
~Perjalanan pulang ke Mansion Robert...
"Apa kau cukup senang sudah bertemu dengan lexia dan pamanmu?" Ucap Alvin sambil menatap wajah berseri lovelia yang duduk di sampingnya di pesawat, mereka akan kembali ke Manhattan siang itu juga. Lovelia balik menatap mata berwarna coklat indah yang balas menatapnya.
"Iya paman, aku sangat senang hari ini, terima kasih karena sudah mengajakku kemari." Lovelia yang selalu merona di kedua pipi cantiknya membuat Alvin terlihat gemas dengan keponakannya ini, melihat senyuman hadir menghiasi wajah gadis ini saja membuat Alvin begitu bahagia, hari-harinya diisi oleh lovelia yang selalu bersemangat menanyakan apa saja kepadanya, saking begitu lugunya dia menanyakan mengenai perasaan yang dipendam seorang gadis kepada seorang pria yang disukainya, meskipun Alvin pura-pura tidak mengerti bahwa pertanyaan itu menjurus kepadanya tetapi Alvin tahu perasaan lovelia yang menaruh hati kepadanya, karena itu dia begitu bimbang akan perasaannya sendiri.
"Paman?" Panggil lovelia seketika, dia mengangkat punggungnya yang bersandar agar dapat melihat dengan jelas wajah Alvin yang duduk di sebelahnya.
"Hem, ada apa Lovelia." Tanyanya. Lovelia memainkan jari-jarinya lalu sembunyi-sembunyi menatap Alvin dari balik bulu mata lentiknya.
"Emm, paman akan mengajakku lagi kan, kemanapun paman ingin pergi? Aku sangat suka berjalan-jalan apalagi mengunjungi kota-kota baru yang hanya kubaca melalui buku saja." Ucap lovelia dengan sedikit keberaniannya.
Alvin tersenyum. "Tentu Lovelia, kita bisa berjalan-jalan kemanapun kau ingin pergi." Alvin menarik sudut bibirnya tidak tahan dengan wajah lugu nan cantik yang diperlihatkan lovelia kepadanya.
~
Villa Tulas pukul 08.12,
Secangkir kopi dan sarapan sudah terhidang di meja makan pagi itu, pelayan juga sudah melakukan tugas bersih-bersihnya sebelum sang tuan rumah bangun dari tidurnya. Wangi kopi yang menyeruak di udara membuat lexia mengendus nikmat wangi itu meskipun dia sendiri tidak meminum kopi. Lexia membuka kedua matanya dan menatap bayi mungilnya yang masih tertidur pulas begitupun sang ayah.
Lexia mengecup Ax lalu bangkit dari tidurnya kemudian melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan dirinya dan berpakaian lengkap lexia kembali duduk di sisi tempat tidur untuk bermain-main dengan Ax karena rupanya dia sudah terbangun dari tidurnya. Terdengar ketukan dari pintu kamarnya membuat lexia melangkahkan kakinya lalu membuka pintu itu. Nampak wajah Evan sudah berdiri disana.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Nyonya, seorang wanita baru saja tiba, dia ada di pintu gerbang." ucapnya datar. Mendengar suara-suara dari luar dan merasakan gerakan Ax di sebelahnya membuat Daren membuka matanya.
"Seorang wanita? Kau menanyakan siapa nama wanita itu?" Tanya lexia.
"Namanya nyonya Imelda dia datang dari Mansion Tuan Caesaar." Seketika wajah lovelia berubah, tatapannya berubah menjadi tajam, Daren yang mendengarkan ucapan Evan lalu duduk dari pembaringannya, dia menatap dengan terkejut ketika evan menyebut nama wanita mengerikan itu.
"Jangan biarkan dia masuk, aku ingin berbicara dulu dengan Daren, tahan dia di Depan gerbang, wanita tua itu harus tahu siapa yang dia hadapi." Ucap lexia. Evan sedikit membungkuk dan pergi dari sana.
