The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 13


__ADS_3

Mereka semua berada di meja makan, Fairley duduk dengan canggung karena tahu bahwa makan malam belum di mulai berkat keterlambatan mereka berdua.


Nyna dan beberapa gadis lainnya menatap jengkel kepadanya. Mereka berbisik-bisik setelah itu senyum terbit di wajahnya, seakan mereka merencanakan sesuatu.


"Karena peran utama malam ini telah hadir sebaiknya kita makan malam," ucap Dazon. Daneil dan Jennifer tertawa sambil menutup mulutnya rapat-rapat karena Ax menatap tajam kepada Dazon.


Fairley ingin mengiris steik yang ada di hadapannya, tetapi tiba-tiba Ax mengangkat piringnya dan mengganti dengan piringnya sendiri.


Steik itu telah teriris dengan rapi, "makanlah." Perintahnya. Fairley kembali merona, Tidak ada seorangpun yang memperlakukan dirinya seperti Ax sekarang ini memperlakukannya, kembali jantungnya berdetak kencang, merasakan debarannya semakin keras ketika Ax mendekat sehingga aroma tubuhnya dapat di endusnya. Aroma segar dan wangi tercium dari wangi tubuh Axton.


"Kita akan berjalan-jalan setelah makan malam." Bisik Axton ketika Fairley menyuap makanannya.


"Kemana?" Tanyanya.


"Kejutan, nanti kau akan lihat sendiri, kau pasti akan menyukainya." Ucapnya.


Dazon menajamkan pendengarannya, sesekali menegakkan kepalanya lalu sedikit memiringkan kepalanya.


"Dan aku akan menugaskan Thomas untuk menjaga privasi kita, jadi dia bisa menangkap tikus-tikus yang ingin mengetahui urusan kita." Ucap Ax berkata dengan suara keras sambil menatap ke arah Dazon.


~


Mereka berenam berada di La spiaggia di Milan, kali ini Resort yang mereka tempati adalah milik tuan Caesaar, mereka semua berkumpul di salah satu pantai terkenal di sana.


"Sayang? Apakah tidak apa-apa membiarkan mereka semua berkumpul di resort itu tanpa adanya kita semua?" Tanya lovelia kepada suaminya Alvin.


Dia tersenyum sambil meneguk kopinya. "Jangan khawatir, mereka semua akan baik-baik saja, aku sudah menempatkan seluruh pengawal di setiap tempat, apalagi Thomas dan orang-orangnya juga ada di sana dan beberapa hari lagi ayah dan tuan Caesaar akan berkunjung ke sana." Ucap Alvin menenangkan lovelia.


"Anak-anak sekarang sangat cerdik, lihat saja Dazon, kau harus berpikir keras untuk memahami jalan pikiran anak itu, kadang aku harus menatapnya beberapa lama sampai aku bisa mengerti apa yang diinginkan anak itu." Ucap Xaphier.


"Apalagi Ax, kalian berdua pasti sudah tahu bahwa Ax telah memiliki seorang kekasih, sepertinya mereka sangat dekat." Tambahnya.


"Hem, ya aku tahu Xaphier, tapi aku percaya kepada Axton, dia harus menjaga kepercayaan kita kepadanya, tetapi jika dia sampai melewati batas-batasnya, dia harus mempertanggungjawabkan setiap tindakannya." Ucap lexia.


Mereka semua sedang berbaring dengan santai sambil menatap indahnya lautan di hadapan mereka.


"Mau berenang sayang?" Tanya Xaphier kepada Nara.


Nara menyambut uluran tangan Xaphier. "Sepertinya Dazon butuh adik lagi." Bisik Xaphier kepada Nara membuatnya tersipu.


~


Setelah makan malam, Ax mengajak Fairley pergi ke suatu tempat, lokasinya begitu tertutup sehingga tidak ada seorangpun yang tahu di mana lokasi mereka berdua. Meskipun Dazon, Daneil dan Jennifer ingin mengikuti mereka berdua tetapi Thomas dan Pengawal-pengawalnya menghalangi mereka untuk mengikuti kemana Ax dan Fairley pergi.


"Thomas ! Aku memerintahkanmu untuk minggir, kau harus mendengarkanku juga." Ucap Dazon. "Aku juga tuan muda di keluarga Caesaar."

