
~Oklahoma City, pukul 13.45
Xaphier menunggu kedatangan ayahnya langsung dari bandara dengan pesawat pribadi miliknya. Tuan caesaar turun dari pesawat bersama orang-orangnya, sementara Xaphier menunggunya dan menghampirinya.
"Dad bagaimana perjalananmu, dad baik-baik saja?"
"Aku memang sudah tua Xaphier, tapi aku masih sangat kuat untuk perjalanan seperti ini, aku lebih kuat dari pamanmu thomas, dia terlihat bingung, dan beberapa sendinya tampak sakit." Ucapnya, dia berjalan di iringi oleh orang-orangnya, mereka berjalan menuju mobil yang telah menunggunya dengan di ikuti oleh puluhan orang di belakangnya.
"Bagaimana Daren kau sudah membuat janji dengan Celia?" Tanyanya.
"Sudah dad, mereka akan datang besok di tempat yang aku tentukan, lebih baik ayah istirahat sebelum bertemu dengan Celia." Dia mengangguk lalu masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya.
~
Daren berdiri dari posisinya di atas lexia, dia begitu geram, matanya mengarah kepada Evan.
"Apa yang di lakukan penjaga-penjaga itu evan?"
"Oh please daren, kumohon biarkan aku bicara denganmu sebentar saja, aku yang memaksa untuk masuk." Ucapnya keras.
Lexia memutar matanya, dia duduk dari posisi tidurnya. "Tidak ada yang perlu kita bicarakan nency, dan tempat ini bukan tempat semaumu untuk datang dan pergi." Ucap Daren bersedekap.
Nency duduk di sana menghempaskan tubuhnya di kursi lalu mengerling lexia yang duduk di sana sambil memandang lexia dengan pandangan angkuh.
"Aku datang hanya ingin mendengar pendapatmu saja Daren dan....kau." dia menunjuk lexia dengan telunjuknya.
"jika kau mau ada di sini mendengarkan, kau bisa duduk dan.....
"Lebih baik kau keluar nency sebelum aku menyeretmu." Ucap Daren berang, tetapi Nency tetap kukuh duduk di sana.
"Okey, baiklah aku akan bicara, maksudku aku ingin tahu pendapatmu mengenai Louis, dia kan temanmu, erm...aku ingin meminta saranmu Daren mengenai pribadi Louis." Ucap nency.
Daren kembali duduk di kursi di samping lexia dan menjalarkan tangannya di bahu lexia. "Aku hanya rekan bisnisnya nency, aku tidak tahu tentang Louis secara pribadi, jadi saranku mungkin tidak ada gunanya." Ucap Daren.
"Tidak bisakah kau mendengarku dulu? Aku hanya perlu saranmu sebagai teman, kau kini tidak mau mendengarku lagi karena dia ada di sampingmu Daren?"
Lexia mencubit tangan Daren dan berbisik kepadanya. "Singkirkan dia dalam waktu lima menit, kalau tidak, jangan mendekati aku malam ini." Ancam lexia.
Daren menaikkan alisnya lalu menatap lexia.
"Yang kau sebut 'dia' itu istriku, dan aku tidak memiliki ingatan kita begitu dekat sampai harus bertukar saran." Ucap Daren dingin, dia mulai muak menghadapi segala trik nency.
Nency melihat ke arah lexia yang bersandar di dada Daren.
"Apa!!" Bentak lexia.
"Apa kau akan mengerti jika Daren harus berbicara bahasa lumba-lumba?" Gertak lexia.
"Daren bilang, dia bukan teman dekatmu yang dapat memberimu saran, jika kau mau saran tanyakan saja dengan teman pirangmu itu." Ucap lexia mendengus
"Ck, kau mulai sombong dan sok gadis kecil, aku masih tidak mengerti dengan daren yang....
"Cukup, pergi sekarang juga nency, aku tidak akan terima jika mulutmu berbicara seperti itu kepada istriku, lebih baik kau pergi." Bentak daren.
"Ugh ! Baiklah, tapi aku tidak akan menyerah Daren, aku akan terus menemuimu sampai kau menyerah Daren, aku terkenal tidak pernah putus asa jika aku sudah menginginkan sesuatu." Ucap nency dengan senyum percaya diri.
Lexia betul-betul geram dengan wanita satu ini, dia terang-terangan berbicara seperti itu dihadapannya, lexia berjalan mendekati nency yang meninggikan dagunya tinggi-tinggi ketika lexia mendekatinya.
