
London,
Darko dan Crystal kembali ke London setelah sebulan bersama dengan keluarganya, mansion megah dan menjulang itu masih kokoh berdiri di sana, seperti sebuah benteng dan di jaga pria-pria berpakaian hitam, lengkap dengan senjata.
"Sangat berbeda dengan mansion yang ada di Manhattan, meskipun di jaga oleh pengawal, kesannya masih terasa nyaman dan tidak menakutkan hanya terlihat seperti sebuah mansion yang normalnya di jaga oleh beberapa pengawal, beda halnya dengan mansion yang mereka tinggali di london, mansion itu seperti menunjukkan sosok karakter pemilik mansion.
"Crystal, kita telah tiba, bangunlah."
Suara berat itu menyadarkan Crytsal dari tidurnya, perjalanan mereka cukup jauh, apalagi Crystal masih sangat letih karena Darko tidak pernah berhenti menyentuhnya ketika mereka masih berada di atas pesawat, andai saja mereka naik pesawat seperti orang pada umumnya, Darko tidak akan melakukan hal itu berkali-kali.
"Mau kugendong?"
"Tidak, aku bisa berjalan sendiri." bisiknya.
Kepulangannya membuat seorang anak kecil laki-laki berlari keluar mansion, tetapi dia tiba-tiba berhenti dan bersembunyi di sudut tembok mansion mengintip kedatangan mereka.
"Kakak, Sini." Panggilnya.
Crystal menyadari adiknya sembunyi di sana, dia melihat Darko masih dengan ketakutan, dia selalu menjaga sikapnya ketika Darko ada di sekeliling mereka. Crystal yang melihat adiknya, berlari-lari kecil, tidak perduli dengan salju yang menumpuk di kakinya, dia berlari dan langsung memeluk adiknya.
"Aku merindukanmu, Luke." Ucap Crystal sambil memeluk tubuh kecil adiknya yang masih berumur 5 tahun." Darko berhenti di sana memperhatikan kakak adik itu saling melepaskan rindu.
Mata Luke bertemu dengan mata milik Darko, seketika Luke bersembunyi di balik rambut kakaknya dan mengintipnya sembunyi-sembunyi, "Kakak, mata kami saling bertemu dan aku tiba-tiba memalingkan wajahku, aku tidak akan di bunuh kan??" Bisik Luke di telinga Crystal.
Crystal yang mendengarnya lalu tertawa, dan mencium pipi adiknya, "Tidak akan, kakak akan selalu melindungimu sama halnya dengan Darko." Jawabnya.
"Kakaaak, jangan memanggilnya hanya dengan nama saja, dia nanti membunuh kita berdua, kata seorang pelayan, tuan Darko mampu mengeluarkan cahaya merah dari matanya dan membuat musuh-musuhnya terlempar dari jarak jauh, dia memiliki taring panjang dan menggigit anak kecil yang tidak mau tidur, jadi sebaiknya kakak hati-hati." Ucap Luke memperingati kakaknya sambil memegang kedua pipinya.
"Kau terlalu banyak menonton film dan suka mendengarkan gosip para pelayan, Luke. Ayo masuk, udaranya semakin dingin." Crystal memegang tangan adiknya dan membawanya masuk ke dalam mansion, sementara itu Darko berjalan di belakangnya, menatap anak kecil yang selalu berbalik kepadanya menatapnya dengan sembunyi-sembunyi.
~
Crystal dan Darko di sambut oleh semua penghuni mansion, mereka tertunduk rapi tanpa menatap balik ke arah tuannya.
"Selamat Datang Tuan dan nyonya." Suara mereka menggema di seluruh mansion, Darko berjalan masuk begitupun Crystal, Suasananya sangat berbeda dengan mansion di Manhattan, mereka terlihat takut dengan Darko, bahkan melirikpun mereka enggan. Crystal berjalan cepat dan memegang tangannya.
"Bagaimana kalau kita sarapan dulu, perutku dingin, aku ingin makan sesuatu yang hangat." Suara Crystal yang terdengar oleh semua pelayan, membuat mereka semua cukup terkejut.
"Siapkan sarapan."