__ADS_1


"Tapi tuan Ax yang pertama memerintahkan aku tuan Dazon," ucap Thomas tegas.


"Mereka pergi kemana?" Tanyanya lagi.


"Kami juga tidak tahu tuan, Mereka hanya menyuruhku untuk berjaga, pesan dari tuan Ax, jika kalian bertiga masih mencari tahu kemana dia pergi, tuan Ax langsung kembali ke Manhattan." Ucap Thomas.


"Ck baiklah, haaah, sebaiknya kita pergi mencari hiburan lain Daneil, Jenni." Ucap Dazon sambil memalingkan wajahnya dan berjalan menjauh.


~


"Kita akan kemana Ax?" Tanya Fairley.


Ax hanya tersenyum tipis, "Sebentar lagi kau akan lihat." Ucap Ax memegang tangan Fairley ketika mereka naik ke speed Boat yang telah menunggu mereka di dermaga, di dekat jembatan panjang, terlihat seseorang berdiri di sana menunggu sampai Tuan muda Axton telah naik ke atas speed boat.


Segera speed boat meluncur dengan kecepatan Sempurna membawa mereka ke suatu tempat, Axton memegang tangan Fairley, sementara Fairley menunggu-nunggu apa yang menantinya, dan kemana Ax akan membawanya.


Sekitar 15 menit mereka telah sampai ke tempat tujuan mereka di sebuah pulau kecil yang membentang indah, hanya satu villa yang berdiri tegak di sana, bentuknya sangat sempurna dan sangat romantis, lampu-lampu temaram diiringi musik lembut yang mengalun, dua orang pelayan telah berdiri di sana menyambut kedatangan mereka berdua.


"Indah sekali," senyum Fairley menatap villa yang dibangun khusus untuk keluarga Robert. "Villa ini indah bukan?" Tanyanya.


Fairley mengangguk, mereka berdia turun dari speed boat itu, Ax memegang tangan Fairley dan membawanya ke villa.


"Apa yang kita akan lakukan di sini Ax?" Tanyanya.


Dua orang pelayan menarik dua kursi di tengah-tengah pasir pantai dengan lampu temaram yang menemaninya, beberapa hidangan cake dan minuman sudah tersedia di atas meja.


Mereka berdua duduk, Ax menarik tangan Fairley dan mengajaknya berdansa sementara salah satu pelayan memutar musik slow yang mengalun indah.


"Kau menyukainya?"


"Tentu Ax, sangat indah." Bisiknya, "Aku..aku tidak tahu berdansa Ax."


"Ikuti langkah kakiku, aku akan membimbingmu," bisik Ax. Malam itu Fairley seakan terhipnotis dengan semua yang dilakukan Ax untuknya, mereka berdansa cukup lama, musik itu masih mengalun lembut sedangkan Fairley meletakkan kepalanya di dada Ax sementara mereka masih berdansa.


Fairley tidak menyadari kedua pelayan itu telah meninggalkan pulau, kini tinggal mereka berdua di pulau itu.


Suasana romantis itu seakan menghipnotisnya, begitu saja Fairley masuk ke dalam dunia Axton, tubuhnya mengikuti kemana gairah membawanya, desiran angin laut terasa menyejukkan, suara ombak seakan membawa keduanya lebih larut dan dalam lagi, hingga malam itu Axton melewati batas diantara mereka berdua, malam itu Fairley membiarkan tubuhnya hanyut dalam pelukan Axton, hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka. Napas mereka saling bersahutan di malam berangin dan berombak itu, teriakan dan erangan Fairley membawanya ke puncak yang pertama kali di rasakannya, meskipun ini pertama kali bagi mereka berdua, malam itu keduanya larut dalam percintaan yang panas. Entah berapa kali Ax harus menenangkan Fairley ketika dirinya bergerak, sensasi itu membuat Fairley terkejut dan hanyut dalam pelukan Axton malam itu.


~


Bunyi kicauan burung dan suara desiran ombak membuat Fairley mengerjapkan matanya, panas di tubuhnya sangat terasa karena pelukan ketat dari seseorang yang tidak lain adalah Ax.


Dia terkejut tetapi dengan cepat Fairley menguasai dirinya, lalu mengingat kejadian semalam yang membuatnya merona dengan ingatannya yang teringat jelas tadi malam.


