The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part Dazon : 58


__ADS_3

Night Club X


Malam itu begitu dingin, udara sejuk sudah menghilang digantikan dengan udara dingin yang menusuk ke tulang. Wanita itu sedang menyeret kopernya dan menatap Club yang bersinar dan berkelap kelip seakan menggodanya untuk masuk ke dalam, dan melupakan masalah yang terjadi hari ini, dia akhirnya memutuskan masuk, tanpa berpikir panjang, dia menikmati pestanya berdansa dan menari bersama pria-pria yang di kenalnya di Club.


Riel berada di sana, menatap tajam dari kejauhan, dia duduk di tempat yang cukup jauh, mengawasi wanita itu meliuk-liukkan tubuhnya di lantai dansa, sambil menggoda pria-pria hidung belang.


Pukul 00.12


"Hahaha, ke apartemenmu? Tidak, aku menolak, kita baru bertemu, siapa yang tahu kalau kau adalah pria paikopat yang mengincar wanita cantik sepertiku." Ucap megan dengan suara terulur-ulur karena minuman laknat itu, dia tidak bisa lagi mengimbangi tubuhnya, dia berjalan sempoyongan sambil memegang kepalanya.


Pria yang berada di sampingnya tidak kalah mabuk darinya, mereka berjalan di pinggir jalan sambil terantuk-antuk dan menabrak beberapa kios dan dinding di sana, kadang mereka singgah sambil tertawa dan berhenti untuk sekedar berciuman saja, lalu kembali melanjutkan perjalanan.


Riel bersandar di tiang listrik, menutupi separuh wajahnya, dia kembali berjalan ketika dua pemabuk itu sedang asyik mengobrol, hingga mereka tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.


"Heeeey, you ! Hahaha kau tahu?? Ada cerita lucu dan menarik di tempat kerjaku yang dulu...." Wanita itu setengah membuka matanya untuk melihat jalan, kemudian dia melanjutkan lagi ucapannya.


"Seorang pelayan, menikahi tuan muda di mansion itu, dan parahnya lagi, dia adalah wanita bodoh dan lemah yang sering kusuruh mengerjakan tugas-tugasku dulu, usiaku tidak terlalu jauh dengannya, akupun lebih cantik dan seksi darinya, tetapi kenapa dia? Kenapa dia yang menarik perhatian tuan dazonnnn!" Ucap megan sambil terkikik.


Lelaki itu tertawa parau, dia kemudian terkekeh. "Kau tidak bersama pria itu, karena kau ditakdirkan bertemu denganku."


"Cih, sudah lama aku mengincar tuan dazon, tetapi dia sama sekali tidak tersentuh, melirik kepada pelayan saja tidak pernah, bagaimana bisa dia menyadari keberadaanku? Kau tahu yang paling lucu??" Dia terkekeh lagi.


"Dia melihatku, tuan muda itu akhirnya menatapku, tetapi ketika aku berada dalam keadaan terburuk, aku hendak menyerang wanita itu, dia begitu marah dan dia ingin mengirimku keluar dari kota ini, katanya dia takut aku akan menyerang istri tersayangnya.


Riel menggertakkan giginya, dia kini tanpa ragu menampakkan dirinya di hadapan mereka berdua. Mantel hitam panjang menutupi tubuhnya, separuh wajahnya hanya bisa dilihat, dia kini berdiri di hadapan mereka berdua.


"Siapa dia? Apa yang dia inginkan?" Tanya pria itu.


"Bodoh ! Jangan perdulikan dia, pria konyol pencari perhatian, dia gila !" Ucap megan.


Mereka melewati Riel sambil terkekeh menatapnya dengan sikap angkuh. Riel bergerak cepat, dia menarik keras rambut wanita itu sehingga tubuhnya terjatuh di jalan. Dia berteriak histeris karena kesakitan yang di rasakannya. Pria yang ada di sebelahnya, mulai menampakkan kesadarannya, tapi sayang sekali, dia hanyalah seorang pria pengecut yang lari terbirit-birit ketika melihat riel dengan wajah mengerikan.


Megan berteriak kesakitan, rambutnya di tarik dan di seret ke dalam satu gang sempit.


"Aaakkkhh, lepaskan aku, siapa kau !"


Riel tidak mengatakan apapun hanya bekerja mengikuti perintah di otaknya. Wanita itu telah terluka di mana-mana, sementara riel berdiri menjulang di hadapannya. Dia memegang dan mengangkat rahang megan hingga matanya melotot.


Dia kemudian menghempaskannya ke samping, hingga dia tersungkur di dalam gank sempit berair itu.


"RIEL HENTIKAN !"


Suara itu membuat riel berbalik, thomas berdiri di sana, hendak menghampirinya. Tetapi riel malah menjauhkan dirinya, dia kemudian berbalik dan segera menghindari thomas dan berjalan menjauh dan menghilang di kegelapan malam. Wanita itu menangis, rambutnya nyaris tidak ada sama sekali, dia terluka di beberapa tempat bagian tubuhnya.


