The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Melarikan diri


__ADS_3

Pintu itu terbanting begitu keras, lexia masuk ke dalam kamarnya, dia begitu marah, dia berjalan kesana-kemari sambil melipat kedua tangannya.


"Aku tidak cemburu, bukan sebuah kecemburuan tolol !" ucap lexia dengan marah, dia meyakinkan dirinya sendiri dengan berkata seperti itu.


"Dasar pria hidung belang, dia menciumku semaunya, menyudutkanku kapan saja lalu membuatku mendesah dan mengerang dengan sentuhannya dan lihat dia sekarang, bersama wanita lain, dasar pria mesum, pecundang, licik." Segala cacian kotor mendesak di otaknya ingin dikeluarkan di bibir cantiknya.


"Aku harus pergi dari sini." lexia mengambil ponsel yang di sembunyikannya di bawah kasur dan direkatkan dengan lakban. Dia memiliki ponsel pinjaman Lea kepadanya. Lexia menyembunyikan dirinya di dalam selimut dan segera menelepon Edo, deringan pertama langsung terdengar suara pria yang berteriak marah kepadanya.


"Halo Edo, ini aku lexia."


"kau dimana lexia?"


"Nanti aku jelaskan bodoh, kenapa kau berteriak keras begitu, telingaku masih berfungsi."


"Jadi katakan kau ada di mana aku akan segera menjemputmu."


"Oke, tapi lewat tengah malam kau menungguku di jalan Quinn 76 street, aku akan segera datang."


"Memangnya kau ada dimana, kata Lea kau sedang bekerja dengan seseorang."


"Tenanglah Edo, suaramu besar sekali, malam ini tepat jam 1 kau sudah harus ada di sana, kau mendengarku Edo."


"Oke, baiklah malam ini aku akan menjemputmu."


Lexia mematikan ponselnya lalu menyimpannya di sebuah tas yang sudah di siapkan lexia beserta barang-barang lainnya.


"Malam ini aku akan pergi, selamat tinggal Daren, kuharap kita tidak akan bertemu lagi." ucapnya.


Lexia berpikir ini adalah malam yang tepat untuk pergi dari sini, lagi pula malam ini Daren pasti sibuk dengan wanita itu.


~


Malam itu begitu special bagi nency, dia begitu bahagia karena Daren bersamanya meskipun hanya makan malam rekan bisnis Daren setidaknya dialah wanitanya yang menjadi pendampingnya malam ini.


"Malam tuan Burchard." ucap salah seorang pria yang sedikit membungkuk dan menatap nency yang tersenyum manis di depannya.


"Sangat serasi, dia wanita cantik kau beruntung tuan Burchard."

__ADS_1


Rona merah tentu saja sudah melekat di pipi nency, tetapi berbeda dengan daren yang sejak tadi pikirannya entah kemana, dia seperti tidak fokus.


"Ada apa daren?" tanya nency merekatkan kedua tangannya pada lengan Daren.


"Tidak apa-apa." ucapnya sambil mengambil segelas minuman dan meneguknya perlahan.


Gadis itu, ada yang aneh dengannya, mengapa aku begitu tidak tenang? pikir daren.


"Bagaimana jika kita berdansa daren." ucap nency yang ingin agar segala fokus Daren hanya untuknya.


"Bukan ide yang bagus nency, aku harus ke tempat tuan Rodrigo, kau bisa menunggu di sini." daren melepaskan lengan nency yang sejak tadi bergelayut di lengan Daren.


~


00.45 Waktu Manhattan.


Lexia mengamati ruangan di sekitarnya, sama sekali tidak ada penjaga, apalagi ibu lovelia tidak ada di mansion, ini adalah keberuntungan besar baginya, lexia sudah tahu jika mereka membawa lovelia pergi berobat, jadi jika dia sembuh lexia harus segera menghilang kan, jadi tidak masalah jika dia pergi lebih cepat sebelum masalah lebih besar menghampirinya, jika tuan Robert mengetahui kebohongannya bukan hanya daren saja yang mendapat masalah tentu lexia juga akan menghadapi masalah karena telah berbohong.


Lexia membawa tasnya lalu berjalan berjinjit dan memasuki lift. Dia berdoa semoga di sana tidak ada seorangpun penjaga, dia mengintip ke kanan dan kekiri, betul-betul beruntung tidak ada seorangpun ada di tempat itu dia kemudian membuka pintu dapur yang terhubung dengan pintu belakang mansion itu karena segala kebutuhan di mansion masuk lewat pintu dapur.


