The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 14


__ADS_3

Udara di sekitar pantai meskipun panas tetapi angin yang berhembus sangat sejuk, angin pantai berhembus langsung mengenai wajah kedua sepasang kekasih yang masih berada di atas mobilnya, terlihat wajah Ax kelihatan panik, Fairley selalu meliriknya ingin mengetahui apa penyebab kepanikan dan rahang yang mengencang, itu membuatnya sulit untuk membuka mulutnya dan bersuara.


Mereka memarkirkan mobilnya di pelataran parkiran, mobil-mobil mewah nampak ramai memenuhi tempat itu.


"Mereka semua sudah tiba, ayo." Ucap Ax, dia segera keluar dari mobilnya begitupun Fairley yang berada di sampingnya. Ax segera memegang tangan Fairley dan membawanya langsung ke tempat seluruh keluarganya berkumpul.


Jantung Fairley berpacu manakala mereka semua duduk di sana, dari kejauhan setiap pasang mata menatap kedatangan mereka berdua.


Daren tersenyum miring melihat putranya menggandeng seorang gadis cantik yang mungil, sedangkan lexia menatap tajam putranya, dan memikirkan kemungkinan keterlambatan dia datang, sementara semua sepupunya sudah ada di sana duduk dengan tenang.


"Kau terlambat Axton." Ucap Daren, dia menghampiri ayah dan ibunya dan memberikan kecupan di pipi mereka.


"Maaf aku terlambat Mom, dad, aku sedang mengajak jalan-jalan Fairley di sekitar pantai." Ucapnya, sekarang seluruh perhatian jatuh kepada Fairley yang berdiri kikuk di sana, Ax memegang tangan Fairley dan mengajaknya duduk bersama mereka semua.


Tuan Caesaar dan tuan Robert ada di sana masih diam memperhatikan Ax dan gadis yang duduk di sampingnya, sementara itu Dazon dan Daneil memikirkan segala rencana untuk mengalihkan perhatian dua pria tua keras kepala yang sedang menatap Ax dan Fairley dengan tajam.


"Kau pasti berencana mengenalkan kepada kami gadis cantik yang ada di sampingmu Axton." Ucap Xaphier tersenyum miring menatap lexia dan Daren yang sebentar lagi memiliki seorang menantu. Terlihat sangat jelas Ax yang over protective terhadap gadis itu.


"Oh ya, kenalkan dia Fairley Jill, dia adalah kekasihku." Ucapnya, dia menantang siapa saja yang ingin berkata apapun kepadanya.


Tuan Caesaar menaikkan satu alisnya sementara Alvin dan Lovelia menatap seram wajah tuan Caesaar, begitupun wajah Daren dan lexia.


"Aku ingin mendengarkan Nona ini yang berbicara Ax." Ucap tuan Caesaar tenang.


"Kau tinggal dimana Nona Fairley?" Tanyanya.


"Aku..aku dulu tinggal bersama ibuku di jalan Santiago 77street." Ucap Fairley gugup.


"Dulu? Jadi sekarang kau tinggal seorang diri?" Tanya tuan Caesaar kepada Fairley.


"I..iya, ibuku sekarang lebih memilih tinggal di desa untuk memulihkan kesehatannya." Jawab Fairley, ketegangan mencuat di permukaan, seperti tombol power yang dinyalakan, suasana yang tadinya santai berubah menjadi tegang semenjak Ax datang membawa Fairley.


"Kalau boleh aku tahu apa pekerjaan ibumu?" Tanya tuan Caesaar. Lexia dan Daren saling menyenggol, mereka berdua sudah tahu tentang kehidupan Fairley, tetapi dia menyerahkan semua Keputusan di tangan putranya, berbeda dengan tuan Caesaar dia akan menelusuri latar belakang kehidupan siapa saja yang ingin masuk ke Keluarga Caesaar, dan memastikan dia tidak membawa seseorang yang membuat nama keluarganya tercoreng.


"Kenapa kakek ingin tahu latar belakang Keluarganya?" Tanya Ax terlihat marah.


"Axton bersikaplah sopan, jaga bicaramu di depan kakekmu." Ucap Daren menegur putranya.


"Ibuku menjual bunga di sekitar emperan di dekat rumah kami, tetapi karena sakit, dia kembali di desa." Ucapnya. Wajah Fairley pucat tetapi ada keberanian di kedua bola matanya, dia tidak malu untuk mengungkapkan siapa dirinya, dia bangga dengan hidupnya dan dengan ibunya.


