
Rencana itu sungguh di luar dugaan dari kehendak Adrick, rencana yang diinginkannya tidak berjalan dengan semestinya, rencana yang disusunnya dengan matang tidak berjalan dengan kehendaknya dan hal itu membuatnya sangat marah.
Hari itu Tuan Caesaar dan Xaphier berangkat memenuhi undangan dari keluarga Rudolf, meskipun dia berangkat, penjagaan di mansion tentu saja tetap diperketat.
"Jangan lengah Thomas, mungkin saja ini salah satu rencana Adrick untuk menjalankan rencananya, kau paham, tetap perketat penjagaan."
"Baik tuan." Ucap Thomas.
Lexia kali ini berada di ruang bermain menemani Ax, sedangkan Nara berangkat bersama Xaphier dan tuan Caesaar, sedangkan Daren belum juga pulang dari kantornya. Lexia berdua saja bersama Ax di ruang bermain.
"Ax tidak capek? Kau tidak mau tidur sayang?" Ucap lexia sambil meluruskan kakinya dan menopang dagu sambil mengamati putranya yang tertawa-tawa memperlihatkan senyum cemerlangnya kepada ibunya tanda tidak letih sedikitpun, dia masih asyik bermain-main dengan robot-robotnya.
Beberapa menit yang terasa sunyi membuat lexia sedikit mengantuk, tiba-tiba suara langkah kaki membuat lexia terbangun dari tidur-tidur ayamnya, dia menatap putranya yang akhirnya menguap dia tersenyum dan segera membawa Ax untuk kembali ke kamarnya.
Sesuatu menghentikan langkahnya, seseorang berdiri di depan pintu dan menghalangi langkahnya, dia memakai pakaian abu-abu senada dengan pakaian dan celananya, rambutnya menjuntai panjang terlihat kotor dan wajahnya tidak dikenali oleh lexia, wajahnya mengerut mengerikan dengan kerutan-kerutan nampak jelas di wajahnya.
Lexia mundur beberapa langkah, dia memeluk erat putranya.
"Melda?" Bisik lexia
~
Tahanan Nomor 306, Burke Prisoner.
Wanita itu berjalan tertatih-tatih dengan kaki tua pendeknya, matanya mengerling penjaga wanita yang sedang memperhatikan setiap tahanan di penjara itu, suasana di sana seperti hari-hari biasanya, meskipun seperti itu, wanita tua yang tidak mengenal kekalahan dalam hidupnya menggunakan satu-satunya miliknya untuk keluar dari tempat itu.
Dengan menggunakan kelemahannya sebagai wanita tua dia menjatuhkan tubuh rentanya di lantai, semua orang menatapnya, para petugas segera membawanya ke klinik untuk memeriksa keadaannya. Beberapa hari dia dirawat di rumah sakit, setelah mendapatkan kesempatan, Melda keluar dari pintu dan berlari kemudian masuk ke locker petugas kebersihan kemudian mengenakan seragam mereka dan menggunakan masker berpura-pura membersihkan lantai dan kemudian berlari dan keluar dari rumah sakit itu.
Yang tidak di ketahui oleh penjaga-penjaga di Mansion di sana adalah bahwa Melda tahu jalan serta koridor-koridor tersembunyi yang ada di mansion megah itu sehingga dengan mudah dia bisa masuk ke dalam mansion dengan menggunakan jasa pengantar makanan yang biasanya keluar masuk mansion untuk membawa pasokan makanan, setelah itu dia bersembunyi cukup lama di salah satu kamar yang tidak terpakai dan menunggu waktu yang tepat untuk keluar.
~
"Melda? Bagaimana bisa kau...." Lexia memegang erat Ax dan memeluknya.
"Kau tidak perlu tahu bagaimana aku bisa ada di sini gadis bodoh, aku ada di sini tentu saja ingin membalas semua perlakuanmu terhadapku, merebut pria yang kucintai dan Karena kehadiranmu, aku tersingkirkan dengan mudahnya, seharusnya sejak lahir kau sudah kumusnahkan saja, sehingga aku tidak perlu kesulitan seperti sekarang ini, sekarang ini satu-satunya kesempatanku untuk menghancurkan kebahagiaanmu bersama Daren dan putramu.
Lexia menatap di sekelilingnya, bagaimana bisa dia keluar dari situasi ini tanpa membuat anaknya terluka, bagaimana bisa wanita ini lolos dengan penjagaan seketat ini, lexia terus menatap senjata yang di arahkan kepada lexia.
