
Malam itu dazon tidak kembali ke mansion, dia pergi menuju ke tempat biasanya dia menghabiskan waktunya, jika pikirannya sedang tidak karuan, salah satu club malam di Atlanta, tidak sembarang orang yang bisa masuk ke club itu, mereka harus menjadi member untuk masuk ke dalam Club night itu, di sana juga tempat berkumpulnya para pengusaha sukses di Atlanta. Dazon memarkirkan mobilnya dan segera keluar dari sana, berjalan menuju club itu seorang diri, dua pelayan membungkukkan sedikit tubuhnya dan membukakan pintu untuknya.
Salah satu manager di club itu menyambut kedatangannya, "Tuan dazon, apakah anda ingin di tempat biasa? Atau anda ingin memesan seseorang yang akan menemani anda malam ini, kami telah...
Dazon mengangkat satu tangannya menyuruhnya diam, "tempat biasa, jangan biarkan siapapun menggangguku, kau mengerti."
"Baik tuan." Ucap manager club malam itu.
Dazon masuk keruangan VIP yang telah di sediakan untuknya, tanpa menyadari Ax telah ada di sana menunggunya, sambil menyandarkan satu lengannya di atas sofa empuk yang biasanya mereka tempati.
"Kau di sini Ax, kenapa kau kemari?" Tanyanya.
"Menunggumu daz, aku tahu kau akan datang ke tempat ini, sayang sekali daneil tidak ada di Atlanta, kalau dia berada di sini, dia akan membantu menghiburmu." Ucap Ax menuangkan minuman untuknya.
Mereka berdua tidak terlalu banyak bicara, dazon dengan pikirannya sendiri, memikirkan semuanya kembali, sambil menyesap minumannya. Ax hanya sesekali menatap dazon yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sebaiknya kita kembali Ax, aku pikir berada di sini dapat menghilangkan sedikit pusing dikepalaku, sepertinya kepalaku bertambah pusing."
"Oke, fairely juga sudah mencariku, aku mengatakan sedang menemanimu di club." Mereka berdua beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan, wanita-wanita yang duduk di sana menatap dengan tatapan menggoda ketika mereka keluar sari sana. Dua taipan tampan dengan tubuh menggoda keluar dari ruangan itu, beberapa wanita yang duduk di depan bartender menatap kepergian mereka dengan wajah ironi.
"Wanita mana yang telah beruntung mendapatkan hati mereka?" Ucap salah satu dari mereka.
~
Sudah tiga hari hanna berada di rumah barunya, dia melakukan aktivitas seperti biasanya, dia memasak, mencuci sendiri pakaiannya dan milik Darko dan berolah raga di sekitaran perumahan elit itu, pagi-pagi biasanya dia joging setiap hari agar tubuhnya tetap sehat.
Sudah tiga hari pula dazon tidak menampakkan wajahnya, hingga hanna bertanya-tanya, hanna memegang lututnya ketika habis berlari selama 20 menit dan akhirnya kembali pulang, di depan rumahnya telah terparkir sebuah mobil limousine berwarna hitam.
Hanna menatap mobil itu, dan melihat seorang wanita cantik dengan mengenakan sungglasesnya berdiri sambil bersandar di mobilnya, dia berbalik tatkala melihat hanna menuju ke arahnya.
"Hay Hanna, aku tadi meneleponmu tetapi kau tidak mengangkatnya sayang." Ucap lexia.
"Aku tidak membawa ponselku, bibi lexia kau sangat cantik, aku tadi sampai tidak mengenalimu." Puji hanna, lexia tertawa sambil membuka kacamatanya, dia masuk ke dalam rumah hanna sambil berbincang.
"Dimana darko?" Tanyanya, lexia masuk ke ruang utama dan melihat darko dan seorang pengasuh yang sedang menemaninya.
Lexia menghampiri darko dan mengecup pipinya yang menggemaskan. "Aku rindu denganmu pangeran kecil." Ucap lexia sambil menggendongnya.
Hanna sedang berada di dapur, dia sibuk membuat teh dan mengeluarkan cake untuk di nikmati sarapan bersama. Lexia mendatangi hanna yang berada di dapur dan duduk di salah satu mini bar yang terletak dekat dengan dapur, sambil menggendong darko.
