The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Pernikahan Lovelia


__ADS_3

"Melda Harper??" Dia mengucapkan nama itu sekali lagi, wajahnya terlihat bengkak dan memerah akibat tamparan keras yang melayang di pipinya. Dokter pribadinya baru saja keluar dari penthousenya, setelah meminum obat pereda rasa sakit dan memberikan gel agar bengkak di pipinya dapat berkurang, Melda berpikir dengan keras agar segala perbuatan mereka semua dapat di terbalas dengan mengerikan sehingga dirinya puas, Melda begitu bernafsu ingin menghancurkan keluarga Caesaar, nama yang dulu begitu di banggakannya dan begitu disanjungnya tetapi semua itu kini sirna di gantikan dengan dendam membara.


Melda Segera menelepon seseorang, dia tahu betul siapa yang menjadi musuh besar keluarga itu, dia dulu juga turut menjadi musuh besarnya dan melakukan segala upaya untuk mengeyahkan musuh besar keluarga Caesaar itu, tetapi kini sebaliknya, segala upaya akan dilakukan Melda untuk menghancurkan keluarga Caesaar termasuk menjadi bagian dari keluarga besar Rudolf.


"Ini aku Melda Harper, kau tahu artinya kan jika aku mengatakan namaku? Ya..tentu saja aku sudah bukan bagian dari keluarga Caesaar jadi, katakan kepada tuanmu, Melda Harper akan selalu siap menjadi kaki tangannya untuk menghancurkan Keluarga besar Caesaar, itu tawaranku tentu dengan imbalan yang juga tidak mudah, kita akan bertemu segera." Bisiknya sambil tersenyum miring mengerikan.


~


Besok adalah hari penting yang telah di tunggu-tunggu oleh mereka semua, terkhusus Alvin dan lovelia, mereka akan melangsungkan pernikahan. Meskipun begitu sederhana tetapi semuanya sudah di siapkan dengan sempurna oleh Alvin.


Lexia menatap gaun pesta yang akan dikenakannya, sangat sederhana tetapi ada yang aneh dari gaunnya, dia menatap gaun berwarna cream cerah yang begitu bersinar ketika lexia mengenakannya. "Emm, sederhana tetapi Daren tidak pernah meninggalkan kesan seksi di gaun yang dipilihnya sendiri, bagian dada yang begitu rendah dan menonjol serta lekukan tubuh lexia akan terlihat sempurna serta garis punggungnya akan nampak terpampang dengan mudah hingga memperlihatkan kulitnya yang putih polos.


"Ugh, pria mesum itu selalu membuatku suprise dengan gaun pilihannya." Gumam lexia menata kembali gaunnya serta jas yang akan dikenakan Daren serta putranya untuk esok hari. Setelah selesai beres-beres lexia segera bergabung dengan Daren yang berada di balkon, dia sedang duduk santai sambil bermain dengan Ax. Lexia datang lalu memberikan kecupan singkat kemudian duduk di sebelahnya.


"Gaunnya cantik sekali Daren? Kau yang memilihnya?" Tanya lexia menatap Daren sambil menempelkan dagunya di bahu Daren.


"Ehm, mungkin sayang." Ucapnya misterius. Dia memainkan tangan Ax sambil membiarkan putranya berdiri di pangkuannya. "Kenapa mungkin? Siapa lagi yang memesan gaun mesum seperti itu selain dirimu Daren." Ucap lexia mendengus lalu memegang kaki Ax agar tidak jatuh.


Daren tertawa mendengar ucapan lexia. "Hanya ada kita nantinya dan tidak ada seorangpun yang melihatmu selain aku dan Ax, melihat mommynya menjadi cantik dan seksi di waktu yang bersamaan dan aku yang akan mendapatkan kehormatan untuk membukanya nanti." Bisiknya sensual membuat lexia memukul bahunya tetapi rona dipipinya muncul begitu saja.


Mereka tengah menikmati pemandangan indah yang hadir di hadapannya, sebuah pemandangan sore hari yang sungguh indah, lexia masih menyandarkan kepalanya di bahu daren, Matahari yang terlihat merona merah dan oranye yang menyatu dan sebentar lagi akan tenggelam di gantikan menjadi langit gelap yang kini nampak terlihat begitu indah tetapi sinarnya masih memberikan nuansa romantis untuk mereka berdua.


