memberikan jalan kepada dazon beserta keempat pengawalnya.


Mereka masuk ke dalam lift, senyum sumringah terpampang di wajah wanita itu, dia sangat senang mengambil kesempatan berharga untuk dekat kepada tuan Caesaar. Dia sudah lama mengagumi sosok Dazon Caesaar, sejak pertama kali dia melihat wajahnya di majalah ternama pengusaha-pengusaha terkenal di Atlanta.


Bunyi lift berdentang, dia segera keluar dan menunjukkan jalan kepada dazon yang berjalan sambil sesekali mengecek ponselnya.


Sebuah pintu besar dengan warna gold dan coklat berpadu di satu-satunya ruangan di tempat itu. Dazon berjalan tanpa sedikitpun menatap wanita itu yang masih berdiri di sana.


"Kau boleh pergi." Ucap Loue kepadanya.


"Ah, oh ya baik." Jawabnya.


Salah satu pengawal membukakan pintu untuk tuannya dan kembali menutupnya, sedangkan wanita itu terus berdiri di sana, menengok ke dalam, seakan ingin sekali bergabung dengan keluarga itu dan melayaninya, dia ingin menunjukkan keprofesionalannya dalam melayani mereka, tetapi pandangan tajam loue membuatnya sedikit menciut dan segera saja pergi dari tempat itu.


Dia berjalan sambil tersenyum sumringah, bahunya berguncang ketika dia menautkan kedua tangannya, "Setidaknya aku bisa sedikit lebih dekat dan berbincang dengannya, ukh aku sialan beruntung." Pekiknya sambil meninju udara.


~


~


Hanna kini memegang ponselnya, ketika dia sarapan, salah satu pengawal memberikan tas dan ponselnya pagi itu.


Hanna tentu saja sangat senang menerimanya, dia segera membuka-buka ponselnya, dan melihat banyak sekali panggilan masuk dari Yessy, tetapi dia berhenti memberi pesan dan meneleponnya beberapa minggu yang lalu.


Hanna membaca satu persatu pesannya dan tak terasa air matanya berjatuhan, dia menutup mulutnya agar pengawal di luar kamarnya tidak mendengarnya menangis, bahunya berguncang ketika melihat pesan terakhirnya.


"Hanna ! Kau dimana, aku sangat khawatir, aku sudah mencarimu dan mengelilingi kota Atlanta, beri aku jawaban atau aku betul-betul akan marah padamu."


Pesan itu sudah lama terkirim, dan pesan terakhir dari yessy, membuat Hanna ketakutan.


"Hanna, seseorang mengikutiku, aku takut, aku mungkin tidak akan selamat, aku sedang sembunyi di gudang minuman, sial ! Dia datang."


Jantung Hanna berpacu, dia begitu ketakutan, hanna menangis sambil menjatuhkan ponselnya di lantai. Tubuhnya berguncang karena dia telah kehilangan sahabat yang paling berarti dalam hidupnya.


"Maafkan aku yessy, aku tidak bisa menolongmu." Bisik Hanna.


~


~


"Dimana wanitamu daz? Kupikir kau akan membawanya." Tanya Xaphier ketika mereka semua makan siang.


Nara menatap xaphier dengan penuh arti, agar dia berhenti mencekcoki urusan putranya, karena jika waktunya tiba, dia pasti akan membawanya.


"Alice jangan main ponsel ketika kita sedang makan !" Tegur Dazon kepada adiknya.


Wajah adiknya menjadi cemberut, dia lebih mendengarkan perkataan kakaknya di bandingkan perkataan ayah dan ibunya, setidaknya ada seseorang yang membuatnya mendengar, karena alice keras kepalanya bukan main, dia hanya takut dan mendengarkan ucapan kakaknya.


"Oky, ok aku hanya mengirim pesan dengan Alexa, katanya dia akan berkunjung ke eropa bersama ayah dan ibunya, bibi lexia dan paman daren, kak Ax sekeluarga juga akan datang, dan dia memintaku untuk datang." Ucap alice lalu mulai makan.


"Benarkah? Ah Ya, tentu saja mereka semua akan datang, sebentar lagi kan ulang tahun Ayah, kita semua akan datang dan berangkat ke sana, dan dazon jangan cari alasan lagi, kau akan ikut kami, tidak ada alasan lagi sesibuk apapun dirimu, kalau kau begitu mengkhawatirkan wanitamu, kau bawa saja dia denganmu, agar kami juga dapat mengenalnya." Ucap Xaphier, menunjuk putranya dengan garpu.


"Okey Dad, aku akan datang koq." Ucap Dazon tidak memandang ayahnya, dia mau menghentikan pembicaraan mengenai wanitanya.


