The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Air mata kemarahan Melda


__ADS_3

Kediaman Caesaar, 08.00


Matahari pagi sudah menyinari tubuh Nara, sama seperti malam-malam sebelumnya, tubuhnya tidak pernah lepas dari keinginan Xaphier yang ingin bercinta dengannya tanpa ampun dan itu membuat Nara sedikit kewalahan. Dia menatap seluruh permukaan kulitnya yang beberapa tempat penuh dengan bercak merah yang menuju kebiruan, Nara segera menutup kembali tubuhnya dengan selimut.


Dia mengedarkan pandangannya mencari sosok Xaphier tetapi dia seorang diri di kamar, rupanya Xaphier sudah pergi, Nara terlihat kecewa, entah perasaan apa yang berkecamuk dihatinya, seakan air mata bodohnya ingin keluar jika tidak melihat Xaphier ada di sampingnya, air mata itu terus meleleh dipipinya dan Nara tidak menghapusnya, dia ingin mengeluarkan segala kegundahan yang dirasakannya, Nara ingin Xaphier berada di sisinya tatkala dia bangun dan menenangkannya sehabis percintaan mereka semalam.


Nara melilitkan handuk ke tubuhnya dan segera ke kamar mandi, dia cukup berlama-lama di bawah dinginnya shower, lalu tidak lama kemudian dia mengenakan dress manis berwarna plum yang sangat kontras dengan kulitnya sehingga dia tampil sangat cantik. Nara keluar dari kamarnya dan segera ke meja makan untuk sarapan.


Suara-suara cukup keras membuat Nara menolehkan kepalanya ke arah biang ribut, suara wanita yang berteriak histeris membuat Nara sedikit penasaran dan berjalan ke tempat suara itu berasal.


"DARI MANA KAU MENEMUKAN SEMUA INI XAPHIER, KAU MEREKAYASA SEMUANYA AGAR KAU DENGAN MUDAHNYA MENENDANGKU DARI NAMA KELUARGA INI, AKU TIDAK PERDULI, KALIAN HARUS BERHADAPAN DENGAN PENGACARAKU." Teriak Melda.


"Bukti Rekayasa? Jangan berlagak bodoh Melda, aku bisa memberikan sejumlah video tidak senonohmu untuk menjadi bukti akurat agar kau di tendang dari nama besar caesaar, apalagi surat wasiat paman yang jelas-jelas menginginkan agar segala asetnya berpindah kepada putra satu-satunya yang sekarang entah dimana, kau masih ingin mengelak? Coba saja dan kau akan melihat bagaimana caraku menghadapi orang sepertimu." Ucap Xaphier dengan suara tenang tetapi nadanya mencekam dan mengancam.


"Lihat saja, aku tidak akan menyerah dengan semua ini." Melda berjalan dan dengan kasarnya membuka pintu ruangan tuan Caesaar. Nara sedikit mundur, dia lupa bahwa dia keterusan mendengar semua pembicaraan itu dan akhirnya bertemu dengan Si tua Melda.


Melda berdiri lalu menatap Nara dengan kesenangan untuk menatapnya sambil merendahkan tipe wanita Xaphier yang berdiri kikuk dihadapannya.


"Ahh, Nyonya Xaphier rupanya, kau tentu ingat denganku bukan? Dan ck ck ck, bagaimana gadis sepertimu jatuh ke pelukan Xaphier? Kau !" Mata Melda menatap dengan pandangan menghina kepada Nara.


"Tidak layak berada di keluarga caesaar, wanita miskin sepertimu hanya mengandalkan tubuhmu saja dan melempar dirimu dengan mengandalkan kemampuanmu di tempat tidur, hah aku ingin tahu sehebat apa dirimu hingga Xaphier bisa menikahi wanita sepertimu !" Dia menarik dagu Nara yang masih berdiri dengan diam.


"LEPASKAN TANGAN KOTORMU SEKARANG !" Suara itu menggelegar hingga suara Xaphier memenuhi ruangan itu, siapa saja yang mendengar gelegar suara Xaphier pasti akan ketakutan.


"Seharusnya kau berterima kasih kepadaku karena aku bisa menilai wanita yang berdiri dihadapanku ini, dia tidak layak untuk menjadi bagian dari keluarga Caesar." Tangannya dia hempaskan cukup kuat hingga wajah Nara seperti tertampar dan mundur beberapa langkah dengan kaki sedikit terhuyung.