"Wanita itu gila." Ucap lexia duduk di kursi sambil menyilangkan dua tangan di tubuhnya. "Berani sekali dia datang kemari, padahal kita sudah menunjukan sikap permusuhan kepadanya, sepertinya dia menganggap enteng semua ucapanku." Cuping hidung lexia kembang kempis.
"Kau tidak akan membiarkan dia masuk? Tapi bagaimanapun dia sepupumu lexia, apa yang akan di katakan tuan Caesaar jika kita memperlakukannya seperti ini." Ucap Daren sambil setengah berbaring dan memegang tangan bayi kecilnya.
Lexia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, kemudian dia menelepon seseorang. "Halo, ini aku lexia, wanita itu datang ke villa kami pagi ini Xaphier." Ucap lexia kepada Xaphier.
"Jangan biarkan dia masuk?! Ehm ya aku setuju dengan idemu, katakan kepada ayah, jika dia mengadu nanti, wanita itu pasti sangat geram karena aku memperlakukannya seperti ini." Ucap lexia kepada Xaphier. Sementara lexia menelepon Daren mendengar semua pembicaraan adik kakak itu, sambil bermain dengan Ax.
"Baiklah, aku suka saranmu Xaphier, oke terima kasih." Lexia berusaha menenangkan dirinya, dia mengambil napas panjang agar dia bisa mengendalikan kemarahannya yang biasanya tidak bisa terkontrol.
"Apa yang dikatakan oleh Xaphier?" Tanyanya.
__ADS_1
"Katanya jangan biarkan dia masuk, karena sekali dia masuk ke villa ini, sangat sulit untuk mengusirnya, ck dia betul-betul wanita tua yang mengerikan." Ucap lexia berdiri dari jendela di kamarnya dan menatap dari kejauhan wanita yang tidak mau beranjak dari rumah mereka.
~
"Apa maksudmu aku tidak bisa masuk!" Bentak Melda dengan pandangan melotot, ini benar-benar penghinaan besar yang di terimanya selama hidupnya, berani sekali gadis ingusan itu memperlakukannya seperti ini.
"Katakan kepada nyonyamu, sikap kurang ajarnya akan aku laporkan kepada ayahnya dan kakaknya, aku tidak bisa menerima di perlakukan seperti ini, dia betul-betul rubah kecil." Ucap Melda dengan tangan terkepal kuat, bibir merahnya yang melekat di bibirnya begitu tipis seperti membentuk garis ketika dia menyebutkan nama lexia, tidak ada yang pernah memperlakukannya seperti ini begitu rendah bahkan ibunya saja menghormatinya selama dia tinggal bersama caesaar dia selalu menuruti ucapan Melda.
Dengan menahan amarahnya, Melda membalikkan badannya dan mulai melangkah menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh darinya, barang-barang yang dibawanya khusus untuk Ax dan Daren harus di bawanya kembali pulang, sebelum dia masuk, Melda menatap sekali lagi villa mewah yang berdiri kokoh itu dan seketika matanya membulat tatkala dia melihat lexia berdiri di sana memandangnya dengan terang-terangan.
Lexia tersenyum tipis, dia bersedekap memandang Melda dari kejauhan. "Kau harus menghadapiku Melda, dan aku akan membalas setiap perlakuanmu kepada ibuku dahulu." Mata safir itu begitu tajam menatap wanita di bawah sana, dengan menahan kemarahannya karena telah diusir terang-terangan oleh lexia, melda masuk ke dalam mobilnya, di kepalanya sudah terpatri beberapa rencana untuk melakukan pembalasan atas penghinaan yang di terimanya hari ini.
Setelah kepergian wanita itu lexia berdiri di sana, segala rencana-rencana sudah ada di kepalanya. Dia kemudian berbalik dan melihat Daren sudah berdiri di belakangnya, lalu menyipitkan matanya.
"Kau betul-betul menyukai tantangan lexia, bagaimana jika wanita itu membalas perbuatan kita hari ini?" Ucap Daren berjalan mendekati lexia lalu memberikan kecupan selamat pagi untuknya kemudian memeluknya erat.