~


"Sudah kau temukan dimana Hanna Tan sekarang?" Tanya detektif rainy kepada Nick yang masih memeriksa berkas-berkas.


"Kebetulan yang menguntungkan bahwa dalam satu gedung, adik dan kakak itu tinggal bersebelahan tanpa mengetahui identitas masing-masing, meskipun bisa saya katakan setiap malam hanna pasti di takut-takuti oleh Riel, karena di sepanjang dindingnya di penuhi cakaran panjang, tetapi uniknya riel tidak membunuhnya."


"Tentu tidak nick, dia bukan berambut pirang, warna pada rambut mereka pun hampir sama, coklat kehitaman, jadi secara instingnya dia tidak merasa terancam dan terganggu dengan keberadaan Hanna sebagai tetangga rumahnya."


"Yah, kau mungkin benar Rainey, tetapi yang menjadi misteri bagiku, mengapa dia bekerja di keluarga Caesaar? Apa yang membuatnya memilih menjadi seorang pengawal di sana." Ucap detektif Nick.


"Mungkin kebetulan saja," ucap detektif Rainey.


"Tidak, tentu saja itu bukan karena kebetulan Rainey, karena dia menyerang anggota keluarga Caesaar, meskipun bukan Tuan Dazon Caesaar secara langsung yang dia serang, tetapi kerabatnya yaitu Daneil Robert, apa tujuannya." Ucap detektif nick sambil mengetuk-ngetukkan pulpen di atas meja.


"Nanti kita pikirkan dan telusuri lagi Nick, sekarang ayo kita makan, aku sangat lapar."


~


~


Pukul 21.15 Penthouse D.z


Hanna seorang diri sedang makan malam, sesekali dia menatap ponselnya, matanya terlihat masih sembab karena menangis seharian, dia mengeluarkan semua tangisnya, entah mengapa setelah menangis seharian, membuatnya sedikit lebih baik.


Pintu ruangan itu terbuka, dazon baru saja tiba, matanya langsung tertuju kepada Hanna yang sedang makan dan sibuk main ponsel dalam satu waktu. Dazon mengernyitkan alisnya, alice juga seperti dia, bermain ponsel sambil makan, dan hal itu mengganggunya.


"Kau sangat sibuk dengan ponselmu sampai-sampai kau tidak menyadari kedatanganku." Ucap dazon, dia kemudian melepaskan jasnya dan melonggarkan dasinya lalu menghampiri hanna memberikan kecupan singkatnya.


"Kau baru makan malam sekarang?" Tanyanya.

__ADS_1


Dia memeluk hanna dari belakang, mengurung tubuhnya dan duduk di kursi itu bersama Hanna.


"Aku tidak mendengar kedatanganmu, aku yang meminta mereka menyediakan makan malam pada jam seperti ini, tadi aku hanya malas makan." Ucap hanna, memalingkan wajahnya dari dazon yang tepat berada di samping wajahnya.


Dazon memperhatikan mata Hanna yang merah. "Mengapa matamu sembab? Kau menangis." Tanyanya.


"Ti..tidak aku tidak menangis." Ucap hanna memalingkan wajahnya.


"Jangan berbohong Hanna, apa yang membuatmu menangis, katakan padaku." Bisik dazon sesekali memberikan kecupan di sekitar rahang dan sudut bibir Hanna dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Hanna.


"Katakan kepadaku, apa yang membuatmu menangis dan jangan coba berbohong padaku." Ucap dazon dengan suara teredam di leher Hanna, dia masih menyembunyikan wajahnya dalam-dalam di sana.


Hanna memekik ketika dazon menggigit kecil lehernya. Mendegar suara hanna yang tertahan, dazon tertawa, bahunya berguncang.


"Kau lucu hanna sayang, keluarkan saja desahanmu atau rintihanmu jika kau ingin, jangan menahannya."


Bisik Dazon masih bermain-main di sana.


Hanna ingin melepaskan rengkuhan dazon, dia tidak mau larut dan menikmati dekapan darinya, dia tidak ingin hatinya nanti terluka jika dia terlanjur mencintai pria ini.


"Bu..bukankah kau harus mandi? Dan makan malam." Ucap hanna menjauhkan lehernya dari dazon.


"Ck, sebentar, aku ingin menikmati ini sebentar lagi, dan jangan bergerak-gerak hanna, aku tidak bisa menikmatinya, kau hanya boleh bersuara."