"Bagaimana dengan ayahmu?" Tanyanya lagi.


"Erm, ayahku sudah lama meninggal sejak saya masih kecil." Ucapnya.


Ax duduk gelisah di samping Fairley, setiap kali tuan Caesaar ingin bertanya kepada Fairley setiap kali pula dia mengacak rambutnya, membuat Xaphier ingin tertawa melihat tingkah keponakannya.


Tuan Caesaar menaikkan alisnya melihat tingkah Axton cucunya yang terlihat gelisah dan gusar. "Ada apa denganmu Ax, kenapa kau yang begitu gelisah? Wajar kan jika kakek ingin mengetahui kekasih cucuku." Ucapnya.


"Sejauh mana hubungan kalian?" Tanyanya lagi.


"Ayah? Sebaiknya pertanyaan itu di tunda dulu, kau menakuti Fairley," ucap lexia tenang.


Tuan Caesaar menghembuskan napasnya, tetapi matanya masih memandang kepada mereka berdua, dari tingkah laku mereka sepertinya hubungan mereka sudah begitu jauh, lebih dari sepasang kekasih.


"Ba.. bagaimana kalau kita lanjutkan saja pestanya, ini kan pesta ulang tahun Daneil." Ucap Alvin mengalihkan perhatian semua orang agar ketegangan dapat menyingkir.


"Nanti, setelah pesta usai aku ingin kalian berdua ke ruangan kakek." Ucapnya kepada Axton dan Fairley.


"Ba..baik." ucap Fairley.


Lexia menghampiri Fairley, dia tersenyum ramah kepadanya. "Ikut aku Fairley." Ucapnya.


"Kemana mom akan membawa Fairley?" Tanyanya dengan terkejut. Daren lalu menarik Ax untuk mengikutinya.


"Kenapa kau ingin tahu urusan wanita Ax, jangan terlalu posesif, nanti Fairley lari darimu." Ucap Daren.


"Bukankah kau seperti itu sewaktu kau bersama dengan lexia, bahkan kau lebih parah darinya." Ujar Alvin sambil tersenyum mengejek kepadanya, Dia mengingat sewaktu Daren mengejar-ngejar lexia yang berapa kali lari dan bersembunyi darinya.


~


Lexia membawa Fairley ke ruangan make up dimana Lovelia dan Nara sedang berkumpul di sana, mereka sedang merencanakan untuk mendandani Fairley secantik mungkin.


Fairley di bawa di dalam salah satu kamar yang di penuhi dengan segala jenis gaun-gaun indah dan semua peralatan yang dibutuhkan oleh seorang wanita. Lexia menarik Fairley agar dia duduk di salah satu sofa empuk di ruang make up.


"Jangan canggung Fairley, apa Ax tidak memperkenalkanmu tentangku? Aku adalah ibu Ax, namaku Lexia." Ucapnya.


Fairley tersenyum kepadanya. "Senang berjumpa denganmu Mrs Daren," ucap Fairley langsung menyukai lexia, dia terlihat santai dan begitu baik kepadanya, tidak ada sedikitpun kecurigaan di mata safir cantik itu ketika memandang Fairley.


"Apa Ax memperlakukanmu dengan baik?" Tanyanya.


Fairley tersenyum, "Ya Mrs daren, dia memperlakukanku dengan baik, dan Ax juga memperkerjakanku di perpustakaannya." Ucapnya.


"Oh ya, tapi kau harus hati-hati dengan putra pemaksaku itu, dia persis seperti ayahnya, dia suka memaksa dan posesif."

__ADS_1


Fairley hanya tersenyum mendengarnya.


"Bagaimana dengan gaun ini?" Tanya lovelia, dia mengeluarkan gaun indah berwarna krem lembut, desainnya terlihat modis sesuai dengan usia Fairley sangat cocok di kulitnya.


"Hem, sangat pas, warnanya begitu lembut dan sesuai di kulit Fairley, dia pasti nampak mempesona ketika dia mengenakannya." Ucap Nara.


Para Nyonya-nyonya cantik itu sibuk mendandani Fairley, setelah beberapa lama, akhirnya mereka selesai dan kagum dengan hasilnya.


"Axton tidak akan melepaskanmu Fairley." Ucap Nara.


