The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
'Celia'


__ADS_3

Rumah mewah bergaya Mediterania itu tengah sibuk karena berkumpulnya keluarga besar Caesar di Milan, dua hari yang lalu Xaphier telah kembali dari Milan setelah beberapa hari berada di sana, perjumpaan dengan kerabatnya di gelar dua kali dalam setahun karena ini pertemuan seluruh keluarga besar Caesar yang terkenal.


Xaphier telah tiba di kediaman ayahnya. dia memberikan perintah agar menutup semua akses masuk di kediamannya, setelah keluarga besar mereka berkumpul, ruangan itu di penuhi oleh kerabat xaphier mereka orang-orang sibuk, hingga untuk mengumpulkan seluruh keluarganya butuh waktu yang lama.


Mereka semua sedang menatap Caesar yang baru saja tiba, Caesar adalah pria tua berwibawa dengan wajah tampan yang masih membekas di wajah tuanya. Kharisma dari seorang Caesar membuatnya sangat di hormati.


"Lihatlah ayahmu Xaphier usia telah menangkapnya, jadi kau sebagai putra satu-satunya harusnya memikirkan keturunan Caesar ke depannya."


Caesar duduk dan memandang mereka yang saling berbicara mengenai pernikahan Daren lalu iapun menambahkan ketika mendengar pembicaraan mereka berdua.


"Pamanmu benar Xaphier sudah saatnya kau menikah dan memberikan cucu untukku, dan melanjutkan keturunan Caesar.


Xaphier tidak mengatakan apapun, dia hanya menyesap minumannya sesekali mendengarkan pembicaraan ayah dan pamannya. Ponselnya berbunyi dia kemudian membukanya dan melihat laporan hasil penyelidikan dari Paulo mengenai identitas gadis itu.


Sir ini identitas yang kami temukan tentang gadis itu, namanya lexia Kenzo, usianya sekarang 18 tahun dan sebentar lagi menginjak 19 tahun, sejak usia 4 tahun dia di rawat oleh kakek dan neneknya bernama Kenzo, lalu bekerja kepada keluarga Burchard, dia menggantikan cucu Juan Robert karena cucu yang seusia dengan lexia itu sakit-sakitan, tetapi karena penyamarannya telah terbongkar sehingga Daren putra keluarga Burchard membawanya lalu menikahinya.'


Xaphier mengerling ayahnya, kemudian melanjutkan membaca informasi dari Paulo.


'Orang tuanya tidak di ketahui sir, kami masih menyelidikinya.'


hanya itu informasi yang dikirimkan Paulo padanya, hal itu menambah kecurigaan Xaphier untuk menggali lebih dalam lagi mengenai lexia.


"Xaphier kau mendengarkan pembicaraan kami?" Ucap ayahnya.


"Pamanmu berteman baik dengan keluarga Carlos, dia memiliki putri, aku ingin kau menemuinya Sabtu ini." Ucap sang ayah, dia ingin menghentikan perjalanan asmara Xaphier yang tidak ada habis-habisnya bersama wanita-wanita yang hanya memuaskan hasratnya.


Xaphier caesar, usianya tidak berbeda jauh dengan usia Daren 28 tahun, dia masih sendiri, dan belum melabuhkan hatinya kepada seorang wania manapun. Xaphier menatap wajah lexia yang dikirimkan oleh Paulo. "Ada apa Xaphier apakah pertemuan keluarga ini membuatmu bosan?" Ucap pamannya yang bernama Thomas, dia menepuk-nepuk punggung Xaphier.


Ponsel yang dipegang oleh Xaphier tiba-tiba saja di rebut oleh ayahnya, matanya berkilat tajam ketika menatap gambar seorang gadis yang sedang tersenyum.


"Di..dimana kau menemukan foto ini Xaphier?" Tanyanya. Xaphier menatap ayahnya, lalu keluarga yang duduk di sekitar mereka menjadi tertarik dengan perbincangan mereka karena suara tuan Caesar terdengar membentak.


"Dimana?! Dimana kau mendapatkan foto gadis ini."


Xaphier berdecak dan akhirnya menceritakan tentang gadis yang di temuinya di Oklahoma.


"Aku juga sedang menyelidiki gadis itu ayah."


"Siapa, siapa namanya." Tanyanya.