Lexia menyilangkan tangannya, dengan gerakan cepat dia menarik wajah nency dengan satu tangannya. 'Aku banyak melihat wanita culas sepertimu?' bisik lexia.
Evan terkejut melihat situasi di hadapannya, Daren mengangkat setengah tangannya menyuruh Evan mundur. Daren menatap lexia, menunggu apa yang akan di lakukan lexia dengan sisinya yang seperti itu.
Nency mengerang mencoba melepaskan pegangan lexia dari wajahnya. 'Kau tahu kan aku dulunya hidup di jalanan, wanita sepertimu banyak kutemui di jalanan, menjajakan dirinya di pinggir jalan dan menjadi rebutan pria hidung belang, pandanganku kepadamu seperti itu nency, wanita yang tidak memiliki harga diri meskipun ditolak berkali-kali, aku akan mengajarimu belajar untuk menyerah, sebaiknya kau pergi sebelum aku kehilangan kontrol dan memukulmu.' bisik lexia, hanya nency saja yang mendengar segala ucapan lexia.
Rahangnya sakit karena tarikan kasar lexia, matanya melirik kearah lexia, dia menatapnya dengan tatapan takut. 'Pergilah! Bisik lexia.
Nency mundur beberapa langkah, dia hendak mengucapkan sesuatu tetapi melihat wajah lexia yang tidak biasanya membuat nency mengurungkan niatnya untuk bicara lagi.
"Aku..aku pergi Daren, harusnya kau lihat bagaimana anak ini...." Lexia maju beberapa langkah, dia lalu terdiam.
"Daren kau harusnya melihat wajah mengerikan anak ini, kau...." Lexia yang barbar menggertak nency dengan sendal yang di ambilnya dari kakinya, dia kemudian jatuh terduduk di lantai lalu berdiri dan segera berjalan cepat.
"Perempuan gila." Ucap lexia mengenakan kembali sendal rumahannya sambil bertolak pinggang.
Daren menyilangkan kedua tangannya di belakang lexia, dia membungkuk sejajar di bahu lexia dan membisikkan sesuatu kepadanya.
"Apa waktu 5 menitku sudah lewat?" Bisiknya.
Lexia terlonjak, dia berbalik cepat tidak menyangka Daren tepat di belakangnya.
"Kau mengagetkanku Daren." Ucap lexia menggaruk hidungnya yang tidak gatal, merasa sedikit bersalah karena sikap kasarnya di perlihatkan di depan Daren.
"Apa aku terlihat seperti preman Daren?" Ucap lexia berbisik, menarik kemeja Daren dan membenamkan wajahnya di dada daren.
"Emm, bagaimana jika sikap kasarmu itu kau perlihatkan di tempat tidur malam ini? Aku ingin melihatmu." Bisik daren sensual, lexia menipiskan bibirnya dan melepaskan baju Daren.
"Aku..aku harus bersikap seperti itu jika wanita seperti nency yang kuhadapi, dia wanita keras kepala, di mana kau temui wanita psikopat itu?"
"Kau tahu sendirikan, dia itu keponakan tuan Robert, aku bertemu dengannya ketika Barbara menikah dengan ayah lovelia, dia juga teman Carol waktu itu." Ucap Daren kembali duduk di kursi kerjanya.
Lexia menyilangkan kedua tangannya lalu mengetuk-ngetuk meja Daren.
"Apa kau pernah menciumnya?" Tanya lexia, sambil menyipitkan matanya.
Daren tersenyum puas melihat kecemburuan lexia padanya, dia tetap mengerjakan pekerjaannya sambil sesekali melirik ke arah lexia.
"Kemarilah." ucap daren melihat lexia menyilangkan tangannya sambil menatap curiga daren. Lexia tidak bergerak dari posisinya.
"Kemarilah ada sesuatu yang ingin kuucapkan." Ucap Daren menarik tangan lexia hingga dia terjatuh di pangkuan Daren.
Daren membenamkan wajahnya di gundukan favoritnya dan menghirupnya, dia kemudian mengangkat kepalanya menatap wajah lexia yang cemberut.
__ADS_1
"Bagiku mereka semua masa lalu sayang, kau adalah masa kiniku dan yang akan datang, jadi berhentilah cemberut, Hem." Ucap Daren menyapu bibirnya ke arah bibir lexia dan menyentuh hidungnya.
Mereka saling bergelayut dalam ciumannya seakan saling mengklaim satu sama lain. Ketukan dari pintu masuk membuat bibir Daren melepaskan diri dari lexia. Matanya beralih kepada pintu dan melihat Evan serta Louis ada di sana menyaksikan cumbuan daren kepada lexia.
"Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat " ucap Louis melangkah masuk ke ruangan daren. Lexia masih ada di pelukan Daren mencoba menormalkan napasnya.
"Apa sebaiknya aku datang lain kali saja?" Ucap Louis sambil menatap mereka berdua, sesekali Daren mengecup lexia di hadapan Louis.
"Tidak, duduklah.." Ucapan daren membuat lexia mengambil kesempatan itu untuk pergi. "Tunggu aku di kamar." Bisik daren. Lexia mencubit perutnya kemudian turun dari pangkuan daren dan segera pergi dari ruangannya setelah menyapa sebentar Louis.
~
Tuan Robert sedang beristirahat di ruangannya, terdengar ketukan pintu dari luar pintu, sebastian masuk dan memberikan informasi kepada tuan Robert.
"Sir, tuan Caesaar berada di Oklahoma, dia bersama putranya sepertinya akan menemui nona lexia besok." Ucap Sebastian.
Tuan Robert menatap Sebastian lalu menurunkan bulpoin yang dipegangnya. "Benarkah? Hem, tentu saja dia pasti akan datang jauh-jauh dari Milan untuk menemui putrinya yang lama menghilang, putri keturunan satu-satunya Caessar. Sedangkan Xaphier hanyalah keponakannya saja yang di pelihara oleh Caessar."
Tuan Robert memakai kacamatanya lalu menatap ke arah Sebastian. "Cari tahu lokasi pertemuan mereka, sudah lama aku tidak berjumpa dengan Caessar, aku ingin melihat wajahnya ketika dia melihatku." Ucap tuan Robert sambil tersenyum tipis.
~
Ucapan tuan Robert seakan menohok langsung jantung Barbara manakala mendengar latar belakang lexia yang sebenarnya. Bagaimana bisa gadis itu keturunan bangsawan Caessar di Italia, dia begitu terkenal di kalangan para pebisnis dunia, apalagi Xaphier putranya yang tampan banyak wanita-wanita ingin melemparkan dirinya ke Xaphier caesaar, andaikan saja lovelia seperti gadis normal pada umumnya, dia pasti akan berusaha menjodohkannya dengan pria itu. Pikir Barbara.
Sesekali dia memegang botol wine yang ada di tangannya lalu terkekeh. "Aku ingin lihat ekspresi congkak anak itu, dia pasti merasa tinggi hati dan sombong karena akan bergelimang harta." Ucapnya di tengah tegukannya.
Lovelia masuk dan beberapa pelayan membawakan makanan di atas nampan, para pelayan saling melirik melihat kondisi tuan rumahnya. Lovely menyuruh mereka keluar setelah meletakkan makanan itu.
"Mom, waktunya sarapan pagi." Lovelia memapah ibunya yang bergelayut di sofa di depan tempat tidurnya yang berantakan. Barbara berbalik lalu menatap wajah lovely.
"Kau anakku, tetapi mengapa..mengapa kau dihinggapi penyakit mengerikan itu, padahal ketika kau lahir aku bergantung dengan keberadaanmu lovelia, tapi... sepertinya harapanku terlalu tinggi." Desisnya.
Hati lexia terasa sakit dengan ucapan ibunya. Tetapi dia mencoba menahannya karena berpikir ibunya berbicara dalam keadaan mabuk dan tidak sadar.
"Mom, ayo makan, perut mom akan sakit kalau mommy mengisi minuman keras itu sepagi ini dan tidak makan." Ucap lovelia.
Barbara menatap lovely, "ukh baiklah, baiklah..aku makan dan segera keluar dan masuk ke kamarmu jika tidak kau akan kembali sakit karena udara di sini tidak steril, cepatlah.. cepatlah pergi." Usir Barbara pada lovely.
Lovelia menutup kamar ibunya dan segera meninggalkannya, seorang pelayan tengah berdiri menunggu lovelia.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Ada pria yang mencari nona lexia, nona." Pelayan itu kemudian mundur, lovelia mengintip di jendela dan melihat dari pintu gerbang, seorang pria dengan rambut hitam dengan mata hitamnya langsung menatap ke arah lovelia.
"Kau sudah menanyakan namanya?" Tanya lovelia.
"Dia bilang namanya Edoardo, dan temannya lexia."
"Biarkan dia masuk, aku akan bicara kepadanya." Ucap lovelia lalu menuju ke ruang tamu.