Fairley tersenyum malu, dia segera berdiri, tubuhnya di balut oleh dress panjang berwarna krem dengan belahan dada sedang, rambutnya di hias sedemikian rupa, dia berdiri di sana nampak cantik mempesona.


Ketukan terdengar dari luar, Ax sedang berdiri di sana menunggu Fairley selesai di dandani.


Ax membuka pintu dan melihat Fairley berdiri di sana dengan kikuk, dia merona ketika Ax menatapnya tanpa berkedip.


"Dia betul-betul sedang jatuh cinta lexia." Ucap lovelia tersenyum melihat sepasang kekasih itu saling menatap seakan di ruangan itu hanya mereka berdua saja.


"Kau tampak....cantik." ucap Ax mendekatkan wajahnya kepada Fairley tanpa menghiraukan ada lexia di sana beserta bibi-bibinya.


"Ehhem, sebaiknya kau bawa Fairley ke tempat pesta Ax, kami sebentar lagi akan datang." Ucap lexia.


"Oky mom." Ucapnya, Ax mengecup pipi ibunya lalu menggandeng tangan Fairley menuju ball Room.


"Kau tampak mempesona Fairley." Bisiknya. Ax tidak membawa Fairley ke tempat pesta tetapi membawanya ke salah satu ruangan yang kosong dan memberikan ciuman panjang di bibir Fairley, tubuhnya segera saja merespon Ax sambil memegang rambut Ax kuat-kuat hingga mereka seakan hanyut dalam ciuman mereka.


"Aku menginginkanmu Fairley." Bisik Ax, membuat Fairley terkejut dan menghentikan ciuman Ax kepadanya.


"Tidak Ax, mereka sudah menunggu kita, aku tidak mau terlambat apalagi di sana ada kakekmu, kita tidak boleh terlambat." Ucap Fairley mencoba mengalihkan ciuman Ax yang intens.


"Ax hentikan, kita harus pergi." Bisik Fairley mencoba mengambil napas karena Ax seperti menulikan telinganya tidak mendengarkan segala ucapan Fairley.


"Ax please, hentikan." Ucap Fairley dengan napas memburu, dia memundurkan wajahnya agar Ax berhenti memberikan kecupan-kecupannya.


"Oky sayang, kita pergi sekarang." Ucapnya. Mereka akhirnya menuju ke ball room, di sana sudah berkumpul seluruh anggota keluarga mereka serta semua orang yang datang untuk merayakan ulang tahun Daneil, malam itu mereka di suguhkan dengab pesta megah dan mewah, juga beberapa pejabat hadir di sana beserta putra dan putri mereka.


Salah satu yang Nyna tunggu akhirnya datang juga, dia adalah Rose beserta ayah dan ibunya yang turut hadir, dengan gaun yang terlihat sangat mencolok, dia masuk ke tengah-tengah pesta dan memberikan ucapan selamat kepada Daneil, setelah itu orang tuanya bercakap-cakap Kepada Alvin dan lovelia.


Rose mengedarkan pandangannya mencari sosok Axton yang belum terlihat sama sekali, dia ingin menunjukkan bahwa dia tampil sangat elegan dan cantik malam ini, matanya kemudian menemukan Nyna dan teman-temannya, mereka berkumpul di salah satu tempat di dekat meja minuman.


"Kau melihat Ax?" Tanyanya.


"Entah, kami belum melihatnya sejak kemarin, dia kan seharian bersama gadis penjual bunga itu, apalagi ada gosip yang bilang kalau mereka sudah menghabiskan malam bersama." Ucapnya sambil tersenyum mengejek.


"Oh ya, seharusnya aku bersikeras untuk datang dan menemani Jenni, dia cepat sekali terpengaruh dengan Dazon, kalau saja ayahku tidak menyuruhku untuk berlaku baik kepadanya sudah lama gadis itu habis di tanganku." Ucapnya dengan mata masih mencari-cari Axton.


Matanya terbelalak, setiap orang melihat kedatangan Ax dan Fairley ketika turun dari tangga kristal yang meliuk, mereka berdua di sambut oleh Jennifer dan Dazon serta Daniel yang berdiri di sana.


