The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Apartemen Alvin 2


__ADS_3

Malam itu lexia bermimpi buruk, dia tertangkap oleh tuan Robert dan memenjarakan dirinya atas kebohongan yang telah dia lakukan, Daren hanya menatapnya dari balik jeruji dengan tersenyum licik bersama kakaknya. Peluh membasahi punggung lexia, mimpi itu terasa nyata, lexia terkejut dan langsung duduk dan mengamati di sekelilingnya.


"Ukh, aku bermimpi." Ucap lexia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia beranjak dari tempat tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Dia memercikkan air yang mengalir dari westafel yang ada dihadapannya. Lexia menatap wajahnya yang terlihat pucat. "ugh, mengapa aku bermimpi buruk yang begitu nyata?" Dia melangkah Gontai hingga sampai ke tempat tidurnya dan kembali membaringkan tubuhnya yang lelah.


~


Teriakan daren begitu keras, beberapa penjaga berdiri dengan kaku di sana, tubuh sempurnanya tengah berdiri di tengah-tengah kamar lexia sambil menatap ruangan kosong yang sudah tidak berpenghuni itu. Kemarahan Daren dia tumpahkan dengan beberapa pukulan kepada para penjaga yang bertugas menjaga lexia.


"Cari. Dia. Sekarang." Ucap Daren dengan suara pelan mengancam.


"Sir, kami menemukan rekaman cctv ketika nona lexia keluar dari sini. Daren dan beberapa bodyguardnya pergi ke ruang kemanan di lantai satu. Daren menatap layar yang memperlihatkan lexia keluar dari kamarnya dan pergi melalui tangga darurat.


"Ada seseorang yang membantunya keluar dari sini, dan coba perhatikan ini sir." Dia menunjuk ke layar nomor 7. Rekaman itu memperlihatkan seorang wanita dengan lihainya dapat menjatuhkan beberapa penjaga di belakang dapur dan juga memperlihatkan lexia yang sedang memanjat tembok dibantu oleh wanita itu lalu akhirnya dia melompat dan kabur dari mansion Burchard.


"Cari identitas wanita yang membantu lexia." Ucap Daren. Tangannya mengepal dengan keras, dia begitu marah, selain karena lexia melarikan diri darinya juga karena dia sudah di tolak oleh lexia, dan itu membuatnya kesal.


"Tidak ada yang bisa menolakku lexia." Bisik daren lalu keluar dari mansion ingin segera mencari lexia dimanapun dia berada.


~


Silaunya cahaya yang masuk dari jendela kamar lexia membuatnya terbangun, dia menutup satu matanya karena silaunya matahari yang sudah menyinari tubuhnya.


"Siapa yang membuka tirai jendela sih?" Ucap lexia lalu memaksa tubuhnya untuk duduk dan mengucek kedua matanya.


Lexia menguap lalu meregangkan otot-otot tubuhnya. "Ugh aku masih ngantuk, ini dimana? Oh, ya aku berada di apartemen Alvin." Gumam lexia.


Dengan malas lexia berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi, setelah membersihkan dirinya, lexia keluar dari kamarnya dan menatap luasnya tempat itu, tetapi anehnya tidak ada seorangpun yang ada di sana.


"Tidak ada seorangpun di sini, tetapi sarapan sudah ada di atas meja makan." Ucap lexia lalu duduk di meja makan dan mengambil sandwich serta menuangkan teh di cangkirnya. Lexia menerawangi tempat itu, dia terkejut ketika seseorang menepuk pundak lexia.


"Pagi lexia." Ucapnya.

__ADS_1


"Pagi." Ucap lexia canggung.


"Bagaimana tidurmu lexia, kau pasti lelah karena perjalanannya jauh bukan?" Ucapnya sambil menarik kursi lalu duduk di hadapan lexia.


"Ya, aku lelah tapi tidurku nyenyak, dan tempat ini sangat besar dan mewah." Ucapan lexia membuat Alvin tertawa. "Ya, tempat ini hanya salah satu apartemenku yang jarang ku tempati, kau bisa sembunyi di sini selama yang kau inginkan." Ucapnya.


Lexia ternganga, "Sa..salah satu apartemenmu?" Memangnya dia punya berapa apartemen?


"Bolehkah aku bersembunyi selama yang kuinginkan?" Ucap lexia seraya melotot dengan wajah sumringah menatap Alvin yang lagi-lagi tertawa melihat reaksi lexia.


"Tentu lexia, selama yang kau inginkan."


"Bagus, kau tahu sangat sulit bersembunyi di tempat yang aman jika daren memutuskan mencariku, dia bahkan dapat menemukanku di sudut kota terpencil sekalipun." Ucapan lexia membuat Alvin menaikkan alisnya menaruh kecurigaan kepada Daren, untuk apa dia begitu gencar mencari lexia dan tidak pergi darinya, padahal ayahnya sudah mengetahui bagaimana kondisi lovelia apalagi ayahnya yang tampak sedih dengan cucunya itu begitu saja memaafkannya.