"Namanya lexia Kenzo usianya sekarang 18 tahun dan dia adalah istri dari Daren Burchard." Ucap Xaphier.


"Benarkah kau menemuinya di Oklahoma? Dia masih ada di sana?" Tanyanya mendesak.


Tuan Caesar lalu berdiri dan segera memanggil para orang kepercayaannya. "Keruanganku sekarang !" Titahnya.


Xaphier, pamannya bernama thomas pun ikut dan beberapa pengawal lainnya masuk ke ruangan tuan Caesar.


Mereka semua duduk di ruangan kerja ayahnya, tiba-tiba ayahnya membuka sebuah pintu yang tertutupi oleh tirai, kemudian dia membukanya.


Wajah gadis cantik sedang duduk di kursi dengan paras persis seperti wajah lexia, dia sedang tersenyum sambil menggendong bayi perempuan yang cantik dan di sebelahnya Xaphier kecil berdiri diantara ayah dan ibunya.


Xaphier lalu berdiri, dan menatap lekat-lekat wajah ibunya yang telah tiada, selama ini dia begitu merindukan sosok ibunya yang wafat ketika dia berusia 14 tahun, entah mengapa di usianya yang masih muda ibunya telah pergi meninggalkannya.


Tuan Caesar tertunduk, lalu matanya masih menatap wajah cantik yang sedang tersenyum itu. "Ibumu wafat di usia yang cukup muda Xaphier, semenjak peristiwa itu dia selalu sakit-sakitan dan akhirnya meninggalkan kita.


Xaphier menatap ayahnya. "Peristiwa apa itu dad?" Tanyanya. Kau lihat bayi yang ada di gendongannya?, dia itu adikmu aku tidak tahu jika kau masih mengingatnya atau tidak tetapi kau sangat sayang kepada adik kecilmu itu, jarak usia kalian cukup jauh namun waktu itu kami sangat bersyukur karena memilikinya di usia yang tidak muda lagi, tetapi..ini salahku, ini semua kesalahanku adikmu hilang, dia di bawa oleh salah satu musuh besar ayah waktu itu, dia membawanya dari kami, hingga saat ini ayah masih mencarinya tetapi sampai sekarang belum menemukannya."


"Gadis...yang di foto itu, bawa dia kepadaku, aku ingin bertemu dengannya, siapa namanya?" Tanyanya.


"Lexia Kenzo." Jawab Xaphier terguncang dengan cerita ayahnya.


"Dimana orang tuanya?"


"Sejak kecil dia di asuh oleh seorang kakek dan nenek yang bernama Kenzo, mereka membesarkannya sejak usianya 4 tahun." Ucap Xaphier.


"Tetapi sayangnya mereka berdua telah meninggal dunia dan akhirnya menikah dengan Daren Burchard." Ucap Xaphier tidak suka mendengar nama Daren di sebut-sebut.


"Daren Burchard? Jadi dia sudah menikah di usia yang masih sangat muda? Bawa mereka kepadaku, aku ingin bertemu dengannya.


"Baik ayah."


~


Tuan Burchard terduduk, dia tidak mempercayai kenyataan ini, setelah menyuruh Sebastian untuk menyusuri identitas lexia akhirnya dia menemukan titik terang mengenai gadis itu.


"Celia." Bisik tuan Robert. "Aku mengingat bayi mungil itu, dia putri Veronica Alther dan Rodrigo Caesar, mereka memiliki dua orang anak, satu putra dan satu seorang putri, tapi sayangnya kejadian buruk telah menimpa keluarga bahagia itu, karena musuh-musuh Rodrigo ada di mana-mana sehingga putri satu-satunya itu di culik pada saat usianya dua tahun, apakah bayi kecil yang di culik itu adalah lexia Kenzo? Pikirnya.


"Bagaimana kondisi lexia." Tanyanya.


"Sekarang dia sudah sehat tuan, sepertinya ada sesuatu yang telah di rencanakan gadis itu sehingga waktu itu dia terlihat tidak bernyawa." Ucap Sebastian.


Tuan Robert menghembuskan napasnya, "Benarkah? Dia memang gadis pembuat masalah." Ucap tuan Robert tetapi tidak ada nada kebencian dari suaranya melainkan seperti seorang cucu yang sedang berbuat bandel kepadanya.