"Baik tuan." Seluruh pengawal dan pelayan menjawab perintahnya. Luke ternganga menatap kakaknya, wajah kagum dan bersinar terlihat di wajah kecilnya, "Wuoh kakak Cool." Ucapnya.
***
Crystal baru saja selesai mandi, dia lalu duduk di depan meja rias dan mengeringkan rambutnya yang basah, dia sangat gerah karena perjalanan mereka yang jauh. Darko menatapnya, memperhatikan setiap gerakannya.
"Kemarilah." Perintahnya.
Crystal berbalik dan menuruti keinginannya dengan berjalan mendekati Darko yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidur. Tangannya menarik tangan Crystal hingga tubuhnya jatuh tepat di atas Darko.
"Kau mandi dan membasahi rambutmu di cuaca seperti ini, apa kau tidak kedinginan, Hem?" Bisiknya sambil memegang rambut Crystal yang masih basah.
__ADS_1
"Aku sangat gerah karena perjalanan jauh tadi, aku hanya ingin menyegarkan tubuhku." Jawabnya, bukan hanya itu saja, selama di perjalanan Darko tidak berhenti menyentuhnya, hingga tubuhnya berkeringat dan wangi tubuh Darko tercium jelas darinya.
"Kau ingin keluar malam ini?" Tanya Crystal ketika melihat senjata yang ada di atas meja kerjanya menumpuk tidak jauh dari mereka.
"Aku hanya mencari angin saja, kenapa? kau mau ikut?" Tanyanya
Dengan cepat Crystal menggelengkan kepalanya. "A-aku di mansion saja dan menunggumu pulang." Ucapnya, dia tidak bisa membayangkan ikut dengannya dan melakukan penyerangan kepada musuh-musuhnya, dan tempat yang akan mereka tuju sangat berbahaya. Crystal membelalakkan matanya, ketika merasakan tangan itu mulai berjalan menelusuri di balik jubah mandinya dan memainkannya di sana.
"Darko." Bisik Crystal dengan suara terdesak. Senyuman itu crystal paling tahu, senyuman menginginkan yang terpancar dari matanya yang tajam.
***
Mereka berhenti hanya untuk makan siang, Crystal masih terbaring telungkup di sana dengan napas masih tidak terkendali, memburu dengan cepat. Darko hanya mengenakan Jeansnya lalu duduk di tepi tempat tidur dan membawakan makanan untuk Crystal.
"Bangunlah, kau harus makan." Ucapnya sambil membalikkan dengan lembut tubuhnya dan menyandarkan di bahunya.
"Kau lelah?"
Crystal mengangguk, tetapi dia tersenyum melihat pria dingin ini menatapnya lembut dan menyuapinya makanan perlahan ke mulut Crystal. "Aku tidak begitu lapar Darko, aku hanya ingin tidur." Ucap Crystal menyandarkan tubuhnya sepenuhnya ke dada bidang Darko.
"Tidak, kau tidak boleh tidur kalau tidak makan dulu, nanti perutmu sakit." Dia lalu menyendok kembali makanannya dan menyuapkan ke mulut Crystal. "Kau harus kuat dan bertenaga sayang, karena kau harus mengimbangi staminaku di sini." Bisik Darko sambil menunjuk arah tempat tidur.
Crystal memeluknya, tidak perduli dengan selimutnya yang melorot hingga jatuh kepinggangnya, dia memeluknya erat. "Aku mau minum." Ucapnya.
Darko mengambil gelas berisi air putih yang berada di atas meja dan meminumkan Crystal dengan pelan. Dia kembali menyimpan gelas itu dan mengangkat tubun Crystal dan mendudukkannya. "Sekarang bagaimana?" tanyanya, sambil mengusap wajahnya dan mengambil rambut yang jatuh di pipinya.
"Darko?"
"Kau ingin sesuatu?" tanyanya.
"Kau ingin makan strawberry?"
"Ya, aku ingin memakannya, tapi jangan yang terlalu manis, aku mau yang sedikit asam."
Darko segera mengambil ponselnya dan menelepon kepala pelayannya.
"Bawa sekarang juga Strawberry yang tidak terlalu manis dan sedikit asam."