"Gadis itu betul-betul tidak tahu malu, aku ingin melenyapkan gadis gembel itu bagaimanapun caranya." Ucap rose dengan pandangan membara ketika melihat gaun yang dikenakan oleh Fairley, kecemburuannya semakin menggerogotinya, apalagi ketika Mrs.dan Mr.Daren hadir di sana dan bercakap-cakap dengan Fairley, berbincang dengan ayah dan ibunya membutakan mata Rose, Seketika Nyna memberikan ponselnya kepada Rose dan memperlihatkan video rekaman ketika Fairley membagikan brosur di terowongan stasiun kereta.


"Kau bisa menggunakannya, aku merekam ini untuk memberikan bukti kepada Orang tua Axton bagaimana sebenarnya kehidupan mengerikan gadis itu, apa dia mau membiarkan putra satu-satunya berdampingan dengan gadis tidak jelas seperti dia?"


Rose menggigit bibirnya, tanpa menunggu lama dia sudah melangkah mendekati mereka semua, kemarahanya sudah berada di permukaan apalagi dengan provokasi Nyna yang datang menyerbunya.


"Lihat saja, apa yang akan kau katakan gadis bodoh, seharusnya kau tidak mencoba berani melawanku." Gumam rose.


~


"Wow kau nampak mempesona Fairley." Ucap Daneil dan disetujui oleh Jennifer. Fairley tersipu, lalu menatap orang tua Axton.


"Mrs. Daren dan ibu-ibu kalian yang mendandaniku tadi." Ucap Fairley malu-malu, tangan Ax tidak pernah lepas dari genggamannya.


Ketukan sepatu mendekat ke arah mereka, Dazon berbalik melihat gadis penguntit itu datang dengan wajah merah padam, entah pikiran bodoh apa yang sekarang bersarang di kepalanya.


Dazon menghalangi jalannya, begitupun dengan Jennifer serta Daneil.


"Minggir kalian, aku harus bicara kepada Nyonya Daren." Bentaknya.


"Kuhitung sampai 3 jika kau bersikap kurang ajar seperti ini, lihat saja kau betul-betul akan membusuk esok hari beserta dengan keluarga tercintamu." Ucap Dazon terlihat menyeramkan.


Rose tidak memperdulikan ancaman remeh Dazon, menurutnya anak kecil seperti dia tahu apa, dia sama sekali tidak bisa menghancurkan perusahaan besar ayahnya apalagi Keluarganya.


"Minggir kataku !"


Suaranya nyaring terdengar sehingga Lexia dan Daren berbalik mencari sumber suara, Axton menatap heran dengan wajah jijik kepada Rose yang kini berjalan menuju kepada orang tua Axton.


Dia tersenyum semanis mungkin di depan Daren dan lexia. "Senang berjumpa dengan anda Nyonya dan tuan Daren, aku senang sekali bisa bertemu dengan anda, Ax banyak menceritakan tentang anda kepada saya." Ucapnya.


Ax ingin mengatakan sesuatu tetapi Fairley menahannya dan menggenggam tangannya.


Dazon dan yang lainnya sudah berdiri di sana mencoba mendengarkan apa yang ingin di katakannya. "Nyonya Daren saya ingin memperlihatkan sesuatu yang mungkin membuat anda sedikit shock tetapi ini untuk kebaikan Axton jadi lebih baik anda lihat sendiri."


Lexia sudah melihat gelagat gadis ini, Thomas juga sudah menceritakan semuanya kepadanya tentang gadis gila yang tergila-gila kepada putranya sampai-sampai dia berbuat sesuatu yang jahat kepada Fairley.

__ADS_1


Dengan cepat Lexia mengambil rekaman video yang memperlihatkan Fairley sedang menyebarkan brosur kepada orang-orang di terowongan dan di lanjutkan dengan Fairley berjualan bunga di emperan toko di pinggir jalan seorang diri.


Senyum terbit di wajah lexia, dia kemudian memberikan video itu kepada daren.


"Jadi, nona Rose, apa yang kau inginkan dengan memperlihatkan video ini kepada kami?" Tanyanya.


"Anda, anda bisa melihat gadis seperti apa Fairley, dia sama sekali tidak sesuai dengan putra anda." Ucapnya.


"Dasar wanita sinting eh." Ucap Dazon begitu keras sehingga mereka semua menatapnya.


"Akan lebih mengerikan lagi jika Ax bersamamu, gadis mengerikan seperti dirimu sudah banyak kulihat bertebaran di tempat tinggalku dahulu." ucap lexia santai.