"Dan satu hal lagi tuan, saya mendapat informasi kalau putra Caesar tengah menyelidiki identitas lexia."


Tuan Robert terkejut. "Benarkah? Hemm, berarti putranya itu sudah bertemu dengan lexia dan dia pasti menyadari kemiripan keduanya, aku tidak akan heran jika dia mulai menyelidikinya." Ucapnya.


"Terus pantau pergerakannya."


"Baik tuan."


~


Lexia sedang ingin berbelanja di luar tetapi Daren tidak membiarkannya pergi seorang diri, meskipun ada bodyguard yang menjaganya, dia menentang kepergiannya.


Lexia masuk ke kantor daren yang ada di villa, dia mengintip dari balik pintu.


Lexia melihat Daren sedang berkutat dengan pekerjaannya, dia bermaksud ingin pergi berbelanja di supermarket yang ada di kota Tulsa karena Supermarket itu letaknya tidak begitu jauh dari villanya.

__ADS_1


"Daren? Kau sibuk?" Tanya lexia menghampirinya dan memeluk punggungnya, dia berupaya untuk membujuknya. Daren berbalik sekilas dan memberikan kecupan kepada lexia di bibirnya.


"Ada apa?" Ucap Daren masih menatap kertas-kertas yang ada dihadapannya.


"Daren, aku pergi ya, tidak jauh koq, aku juga pergi bersama dua orang pengawal, aku ingin membeli sesuatu di supermarket dan membuatkan makan malam untuk kita." Ucap lexia, selama ini lexia tidak memiliki kegiatan apapun, tetapi satu hal yang membuatnya tertarik yaitu memasak, dia ingin pandai memasak dan mulai membuat eksperimen lalu memberikan hasilnya kepada Daren.


"Biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku, setelah itu kita pergi bersama, aku tidak mau kau pergi hanya dengan para pengawal, itu sangat beresiko sayang." Ucap Daren tanpa menatapnya dan masih membaca kertas-kertas yang ada di tangannya.


"Ugh, kalau menunggumu, aku tidak akan bisa memasak." Ucap lexia memeluk Daren dari belakang dengan erat lalu mengecup pipinya meminta persetujuannya.


"Bagaimana? Aku pergi ya, ayolah Daren, aku ingin belanja." bujuk lexia menarik-narik lengannya.


"Tidak lexia terlalu beresiko, aku tidak mau kau dalam bahaya." Ucap Daren tidak mau dibantah. Lexia memanyunkan bibirnya, dia kemudian melepaskan pelukannya lalu menatap Daren dengan wajah masam.


"Dalam bahaya? Aku tidak akan berada dalam bahaya lagi bukan? Tidak ada lagi orang yang akan menculikku." Ucap lexia kettus.


Daren menghembuskan napasnya, dia menatap lexia dengan pandangan marah karena tidak mendengarkannya.


"Aku bilang tidak lexia." Bentak daren, kali ini daren betul-betul marah karena lexia tidak mendengarkannya, lexia berdiri dan meninggalkan Daren seorang diri di ruangannya.


"Ukh, kau keras kepala sekali lexia." Ucap Daren kemudian dia menghentikan pekerjaannya lalu mencari lexia.


Dia tidak ada di manapun, lexia paling jago jika mencari tempat persembunyian untuk bersembunyi dari Daren.


Lexia berada di taman seorang diri, duduk di taman sepi itu mencoba meredam kemarahannya, tidak ada seorangpun yang ada di sana, lexia duduk dan mengambil beberapa tangkai bunga lalu memegangnya dan mencium wanginya.


Daren melihatnya di taman, duduk di bangku taman seorang diri, dia berjalan lalu berhenti tepat di belakangnya. Dia memeluk lexia dari belakang dan mengecup rahangnya.


Lexia tidak menghindar tetapi dia mengabaikan Daren yang berdiri di sana.


"Kau marah?" Tanyanya.


"Lexia? Tatap aku." Ucap Daren yang masih tidak di perdulikan oleh lexia, akhirnya dia menarik wajah lexia dengan tangannya agar lexia menatapnya.