Edo sudah menunggu di ruang tamu, dia berdiri di sana sambil menatap foto besar wajah ayah dan ibu lovelia.
"Hai, aku Edo teman lexia." ucap Edo sambil mengulurkan tangannya kepada lovelia, tetapi sayangnya tangannya tidak di sambut oleh lovelia, karena selama ini dia tidak pernah menyentuh tangan orang-orang sebelumnya.
Edo menarik tangannya kembali dengan canggung dia menatap lovelia yang balas menatapnya dengan ekspresi wajah yang aneh. "Apa kau tahu lexia sudah menikah dengan pamanku?" tanyanya.
Pancaran wajah Edo tidak senang ketika mendengarnya. "ya, aku tahu, tapi aku ingin menemuinya." ucapnya.
"Mungkin saja kau tidak akan bisa menemui lexia jika pamanku tidak mengizinkan lexia menemuimu." ucap lexia.
Edo menggaruk kepalanya, dia lalu menatap lovelia. "Tapi aku harus berusaha kan, aku hanya ingin mengetahui kabarnya."
"Em...jadi kau akan kesana?" tanyanya.
"ya, aku akan ke sana dan berusaha bertemu dengan lexia." ucap Edo.
"Apa arti lexia untukmu?" tanya lovelia masih berdiri di sana menatap sikap canggung Edo yang berdiri di hadapannya. Edo berpikir sebentar.
"Dia temanku sejak kecil dan kami tumbuh bersama, tentu saja dia berarti bagiku." Edo menaikkan bahunya.
"Katakan kepadaku di mana lexia." tanyanya.
"Lexia? dia berada di Oklahoma di villa paman, mereka memutuskan tinggal di sana." ucap lovelia.
"Benarkah? emm terima kasih lovely, aku pergi, erm... ngomong-ngomong namamu cantik." ucap Edo tersenyum, lalu beranjak dari kediaman Burchard, lovelia masih berdiri di sana dan memandang kepergian edo.
~
"Daren, sebentar lagi kita akan bertemu tuan Caesar, hentikan tingkah mesummu." ucap lexia mendorong tubuh Daren yang terus mengecup punggung lexia sehabis mandi. Akhirnya lexia menyerah dan mereka berakhir di tempat tidur, sekali lagi lexia tidak bisa menghentikan tingkah mesum Daren, mereka telah melakukannya di kamar mandi dan kini lexia dan Daren berakhir saling berpelukan dan saling menatap, mengatur napas mereka masing-masing agar normal kembali.
"Tubuhmu baik-baik saja?" bisik daren. Masih merengkuh tubuh telanjang lexia.
"Emm, aku Oky tapi hentikan gerakanmu Daren, aku cukup kewalahan sekarang, aku tidak bisa lagi, aku lelah, jika kau bergerak, aku akan menjauh darimu dan tidur di kamar pelayan itu lagi." Ancam lexia.
"Kau mengancamku sayang?" ucap Daren menarik tubuh lexia ke arahnya.
Lexia tersenyum tapi matanya masih tertutup karena kelelahan, "Ya, aku mengancammu Daren." bisik lexia, matanya tiba-tiba memberat dia tidak bisa mengatasi ngantuknya padahal sejam lagi dia akan bertemu tuan Caesaar dan Xaphier.
~
Tuan caesaar telah bersiap untuk menemui Celia, dia sudah berada di ruangannya dengan pakaiannya yang lengkap. "Xaphier bagaimana penampilanku?" tanyanya.
Xaphier tersenyum miring. "Apa ayah gugup?" tanyanya.
"Tentu, dia adalah celiaku yang menghilang, aku sangat ingin bertemu dengannya, ngomong-ngomong bagaimana reaksi Celia ketika dia akan bertemu denganku?" ucapnya.
"Cuma shock saja, selebihnya dia terlalu sibuk dengan pria itu." ucap Xaphier mengarah kepada Daren.
"Pria itu? maksudmu yang sekarang menjadi suami Celia?" ucap tuan Caessar.
"Apakah kau tidak menyukainya? tanya tuan caesaar.
__ADS_1
"Tidak juga, hanya saja usia mereka terlalu jauh, aku ingin tahu mengapa mereka begitu terburu-buru menikah!" ucap Xaphier.
~
Oklahoma Hotel city.
Daren baru saja turun dari mobilnya, mereka datang bersama dengan para pengawal yang mengikutinya. Keduanya berjalan menuju tempat yang dituju.
"Di lantai berapa Daren?" ucap lexia.
