The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Kejutan dari Xaphier 3


__ADS_3

Kediaman Tuan Caesar, 20.15


Setelah kepergian dua pengacau itu yaitu Monica dan Melda akhirnya mereka semua duduk di meja makan, Nara terlihat canggung duduk di antara mereka semua tetapi kecanggungannya perlahan menghilang karena perhatiannya teralihkan dengan baby Ax yang berada di pangkuan lexia, dia memegang tangannya dan memberikan kecupan di pipinya.


"Ehm, Xaphier aku ingin pernikahan kalian di gelar kembali, aku ingin melihat pernikahanmu, setelah lexia menikah aku sebagai ayahnya tidak berada di hari penting pernikahan putriku sendiri, setidaknya aku ingin pernikahanmu dilaksanakan kembali secara resmi." Ucap tuan Caesaar.


Matanya tertuju kepada Nara yang tersenyum manis kepada Ax yang sekarang berada di pangkuannya.


"Narana Aaron's, boleh aku memanggilmu Nara?" Tanya tuan caesaar.


Nara tersenyum. "iya erm...


"Panggil aku ayah, karena mulai saat ini kau adalah menantuku, jadi kau harus memanggilku ayah." Ucapnya.


"Bagaimana dengan usulku Nara? Apakah kau menyetujuinya? Kau pasti setuju bukan?" Secercah senyum di tampilkan di wajah tuan Caesaar. Nara menatap reflek kepada Xaphier yang duduk di disampingnya. Dia tersenyum melihat pipi pucat itu merona.


"Baiklah ayah, kami akan mengadakan pernikahan seperti yang ayah minta tetapi aku hanya ingin pernikahanku di hadiri oleh keluarga kita saja." Ucap Xaphier memegang tangan Nara, sementara Nara berusaha melepaskan tangannya dari Xaphier.


"Biar ayah yang mengurus itu semua, kalian hanya perlu bersiap jika sudah tiba waktunya."


Setelah makan malam, tuan caesaar memanggil Xaphier dan Nara ke ruangannya. Seperti halnya Daren ketika pertama kali bertemu dengan tuan caesaar, lexia dan Daren juga di panggil olehnya dan di berikan interogasi seputar mereka berdua.


Lexia dan Daren berada di ruang keluarga bermain-main dengan Ax, tuxedo yang di kenakannya sudah terlepas tinggal baju dalam Ax dan celana panjangnya saja yang belum di lepas karena dia sedang kepanasan hingga Ax menjadi rewel dan ingin menangis saja.


"Kenapa pangeran tampanku tidak mau berhenti menangis?" Lexia memegang kening Ax merasakan suhu tubuhnya. "Tidak panas." Ucap lexia. Daren kemudian menggendong Ax dan membawanya ke ruang tamu agar dia berhenti menangis, tetapi Ax masih saja menangis.


"Berikan kepadaku mungkin Axton ingin menyusu." Ucap lexia. Dia segera menyusui Ax dan akhirnya Ax pun diam dan berbaring tenang di samping ibunya.


"Matanya mengerjap-ngerjap memandang ibunya, gaunnya sudah terlepas hingga mencapai pinggangnya. "Rupanya pangeran tampanku lapar?" Ucap lexia menepuk-nepuk punggung Ax. Pintu kamar terbuka, Daren masuk ke dalam kamar tamu, lexia lebih memilih kamar terdekat untuk menyusui putranya.


Daren melepaskan tuxedonya, tinggal kemejanya saja yang tersisa, dia berbaring di samping putranya dan menatap putranya yang akhirnya tenang. "Ck, bukan aku yang mendapatkan kesempatan berharga membuka gaunmu malam ini tapi pria kecil ini." Ucap Daren mengambil tangan Ax yang memegang dada ibunya.


"Berhenti memegang milikku pria kecil?" Ucap Daren berpura-pura menggigit jari-jari putranya, Ax melepaskan mulutnya dari dada ibunya, lalu menatap ayahnya, dia memberikan mata tajam safirnya kepada ayahnya. Daren tertawa melihat pipi tembemnya yang berwarna merah membulat dan hidungnya yang mancung mengkerut menatap sang ayah.

__ADS_1


"Baiklah pria kecil, ayah akan mengalah kali ini." Ucap Daren mengecup pipi putranya bersandar di sampingnya lalu mengangkatnya dan menidurkan Ax di atas tubuhnya.