"Aku hanya takut jika kau dalam bahaya dan aku tidak ada disana, kau tahu betapa aku khawatir jika kau tidak dalam jangkauanku, aku akan gila lexia." Ucapnya lalu memberikan ciuman mesra kepada lexia hingga lexia membalas ciuman daren yang membuatnya panas dingin.


Dia menarik lexia ke pangkuannya lalu memagut satu sama lain dengan liar, mengeluarkan segala kerinduan dan hasratnya. Wajah lexia memerah ketika menarik bibirnya dari Daren. Lexia memeluknya erat dan bersembunyi di leher Daren.


"Kalau begitu malam ini kau yang masak Daren, aku mau kau yang masak, ini kesalahanmu." Ucap lexia manja.


Daren mengecup hidung lexia, "Oky sayang bukan masalah tetapi kau yang cuci piring." Bisik daren lalu mengangkat tubuh lexia dan masuk ke villanya.


~


Dagu pria itu terangkat lalu memberikan isyarat kepada teman duduknya di dalam mobil silver yang sejak tadi terparkir tidak jauh dari villa daren.


"Kau yakin di sini tempatnya?"


"Tentu, aku yakin ini alamat yang diberikan tuan Paulo kepada kita." Salah satu pria berkacamata hitam menengok ke kanan, dia membuka kacamatanya setelah melihat dua orang penjaga berjalan ke arah mobil mereka yang terparkir.


"Cepat pergi sebelum mereka mendekat." Ucap pria berkacamata mata itu.


"Salah satu penjaga di villa daren berbicara melalui earphone yang di pasang di telinganya. "Danger 1." Ucapnya.


Evan mendengar laporan jika ada yang memata-matai villa, dia dengan cepat melaporkannya kepada sang pemilik villa yaitu Daren, tetapi sayangnya tuannya itu sedang sibuk bersama istrinya di kamar belakang, dia berhenti melangkahkan kakinya karena evan mendengar desahan dan teriakan lexia yang cukup besar membuat Evan mengurungkan niatnya lalu segera pergi dari tempat itu.


~


Setelah makan malam yang di sediakan oleh Daren mereka berdua sedang bersih-bersih, aktivitas seperti ini sangat di sukai oleh Daren hanya berdua dengan istrinya melakukan berbagai hal bersama. Lexia selesai mencuci piring mereka berdua, Daren menjambret pinggang lexia, dengan tiba-tiba mengangkatnya lalu membawanya ke kamar belakang yang sering menjadi tempat persembunyian lexia.


"Kita mau apa di kamar itu daren?" Ucap lexia sambil memeluk leher Daren.


"Setelah makan malam aku perlu makanan penutup, karena tidak ada, kau saja sebagai gantinya." Ucap Daren menatap lexia lalu menaikkan alisnya.


"Ma..makanan penutup, ck kau benar-benar mesum Daren, kita kan baru saja selesai makan, kau tidak lelah sehabis masak?"


"Kau meragukan staminaku lexia? Oke karena kau meragukanku, kau harus menerima hukumanmu sayang, jangan salahkan aku jika besok kau tidak bisa bergerak." Bisik daren sensual.


~


Mata hijaunya masih tergenang dengan air mata, ibunya yang baru kembali dari rumah sakit mengabaikan peringatan dokter agar dia berhenti minum, tetapi Barbara sama sekali tidak mengindahkannya, dia bersikap masa bodoh lalu menenggak minuman pembunuh itu sampai tidak sadarkan diri.


Tanpa sadar lovelia menelepon pamannya, deringan kedua membuat lovelia terkejut dengan keberaniannya menelepon paman Alvinnya.


"Halo lovelia?" Ucapnya.


"Paman? Maafkan aku mengganggu paman, aku....aku hanya ingin menelepon seseorang saja karena aku sendiri di sini."


"Bagaimana ibumu? Apakah dia baik-baik saja?" Tanyanya.


"Dia seperti biasa paman, mommy tidak mendengarkan perkataan dokter dia masih minum sendiri di kamarnya."


"Kau baik-baik saja lovelia?" Tanyanya. Lovelia tersenyum di balik perban yang menutupi separuh wajahnya.


"Aku baik-baik saja paman alvin."


"Apakah Daren sering menghubungi mu?" Tanyanya.


"Ya, paman Daren sering menghubungiku dan menanyakan kabarku." Ucap lovelia.