Kemarahan Xaphier sungguh terlihat mengerikan, dia melangkah cepat ketempat Melda dan tamparan cukup kuat mendarat di wajah Melda sehingga tubuhnya terhuyung mundur.


"Berani kau sentuh milikku aku pastikan kau akan mati di tanganku." Ancamnya. Xaphier yang menatapnya dengan tatapan membunuh dan memberikan satu tamparan keras di wajah Melda membuat siapa saja mendadak terpukau dengan sikap Melda yang nyaris tidak merasa takut dan tidak merasa bersalah sama sekali, dia berdiri tegak, sambil memegang pipinya yang bengkak dan berdenyut akibat tamparan Xaphier.


"Kau menamparku demi gadis kecil ini Xaphier? Tidakkah matamu buta, seharusnya kau lebih memilih gadis yang sepadan untukmu dan...


"Wanita tua itu betul-betul cari mati, haah singkirkan dia Thomas kalau tidak, entah apa yang akan di lakukan Xaphier, aku tidak mau ada pembunuhan di rumahku." Ucap tuan Caesaar dengan nada ringan seperti halnya bertanya mengapa cuaca mendung terjadi pagi ini.

__ADS_1


"Baik tuan." Dengan isyarat dari Thomas beberapa pengawal sudah berdiri dan berjalan menghampiri Melda yang masih berdiri dengan mulut komat Kamit tanpa takut sedikitpun di hadapan Xaphier yang seakan ingin menenggelamkannya ke dasar tanah.


Sebelum Thomas dan Pengawal-pengawalnya sampai ke tempat Melda, tangan Xaphier sudah mendarat di leher melda dan mencekiknya, senyum ironi terpampang di wajah murka Xaphier melihat Melda kesulitan bernapas, tubuhnya terangkat hingga dia harus berjinjit karena cengkraman Xaphier yang cukup kuat.


Wajahnya memerah dan matanya melotot memandang Xaphier, dia tidak menyangka Xaphier akan betul-betul melaksanakan ucapannya. Melda menggapai-gapai tangan Xaphier mencoba melepaskan cekikan dilehernya. Nara tiba-tiba menghampiri Xaphier dan menatapnya dengan pandangan memohon.


"Xa.. Xaphier? Xaphier kumohon lepaskan dia, Xaphier...." Ucapan Nara tidak membuat Xaphier berhenti.


"Ucapkan sesuatu yang membuatku lebih tertarik melakukan yang kau katakan di bandingkan membunuh wanita ini." Nara bingung dan mencari cara agar Xaphier mau melepaskan cekikannya, wajah Melda sudah memerah begitupun matanya.


"Kita..kita sarapan bersama, ini sudah hampir lewat waktu sarapan." Ucap Nara cepat berusaha menarik tangan Xaphier.


"Yang lain sayang, itu masih belum membuatku tertarik." Ucapnya.


Nara tidak memikirkan hal lain lagi selain tindakan yang dilakukannya mungkin akan membuatnya merona dan malu. Dengan satu gerakan cepat Nara berjinjit dan memberikan ciuman kilat di sudut bibir Xaphier. Tiba-tiba tangan Xaphier melemah dari cekikikan yang dilakukannya kepada melda, dia kemudian melepas leher Melda hingga dia jatuh dan terduduk sambil terbatuk-batuk memegang lehernya yang memerah.


Xaphier menarik Nara dan segera membawanya meninggalkan tempat dimana Melda terbatuk-batuk. "Ikut aku sayang kita sarapan bersama dan kau harus mempertanggungjawabkan tindakanmu padaku." Bisik Xaphier tanpa sekalipun memandang Melda yang mengeluarkan air mata kemarahan.


Dengan satu isyarat dari thomas, Pengawal-pengawal itu bergerak dan memegang kedua lengan Melda dan membawanya keluar dari mansion ini, dia kali ini tidak bisa melawan bahkan kekuatannya membuat mulutnya bungkam karena getaran hebat ditubuhnya. Cekikan Xaphier seakan membuat darahnya mendidih, bercampur dengan dendam yang membara. Setelah dia tiba di mobilnya dan pengawal masih berdiri dihadapannya. Melda Segera masuk ke mobilnya dengan tubuh gemetar hebat. Tidak lama mobilnya melaju dan meninggalkan area parkiran dan segera keluar dari gerbang.


~


"Nah, sekarang kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu yang tadi sayang." Bisik Xaphier melihat kepanikan di wajah cantik dan pucat Nara.