"Mengapa Daren tidak membiarkanmu pergi lexia?" Tanyanya.


Lexia menaruh kembali cangkirnya di atas meja lalu menatap Alvin dengan ragu. "itu...em aku juga tidak tahu mengapa dia....


Lexia menggeleng cepat, "tidak, aku tidak memiliki hubungan dengannya, hanya saja dia mengajakku menikah dengannya?" Ucapan lexia membuat Alvin terbatuk-batuk Karena sedang menyesap kopinya selagi lexia berbicara.


"Ap...apa katamu, menikah? Daren ingin menikahimu?" Ucap Alvin tidak percaya.


"Ya, seperti yang kau dengar, dia ingin menikah denganku, kupikir aku akan berakting lagi berpura-pura menjadi istrinya, tetapi daren bilang dia bersungguh-sungguh ingin menikahiku, tetapi bagaimana bisa aku menikah dengan sikapnya seperti....


"Apa kau menyukai Daren?" Alvin memotong pembicaraan lexia.


Lexia terkejut dengan pertanyaan itu.


"Mana mungkin aku menyukai pria mesum seperti dirinya, apalagi sikap arogan dan tukang perintah dan suka marah-marah itu...


"Kau menyukainya lexia." Senyum Alvin menatap lexia yang ragu-ragu dengan ucapannya.


"Tentu saja tidak, aku tidak menyukainya." Tegas lexia.

__ADS_1


Lexia membuang wajahnya ke samping, tentu saja aku tidak menyukainya, apa aku gila? Pikir lexia sambil bersungut-sungut.


Alvin tertawa mendengar ocehan lexia. "Baiklah aku anggap apa yang kau katakan itu benar lexia, tapi bagaimanapun perasaan tidak bisa di bohongi bukan? Meskipun mulut mengatakan tidak."


Lexia mengerutkan hidungnya ketika mendengar ucapnya Alvin.


"Jadi, apa yang harus aku lakukan selama bersembunyi di sini?" Ucap lexia menerawangi tempat yang luas di setiap ruang.


Alvin berpikir sebentar kemudian dia menjentikkan jarinya. "Kau bisa sekali-kali berjalan-jalan bersamaku, aku begitu bosan akhir-akhir ini." Ucapnya.


Lexia memperhatikan tingkah Alvin, meskipun usianya tidak begitu jauh berbeda dengan daren tetapi mengapa sifat mereka begitu berbeda, sikapnya yang bersahabat dan santai membuat lexia seakan-akan berbicara dengan Edo."


"Bagaimana aku bisa berjalan-jalan, kalau Daren mencariku dimana-mana, aku bisa saja ketahuan bodoh !" Lexia menutup mulutnya, lalu mengintip ke arah Alvin.


"Sorry, aku terbiasa dengan ucapan itu kepada temanku." Ucap lexia merasa sedikit bersalah.


"Haha, aku bisa mengerti itu, jangan khawatir lexia. Maksudku kau bisa menyamar ketika kita berjalan-jalan bersama, misalnya kau bisa menemaniku di suatu acara atau kita bisa pergi makan malam bersama, bagaimana?" Ucapnya antusias.


"Mm, boleh juga, aku juga bisa bosan jika hanya berdiam di sini untuk beberapa waktu, aku tidak tahu sampai kapan aku ada di sini."


"Apa kau punya tujuan? Maksudku kau ingin menemui keluargamu?"


"Aku tidak memiliki keluarga lain selain kakek dan nenekku, tapi aku punya teman koq." Ucap lexia sambil menyeruput tehnya yang sudah dingin.


"Ingat? Aku kan juga temanmu, jadi jangan sungkan-sungkan denganku lexia." Ucapnya sambil menunjuk dirinya.


"O..oke, ya terima kasih."


"Hari ini aku harus pergi kerja, nanti kita bertemu lagi lexia, anggap saja ini rumahmu, oh ya kalau kau bosan kau bisa membaca di perpustakaan, dan akan ada pelayan yang akan melayanimu selama kau ada di sini jadi jangan khawatir."


Alvin lalu beranjak dari kursinya dan segera mengenakan jasnya, dia tersenyum senang dan melambaikan tangannya kepada lexia dan akhirnya menghilang di balik pintu.


"Ugh aneh, kenapa dia baik sekali kepadaku? Di dunia ini mana ada yang gratis? Tapi sudahlah, hemm.. apa yang harus kukerjakan ya untuk hari ini?" Lexia berjalan ke jendela besar yang berada di lantai 77 lalu memandang pemandangan kota di Kawasan Williamsburg, dengan bangunan-bangunan yang tinggi menjulang di sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2