"Hemm, bukankah serangan akan dibalas serangan pula? Aku suka tantangan Daren, jika dia bermaksud menyerangku, dia harus siap menerima serangan dariku juga, adil bukan?" Ucap lexia memainkan jemarinya di tubuh bidangnya dan berlama-lama bersandar di tempat favoritnya itu.
~
Pagi yang cerah menyambut datangnya sang mentari pagi di pinggiran kota Tulas di Oklahoma. hari itu perjalanan yang di tempuh Nara cukup jauh untuk kembali ke rumahnya, dia duduk di salah satu kursi di bus yang akan membawanya kembali ke tempat teramannya, wajah putih pucatnya membingkai di wajahnya, bibir merah meronanya yang selalu merona tanpa tersentuh polesan make up, mulutnya menguap karena rasa kantuk yang menyerangnya. Nara kembali mengingat-ingat pembicaraannya dengan pria yang akan menjadi bosnya di kantor, dia akan menjadi sekretaris pribadi Xaphier Caesaar, Nara tidak akan lupa wajah puas dan senyum mengejek Xaphier kepadanya.
"Dia pria angkuh dan arogan, aku tidak mengerti jalan pikirannya, apa maksudnya memperkerjakan aku yang sama sekali tidak memiliki pengalaman sebagai seorang sekretaris ini, tetapi dia menerimaku begitu saja, aku menerimanya begitu saja, bagaimana tidak? Aku sudah keluar dari pekerjaanku yang dulu, kalau aku tidak menerimanya, aku sama sekali tidak akan memiliki apapun untuk menghasilkan uang." Ucap Nara sambil memandang pemandangan dari luar bus yang akan membawanya pulang.
Bunyi ponsel yang terdengar dari tas nara mengalihkan perhatiannya dari lamunannya, dia mengernyitkan alisnya menatap nomor telepon yang tidak di kenalnya.
"Halo?"
"Bawa semua barang-barangmu ke alamat yang akan aku kirimkan, kau tidak akan bisa menjadi sekretaris pribadiku jika kau tinggal sangat jauh dariku, bawa kemari dan kau harus sudah ada di kantor jam 9 pagi ini, kau mengerti."
Dasar pria licik, dimana aku akan tinggal di kota itu? uangku saja tidak cukup untuk membeli kebutuhanku, bagaimana bisa aku menyewa rumah di kota besar itu.
"Baik, aku akan ada di sana tepat pukul 9 pagi ini." ucap Nara dengan nada tegas tanpa membantah perintahnya. Nara mematikan ponselnya, lalu menatap jam di pergelangan tangannya, masih jam 7 pagi, dia harus segera kembali ke rumahnya dan berkemas setelah itu dia akan kembali lagi ke kantor.
"Semoga yang kulakukan ini benar dengan bekerja pada pria arogan dan angkuh itu." ucap Nara yang mulai menekan tombol merah di sampingnya tanda dia telah sampai di tempat tujuan.
~
Xaphier baru saja tiba di apartemennya, dia mengambil gelas dan menuangkan minuman di gelasnya lalu meneguknya perlahan, dia melonggarkan dasinya yang masih rapi dan membuangnya di sembarang tempat, Xaphier mengambil ponselnya dari atas meja dan menatap nama yang tertera di ponsel itu, senyuman sinis terukir di wajah tampannya.
"Kita akan melihat kan Narana bagaimana caramu bekerja sebagai sekretaris pribadiku." dia menyilangkan kaki panjangnya di kursi empuknya sesekali menyesap minuman yang ada di tangannya.
"Narana Aaron's, kau akan tunduk di hadapanku dengan mudah." bisik Xaphier sambil tersenyum dan menutup matanya menunggu jam berputar hingga Nara akan datang dan menampakkan wajahnya.
__ADS_1
~
Lovelia sedang berada di kamarnya, dia baru saja selesai mandi dan mengenakan dressnya berwarna putih di padu dengan Cardigaan coklat, rambutnya panjang diikat tinggi ekor kuda hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang putih. Setelah selesai, lovelia keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah menunggu kakek dan pamannya untuk sarapan.