Thomas hanya memandangnya dari kejauhan. "Sepertinya, riel tahu apa yang terjadi di mansion." ucapnya, segera saja beberapa pengawal membawa megan ke rumah sakit dan akan segera membawanya keluar dari Atlanta.


~

__ADS_1


~


Hanna sedang berada di kamarnya, dia sedang berbicara dengan dazon melalui telepon.


"Jika kau menelepon terus, kapan kau akan menyelesaikan pekerjaanmu daz," ucap hanna sambil tersenyum mendengar rayuan dazon di telepon.


"Hmm, aku masih merindukan suaramu, apalagi jika kau mendesah di telingaku sayang."


"Hentikan daz, bagaimana jika ada yang mendengarmu." Tegur hanna.


"Bukan masalah, mereka semua ada di depanku." Ucap dazon.


Hanna membelalakkan matanya, dia lalu menutup ponselnya sambil menahan malu, "Apa sih yang dipikirkan dazon kenapa semudah itu dia berbicara seperti itu." Ucap hanna. Dia menggelengkan kepalanya, akhir-akhir ini kepalanya sedikit pusing, dan tubuhnya cepat lelah, jadi dia lebih memilih beristirahat di dalam kamarnya, mungkin karena setelah menikah, dazon sama sekali tidak berhenti menyentuhnya setiap malam.


Hanna berbaring dan menutup matanya berharap kelelahannya segera menghilang ketika dia bangun nanti.


~


~


Thomas sedang menunggu fax dari dokter pribadi keluarga Caesaar, yaitu hasil pemeriksaan darah hanna, sebelum pernikahan dazon dan hanna, tuan Caesaar sengaja melakukan pemeriksaan kepada hanna untuk di ambil sampel darahnya, untuk mengetahui kadar racun yang hinggap di tubuh hanna. Hari ini hasilnya akan keluar, thomas menerima hasil pemeriksaan itu dan segera membawanya kepada tuan Caesaar.


Sesampainya di kediaman tuan Caesaar, thomas segera memberikan hasil tes milik hanna.


"Apakah hasil tesnya sudah keluar?" Tanyanya.


"Ya tuan."


"Menurut dokter Alfonso, darah nona Hanna mengandung racun yang di bawanya sejak lahir, hal itu tidak berdampak apa-apa di tubuhnya, dikarenakan racun itu bermutasi menjadi bagian dari nona Hanna sendiri sehingga racun itu tidak berbahaya bagi dirinya."Ucap thomas.


"Bagaimana dengan kakaknya, apakah kadar racun di dalam tubuhnya berjumlah 100 persen?" Tanyanya.


"Tidak tuan, mereka memiliki kadar racun yang seimbang, baik riel maupun hanna masing-masing memiliki 75 persen di tubuh mereka."


"Tetapi kenapa hanya riel yang terkena dampaknya." Ucapnya.


"Menurut dokter Alfonso, Riel mengalami trauma masa kecil yang mengerikan, hal itu memicu racun itu bekerja menjadi 100 persen, dan satu hal lagi tuan, aku mendengar melalui rekaman yang aku letakkan di ruangan prof Vandash bahwa setelah mempelajari racun yang berada di tubuh Riel, potensi anak laki-laki untuk merubahnya menjadi seorang iblis pembunuh lebih kuat di bandingkan anak perempuan, itu kesimpulan yang saya dengar ketika dia berbincang dengan Riel."


Tuan Caesaar melepaskan kacamatanya.


"Tetap ikuti perkembangan Riel, dan satu lagi jangan beritahu siapapun informasi ini, meskipun kepada dazon dan Hanna sekalipun, kau mengerti!"


"Baik tuan."


~


~

__ADS_1


Hanna bangun dari tidurnya, dia begitu lelah dan ngantuk, baru kali ini dia merasakan kantuk yang tidak bisa di tahan-tahannya hingga dia tertidur cukup lama, hanna kemudian bangun dan menatap jam di atas meja.


"Emm, jam 2 siang? Aku sudah cukup lama tertidur." Ucapnya. Hanna segera bersiap-siap turun ke bawah untuk makan siang. Tiba-tiba matanya berkunang-kunag dan dia berjalan sempoyongan dan terjatuh di lantai, tubuhnya tidak bisa mengikuti perintah otaknya, untuk bangun dan berdiri. "Apa yang terjadi mengapa aku pusing seperti ini?" Bisik Hanna, dia akhirnya jatuh pingsan, untung saja seorang pelayan mengetuk-ngetuk kamarnya hendak membawakan makan siang untuknya.


Dia membuka ruangan hanna dan mendapati hanna jatuh pingsan, dia segera meminta bantuan dan beberapa pelayan dan pengawal telah datang dan membawa Hanna ke tempat tidur. Lexia dan Nara segera ke kamar Hanna ketika seorang pelayan memberitahukan kepada mereka. Cepat-cepat Nara segera menelepon dazon untuk segera pulang ke mansion.