Daren menatap lexia dan memberikan ciumannya. "Aku mencintaimu lexia." Bisik daren tersenyum menatap sang istri. "Benarkah?" Ucap lexia bercanda, dia segera membalas ciuman Daren. "Aku juga mencintaimu" bisik lexia memberikan senyuman cantiknya kepada Daren.


~


Hari itu menjadi hari bersejarah untuk Alvin dan lovelia, mereka akan mengikat janji dan menjadi ikatan erat yang terjalin di antara mereka berdua. Ikatan itu akan menyatukan kedua insan itu dengan pernikahan yang akan dilangsungkan sebentar lagi.

__ADS_1


Lovelia berada di samping Alvin dengan mengenakan gaun indah berwarna putih nampak sangat cantik. Sementara itu Alvin yang berada di sampingnya memberikan kecupan di keningnya serta menghapus air mata yang membasahi pipi lovelia. Setelah mengikat janji Alvin memberikan ciuman panjang kepada lovelia, memberikan kelegaan di hatinya karena lovelia sudah menjadi istrinya.


Langkah kaki itu membuat mereka semuanya berbalik dan menatap tubuh yang tidak diundang itu, Mereka semua terkejut atas kehadiran tuan Robert serta Sebastian dan Beberapa Pengawal-pengawalnya. Alvin dengan otomatis berdiri di hadapan lovelia yang kini sudah menjadi istrinya.


Nampak wajah kekecewaan terlihat di wajah tuan Robert, matanya tajam menatap Alvin.


Tuan Robert berjalan mendekati kedua pengantin yang sudah resmi menjadi suami istri itu dan menatap mereka berdua. "Apa yang sebenarnya kau lakukan Alvin? Apakah cintamu kepada lovelia sudah membutakan matamu hingga melakukan semua ini??" Ucapnya keras.


Daren tidak tinggal diam, dia segera mendekati lovelia berusaha menghalau jika saja tuan Robert ingin menyakiti mereka berdua. "Sebaiknya kau minggir Tuan Burchard, aku sekarang berbicara dengan Putraku, dan...menantuku." ucapnya.


Sejenak Alvin mencerna kata-kata ayahnya, tiba-tiba saja wajahnya berubah, yang tadinya khawatir berubah menjadi bingung dan menginginkan ucapan kepastian dari ayahnya.


"Aku marah kepada kalian yang melarikan diri begitu saja dan segala upaya yang kulakukan untuk mengejar kalian, aku..aku sudah setua ini, tentu saja menginginkan yang terbaik buatmu Alvin, dan aku ingin kau bahagia bersama orang yang kau cintai." Ucapnya, pandangannya yang tadinya tajam seketika berubah menjadi lembut dan sedikit mata tua itu berkaca-kaca, dia memegang kedua bahu Alvin dan menatapnya lekat-lekat.


"Aku ayahmu tentu saja ingin yang terbaik untukmu Alvin, setelah berpikir cukup lama, ayah menginginkan kau bahagia." Ucapnya, matanya beralih kepada lovelia yang air matanya tidak berhenti mengalir.


"Sebaiknya kalian lanjutkan pesta kalian." Ucapnya sambil menepuk pundak Alvin memberikan kehangatan kepada keduanya dengan senyumannya. Pesta akhirnya dilanjutkan dengan musik yang mengalun indah. Alvin membawa lovelia untuk berdansa bersamanya. Sedangkan di tempat lainnya lexia sedang menghapus air matanya, tidak tahan dengan rasa terharu yang dilihatnya. Sementara Daren yang menggendong Ax berdiri di samping lexia dan memeluknya, menyampirkan tangannya di bahu lexia dan memberikan kecupan di keningnya.


"Kita berdansa?" Bisik daren kepada lexia yang tengah menghapus air mata bahagianya. Mereka berdansa dengan Axton berada di tengah-tengah mommy dan Daddynya, mereka mencium kedua pipi Ax di sisi kanan dan kiri, sambil tersenyum senang melihat kegembiraan di wajah putranya dengan tawa lucunya.


~


Lovelia ternganga melihat hadiah yang diberikan lexia kepadanya. Dia sekarang seorang diri di kamar, setelah pesta usai dia kembali ke kamar untuk membersihkan tubuhnya, sementara Alvin, Daren dan tuan Robert berada di ruang tamu, setelah pesta usai, kakeknya masih bercakap-cakap dengan mereka.