"Jangan membuat semuanya lebih rumit Melda, kau mungkin saja akan kehilangan nyawamu jika kau melukaiku." Ucap lexia, masih menatap pistol yang diarahkan padanya.
Dia tertawa seperti orang gila. "Kau pikir aku perduli? Aku sudah tidak perduli lagi lexia, asalkan keinginanku terbalaskan maka itu sudah membuatku puas." Ucapnya.
Lexia melirik sesuatu di belakang lexia, jendela belakang yang terhubung dengan taman, dan nampak Thomas berdiri di sana sambil memegang senjata, dia memberikan isyarat kepada lexia agar tidak bergerak dari tempatnya, dia sedang mengarahkan senjatanya tepat ke arah Melda.
~
"Tuan, sepertinya ada masalah." Ucap salah seorang penjaga kepada Adrick melalui sambungan teleponnya.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Sepertinya rencana anda akan tertunda tuan." Ucapnya.
"Wanita bernama Melda sedang menyusup ke dalam mansion dan mengarahkan senjatanya kepada nona Lexia dan putranya, kami sekarang ini mengepungnya."
"Tembak dia." Perintah Adrick tanpa ragu.
"Jika dia berani melukai lexia, bunuh dia, kau paham !"
"Baik tuan."
"Sial !" Umpat Adrick.
~
__ADS_1
"Turunkan senjatamu Melda, jika kau melukai sedikit saja putraku aku bersumpah akan membunuhmu." Ucap lexia menatapnya tajam.
"Bukan kau yang mengancam di sini gadis bodoh, kau bahkan lupa siapa yang memegang senjata di sini, haha akhirnya dendamku bisa tercapai." Ucapnya menggelegar.
Tembakan tiba-tiba terdengar, suara itu berasal dari arah belakang pintu yang dibuka diam-diam oleh salah satu penjaga. Suara itu memekakkan telinga yang mendengarnya. Daren yang baru saja masuk ke dalam gerbang segera membuka pintu mobilnya dan berlari menuju pintu utama.
Tubuh renta itu terbaring di depan pintu dengan mata melotot dan darah segar memenuhi lantai dengan dirinya terpuruk di sana bersimbah darah segar.
Daren menghambur masuk dan menatap tubuh itu yang tidak bergerak lagi.
Daren menatap lexia yang menggendong Ax di pelukannya, dia tiba-tiba berlari dan menarik lexia dan memperhatikan keseluruhan dirinya.
"Lexia, kau baik-baik saja? Apa kau terluka?" Tanyanya, dia memeriksa tubuh istrinya dengan cemas, lexia menggelengkan kepalanya.
"Aku..aku baik-baik saja Daren." Bisik lexia. Dia terpaku menatap mayat Melda yang terbujur di sana dengan darah masih mengalir dari kepalanya.
Para pengawal berlarian mengepung tempat kejadian, mata Thomas menatap kepada salah satu penjaga yang menembak Melda dengan tajam.
~
Salah satu pengawal membisikkan sesuatu kepada Xaphier, tiba-tiba Xaphier yang masih bercengkrama dengan Nara bersama teman-teman bisnisnya tampak terkejut.
"Sayang, kita pulang sekarang." Ucap Xaphier membawa Nara segera, dan memberitahu ayahnya dengan bisikan pelan. Tidak lama kemudian mereka segera pergi dari mansion Keluarga Adrick Rudolf.
Adrick berdiri di salah satu jendela menatap kepergian mereka, dia menekan ponsel di tangannya kemudian dia berbicara dengan pengawal yang berada di mansion Caesaar yang menyelundup dan melaporkan segala hal yang terjadi di sana tepatnya memata-matai lexia selama berada di mansion.
"Bagaimana? Apa kau sudah bereskan wanita itu?" Tanyanya.
"Iya, tuan."
"Bagaimana keadaan lexia, dia baik-baik saja?"
"Dia terlihat sedikit shock tetapi dia baik-baik saja." Jawabnya.
"Baik tuan."
Senyum mengembang di wajah Adrick, menatap jalanan malam yang lengang sambil menyesap minumannya.
~
Malam itu suasana di kediaman keluarga Caesaar begitu mengerikan, tidak ada yang menyangka Melda kembali ke mansion ini dengan keluar dari penjara hanya untuk menghabisi nyawa lexia, dendam yang di pendamnya seolah-olah menjadi mantra baginya agar dia bisa bertahan di penjara itu dan menunggu saat yang tepat untuk melarikan diri, tapi sayangnya nasibnya berkata lain, dia harus meregang nyawa di mansion itu dengan pistol tertanam begitu dalam langsung di kepalanya.