"Di restaurant lantai 7." ucap daren, lexia berharap pertemuannya dengan tuan caesaar tidak merubah apapun, dia sudah bahagia bersama Daren, dia tidak ingin merubah apapun, apalagi lexia merasa asing dengan mereka, meskipun tuan caesaar adalah ayah kandungnya sendiri.
Mereka berdua keluar dari lift itu, restaurant itu kosong tidak ada seorangpun yang berada di sana, hanya pengawal-pengawal yang berdiri di pintu masuk, lalu mempersilahkan Daren dan lexia untuk masuk ke dalam.
Xaphier telah ada di sana dia duduk di samping seorang pria tua yang sedang memandangi pemandangan dari kaca jendela kota Oklahoma. Xaphier berbisik kepadanya, dan diapun berbalik menatap kedatangan mereka berdua.
Pandangan matanya jatuh kepada sosok lexia yang berjalan kearahnya, wajahnya terlihat terharu, senyum dan sedih menjadi satu, dia melihat wajah Veronica istrinya sewaktu masih berusia 18 tahun sedang berjalan ke arahnya.
Dia melangkahkan kakinya perlahan, tangannya terangkat ke atas, sudah bertahun-tahun pencariannya kepada Celia tidak membuahkan hasil tetapi hari ini akhirnya dia berdiri di hadapannya. Senyum yang sama, hidung yang mancung dan wajah yang cantik, meskipun warna pada mata lexia sama dengan warna mata tuan caesaar, bukan seperti Veronica berwarna coklat yang dalam.
"Celia?? bisik tuan caesaar.
Lexia menatapnya, sedikit mendekat kepadanya meskipun dia menjaga jarak, genggaman tangan lexia pada Daren semakin erat, dia perlahan mendekat pria tua yang terlihat sedih ini.
"Celia?? kau celiaku." ucapnya.
Lexia masih diam, tetapi dia menyambut uluran tangan sosok ayah biologisnya, akhirnya dia tahu siapa ayahnya, selama ini orang-orang selalu menyebut dirinya wanita tidak jelas dan menyusup di keluarga Burchard dan mengambil Daren dari Carol.
Tuan Caesaar memeluk lexia, dan menepuk-nepuk punggung lexia. "Akhirnya aku menemukanmu Celia, bertahun-tahun ayah mencarimu, akhirnya aku bisa bertemu denganmu."
Setelah mereka saling melepas kerinduan, mereka akhirnya duduk bersama. Wajah Xaphier tidak begitu senang dengan kehadiran Daren di sana, dia memiringkan kepalanya dan mengerling lexia setiap dia berbicara sambil menjawab pertanyaan tuan Caessar.
"Dimana kau selama ini Celia? kau tidak mengingat apapun? siapa yang memeliharamu sampai usiamu 4 tahun, kau tidak mengingatnya?" tanyanya.
"Tidak, aku tidak mengingatnya yang aku tahu Nenek dan kakek Kenzo merawatku dengan baik, sampai mereka meninggal dan aku hidup di rumah Daren." ucap lexia.
Mata tuan caesaar teralihkan dengan kehadiran Daren di sana. "Jadi, kau sudah menikah dengan putra keluarga Burchard, nama anda Daren Burchard bukan?" tanyanya.
Daren menjawabnya tanpa keraguan sedikitpun. "Ya tuan Caesaar namaku Daren dan kami telah menikah seperti yang kau dengar dari putramu." jawab daren.
Tuan caesaar mengangguk tetapi masih menyisakan keraguan di wajahnya ketika menatap sosok Daren.
"Celia, apakah kau tidak ingin mengunjungi Milan? di sana makam ibumu di makamkan, kau tidak ingin melihatnya?" tanyanya.
"Tentu aku ingin menjenguk ibu." ucap lexia
"Bagus, setelah kalian tidak sibuk, aku menunggu kehadiran kalian." ucap tuan Caesaar.
~
"Kenapa sepi sekali di tempat ini?" ucap salah satu wanita berambut merah, memperbaiki bajunya yang sempit agar nampak seksi.
"Nona, silahkan cari tempat lain " ucap salah satu pengawal yang menahan tiga orang wanita yang ingin masuk ke restaurant di hotel itu.
"Ck, kenapa kau melarang kami? aku mau memesan makanan, aku capek berkeliling, memangnya ada yang memesan hotel ini?"
tanya Carol yang baru saja datang dari arah pintu.