"Mulai detik ini jangan pernah menginjakkan kakimu di hadapan putraku, kau wanita jahat, video yang kau perlihatkan semakin membuatku kagum kepada Fairley, dia bekerja keras untuk menghidupi dirinya di bandingkan dengan gadis sepertimu yang bergantung dari uang orang tuanya."


Rose ternganga, dia tidak bisa menerima kenyataan dari ucapan lexia. "Tapi nyonya, bagaimana anda bisa membiarkan putra anda seperti itu, anda harus menyingkirkan gadis ini." Jennifer menatap rose sambil menggeleng kemudian dia merekam semua kejadian tadi dan mengirimkannya kepada ayah dan ibunya yang ada di Perancis, supaya mereka melihat keluarga apa yang di ajaknya berteman.


Semua orang menatap heran melihat seorang gadis ngotot di hadapan lexia, tanpa di duga lovelia yang baru saja datang dan mendengar ocehan tidak masuk akal gadis ini segera berjalan cepat dan segera menamparnya, Rose terkesiap, orang tua Rose datang sambil memegang putrinya yang hampir terjatuh.


"Daneil, bagaimana bisa kau mengundang gadis tidak tahu malu ini kepestamu dan mengacaukan pesta ulang tahunmu?" Ucap lovelia dengan kemarahan menggelegar.


Rose tersadar dari tamparan lovelia. Ibu dan ayahnya hendak protes tetapi dia urungkan ketika dia tahu siapa yang menampar putrinya, dia adalah menantu Tuan Juan Robert.


"Bawa pergi putri gilamu itu, jangan pernah muncul di keluarga kami, dasar gadis tidak tahu malu." Ucap Lovelia sengit.


Daneil baru pertama kali melihat ibunya menampar seseorang, padahal ibunya itu terkenal sangat lembut dan tidak pernah kasar kepada orang lain.


"Bibi keren." Ucap dazon bertepuk tangan.


Fairley bersembunyi di belakang Ax, dia begitu malu karena dirinya lah pesta ini menjadi ribut-ribut seperti ini.


"Jangan sembunyi, kau tidak salah apa-apa, gadis gila itu yang merusak semuanya, aku sangat heran mengapa gadis ular itu bisa segila itu, kau lihat? Ibuku mengepalkan tangannya kuat-kuat, dia betul-betul menahan kemarahannya sampai buku-buku jarinya terlihat." Senyum Ax, tetapi Fairley tidak melihat seperti itu, dia menyadari bahwa memang kehidupan mereka berdua


Sangat jauh berbeda, dia sembunyi di belakang tubuh Ax dan mencoba menutupi wajahnya.


Ax mencoba memeluknya dan menenangkannya. "Mengapa kau bisa menyukaiku Ax, seperti yang dikatakan gadis jelek itu, bahwa aku tidak bisa bersamamu, kehidupanku berbeda denganmu." Bisik Fairley.


"Apapun yang kau katakan sekarang tidak ada gunanya Fairley, sekarang kau milikku, kau tidak bisa menjadikan kehidupanmu sebagai alasan untuk menjauhiku, lagi pula kau sudah tidur denganku, dan kita tidak melakukannya hanya sekali." Bisik Ax membuat rona merah di wajah Fairley terlihat jelas.


Fairley tersenyum kecut, meskipun begitu hatinya menjadi hangat, dia menatap Ax dan menariknya ke belakang, tiba-tiba dia menciumnya dengan lembut. "Aku menyukaimu." Bisiknya.


"Aku tahu." Bisik Ax.


~


Setelah kehebohan yang dilakukan oleh Rose dan kepergiannya yang dramatis cukup menyita perhatian orang-orang di pesta itu, pasalnya dia menangis histeris tidak mau pulang dan ingin bicara sekali lagi dengan Ax, apalagi tiba-tiba ada telepon dari seseorang yang membuat wajah ayah dan ibunya pucat pasi, tanpa memperdulikan putrinya yang teriak-teriak dia menyeretnya keluar dari pesta, sepertinya ada hal lebih genting yang menghampiri mereka.


"Haaah, seperti aku melihat Melda saja," ucap lexia, "dia betul-betul mirip dengan Melda, aku tidak tahu ada wanita lain selain Melda yang bisa seperti itu." ucapnya.