"Oh ya hanna, aku memiliki undangan acara amal besok malam untuk para pengusaha terkenal di Amerika, aku ingin kau menemaniku ke pesta itu, bagaimana?" Tanya lexia.
"Acara amal apa bibi lexia? Aku sekalipun tidak pernah ke tempat seperti itu." Ucap hanna sambil meletakkan secangkir teh di hadapan lexia.
"Benarkah? Apakah dazon tidak pernah mengajakmu ke acara amal seperti itu, fairley dan jennifer sangat sering pergi ke tempat seperti itu." Ucap lexia, dia kemudian memperhatikan ekspresi hanna yang tiba-tiba terdiam, lexia cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.
"Jika kau setuju, aku akan mengirimkan dua orang pelayan dan pengawal tambahan untuk berjaga-jaga di depan rumahmu dan kita bisa berangkat ke pesta, kali ini daren bersama ayah datang ke acara amal itu jadi kita bisa pergi bersama, bagaimana?" Tanyanya.
Hanna menimbang-nimbang dan memikirkan undangan untuknya, hanna pun mengiyakan, karena melihat bibi lexia datang ke rumahnya khusus untuk mengundangnya, dan hanna sangat tidak enak untuk menolaknya.
"Baik bibi lexia, aku akan menemanimu ke pesta." Ucap hanna.
"Bagus sayang, besok siang aku akan datang kemari, dan membawa semua perlengakapan, kita akan berdandan bersama," ucap lexia dengan nada ceria.
"Kalau begitu bibi pulang ya, Oh ya, ada yang ingin kusampaikan kepadamu, obat apa yang biasanya dazon konsumsi jika dia sedang demam, hanna?"
"Demam? Dazon sedang demam?" Ucap hanna dengan suara sedikit meninggi, dia kemudian menyadarinya dan memperbaiki kembali ekspresinya. Lexia tersenyum melihatnya.
__ADS_1
"Emm, biasanya aku mengompresnya sepanjang malam, dan memberikan obat dari resep dokter." Jawab hanna, wajahnya terlihat gelisah, hanna tahu jika dazon demam, dia sangat manja kepadanya, dia bahkan memeluk hanna sepanjang malam, jika dia terkena demam.
Setelah lexia pergi, hanna menutup pintu rumahnya dan bersandar di pintu, "Apa aku telepon ibu saja ya? Ada beberapa obat yang membuat dazon alergi, dia tidak boleh mengkomsumsinya, hanya obat tertentu saja yang bisa di minum oleh dazon melalui resep dari dokter Hobart, jika dia minum sembarang obat, tubuhnya akan merah dan gatal." Gumam hanna.
Hanna kemudian menggelengkan kepalanya, di sana ada ibu dan dokter pribadi di mansion itu, dia pasti menjaga dazon agar tidak minum sembarang obat. Pikir hanna.
Hanna segera ke kamarnya dan segera membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa keringat sehabis joging pagi itu. Dia membasahi seluruh tubuhnya dan tiba-tiba mengingat percintaannya dengan dazon. Hanna kembali menggeleng, dia kemudian cepat-cepat menyelesaikan mandinya dan segera keluar dari kamar mandi kemudian berpakaian.
~
Lexia tersenyum di dalam mobil, sedikit membuat gelisah hanna juga tidak terlalu buruk, dazon memang demam, tetapi dia sudah sehat dan baik-baik saja setelah lewat tiga hari, wajahnya dari hari ke hari tampak kacau, dia kadang hanya tidur seharian menunggu kesembuhannya, dia ingin segera sembuh dari demamnya untuk segera mengunjungi putranya.
"Berhenti di butik di depan sana." Perintah lexia.
"Baik nyonya." Lexia segera masuk ke dalam salah satu toko gaun mewah ysng di rancang khusus oleh desainer di Amerika, dia membeli gaun yang akan mereka kenakan di pesta nanti bersama hanna.
~
"Apa aku sudah baik-baik saja dokter?" Tanya dazon setelah di periksa oleh dokter pribadi keluarganya. Dokter harbert tersenyum.
"Anda baik-baik saja tuan, demam anda sudah turun, tetapi anda harus beristirahat yang cukup, jangan berkerja sampai pagi tuan, karena demam anda akan datang kembali."