Hanna menipiskan bibirnya, pria egois ini hanya ingin memenuhi keinginan dan kepuasannya tanpa menggunakan perasaan, apakah semua pria seperti itu? Pikir hanna, ingin sekali dia menyikut tubuh Dazon yang kini duduk di belakangnya, dazon memeluknya erat, hanna tidak bisa menikmati makan malamnya jika dia tidak berhenti.


"A..aku harus makan, sebaiknya kau pergi mandi." Usir hanna.


"Hm..Ok, aku akan pergi." Dia kemudian berdiri dan beranjak dari kursi Hanna.


"Malam ini aku menginginkanmu Hanna, jadi bersiap-siaplah, tunggu aku di kamar." Perintah dazon.


Mata hanna membelalak mendengarnya. "Ti..tidak bisa, aku tidak bisa dazon." ucap hanna tergagap.


Dazon berbalik dan mengernyitkan alisnya, dia sedang melepaskan kancing kemejanya.


"Kenapa?" Tanyanya.


"Aku, aku sedang datang bulan, jadi aku tidak bisa, aku baru saja dapat pagi ini." Ucap hanna malu-malu, dia menunduk dan pipinya merona, dia sama sekali belum pernah berbagi mengenai masalah datang bulannya, hal yang paling privasi untuknya dan di bagi kepada seseorang, apalagi seorang pria, tetapi karena pria ini harus menerima penjelasan yang masuk akal, jadi hanna mau tidak mau, harus mengatakannya.


"Oh, ck berapa lama?" Tanyanya.


Mata hanna membulat, dia sangat jengkel dengan pertanyaannya, tetapi bagaimanapun dia harus menjawabnya. Tiba-tiba ide itu muncul begitu saja di kepalanya.


"20 hari." Ucap Hanna berbohong.


Mata Dazon menyipit, "Lama sekali, Apakah wanita jika datang bulan selama itu?" Ucapnya, alisnya berkerut merasa jengkel dengan keadaan Hanna.


"Ck baiklah, selama 20 hari aku akan tidur di kamarku, resikonya terlalu besar jika kita tidur bersama saat keadaanmu seperti itu, bisa saja aku menyerangmu dan tidak memperdulikan semuanya lagi." Ucap dazon, dia segera masuk ke kamarnya dan menuju ke kamar mandi.


Hanna meliriknya, dia kemudian menghembuskan napas lega, selama 20 hari, dia harus memikirkan cara lain menghindari dazon untuk memenuhi keinginannya.


~


~


Suara kaki melangkah terburu-buru, dia menaiki undakan batu menuju kantor Criminal Case, lalu mencari Nick yang lagi-lagi berada dalam ruangan data-data penting kasus kriminal besar.


Seseorang membuka pintu nyaris mendobraknya.


"Nick, kita ke pusat kepolisian Atlanta sekarang."


"Apa yang terjadi?"


"Riel, sepertinya mencoba menghabisi dirinya, di ruangan selnya di penuhi darah, pergelangan tangannya sobek, untungnya hari itu akan ada pemeriksaan, jadi nyawanya dapat di tolong."


Nick tiba-tiba berdiri, "kita ke sana sekarang." Ucapnya, mereka berdua menuju ke tempat ruang perawatan Riel di rumah sakit tahanan Kepolisian Atlanta, detektif nick sangat khawatir karena ambisi riel untuk hidup sangat besar, dia tidak mungkin ingin menghabisi nyawanya begitu saja, dia pasti memiliki rencana, sial ! Apa yang di rencanakannya.


~


~


Sosoknya terbaring di sana, tangannya sudah di obati dan dibalut dengan perban, dan sekarang dia tengah tertidur dengan penjagaan ketat dari pihak kepolisian.


Detektif Nick dan Rainey tiba di kamar khusus riel di tempatkan. Pintu sedikit terbuka, rupanya dokter sedang ada di dalam untuk memeriksa kondisinya. Tidak lama kemudian mereka keluar.


"Bagaimana keadaannya dokter?" Tanya detektif Nick.


"Beruntung nyawanya masih bisa di selamatkan, luka sayatannya cukup dalam, sedikit saja dia datang terlambat, dia akan kehilangan nyawanya." Ucap sang dokter.


Detektif Nick dan rainey segera masuk ke dalam ruangan dan menatap Riel yang tertidur.


"Bagaimana, apa kau sudah memeriksa dimana keberadaan adiknya." Tanya detektif rainey.


Detektif Nick menghembuskan napasnya.


"Sepertinya dia yang paling tahu keberadaan adiknya meskipun dia tidak tahu bahwa selama ini dia begitu dekat dengan adiknya sendiri." Ucap detektif Nick.


"Mungkinkah dia tahu?"