"Jangan menyebut nama wanita itu, mengerikan." ucap Daren. Lexia tertawa dan bersandar di bahu Suaminya dan menatap Ax dan Fairley yang sedang berdansa dengan musik yang mengalun.


"Apakah mereka seperti kita, sewaktu masih muda dulu?" tanya lexia.


"Tidak, sikapmu berbeda dengan Fairley yang langsung menerima Ax dan menyukainya, dulu kau selalu menyebutku idiot, mesum dan pria tua, kau tidak ingat itu sayang? lagi pula pertemuan kita cukup unik bukan?" ucap Daren mengangkat satu alisnya.


"Benarkah? aku sudah lupa." ucap lexia menarik jas suaminya dan mengajaknya berdansa bersama.


~


Dazon mengikuti sembunyi-sembunyi kemana Keluarga itu pergi dan memantaunya, Dazon yang tajam akan semua hal, tentu tidak bisa membiarkan manusia licik itu pergi dari sana tanpa mengetahui apa yang direncanakannya.


"Thomas, aku ingin kau menyelidiki keluarga itu, aku ingin kehancuran di perusahaan dan keluarga mereka, serahkan semua dokumen perusahaan milik mereka kepadaku, akan kutunjukkan bagaimana keluarga Caesaar bertindak jika ada duri yang berusaha mengacaukannya, dia belum mengenal Dazon Caesaar, akan kutunjukkan bagaimana kehancuran sebenarnya." senyum Dazon.


"Baik tuan." ucap Thomas, dia mengikuti kata-kata tuan mudanya ini, di antara Axton dan Dazon, yang menjadi cucu Tuan Caesaar, Dazonlah yang memiliki sifat dan sikap betul-betul berbeda dari ayah dan kakeknya. Meskipun Xaphier terkenal bekerja di dunia bawah dan terkenal keras tetapi kekejamannya berbeda dengan Dazon.


Dazon tidak mengenal belas kasihan dan tanpa ampun akan menghukum musuh-musuhnya yang menghalangi jalannya, dia sangat tertarik dengan pekerjaan yang melibatkan senjata dan pekerjaan Xaphier di Milan, meskipun sikapnya ceria dan konyol tetapi di balik itu, hanya Thomas yang tahu bagaimana Dazon menghukum orang-orang yang pernah mengkhianati ayahnya.


~


Evan berjalan dan berhenti tepat di hadapan Axton dan Fairley yang sedang berbincang-bincang di balkon penginapan.


"Tuan muda, Tuan Caesaar ingin berbicara kepada anda dan Nona Fairley." Ucapnya.


Keduanya terkesiap. "Ok, kami akan segera ke ruangan kakek." Ucap Ax. Tidak lama kemudian Lexia dan Daren menghampiri putranya.


"Jangan khawatir, Sebelum aku menikahi ibumu, aku juga di panggil oleh kakekmu ke ruangannya, jadi kau tidak usah cemas." ucapnya.


Ax mengangguk dan menarik tangan Fairley menuju ke ruangan kakeknya di lantai 3. Meskipun Daren bilang tidak perlu khawatir, tetapi mereka berdua nampak cemas, sehingga mereka berdua mengikuti kepergian Putranya, dia ingin tahu apa yang akan di katakan Tuan Caesaar kepada Ax dan Fairley.


Suara ketukan terdengar di pintu besar milik tuan Caesaar, setelah mendengar suaranya, mereka berdua akhirnya masuk dengan jantung berdebar tidak menentu.


Tuan Caesaar terlihat santai di tempat duduknya. Dia menatap mereka berdua. Dan sesuatu yang di katakannya membuat mereka berdua terkejut, syarat yang di ucapkan tuan Caesaar agar Fairley di terima di keluarga besar Caesaar.


"Apa kau sanggup memenuhi persyaratanku ini Axton? mungkin terdengar aneh tetapi untuk mengetahui seberapa besarnya kau serius kepada Fairley, kau harus mengikuti apa yang kuinginkan, jika kau berhasil menempuhnya, saat dimana kau ingin menikahi Fairley dan ingin hidup bersamanya, aku akan mendukung sepenuhnya." Ucap tuan Caesaar.

__ADS_1


Fairley menunggu jawaban Ax, dia kemudian menatap tajam kakeknya lalu berkata dengan suara tegas dengan punggung yang tegak.


"Aku akan melakukan apa yang kakek inginkan."


__ADS_2