Dazon bangun begitu saja, dia lalu mengenakan jaketnya ketika dokter harbert sementara berbicara kepadanya.
"Terima kasih dok." Ucap dazon, dia segera meninggalkan ibunya dan dokter harbert dalam ruangan. Dazon segera membuka mobilnya dan menuju ke rumah hanna, sekarang pukul 9 malam hari, dia melajukan mobil sportnya menuju ke rumah hanna.
~
Dazon sudah berada di depan rumah hanna, lampu di sana masih menyala, dan nampak hanna menggendong darkox bayang-bayang dari jendela kaca di rumah itu. Dazon menatapnya dari dalam mobil, dia menatap bayangan hanna yang sedang bolak balik menidurkan darko di dalam pelukannya, harusnya dia ada di sana bersama istri dan anaknya, seharusnya dia yang menggendong putranya ketika hanna sibuk membuat makan malam untuk mereka berdua. Dazon kembali mengacak rambutnya, keinginan telah hilang untuk mengetuk dan masuk ke dalam untuk menemui putranya, dia telah tidur, dan jika dia masuk ke dalam rumah, mungkin dia akan bertengkar lagi dengan hanna.
Dua orang pengawal yang di tugaskan untuk mengawasi dan menjaga rumah hanna terlihat menatap mobil tuannya dari kejauhan, tentu saja mereka tidak berani untuk menyuruh tuan dazon pergi dari sana.
01.35 malam.
Dazon terbangun, tadi sore dia sempat minum obat, sisa kantuknya masih terasa, dia menatap rumah di depannya sambil menyandarkan tubuhnya.
"Hanna pasti sudah tidur." Gumam dazon, dia kemudian menyalakan mesin mobilnya dan segera pergi dari rumah hanna.
~
"Dia sudah pergi?" Ucap hanna mengintip dari balik jendela. "Aku pikir dia sakit, kenapa dia keluar selarut ini, bisa-bisa demamnya kambuh lagi." Ucap hanna.
Hanna menyandarkan tubuhnya di depan jendela menatap kepergian dazon dari kejauhan, dia memeluk tubuhnya sendiri, merasakan hawa dingin di malam gelap gulita itu, hanna menghembuskan napasnya, dia menutup gorden rumahnya dan segera kembali ke tempat tidur.
~
Pukul 08.10
Barang-barang yang telah di persiapkan lexia, semuanta telah siap, dan segera akan di bawanya ke dalam mobil. Tiga orang pengawal membawa barang-barang itu, daren yang baru saja keluar dari kamar memperhatikan kesibukan istrinya sepagi ini.
"Lexia, barang apa itu, kau mau kemana?" Tanya daren sambil menggendong putri mungilnya.
"Ah, aku lupa memberitahukan kepadamu, malam ini kita tidak akan ke pesta amal sebentar malam, aku akan berangkat dengan seseorang." Ucap lexia sambil mengencangkan bathrobe yang dikenakannya.
"Seseorang siapa?" Tanyanya.
"Kenapa daren sayang, kau cemburu? Ucap lexia dengan nada jahil menggoda daren.
__ADS_1
"Lexia, dengan siapa kau akan berangkat." Tanyanya.
"Tenanglah sayang, aku akan pergi bersama hanna, dia sangat jarang ke pesta, jadi aku mengajaknya saja, tidak apa-apakan, mungkin saja hanna mendapatkan bos mafia lainnya di pesta itu." Ucap lexia dengan sengaja membesarkan suaranya.
"Lexia, kau sengaja memancing keributan ya sayang?" Bisik daren.
"Tidak sayang, aku cinta kedamaian, mana mungkin aku akan membuat keributan, aku hanya mengajak hanna untuk berefreshing, dan mengenalkannya dengan beberapa rekan kerjamu." Ucapnya lagi. Daren menggelengkan kepalanya, dia sengaja menutup pembicaraan ketika dazon berjalan menuju ke meja makan.
"Kau sudah baikan daz?" Tanyanya sambil memandang wajah dazon yang terlihat masih memucat.