"Lexia ingin aku mengenakan ini?" Ucap Lovelia menatap dengan malu-malu lingerie berwarna merah malam yang transparan, hanya bagian puncak di dadanya saja yang tertutup sedangkan bagian bawahnya berbentuk segitiga begitu kecil menampakkan segalanya di bawah sana.


Meskipun bisa di bilang mereka sudah mengalami malam panas berkali-kali dan menghabiskan malam bersama, tetapi kali ini lovelia merasa sangat berdebar, malam ini adalah malam pertama dia sebagai istri sah dari Alvin dan dia ingin menyenangkan suaminya yang dicintainya. Tanpa ragu lovelia mengenakan lingerie pemberian lexia, dan segera masuk ke dalam selimut dengan jantung berdebar.

__ADS_1


~


"Kedatanganku kesini selain ingin menghadiri pernikahanmu, ayah juga ingin berbicara mengenai RdF Corporation." Ucap ayahnya.


"RdF Corporation bukannya milik keluarga Rudolf ayah, dan mereka tidak memiliki hubungan yang baik dengan keluarga caesaar, dan itu sudah berlangsung cukup lama, ada apa dengan mereka ayah?" Ucap Alvin.


Daren mendengar dengan seksama percakapan mereka, dia tidak begitu mengetahui mengenai keluarga Rudolf yang katanya tidak kalah tangguh dengan keluarga Caesaar yang sama-sama memiliki perusahaan raksasa di segala bidang, terutama di Amerika dan Eropa, tetapi Daren tidak pernah berhubungan langsung dengan keluarga Rudolf yang terkenal arogan itu.


"Ada apa dengan mereka ayah?" Tanyanya.


"Seminggu yang lalu mereka menyerang salah satu perusahaan rekan bisnis ayah, perusahaan besar Rudolf bahkan betul-betul mengakuisisi seluruh aset dari perusahaan rekan bisnis ayah itu sampai-sampai mereka harus bekerja kepada perusahaan Rudolf sendiri, tetapi bagaimanapun juga ayah masih mewaspadai setiap pergerakan perusahaan mereka."


"Hem, Rudolf?? Aku pernah membaca artikel mengenai salah satu putra mereka yang selama ini tinggal di Eropa, kalau tidak salah namanya Adrik Rudolf, dan yang paling penting dari semua itu adalah kita sebaiknya jangan bersentuhan langsung dengan perusahaan Rudolf, putranya yang terkenal kejam dan bengis, dia tidak kalah mengerikan di bandingkan ayahnya.


Meskipun Daren pernah mendengar nama Rudolf dan sebagian dari rekan bisnisnya bahkan memuji ketangguhan perusahaan mereka, tetapi Daren sama sekali tidak penasaran dan ingin tahu tentang keberadaan mereka.


~


"Sejak kepergian lexia suasananya sangat sepi, benarkan Nara?" ucap Xaphier membuka pembicaraan ketika mereka makan malam bersama, Xaphier dan Nara hanya makan berdua karena ayahnya berada di luar kota.


Nara mengangguk. "Ya, tanpa mereka terlihat begitu sepi." ucap Nara terlihat murung karena tidak ada lexia dan Ax yang selalu membuatnya tertawa. Xaphier menaikkan satu alisnya dan berdehem, melirik kembali kepada Nara.


"Bukankah dengan keberadaanku saja sudah cukup?" ucap Xaphier terlihat tergganggu melihat kelesuan di wajah Nara. Xaphier berjalan dan menghampiri Nara yang sudah menyelesaikan makannya.


"Ikuti Aku." ucap Xaphier.


Dia menggenggam tangan Nara membawanya ke suatu tempat, dia ingin wanitanya tidak murung ketika bersamanya, Xaphier mengajak Nara menonton film apa saja yang disukainya, tv layar datar yang cukup besar itu menyajikan film romantis, Nara menontonnya dengan serius, kadang tersenyum dan ekspresi wajahnya berubah-ubah hanya karena kotak besar di hadapannya itu. Xaphier sama sekali tidak menonton tetapi dia sedang memperhatikan setiap ekspresi wajah Nara, dan memandang bibir itu mengembang sempurna ketika menonton adegan lucu, tidak pernah sekalipun senyuman cantik itu ditujukan untuk Xaphier dan hal itu membuat Xaphier berdecak sehingga tanpa di tahan-tahannya dia menyerang bibir Nara saat itu juga.

__ADS_1


__ADS_2