__ADS_1


"Dompet dan tasnya masih ada di dalam truck kopi di complex city tetapi setelah di periksa kembali sudah tidak ada lagi."


"Apakah dia yang mengambilnya sendiri?" Tanya detektif Rainey.


"Entahlah, nona Ana sepertinya telah pergi ke suatu tempat." Ucap detektif Nick, "sebaiknya kita tidak bicarakan di sini, kita kembali." Mereka berdua keluar dari ruangan itu dan menutup pintunya, perlahan kedua mata itu terbuka lebar, dia kemudian menggumamkan sesuatu.


"Truck kopi, complex city?" Bisiknya. Matanya tiba-tiba membelalak mengingat seorang wanita yang menjual kopi di pinggir jalan, dialah yang pernah menjemput wanita itu dan membawanya kepada tuan Dazon karena sepertinya tuannya itu menyukainya.


"Hanna Tan?" Gumamnya. Bibirnya tertarik sedikit seperti tersenyum, dia mengingat bagaimana Hanna berdiri di truck itu menunggu seseorang membeli kopinya.


"Adikku." Gumam Riel.


~


~


Milan, Mansion Caesaar


Penjagaan begitu ketat di setiap sudut mansion, tiga hari lagi putra dan putrinya serta seluruh keluarganya akan hadir di acara ulang tahunnya yang ke 85, dan sekaligus akan di adakan ulang tahun perusahaan besar-besaran Caesaar Corporation. Tuan Caesaar sedang duduk di ruangannya, dia sedang membaca beberapa berkas yang datang dari Manhattan.


Dia kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi dan menatap lacinya yang tertutup, dia menghembuskan napasnya dan melihat tanggal yang tertera di atas mejanya. Sudah begitu lama dia tidak membukanya, dia mengambil kunci kemudian membuka lacinya, dan mengambil dari dalam laci satu foto usang yang sudah lama di simpannya, dia kemudian menatap foto lama itu, menatap seseorang yang begitu setia kepadanya, hingga dia rela mengorbankan dirinya, hingga kehidupannya menjadi hancur.


Dahulu, ketika tuan Caesaar masih menjadi pimpinan besar bos mafia pada saat itu, dia memiliki seorang pengawal, dia adalah orang yang paling setia diantara para pengawal-pengawal lainnya, dia bahkan rela mengorbankan dirinya dan menjadi tameng untuknya. Suatu hari musuhnya menggunakan serum berbahaya yaitu racun yang sangat ganas dan keras, mereka ingin menghabisi tuan Caesaar dengan menyuntikkan serum berbahaya itu di tubuhnya.


Tetapi pengawal dan juga temannya itu rela mengorbankan dirinya hingga suntikan itu mengenai dirinya, hingga dia mengalami perubahan cukup besar, kesakitan terpancar di wajahnya, dia lebih memilih kematian menjemputnya di bandingkan harus menahan sakit yang menyerang tubuhnya, tetapi tuan Caesaar tidak menyerah, dia mengobatinya dan perlahan-lahan dia mulai membaik, setelah keadaannya cukup baik, dia mengundurkan diri menjadi pengawalnya dan dari dunia mafia yang berbahaya.


Dia ingin hidup normal dan membangun keluarganya sendiri, tetapi kenyataan berkata lain, kehidupan dan pola pikirnya berubah seketika akibat racun ganas yang di suntikkan di tubuhnya. Dia berubah menjadi seorang predator ganas, pembantai yang mengerikan, membunuh demi kepuasan, tanpa rasa bersalah, dia bahkan kehilangan hati sebagai seorang manusia.


"Ben Reaver, sudah lama aku tidak mengunjungi makamnya, dia pasti kecewa kepadaku, jangan khawatir aku akan memenuhi janjiku." Ucap tuan Caesaar.


~


~


Penthouse D.z pukul 07.15 pagi


Teleponnya berdering, dazon dengan malas menutup telinganya karena suaranya sungguh berisik, dia mengambil bantal dan menutup kepalanya dengan itu. "Ck, siapa pagi-pagi begini berani mengganggunya?" ucap dazon, mencari-cari ponselnya yang di letakkan di sampingnya di atas tempat tidur.


Dia menatap ponselnya, lalu melihat nama ayahnya tertera di sana.


"Ya Dad, aku sudah bangun." ucap dazon.


"Kami akan menunggumu, sebaiknya kau berangkat tepat waktu son , jadi sebaiknya kau bersiap-siap, ibumu akan sangat kecewa kalau kau tidak datang bersama kami." ucap sang ayah.


"Mm, Oky dad aku akan segera bersiap-siap."