"Aku sudah baik bibi lexia." Ucap dazon, lalu mengambil secangkir kopi dan menyesapnya, matanya kemudian melirik menatap paman dan bibinya yang sedang berbincang. Tadi, dia sempat mendengarkan separuh pembicaraan paman dan bibinya. Pesta? mengapa bibi lexia sengaja membawa hanna ke pesta amal? apa yang di rencanakannya. pikirnya.
Dazon menyeruput kopinya dan mengingat hanna yang pergi ke pesta dansa hanya beberapa kali saja semenjak hanna tinggal di mansion, biasanya dazon ada di luar kota jadi hanna dan dazon sangat jarang ke pesta bersama-sama.
"Kau akan berangkat bersama siapa dazon?" tanya lexia.
"Emm, aku akan berangakat ke pesta bersama. dengan rekan bisnisku, dia ingin ikut acara amal seperti ini." ucapnya.
"Seorang wanita?" Tanya lexia dengan tajam.
"Bukan, dia seorang pria bi, kami berteman sejak di eropa dan di italia, sudah setahun kami menjadi rekan bisnis di Atlanta."
~
Siang itu lexia dengan barang bawaannya sedang menuju ke rumah hanna, dia sendiri yang membawa mobilnya menuju ke rumah hanna.
Sesampainya di sana, lexia memandang heran mobil sport yang telah terparkir di dekat taman milik hanna.
"Ini kan mobil dazon, apa dia ada di dalam rumah bersama hanna? gumamnya, lexia segera masuk ke dalam, dia membuka begitu saja pintu yang tidak tertutup rapat.
Lexia menatap dazon yang berada di kamar tamu sambil menggendong darko dan mengusap-usap punggungnya, matanya kemudian beralih kepada bibinya yang baru saja datang.
"Hai hanna, dazon, dan juga pangeran kecil darko, matanya menatap ke arah darko yang terlihat masih mengantuk. Apa dia baru saja bangun tidur?" tanyanya.
"Ya bibi, baru saja bangun." Jawab hanna, dia berada di dapur untuk menyiapkan teh untuk lexia.
"Jangan repot-repot hanna, kau tidak boleh sibuk sayang, tinggalkan teh itu, dan kemarilah, ada beberapa gaun yang akan kau coba, aku juga sudah membelikan Ax dan fairley sepasang jas dan gaun untuk ke pesta nanti malam."
"Hanna kemarilah." Ucap lexia.
Tiga orang wanita terlihat cantik dan modis, mereka bertiga baru saja tiba di rumah hanna, dengan perintah lexia mereka segera mempersiapkan hanna dari kegiatan make-upnya.
Dazon mengamati hanna dari ruang tamu, matanya menyipit ketika melihat tiga orang pelayan itu segera mempersiapkan hanna agar dia cantik malam ini.
"Untung saja kau ada di sini daz, putramu senang berada di dalam gendonganmu, dia tahu bahwa ayahnya sedang menggendongnya, apalagi hanna akan sibuk di pesta nanti." Ucap lexia sambil tersenyum ke arah dazon.
"Jam berapa bibi dan hanna akan berangkat ke pesta?" tanya dazon.
"Sekitar jam 7 malam, kenapa?"
"Ehhm, tidak apa-apa bibi, aku hanya ingin bertanya saja."
Siang itu, hanna sudah di persiapkan oleh lexia, mulai dari mandi sampai dengan perawatan sebentar di kulitnya agar wajahnya bersinar. Setelah proses yang cukup lama, hanna akhirnya di make-up oleh ketiga wanita itu, mereka sangat profesional dalam mengerjakan tugasnya.
Setelah make-up hanna mengenakan dressnya yang seksi berwarna biru malam, belahan dada dress itu sedikit rendah, sehingga hanna seakan memperlihatkan bagian lekukan yang di sembunyikannya, apalagi sekarang ini tubuhnya tidak seramping dulu, setelah melahirkan darko tubuhnya cukup berisi di bagian-bagian tertentu, sehingga hanna sore itu terlihat seksi dan sangat anggun.
"Hemm, kurasa gaun ini sangat sesuai untukmu hanna, kau terlihat lebih seksi dari biasanya," ucap lexia sambil melirik kepada dazon yang masih belum menatap hanna yang telah selesai berdandan untuk pesta malam nanti.
__ADS_1