"Jika kau kesepian, hubungi paman lovelia, aku tidak ingin kau merasa kesepian."


Lovely tersenyum senang, "baik paman, terima kasih." Percakapan mereka berlanjut dan tanpa sadar lovelia merasa kesedihannya menghilang semenjak mendengarkan suara Alvin.


~


Pukul 23.13 Villa di Tulsa.


Daren masih bergetar hebat ketika dia mencapai puncak yang di dambakannya selama penantiannya yang menyiksa karena menunggu lexia selesai dari datang bulannya. Napas mereka saling memburu, dada lexia naik turun karena klimaks hebat yang baru saja terjadi padanya, tubuh keduanya saling mendekap erat dan mereka saling memandang.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja sayang?" Tanya daren menghalau rambut di wajah lexia yang berantakan.


Lexia mengangguk. "Aku haus Daren." Ucapnya. Daren segera berdiri dan mengambil air di atas nakas, tidak perduli dengan ketelanjangannya di hadapan lexia.


"Bagaimana tubuhmu lexia?" Bisik daren menatap tubuh lexia yang terlihat lebam di beberapa area.


"Tubuhku terasa letih, aku ngantuk." Ucap lexia. Daren tersenyum dan menyelimuti seluruh tubuh lexia, dia lalu mengenakan mantelnya berwarna hitam lalu mengangkat lexia yang di tutupi Selimut berwarna putih.


Daren sudah berada di tangga ketika Evan berdiri di sana. Daren lalu menatap kedatangannya.


"Ada apa Evan?" Tanyanya.


"Sir..." Dia sedikit membungkuk lalu mengerling lexia.


"Keruanganku Evan." Ucap Daren.


Evan pergi keruangan Daren dia menunggu di sana, sedangkan Daren meletakkan lexia di atas tempat tidur lalu menyelimuti tubuhnya dan mengecup keningnya.


Dia tersenyum mengingat percintaannya tadi dengan lexia, dia begitu liar dan panas, baru kali ini lexia mendominasi dirinya ketika di tempat tidur. Pikir daren.


Daren membuka pintu kerjanya dan mendapati Evan sudah menunggunya di sana.


"Ada apa Evan?" Tanyanya.


"Sir, kami menerima laporan, sebuah mobil berwarna silver sedang mengintai villa ini, saya sudah menempatkan penjaga dua kali lipat di sekitar villa." Ucap evan.


Daren terkejut, dia mengetuk-ngetukkan jarinya di meja kerjanya, merasa was-was dengan keadaan seperti ini. "Kau sudah memeriksa siapa mereka?"


"Kami masih menyelidikinya sir."


"Apakah itu orang-orang tuan Robert lagi?" Tanya daren dengan rahang mengencang.


"Sepertinya bukan sir, mereka tidak melakukan pergerakan setelah kejadian yang menimpa nyonya lexia." Ucap Evan.


"Tetap selidiki dan laporkan kepadaku."


"Baik sir." Evan sedikit membungkuk lalu meninggalkan ruangan Daren. Matanya berkilat, Daren Memukul mejanya, siapa orang yang memata-matai villanya.


~


Udara pagi itu terasa sejuk, langit biru terlihat indah dari kamar lexia, apalagi panoramanya ketika pagi hari melihat matahari terbit, membuat siapa saja berdecak kagum akan keindahannya, akan tetapi lexia masih belum melihat keindahan itu karena tubuhnya begitu letih dan terasa ngilu karena aktivitas hebat mereka semalaman.


Dia mulai membuka kedua matanya yang berat, cahaya mentari langsung menyinari kulitnya yang polos dan hanya tertutup oleh selimut putih yang sudah melorot sampai pinggangnya.


Dia melebarkan tangannya, melihat ke samping kirinya sudah kosong padahal jam baru menunjukkan angka 7 pagi. lexia bangkit dari peraduannya, berdiri dari tempat tidur dan membuka pintu lalu menghirup udara segar dari dekat kolam renang.


"indah sekali, aku sangat jarang menikmati pemandangan ini berkat Daren." ucap lexia mengerutkan hidungnya.


"kemana Daren? pagi-pagi dia sudah bangun." ucap lexia. Dari kejauhan, lexia menatap seseorang berlari di sepanjang bibir pantai yang masih surut. "Daren? mengapa dia berolahraga? baru kali ini dia berolahraga di pagi hari, biasanya dia selalu menggangguku ketika bangun tidur."