Malam itu Xaphier dan tuan Caesaar menatap mayat yang sudah terbungkus dengan plastik dan sudah berada di atas mobil mayat yang akan membawanya ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dengan menghembuskan napasnya tuan Caesaar menatap mobil hitam itu menjauh, kemudian dia melangkah masuk ke dalam mansion.
"Dimana Lexia dan cucuku, apakah keduanya baik-baik saja?" tanya tuan caesaar lalu duduk di kursi sambil memikirkan kejadian yang baru-baru saja terjadi.
"Dia berada di kamarnya ayah, bersama Daren." jawab Xaphier.
"aku pikir dengan dirinya berada di dalam penjara dapat membuat Melda sedikit sadar, tetapi ternyata perkiraanku salah kebenciannya bahkan semakin besar." ucapnya sambil menelisik kembali memori ketika Adiknya Jack membawa gadis kecil dan memperkenalkannya sebagai anak angkatnya. Tetapi waktu berlalu dan sikap pongah serta ambisius Melda dan kegilaannya terhadap pria-pria muda membutakan matanya sehingga dia akhirnya berakhir mengerikan.
~
"Kau sungguh tidak terluka?" tanyanya lagi, berkali-kali Daren bertanya kepada lexia hingga lexia sampai bosan menjawab pertanyaannya.
Lexia berdiri di hadapan daren kemudian berkacak pinggang. "Daren?" panggilnya. Daren menatap lexia yang sudah berdiri dihadapannya.
"Aku baik-baik saja sayang, melda tidak memiliki kesempatan menyakitiku, dia terlalu banyak meracau sebelum pengawal itu menembak langsung kepalanya." ucap lexia tidak terdengar takut atau merasa ngeri sedikitpun dengan kematian Melda yang terjadi di depan matanya.
"Apa kau tidak takut melihat darah dan kematian karena tembakan itu?" tanya daren, dia sedikit heran dengan sikap lexia yang biasa-biasa saja menanggapi kematian Melda.
Lexia berjalan mundur dan duduk di salah satu kursi terdekat dengan Daren, dia sedikit tersenyum mendengar pertanyaan Daren.
"Sewaktu aku masih hidup di antara sampah-sampah ibukota, semua jenis kejahatan yang terjadi di kota itu sudah pernah aku saksikan dengan mata kepalaku sendiri Daren, dan hal itu sudah menjadi bagian dari hidupku selama 17 tahun, hidup bersama mereka yang terpinggirkan. Pembunuhan, penjualan secara ilegal, dan bahkan senjata-senjata yang di selundupkan semua terjadi di tempatku dulu tinggal, tetapi aku tidak memperdulikan semua itu, karena di usiaku yang seperti itu yang bisa kulakukan hanyalah mengais sampah ibukota, berbeda dengan Edo, dia sudah masuk ke dunia bawah, tetapi dia tetap menjadi temanku yang selalu menolongku." ucap lexia tersenyum tenang.
__ADS_1
"Jadi jangan berpikir aku syok atau akan pingsan dengan hal seperti itu." ucap lexia, Daren kemudian berdiri dari tempatnya duduk, dia menghampiri lexia dan menarik kedua tangannya.
"Aku tidak bisa membayangkan hidupku sekarang jika aku tidak bertemu denganmu lexia." bisik Daren sambil mengecup keningnya dan menghirup wangi tubuh lexia.
"Jika kau tidak bertemu denganku mungkin kau akan berakhir bersama Nency atau Carol, siapa yang tahu wanita mana yang selalu mendekatimu." Ucap lexia kemudian mendengus.
Daren menatap mata safir lexia dalam-dalam. "Tidak akan, hal itu tidak akan terjadi." ucap Daren memeluk erat-erat lexia di pelukannya.
~
"Apakah lexia baik-baik saja Xaphier?" tanya Nara sambil menatap mata safir yang dalam memandangnya sambil memeluknya.
"Dia wanita yang kuat Nara, dia tidak akan mudah jatuh ataupun pingsan hanya karena hal seperti itu." bisik Xaphier sambil mengelus perut Nara yang berbaring di sampingnya.
"Benarkah? tetapi bagaimanapun juga Lexia tetaplah wanita, dia membutuhkan perlindungan." bisik Nara.