"Aku..aku harus bagaimana?" Ucap Nara tidak yakin dengan tindakannya tadi, dia hanya melakukannya agar Xaphier menghentikan cekikannya kepada Melda.


"Aku tidak mau tahu sayang, Nah, apa yang akan kau lakukan untuk semua tindakanmu tadi." Ucapnya.


Nara perlahan tetapi dengan tubuh sedikit goyah berjalan menuju Xaphier, dia kini berdiri dihadapannya dengan menghapus jarak diantara mereka, Nara kemudian berjinjit dan dengan berani memegang kedua pipi Xaphier dan perlahan memberikan ciuman lembut kepada Xaphier, dia menutup matanya dan setelah itu dia melepaskan ciumannya perlahan. Xaphier tidak menunggu lama, ciuman lembut dari Nara membangunkan sisi liarnya dan membalas ciuman Nara dengan liar hingga Nara seakan tenggelam di tubuh Xaphier.


Nara kini sama sekali tidak bisa merasakan kakinya, Xaphier melakukannya tanpa menahan-nahan dirinya, mengambil semua apa yang dimiliki dari tubuh Nara dan menyatakan kepemilikannya dengan hentakan kuat sehingga Nara larut dengan percintaan panas mereka pagi itu.


~

__ADS_1


"Kau yakin mereka sudah tiba di tempat Alvin?"


"Ya tuan, tetapi ada sedikit masalah hingga kami harus berhenti mengikutinya, beberapa pengawal menghadang kami, dan memberikan surat dari tuan Daren kepadaku." Ucap Sebastian.


"Apa isi surat itu!"


"Dia ingin kita menunggu sebentar dan akan berbicara kepada tuan Alvin dan Nona Lovelia."


"Daren tidak bisa menghalangiku, tunggu aku di jalan Wilton aku akan segera menyusul mereka."


Kemarahan membuat tuan Robert pergi saat itu juga, ia harus bertemu mereka berdua. Tindakan Alvin membuat tuan Robert harus bertindak keras pada putranya itu, bunyi deringan ponsel membuat tuan Robert menatap layar ponselnya, dan menatap nama tuan caesaar tertera di sana.


~


Villa Alvin,


Lexia sedang menggendong Ax dan berjalan-jalan dengan Daren pagi itu, mereka memang merencanakan bangun pagi-pagi sekali agar mereka dapat menikmati pemandangan dan udara pagi yang segar dan tentu saja Ax sangat antusias dengan bersuara keras dan menggemaskan.


"Ahh pangeran tampanku sangat suka berjalan-jalan?" ucap lexia memberikan kecupan-kecupan di pipi lucunya. Sedangkan Daren tidak lupa mengambil setiap moment bersama keluarga kecilnya. Dia memotret setiap gerakan lexia dan putranya, entah berapa banyak potret mereka bertiga. Daren memegang tangan lexia dan menciumnya ketika tiba di depan sungai dengan Ax masih dipelukan mereka berdua.


Ciuman panjang yang membuat jantung lexia berdetak seiring membalas ciuman Daren yang intens dan dalam, entah berapa lama ciuman itu berlangsung, hingga suara-suara Ax seperti mengomel menyadarkan mereka berdua.


Ax berbalik kepada ayahnya dan membuka kedua tangannya ingin digendong oleh ayahnya. "Kemarilah sayang." ucap Daren menggendong Ax dan memegang tangan lexia.


"Mereka sangat bahagia kan Alvin?? aku juga ingin memiliki bayi seimut Axton." ucap Lovelia memeluk Alvin yang masih mengenakan selimut dan memandang mereka dari kejauhan. Tatapan sayang Alvin kepada lovelia membuatnya mengecup puncak kepalanya.


"Kita akan bahagia seperti Daren dan lexia sayang." bisik Alvin sambil memeluk erat lovelia.


~


"Aku tidak akan membiarkan mereka berdua bersama caesaar !" ucapan tuan Robert mencapai titik final, sudah dari awal dia tidak menyetujui hubungan keduanya.


"Apapun yang terjadi aku akan memisahkan hubungan di antara Alvin dan lovelia." ucap tuan Robert keras kepala.

__ADS_1


"Aku hanya memberikan pandangan kepadamu Juan, kau ingin melihat putramu hidup bahagia atau melihat penderitaan kembali menghampiri hidup Alvin dengan kehilangan lovelia."


__ADS_2