Alvin turun dari tangga rumahnya dan seperti biasa dia terlihat tampan, mengenakan Polo shirt berwarna biru langit dipadu dengan jeans, wajah tampannya nampak membuat lovelia terpesona.
"Pagi lovelia?" senyum Alvin lalu duduk di hadapannya sambil menuang secangkir kopi dan mengambil sandwich di depannya.
"Kau tidak makan?" Alvin menatap heran dengan lovelia yang sejak tadi duduk di sana tetapi tidak menyentuh makanan yang ada di hadapannya.
"Aku menunggu paman dan kakek." ucapnya sambil menatap Alvin yang masih menatapnya heran lalu menggeleng seperti tidak setuju dengan yang dilakukannya.
"Sudah kubilang lovelia, jangan menunggu kami, aku dan ayah kadang tidak sarapan, kami berdua sangat sibuk, kadang dalam beberapa hari aku tidak bertemu dengan ayah, bahkan akupun begitu jarang sarapan bersama ayah karena kami sama-sama sibuk, jadi kau harus makan tanpa aku dan ayah, kau mengerti?" Ucap Alvin menatap lovelia dengan wajah malu merona.
"Baik paman, tetapi aku ingin makan dengan seseorang, selama ini aku selalu makan sendirian, jadi aku suka menunggu paman untuk makan bersama." lovelia berbicara dengan suara sangat pelan menatap pamannya dengan malu-malu.
Alvin menghela napasnya, dia menatap wajah merah merona lovelia. "jika sifatmu seperti ini aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian lovelia." ucapnya sambil menyandarkan punggungnya di kursi.
~
Daren dan lexia sedang sarapan bersama di meja makannya seperti biasa, hari yang sibuk untuk Daren karena hari ini dia memiliki rapat dengan rekan-rekan bisnisnya pada jam 10 pagi ini.
"Kau akan ke Citytown?" tanyanya. Daren mengangguk sambil menyeruput kopinya. "Iya sayang, Albert meneleponku semalam katanya rekan bisnis kali ini sangat penting katanya."
"Hem, benarkah? jam berapa kau akan pulang, biasanya kau kan kerja di ruanganmu saja, dan Evan yang akan mengurus semuanya." ucap lexia mengkerucutkan mulutnya, dia tidak suka jika daren pergi terburu-buru seperti ini.
"Aku akan pulang secepatnya." Daren tersenyum lalu mengecup bibir lexia dan segera berangkat kerja bersama evan, lexia menatap mobil Daren menjauh melewati pelataran parkir mereka.
Ponselnya tiba-tiba saja berbunyi, lexia menatap nomor yang tidak di kenalnya di layar ponsel.
"Halo?"
"Kau pasti suka dengan hadiahku lexia sayang, tidak lama lagi kita akan bertemu kau suka atau tidak." ucap suara wanita yang terdengar mendesis itu.
Lexia berusaha menenangkan dirinya, wanita sialan ini tahu nomor teleponnya?
"Aku tidak peduli hadiah apa yang kau sediakan nona tua, sebaiknya kau menjauh dariku, aku begitu heran mengapa wanita licik dan culas sepertimu bisa menyelinap di keluarga Caesaar."
Melda mengumpat setelah mendengar apa yang dikatakan lexia, dia ingin merespon kata-kata lexia tapi Lexia menutup ponselnya begitu saja. Napasnya naik turun karena geram.
"Berani sekali nenek sihir itu." Lexia merasa cemas dengan kata-kata melda. "Hadiah? apa yang akan dilakukan wanita tua itu?" Dia sangat penasaran dan tidak tenang, dia lalu menghubungi Xaphier dan menjelaskan semuanya. Xaphier dengan cepat merespon ucapan lexia.
"Aku akan memerintahkan orang-orangku mengawasi melda, tunggu kabar dariku."
__ADS_1
Lexia menutup ponselnya, lalu kembali ke kamarnya dan duduk di samping putranya yang tertidur lelap dan menunggu kabar dari Xaphier.