"Kau benar, meskipun dia kuat, tentu saja aku tetap harus melindunginya, dan melindungimu." ucap Xaphier memberikan kecupan kecil di pipi istrinya dan memberikan senyuman sensual kepadanya, tanda menginginkan sesuatu kepada Nara.
~
Adrick Rudolf menatap kembali mansion itu di dalam kegelapan, dia menatap langsung jendela yang menggelap seiring bertambahnya malam. "Kekalahan terbodohku adalah karena pria itu yang pertama kali bertemu dengannya, sehingga aku harus bersusah payah seperti ini." ucap Adrick terkekeh.
"Daren Burchard, dia adalah penghalang terbesarku saat ini untuk menemui lexia, jadi... bagaimana jika sasaranku kali ini adalah pria itu, jika dia tidak ada, lexia setidaknya akan berpaling kepadaku meskipun kemungkinannya dia tentu akan membenciku." ucapnya.
"Kembali ke mansion." perintahnya.
~
Mata itu tajam memandang seorang pengawal yang tengah duduk di bawa tatapan mengerikan Thomas, tanpa perintah langsung darinya, pengawal itu menembak Melda dengan inisiatif dari dirinya sendiri. Hal itu tentu tidak luput dari perhatian Thomas.
"Kau di bawah perintah siapa?" tanyanya mencekam aura gelap menyelimuti wajah Thomas, dia sangat tajam ketika mengetahui ada pengkhianat yang menyusup di antara Pengawal-pengawalnya.
Wajah pria itu tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan, dengan wajah datar yang paten dia menunduk layaknya seorang prajurit terdidik.
"Tidak ada yang memerintahku sir, saya hanya melihat Nyonya lexia dalam bahaya, jadi saya melakukan yang terbaik untuk melindunginya." ucapnya tanpa gentar.
"Benarkah?" Selidik Thomas.
"iya sir." jawab pengawal itu. Matanya masih menelusuri jejak kebohongan dari pengawal yang diinterogasi oleh Thomas.
"Kali ini kau akan kubiarkan, jika sedikit saja kau terlihat mencurigakan, aku akan segera membereskanmu." Ancam Thomas.
"Ya sir."
~
Mansion Caesaar 07.45
Lexia sedang memasak bersama Nara, kali ini lexia ingin membuat masakan yang baru saja dilihatnya di resep terbaru yang tadi pagi di browsingnya bersama Nara.
"Aku tidak yakin Daren dan xaphier akan memakan makanan ini lexia?" ucap Nara putus asa melihat bentuk campuran daging dan sayuran menjadi satu.
"Erm haha tenanglah Nara, jika mereka tidak mau makan aku akan menyuap Daren dan xaphier langsung ke mulutnya, lagi pula masakan ini cukup bisa di nikmati koq, tetapi sebaiknya kau jangan mencobanya, terlalu beresiko apalagi kau sedang hamil, nanti Xaphier mengomeliku jika aku memberimu makanan aneh ini." ucap lexia sambil menatap masakannya yang berwarna gelap.
"Apa sebaiknya kita jangan memberikannya lexia, nanti mereka sakit perut, mereka kan harus ke kantor setiap hari, makanan ini tidak bisa disebut sebagai makanan manusia." ucap Nara tanpa menatap wajah lexia yang menatapnya dengan tatapan menggelap dengan aura mengerikan.
"Nyonya, anda memanggil saya?" ucap Thomas sedikit menunduk menatap kedua Nyonya-nyonya muda ini yang sedang bereksperimen dengan masakannya.
"Oh, hai Thomas, beruntung sekali kau datang, kau adalah orang yang beruntung, karena akan mendapatkan kehormatan untuk mencicipi masakan special kami." ucap lexia seakan Thomas mendapatkan hadiah yang berharga, sedangkan Nara melirik lexia dengan tersenyum ragu-ragu.
"Terima kasih Nyonya lexia tetapi saya tidak bisa memakan apapun di waktu jam kerja saya, itu tidak mematuhi peraturan." ucapnya tegas.
"Owh, benarkah? kalau begitu kau bisa pergi dan jangan lupa panggil siapa saja yang belum sarapan untuk datang ke dapur." Lexia mencoba sekali lagi untuk mencari mangsa yang baru. Nara menggelengkan kepalanya putus asa, takut jika para pengawal di mansion ini akan sakit perut nantinya.
__ADS_1