~


Xaphier membawa Nara ke kamarnya di lantai 2, setelah tuan caesaar menanyakan beberapa hal seputar keluarga Nara, dan menjelaskan bahwa sejak kecil dia tinggal di luar kota Oklahoma di pinggiran Tulas, dan mengatakan jika sejak kecil dia tinggal bersama bibi Elma sejak usia 6 tahun, dia dibawa dari panti asuhan oleh bibi Elma dan di rawat sebagai putrinya sendiri.


"Kau pasti lelah Nara, sebaiknya kita istirahat." Bisik Xaphier di tengkuk Nara.


Tubuh Nara berjengit merasakan kedekatannya dengan Xaphier, karena begitu terkejutnya Nara memutar tubuhnya hingga wajahnya membentur dada bidang Xaphier yang tepat berada di belakangnya.


"Kau baik-baik saja sayang?" Bisik Xaphier tersenyum miring merasakan tubuh yang direngkuhnya terasa panas dan napasnya terdengar memburu. Xaphier tersenyum, sesekali memberikan kecupan di bibir Nara.


Nara menghindari bibir Xaphier yang ingin memagutnya. "Aku..aku lelah, aku mau tidur." Ucap Nara mendorong lembut tubuh Xaphier.


"Kau tidak mandi sayang? Kau akan tidur begitu saja? Mandilah dulu setelah kau selesai, aku akan mandi berikutnya, jangan khawatir aku tidak akan mendobrak pintu kamar mandi dan bergabung denganmu, aku tahu kau masih nyeri dan aku tidak akan memaksamu untuk hari ini Nara." Ucapnya sambil membaringkan tubuhnya.


Nara berdiri di tengah-tengah ruangan dan dipandang oleh Xaphier yang tiduran di tempat tidur.


"Ba..Balik sana, aku tidak bisa membuka gaunku." Ucap Nara terlihat marah dan malu di waktu yang bersamaan. Xaphier berdecak dengan tidak sabar dia lalu berdiri di hadapan Nara lalu mengangkat dagu cantik Nara.


Nara menatap marah kepadanya, dia mengambil handuk dan segera masuk ke kamar mandi masih dengan gaun yang melekat di tubuhnya. Tetapi sebelum dia Sampai ke pintu kamar mandi Xaphier sudah menahan langkah Nara dan membawanya dengan kedua tangannya ke tempat tidur.


"Lepaskan aku ! Apa yang kau lakukan Xaphier, kau tidak bisa seenaknya kepadaku." Nara memberontak di tubuh Xaphier, dia terjatuh di atas tempat tidur dengan separuh dressnya terbuka, wajah Xaphier terlihat marah dia memerangkap tubuh Nara dengan tubuhnya.


"Seharusnya kau mendengarkan perkataanku sayang, aku bukanlah pria penyabar Nara, kau sudah tahu itu." Ucap Xaphier, tidak menunggu lama, bibirnya sudah menutupi bibir Nara yang membuka. Malam itu mereka berdua hanyut dalam kegiatan panas mereka, entah kapan Xaphier akan melepaskan tubuh Nara Karena sudah tepat jam 2 pagi suara Nara masih terdengar mendesah, mengerang lalu menjerit dan meneriakkan nama Xaphier.


~


Kediaman Burchard, pukul 00.45


Mereka berdua hanyut dalam pembicaraan masing-masing, tidak ingin berpisah itulah yang ada di hati keduanya, mereka terus berbincang padahal waktu sudah menunjukkan hampir pukul 1 malam.


"Lovelia? Sebaiknya kau pergi tidur, sepertinya perbincangan kita sudah cukup untuk hari ini, kau terlihat lelah." Ucap Alvin. Mereka berdua duduk di salah satu balkon di kamar Alvin, setelah membuat dua coklat hangat, lovelia akhirnya memutuskan membawa minuman panas itu ke kamar Alvin.

__ADS_1


"Erm ya paman, hehe kita sudah terlalu banyak berbincang, aku bawa dulu gelas ini ke dapur dan aku akan segera tidur." Ucap lovelia memberikan senyuman cantiknya kepada Alvin.


Lovelia memegang gelas di kedua tangannya, tetapi tiba-tiba pertanyaan itu muncul begitu saja di kepalanya.


"Pa..paman Alvin, apakah paman Alvin akan segera menikah dengan tunangan paman?" Ucap lovelia sambil menunduk, lovelia tahu pertanyaannya begitu pribadi tetapi lovelia ingin tahu apa yang ingin dikatakan Alvin.