Dazon segera berdiri dari pembaringannya, lalu segera masuk ke kamar mandi. Hari ini mereka sekeluarga akan berangkat ke Milan di italia, mungkin dazon akan berada di sana selama seminggu, jadi dia akan meninggalkan Hanna di penthousenya, sembari menunggu hanna menyelesaikan masa datang bulannya. Jadi, dia tidak perlu membawa Hanna ikut bersamanya.


Dazon sedang bersiap-siap di kamarnya, dia sedang mengenakan jasnya berwarna navy tatkala ponselnya kembali berdering.


"Ada apa Thom sepagi ini kau meneleponku, kau sudah sembuh?" tanyanya.


"Sir, ada sesuatu yang harus saya katakan kepada anda." Ucapnya.


"Ya, katakan kepadaku." Ucap Dazon berbicara sambil mengenakan dasinya, dia sedang menggunakan earphone ketika menjawab telepon Thomas.


"Saya mendengar jika anda akan berangkat ke Milan sir, erm sebaiknya anda membawa Nona Hanna bersama dengan anda." Ucap thomas.


Dazon mengernyitkan alisnya, "kenapa? apa yang terjadi." Ucap dazon, seketika kegiatannya terhenti.


"Sepertinya Kelompok Crounus mengetahui keberadaan Nona Hanna, saya tahu bagaimana mereka akan menyerang anda dengan mencari titik kelemahan anda Tuan, untuk itu sebaiknya anda membawanya ke Milan, mereka tidak berani menyerang anda di mana markas besar kita berpusat di Milan." Ucap Thomas.


Dazon terdiam, dirinya menjadi bimbang, jika dia membawa Hanna, ayahnya akan terus mencekcokinya dan mencari tahu latar belakang Hanna, bagaimana jika dia melakukan sesuatu kepadanya, ketika dia tahu Hanna hanyalah seorang penjual kopi di pinggir jalan, dan satu hal lagi, kakeknya, apakah dia akan menerima keadaan Hanna? Akhir-akhir ini ayahnya sedang sibuk memperkenalkan dirinya dengan rekan bisnisnya yang memiliki seorang putri.


Tetapi meninggalkan Hanna seorang diri di penthouse ini sungguh beresiko besar, jika dia lengah sedikit saja, kelompok Crounus akan bergerak dan menyakiti Hanna, maka dia tidak memiliki cara lain, dia harus membawanya bersamanya menuju Milan.


~


Hanna mengernyitkan alisnya ketika merasakan tubuhnya digerakkan dan geraman rendah terdengar berada di punggungnya.


"Bangun hanna, kita akan pergi, sekarang." Bisik dazon menyusupkan tangannya ke berbagai arah, membuat Hanna berjengit dan bangun seketika. Dia berbalik dan langsung membaui wangi dazon yan telah segar sehabis mandi.


Mereka saling menatap. "Kemana?" tanyanya.


"Aku akan membawamu ke Milan." Bisiknya.


"Kenapa? bukankah seluruh keluargamu hadir di sana?" tanyanya.


"Ya, mereka semua ada di sana."


"Lalu kenapa kau mau mengajakku? bukankah kau tidak ingin emm...memperkenalkan aku dengan mereka." Ucap Hanna dengan jantung yang berdegup kencang.


"Siapa yang bilang kita akan pergi bersama dengan mereka? Kita akan naik pesawat pribadiku, keluargaku bisa berangkat lebih dahulu." ucap Dazon.


Hati Hanna mencelos, apakah segitu tidak maunya kah dazon memperkenalkannya dengan keluarganya? Tch, apa yang kau harapkan Hanna, kau bukanlah Cinderella, yang dicintai oleh pangeran dengan segala kekuranganmu. kau hanyalah wanita simpanannya, kelak akan di tinggalkan, ketika dia telah menemukan wanita yang sepadan untuknya.


Ekspresi Hanna yang kecewa terlihat jelas, wajahnya sedih dan murung, dia merasa bodoh, selalu berharap pria ini betul-betul mencintainya.


"Kalau begitu aku harus mandi dan bersiap-siap." Ucap Hanna, dia bangun dari tempat tidurnya, mencoba menjauhi dazon yang intens memberikan ciuman-ciuman panjang menggoda.

__ADS_1


"Baiklah sayang, aku menunggumu di meja sarapan." Bisiknya, dia segera bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamar Hanna.


Hanna menghembuskan napasnya, kedekatannya dengan dazon membuat hatinya sedikit demi sedikit terbuka untuk pria itu, tetapi rupanya hanya dirinya sendiri yang merasakan hal itu, tidak dengan dazon, dia hanya menganggapnya sebagai wanita simpanannya saja.


__ADS_2