~


"Istri anda sedang hamil tuan dazon." Ucap dokter itu. Lexia dan Nara yang mendengarnya tersenyum bahagia.


"Benarkah?" Wajah dazon masih pucat ketika mendengar telepon dari ibunya kalau hanna jatuh pingsan. Dia menatap hanna yang masih terbaring.


"Selamat ya Nara, kau akan memiliki seorang cucu," ucap lexia memeluk nara. Dazon sedang fokus mendengarkan semua ucapan dokter sebelum dia meninggalkan ruangan mereka.


"Wah, ini harus di rayakan, kita harus merayakan kehamilan Hanna." Ucap lexia. "Apalagi jennifer juga sedang hamil, jadi kita bisa merayakan kehamilan mereka berdua."


"Bagaimana dengan makan malam bersama, kita akan membuat makan malam special untuk keluarga kita." Ucap Nara bersemangat. Mereka berdua menepuk punggung dazon yang duduk di pinggir tempat tidur hanna, dia mengusap kening hanna yang berkeringat.


"Sebaiknya kau temani istrimu daz, kami ada di bawah jika kau membutuhkan kami sayang." Ucap Nara. Dazon mengangguk kepada ibunya dan tersenyum. Sejak tadi dazon belum mengucapkan apa-apa mengenai kehamilan hanna, dia hanya terdiam seakan memikirkan sesuatu yang penting yang membuatnya gugup.


Flashback


Saat thomas datang dan mengetuk ruangan tuan Caesaar, dazon berada di ujung koridor, dia hendak menuju keruangan kakeknya dan menyapanya. Tanpa disangka dia mendengarkan semua percakapan mereka berdua, dazon berdiri di depan pintu kakeknya, mendengarkan hasil laporan Thomas.


potensi anak laki-laki untuk merubahnya menjadi seorang iblis pembunuh lebih kuat di bandingkan anak perempuan.


Tetap ikuti perkembangan Riel, dan satu lagi jangan beritahu siapapun informasi ini, meskipun kepada dazon dan Hanna sekalipun, kau mengerti.


"Jika Hanna melahirkan anak perempuan, semua akan baik-baik saja, tetapi beda halnya ketika dia melahirkan anak laki-laki, apa yang akan terjadi nantinya, darah iblis itu akan berpengaruh lebih kuat di tubuh anak laki-laki." bisik Dazon. Dia menggenggam tangan istrinya dan berharap tidak akan ada hal buruk yang menimpa keluarganya.


~


"Thomas, Atur jadwalku dengan Prof Rey Vandash dan Riel, aku ingin bertemu dengan mereka." Ucap tuan Caesaar.


"Baik Tuan."


Sore itu mereka berangkat ke Laboratorium milik prof Vandash, sesuai dengan jadwal yang di janjikan, mereka akan bertemu dengan tuan Caesaar di sana, tiga mobil mengawal kepergian tuan Caesaar, para pengawal-pengawal itu keluar dari mobil dan menemani beliau masuk ke dalam. Rupanya mereka berdua sudah menunggu tuan Caesaar sejak tadi. Dia tersenyum menatap keduanya yang sedang mengobrol.


"Halo Riel, bagaimana kabarmu." Ucap tuan Caesaar tenang.


Riel hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaannya. "Ada hal penting apa sehingga kau datang sore-sore seperti ini, Tuan Caesaar. " Ucap prof Vandash.


Tuan Caesaar terdiam sebentar. Dia kemudian menghela napasnya dan menatap mereka berdua. "Ini mengenai Hanna, adikmu Riel." Seketika matanya membulat sempurna ketika nama adiknya di sebut-sebut.


"Apa yang terjadi."


"Hasil pemeriksaan darah hanna sudah keluar, dan sama sepertimu, 75 persen darahnya mengandung racun yang sama sepertimu, tetapi dia baik-baik saja, hal itu tidak akan mengubahnya sepertimu, tetapi yang saya khawatirkan, jika hanna kelak memiliki seorang putra, seperti katamu prof, racun itu bekerja efektif kepada anak laki-laki, kecenderungannya akan meningkat seperti halnya Riel, apa yang harus saya lakukan ketika hal itu terjadi."

__ADS_1


Mata riel masih membelalak, kepalanya menggeleng, dia tidak bisa membayangkan jika seluruh keturunan Reaver akan menjadi seorang psikopat sepertinya.


"Jangan khawatir Tuan Caesaar, kita masih belum tahu, bagaimana nanti racun itu bekerja di dalam tubuh anak itu, jika saja Nona Hanna melahirkan seorang putra, kita akan melihat, apakah racun itu menguasai tubuh anaknya dan berakhir seperti Riel atau putranyalah yang mengendalikan racun itu, kita akan terus memantaunya dan menunggunya, jadi kau jangan khawatir."


__ADS_2