Alvin tersenyum, kemudian dia beranjak dari tempatnya menyandarkan kedua tangannya dari pembatas di balkon itu kemudian menghampiri lovelia. Sebuah kecupan lembut mendarat di kening lovelia.


"Hal itu tidak bisa aku jawab sekarang lovelia, tapi nanti kau akan segera tahu jawabannya." Senyum Alvin, wajah lovelia terlihat heran tetapi dia segera mengangguk dan keluar dari kamar Alvin.


Alvin mencoba menahan sekuat mungkin perasaannya, satu hal yang ingin pertama di lakukannya yaitu memberikan penjelasan kepada ayahnya mengenai latar belakang lovelia, tidak semudah itu memberitahu ayahnya bahwa lovelia bukanlah cucunya, putri dari kakaknya Jack, melainkan seorang anak yang diambil oleh Barbara dari panti asuhan.


Alvin dengan tangan terbuka akan menerima lovelia apa adanya dan tetap menyayanginya dan mencintainya dan hal tersebut merupakan keberuntungan buatnya, tetapi tidak dengan ayahnya, tuan Juan Robert, dia mungkin akan murka dan nantinya menyakiti hati lovelia, dan Alvin tidak ingin hal itu terjadi.


~


Pagi itu cuaca begitu bersahabat, sinar pagi hari memancarkan cahayanya dari sela-sela jendela yang masih tertutup gorden, lexia mencoba membuka kedua matanya, dan menatap jam di atas meja, dia menatap dirinya yang telah kembali tidur di kamarnya sendiri di lantai 2, dia berbalik dan menatap putranya serta suaminya yang masih terlelap.


"Jam berapa ini? Sejak kapan aku kembali ke kamar? Apa Daren yang mengangkatku kemari." Gumam lexia, kemudian berdiri dari pembaringannya dan segera mengambil handuk dan menuju kamar mandi.


Lexia segera mandi dan tidak berapa lama dia keluar, tubuhnya terasa segar sehabis mandi, lexia segera mengenakan pakaiannya dan kemudian memberikan kecupan singkat kepada putranya Ax dan suaminya, setelah itu dia keluar dari kamarnya dan hendak menyiapkan sarapan pagi.


Lexia berjalan di koridor panjang lalu melewati beberapa kamar, terdengar suara Xaphier yang berbicara kepada Nara, lexia sebenarnya tidak ingin mendengarkan percakapan mereka berdua tetapi karena suara Xaphier begitu keras jadi lexia sedikit mendekat ke kamar kakaknya dan mendengar suara Xaphier yang meminta maaf kepada Nara.


"Kau masih marah? Semalam salahku Nara, jika kau ingin memukulku lakukan saja aku akan menerimanya, jadi berhentilah menangis Hem."


Lexia membelalakkan matanya, apa yang dilakukan Xaphier hingga Nara menangis? Ck, apa Xaphier begitu kasar terhadap Nara? Aku ingin mendengarkan cerita Nara mengenai pertemuannya dengan Xaphier dan bagaimana mereka berdua akhirnya menikah, pikir lexia.


Lexia masih berdiri di depan pintu kamar kakaknya mendengarkan dengan khidmat bujuk rayu Xaphier kepada Nara, lexia terkekeh mendengar suara Xaphier yang memohon, tanpa lexia sadari kepala pengawal di mansion itu yaitu Thomas beserta dua pengawal lainnya berhenti di depan kamar Xaphier. Suara langkah kakinya tidak juga menyadarkan lexia.


Lexia terkejut kedapatan mencuri dengar pembicaraan kakaknya. Dia berdiri dengan salah tingkah di depan pengawal-pengawal yang seperti robot ini. "Erm sial, kakiku kesemutan." Ucap lexia berpura-pura memegang kakinya dia malu karena ketahuan menguping.


"Sepertinya kakiku baik-baik saja." Ucap lexia tanpa merasa bersalah dia segera kabur dari depan kamar Xaphier. Ketiga pengawal itu hanya menunduk sebentar lalu mengetuk beberapa kali pintu kamar Xaphier.

__ADS_1


"Ck, kenapa mereka menyeramkan sekali? Meskipun dia pengawal di mansion ini, mereka terlihat seperti setia hanya kepada Xaphier saja." Ucap lexia turun dari tangga dan segera menuju ke dapur menyiapkan sarapan.


__ADS_2