Ruangan itu gelap, lexia berjinjit dan berjalan cepat, dia akhirnya tiba di pintu keluar, dia memutar gagangnya dan tentu saja terkunci.


Pintu akhirnya bisa di buka oleh lexia, dengan perlahan dia keluar dari sana dan mengintip, beberapa penjaga masih berdiri di sana, 'bodoh apa mereka tidak ngantuk masih berjaga malam-malam seperti ini?' gumamnya.


Lexia berjalan perlahan dan menunduk lalu sembunyi di antara pepohonan, sedikit lagi dia bisa melewati penjaga itu, dia tidak akan melewati pagar besar itu tentu saja karena sekitar lima sampai enam penjaga berdiri disana.


Ada sebuah tembok yang cukup pendek di belakang dapur dengan jendela segi empat yang bisa di jadikan pijakan, untung saja lexia jago memanjat, dia akan keluar lewat tembok itu dan melompat.


Lexia perlahan berlari tetapi sialnya bunyi ranting yang diinjaknya membuat salah satu dari mereka menatap ke arah lexia.


"Sial !"


Lexia berlari kencang dengan beberapa penjaga mengejarnya, lexia membuang tasnya dari jendela tembok di rumah itu dan segera memanjat, dengan lincahnya dia melompat dan kemudian mengambil tasnya, suara teriakan terdengar dari arah belakang lexia, penjaga-penjaga itu mengejarnya.


Lexia terus berlari, mobil kusam itu sudah menunggunya di sudut gang jalan, ketika dia sampai dia melempar tasnya dan melompat ke dalam mobil yang setengah berjalan, setelah lexia betul-betul masuk ke dalam, mobil itu kian melaju begitu kencang hingga suara decitannya dapat di dengar.


Mereka yang berada di dalam mobil saling memandang, Edo tengah menyetir dengan wajah begitu serius.

__ADS_1


"Sial ! Aku ketahuan." Umpat lexia dia berbalik dan menatap penjaga-penjaga yang berlarian dari kejauhan.


~


Daren masih berada di pertemuan itu dengan nency yang setengah mabuk di sampingnya.


"Daren...kita kerumahku bagaimana?" ucapnya sambil tertawa dengan gelas di tangannya.


Daren menggeleng menatapnya, mungkin keputusan yang salah mengajak nency bersama dengannya ke tempat ini, suara ponsel dari dalam sakunya berdering, daren segera mengangkatnya.


"Ada apa!"


"Sir, nona lexia melarikan diri."


"Kau yakin dia lexia?"


" ya sir ."


Daren menutup ponselnya dengan keras, rahangnya begitu kencang tertarik, kemarahannya terlihat jelas di matanya.


"Ada apa daren kau terlihat aneh." tanya nency menempelkan tubuhnya ke daren.


"Kita pulang sekarang." ucapnya.


"Tapi daren kita baru saja datang apalagi Carol belum tiba, kau tidak ingin melihat wajah gusarnya ketika kau bersamaku?"


Daren mendorong tubuh nency. "Sepertinya aku melakukan kesalahan besar mengajakmu ke tempat ini, jika tujuanmu ingin bertemu Carol kau bisa tinggal lebih lama di sini, aku harus pergi."


Daren pergi begitu saja meninggalkan nency dengan kemarahan yang terlihat jelas di wajahnya.


Nency mengejarnya lalu menarik tangan Daren. "Kau tidak bisa seperti ini padaku Daren, sudah lama kutunggu hari seperti ini, kau tidak bisa pergi begitu saja meninggalkan aku." ucapnya dengan sedikit teriak.


Daren memberikan kode kepada bodyguardnya melalui jarinya, dua orang pria segera menghampirinya.


"Bawa nona Nency ke rumahnya, dia mabuk." ucap daren tanpa menatapnya lagi dia akhirnya terburu-buru pergi.


Nency berteriak memanggil daren dengan marah sambil terisak, dua orang bodyguard daren mengantarnya masuk ke dalam mobil dan mengantarnya pulang.

__ADS_1


Daren segera masuk ke dalam mobilnya dan mengendarainya dengan cepat. Matanya berkilat tajam berbahaya.


"Apa yang kau pikirkan lexia, melarikan diri? sepertinya aku terlalu lunak kepadamu." ucap daren sambil menambahkan kecepatan mobilnya.


__ADS_2