"Kau lama sekali sih Carol." ucap nency yang juga ikut dalam perkumpulan Carol, dia kembali menjadi sahabat karib semenjak lexia resmi menjadi istri Daren.
"Sebaiknya anda pergi nona-nona, seluruh tempat ini sudah di beli oleh tuan Caessar." ucapnya.
"Tuan caesaar? siapa dia?" tanya nency kepada tiga wanita yang juga terbengong, akhirnya Carol mengambil keputusan untuk mengetahui sosoknya. mereka melihat fotonya di pencarian google.
"Lihat, dia sudah tua dan coba lihat pria di sampingnya ini, bukankah dia Xaphier caesaar, dia adalah putra satu-satunya dari tuan Caessar Rodrigo, lihat nency ! tangkapan besar ada di mana-mana, lebih baik kau menyerah terhadap daren, dia sudah terhipnotis dengan ular itu." ucap salah satu temannya yang mengenakan dress kuning.
"Ck, mungkin saja permainan gadis itu hebat di tempat tidur, sehingga Daren seperti tersihir olehnya." ketiga wanita itu terkikik tetapi hanya nency saja terlihat geram, membayangkan hal itu membuat tubuh nency memanas seakan ingin menarik Daren dari jeratan lexia.
"Cih, permainan yang hebat? aku ragu, dia kan masih sangat muda, pasti Daren yang selama ini memuaskan gadis itu di tempat tidur, apakah dia merasa puas dengan gadis tidak berpengalaman seperti lexia?"
Carol dengan sekuat tenaga menggoda pengawal itu agar membiarkan mereka duduk di lobi hotel itu hanya untuk melihat pria bernama Xaphier.
"Guys c'mon." teriak Carol memanggil ketiga gadis itu dan berbincang di lobi hanya untuk menunggu kedatangan Xaphier yang terkenal tampan dan dingin.
Setelah 30 menit menuggu, Tuan caesaar akhirnya keluar dari lift bersama Xaphier, Daren dan lexia beserta para pengawalnya.
"Lihat ! mereka keluar dari lift, aku selalu mendengar nama Xaphier di pesta-pesta tetapi sekalipun aku tidak pernah melihat wajahnya." bisik Carol dari balik sofa.
Carol mengalihkan pandangannya kepada sosok gadis yang berjalan di antara mereka.
"Apa yang dilakukan lexia di antara mereka." Carol terheran-heran sampai-sampai dia lupa untuk menundukkan kepalanya, dia melihat Daren dan lexia berjalan di samping tuan caesaar.
Nency terkejut ketika melihat kedatangan Daren dan lexia di sana, pandangan matanya masih menatap Daren dengan pandangan merindukan, dia masih menginginkan Daren sudah sejak lama.
Nency tanpa ragu berjalan ke arah mereka semua, Carol yang lebih masuk akal di bandingkan nency langsung saja menarik tangannya agar kembali duduk di sofa sebelum mereka ketahuan, tapi terlambat. Semua mata tertuju kepada nency yang betul-betul menjadi gila ketika melihat sosok Daren di sana.
"Daren kau di sini? kau tahu, Carol...maksudku kami semua sedang berjalan-jalan, lalu tidak sengaja singgah di hotel ini, apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya.
Perubahan wajah Daren begitu mengerikan, dia menatap nency dengan tatapan marah, tetapi tidak mengucapkan apapun. Nency menghampiri mereka berdua, lalu berdiri di samping daren.
Lexia yang tidak tahan dengan perilaku nency segera menarik lengannya dengan kasar, semua itu di saksikan oleh ayahnya, begitupun Xaphier dan Daren yang sama sekali tidak mencoba menghentikan lexia.
"Lepaskan ! berani sekali kau menyentuhku, kau wanita sampah, kau sangat kasar, pantas saja kau hidup di jalanan, kau sama sekali tidak pantas berada di sisi Daren dan....
Tamparan keras itu pas mengenai wajah nency, tetapi bukan lexia yang menamparnya, tetapi Xaphier. Semua mata tertuju kepada lexia dan Xaphier. Mata safirnya yang tajam menembus manik mata nency yang ketakutan.
Dia berjalan angkuh menatap wajah gadis yang sedang memegang pipinya, ketika dia marah nampak wajah Xaphier terlihat mengerikan, lexia pun terkejut dengan tamparannya ke nency.
"aku tidak segan menghabisi siapa saja, jika kau bersikap kurang ajar kepada Keluarga Caesaar."
'Dia mengerikan.' gumam lexia.
__ADS_1