Lexia menatap Daren yang melambaikan tangannya kepada lexia dari kejauhan. Nampak senyum mempesona Daren dari jauh, dia kemudian melanjutkan berlarinya hingga tidak terlihat lagi.


"Ck aku harus bergegas mandi sebelum Daren pulang, bagaimana jika dia ingin melanjutkan yang semalam?" ucap lexia mulai melepaskan selimutnya dan mengenakan handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


~


Hari itu juga Xaphier kembali ke Oklahoma, seperti yang di rencanakan oleh ayahnya, dia harus mempertemukannya dengan lexia Kenzo, meskipun ayahnya mengatakan bahwa mungkin saja dia adalah adiknya yang di sayanginya tetapi Daren tidak mengingat kenangan itu sama sekali.


Kenangan pahit yang membekas di kepalanya hanyalah ketika ibunya meninggalkannya karena sakit-sakitan. Hari ini dia harus menemui pria bernama Daren Burchard dan mengutarakan keinginannya membawa lexia menemui ayahnya yang menunggu di Milan.


~


Siang itu Daren dan lexia pergi ke sebuah pertemuan di salah satu hotel ternama di Oklahoma city, karena siang hari, jadi hari itu lexia mengenakan dress simpel berwarna biru langit sedangkan Daren mengenakan kemeja yang senada dengan dress yang di kenakan lexia.


Mereka menyambut kedatangan keduanya, bisik-bisik dari beberapa wanita yang ada di sudut tidak dihiraukan oleh lexia, dia terlalu sibuk dengan genggaman tangan Daren yang erat.


"Daren? tanganku sakit." ucapnya.


Daren melihat genggaman tangannya dan merasakan keringat karena genggaman tangan daren sangat kuat.


"Ada apa denganmu Daren? kau terlihat tegang?" ucap lexia memiringkan kepalanya lalu memegang pipi Daren.


"Apakah kau demam?" ucapnya.


"Aku baik-baik saja lexia." senyum Daren mencoba menenangkan lexia. Pukul 1 siang pertemuan itu akhirnya di tutup dengan makan siang dan undangan dari beberapa rekan bisnis Daren yang mengundang para tamunya untuk pergi ke club.


"Kita langsung pulang sayang." bisik daren.


lexia mengangguk, dia juga tidak ingin berlama-lama di tempat ini karena melihat mata-mata sinis wanita yang menggosipkan tentang dirinya, lexia tahu itu karena pada saat dia ke kamar mandi, lexia mendengarkan semua pembicaraan mereka mengenai dirinya yang katanya merebut Daren dari Carol.


Lexia tidak perduli dengan semua ocehan wanita-wanita itu kepadanya, dia tidak mengambil pusing dengan mereka yang menatap lexia seakan dia ular berbisa.


Mereka sekarang berada di area parkiran, tiba-tiba saja sekitar 20 pria dengan berpakaian hitam mengurung mereka berdua.


Lexia menggenggam tangan Daren, sedangkan daren mundur beberapa langkah melindungi lexia yang ada di belakangnya. "Siapa kalian!" bentak daren, dengan rahang terkatup rapat dia memandang mereka.


Suara langkah kaki itu mengalihkan perhatian Daren dan lexia. Pria itu berjalan dengan pelan ke depan mereka berdua.


"Sejujurnya bukan seperti ini aku ingin memperkenalkan diriku tetapi aku sedang terburu-buru, jadi maafkan karena kurangnya kesopananku." ucap Xaphier.


"Apa yang kau inginkan dari kami!" ucap daren. Sejak awal bertemu dengan pria ini, membuat Daren tidak senang dengannya karena pandangan matanya terhadap lexia yang tidak pernah lepas.


Xaphier tersenyum miring. "Yang aku inginkan adalah wanita di sampingmu, ayahku ingin menemuinya." ucap Xaphier.


"Mengapa dia ingin menemui istriku." tanyanya.


Xaphier mengerling lexia yang masih sembunyi di belakang daren.


"Karena kemungkinan besar wanita yang kau nikahi itu adalah adik perempuanku yang telah lama menghilang." ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2