Fairley menatap wajah Ax yang masih tertidur sambil memeluknya. Dia mengangkat tangannya lalu memegang wajah Ax dengan telunjuknya, dia memperhatikan bulu mata Ax serta hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tipis dan penuh, ingatannya kembali ketika membayangkan bibir itu telah menjelajahi seluruh tubuhnya, membuat Fairley merona.

__ADS_1


Ax terbangun, matanya langsung berhadapan dengan mata coklat milik Fairley, dia kemudian tersenyum dan memeluknya semakin erat. "Kau baik-baik saja?" tanyanya.


Fairley mengangguk, "Aku..aku baik-baik saja." Ucapnya.


"Sekarang kau sudah menjadi milikku, dan aku milikmu," bisik Ax. Fairley memberikan kecupan singkat di bibir Ax. "Kita harus bergegas pergi, sebentar lagi ulang tahun Sepupumu." ucap Fairley mengingatkan.


"Berikan aku waktu 20 menit lagi." Ucap Ax,


Fairley menatap heran kepadanya, "20 menit untuk apa Ax?" tanyanya. Senyuman terlihat di wajah Ax dan mereka kembali hanyut dalam percintaan panas mereka pagi itu.


~


Mereka semua sarapan di meja makan, Sebentar malam pesta akan di adakan dan Sebentar lagi Tuan Caesaar dan tuan Robert akan hadir untuk mampir sebentar dan merayakan ulang tahun cucu tersayangnya.


"Ax belum datang juga?" tanya Daneil kepada Dazon.


"Sepertinya semalam Ax pergi ke pulau milikmu Daneil, iya kan? kau meminjamkannya?" tanyanya. Daneil menganggukkan kepalanya.


"Ax memintanya, tentu saja aku meminjamkannya, tetapi kata pelayan yang melayani mereka berdua tadi malam, tidak melihat sesuatu yang mencurigakan, mereka hanya makan dan berdansa," ucap Daneil.


"Setelah itu? kemana pelayan itu pergi."


"Kata pelayan itu, mereka pergi karena Ax yang menyuruhnya pergi, jadi dia tidak tahu apa yang terjadi disana, sebaiknya Ax segera kembali Sebelum tuan Caesaar datang sebentar lagi." Ucap Daneil.


~


Pesawat itu mendarat siang itu, tanpa mereka semua sangka seluruh keluarga mereka datang, tentu saja orang tua mereka semua, mereka datang dan akan memberikan kejutan kepada putra-putra mereka.


"Aku merindukan Ax, apa yang sedang dilakukannya?" tanyanya kepada Daren yang ada di sampingnya.


"Dia pasti masih bermain di lautan, mereka semua kan berencana berselancar siang ini, Dazon yang memberitahukanku." ucap Daren.


"Kapan kau meneleponnya? aku tidak mendengarnya?" tanya lexia.


"kau tadi sedang tidur sayang, aku menghubungi Ax tetapi ponselnya tidak aktif, jadi aku menghubungi Dazon dan katanya mereka akan pergi berselancar siang ini."


"Benarkah?" ucap lexia sambil mengusap perutnya yang mulai membesar.


~


Speed Boat sudah berada di dermaga, mereka berdua turun dari sana dan langsung menuju ke mobil yang sudah terparkir di sana.


Ax memegang tangan Fairley, dia akan membawanya dan memperkenalkan Fairley kepada seluruh anggota keluarganya. Ketika mereka masih di pulau tadi, Dazon menghubungi Ax dan mengatakan kepadanya agar segera kembali ke penginapan, karena seluruh anggota keluarganya akan tiba di sana. Jantung Ax berdetak kencang, bukan karena takut kepada orang tuanya, sejak awal Ax tahu orang tuanya akan menerima siapapun wanita yang akan menjadi pilihannya, tetapi berbeda dengan kakeknya Tuan Caesaar, dia pria tua yang cukup keras dan disiplin, setahu Ax dia harus mencari cara bagaimana menyenangkan kakeknya itu, Fairley berbalik menatap Ax yang terlihat tegang. Dia tersenyum sambil menggenggam tangan Fairley.


"Semua akan baik-baik saja," Ucap Ax kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2