Baik Tuan
"Mereka akan segera membawanya, kau ingin sesuatu yang lain?" tanya Darko.
Crsytal membuka matanya dan menatap mata saphir di sampingnya yang terus memperhatikannya, tanpa sedikitpun mengalihkan matanya.
"Aku ingin kau memelukku." Ucap Crystal. Darko lalu menarik tubuh Crystal dan memeluknya erat hingga wajahnya tenggelam di dalam pelukan Darko.
Suara ketukan terdengar dari ruang pintu kamarnya, Darko segera menyelimuti seluruh tubuh istrinya dan memblokirnya dari pandangan pelayan.
"Masuk."
Kepala pelayan masuk dan dua orang pelayan membawa makanan, mereka terkejut ketika melihat posisi Tuannya, dia hanya mengenakan Jeansnya dan bertelanjang dada, apalagi kaki Crystal terlihat di bawah sana sedang memeluk kaki Darko.
__ADS_1
"Letakkan disana."
"B-baik tuan."
Dengan tergesa-gesa mereka meletakkannya dan segera keluar dari kamar tuannya. Ketiganya keluar dari kamar tuannya, wajah dua pelayan memerah dengan senyuman sembunyi-sembunyi. Sedangkan kepala pelayan yang sudah lama melayani Darko sejak kecil menatap kepada dua pelayan tadi.
"Tidak ada gosip seperti ini yang akan kudengar di mansion, hati-hati dengan mulut kalian." Ucapnya sambil berdehem dan meninggalkan kamar tuannya.
"B-baik Sir."
~
Setelah beraneka ragam permintaan Crystal kepada Darko, akhirnya dia sedikit curiga dan segera memanggil Dokter lalu memeriksa keadaannya.
"Tuan Darko selamat, Istri anda telah hamil, usia kandungannya masih dua minggu."
"Hamil?" Gumamnya.
"Iya tuan, Nyonya sedang hamil, selama usia kehamilannya masih sangat muda, Nyonya tidak boleh melakukan aktivitas yang berat, dia harus menjaga tubuhnya serta makan makanan yang bergizi."
"Bagaimana dengan tubuhnya jika kami bercinta?" Ucap Darko.
"Tentu bisa Tuan, tetapi anda harus memforsir agar tidak berlebihan dalam melakukannya, ini semua untuk menjaga agar kandungannya baik-baik saja."
Setelah kepergian dokter, Drako menatap perut itu, dia lalu mengangkat pakaian Crystal dan memegangnya.
"Anakku."
***
Pria kecil itu berlari-lari di rerumputan yang hangat, nampak wajah tampannya membuat siapa saja akan terpesona, pipinya yang tembem dan tawanya yang lucu, membuat para pelayan mengikutinya dan menjaganya agar si kecil tidak terjatuh di rerumputan.
"Mommy, Daddy." Teriaknya sambil kembali berlari.
Darko dan Crsytal duduk di atas kain yang di lebarkan di atas rerumputan, saat cuaca cerah, saat matahari tidak begitu panas, mereka piknik di belakang mansion, udaranya sangat segar danau di sekitarnya nampak berkilau terkena sinar matahari.
"Apa yang akan kau lakukan jika putra kita seperti diriku? kau pasti sudah mendengar semua cerita dari ibu kan sayang?"
"Ya, aku mendengarnya semuanya." Ucap Crystal.
"Lalu?"
"Aku mencintaimu Darko apa adanya, meskipun kau berada di sisi yang gelap atau terang, begitupun dengan Arthur, aku mencintai kalian berdua. Mereka berdua saling berpelukan dan menatap putra kecil mereka yang berlarian di temani oleh Luke dan pelayan lainnya.
"Arthur." Jangan berlari jauh-jauh." Teriak Luke.
Senandung kecil terdengar dari bibir kecilnya, matanya yang terang berwarna biru terlihat menyipit menatap Luke. "Aku lebih suka bermain di kegelapan, kak Luke." bisiknya.
🍁*End*🍁
***
__ADS_1
Halooo teman-teman Readers, Whisper of the Sea Sesion 2 sudah up lohhh😊😉 mampir yuk, jangan lupa like, vote dan Comentya,🙋 Up tiap hari dunk😁❣️