The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 71


__ADS_3

Wanita itu menangis di dalam mobil kusamnya, dia merasa dikhianati, dia berpikir, bahwa satu-satunya orang yang akan membantunya adalah tuan dazon, tetapi memandang kepadanya saja dia terlihat jijik, wanita itu memukul stir mobil dengan keras lalu mengumpat kasar. "Aku tidak akan pergi dari kehidupan kalian, lihat saja." Teriaknya tertahan. Dia membelok tajam ke suatu tempat dan mengingat seorang pria bernama Riel.


~


Dazon kembali ke mansion malam itu, thomas meneleponnya, ada pekerjaan yang harus dia kerjakan dan sangat mendesak, jadi dia segera kembali ke mansion, sebelum dia pergi, dia mengirimkan beberapa penjaga lagi di rumah hanna karena hadirnya wanita itu. Wanita yang membenci hanna sejak awal, dan dirinya terlalu bodoh untuk mempercayai ucapan kepala pelayan itu sehingga menyakiti hanna.


Perjalanan Dazon cukup singkat, dia akhirnya tiba di mansion, ibunya menyambut kedatangannya.


"Hai sayang kau pulang?" Nara menghampiri putranya, dia memberikan kecupan di pipinya.


"Bagaimana keadaan fairley dan darko sayang? Apa mereka baik-baik saja selama tinggal di rumah itu?"


"Mereka baik mom, aku menempatkan beberapa penjaga di sana karena mey tahu di mana hanna tinggal dan pelayan itu berbahaya, aku salah selama ini tidak memperdulikan ucapan hanna kepadaku." Ucap dazon.


"Kenapa tidak kau laporkan saja wanita itu ke polisi, jika dia berbahaya daz, aku takut nanti dia menyerang istri dan anakmu." ucap sang ibu khawatir.


"Jangan khawatir mom, aku sudah menambah penjagaaan di sana dan sebentar lagi aku akan kembali bersama hanna." Nara tersenyum senang mendengar berita gembira itu.


Dazon kemudian masuk ke dalam kamarnya, dan mengambil kopernya lalu mengisinya dengan pakaian-pakaiannya.


"Kau mau ke milan lagi daz?" Tanya Nara sambil mengikuti anaknya masuk ke dalam kamarnya.


"Tidak mom, mulai besok aku akan tinggal bersama hanna." Ucapan dazon langsung di sambut gembira oleh ibunya, dia sangat senang mendengarnya, dia membantu dazon memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper.


"Aku ingin kalian mencoba lagi dan mendinginkan kepala kalian, jangan sampai amarah sesaat dari kalian berdua, membuat kalian akan menyesalinya dan mengorbankan darko." Ucap Nara.


"Baik mom, aku akan berusaha memperbaiki semuanya." Dazon tersenyum, malam itu juga setelah urusannya dengan thomas selesai, dia membawa kopernya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil, dia lalu masuk ke dalam mobil dan mengendarainya kembali ke kediaman hanna.


Pukul 01.00


Hanna tidak bisa tidur, dia berbalik ke samping kiri dan kanan, matanya tidak bisa terpejam, dia akhirnya bangun dan berjalan ke dapur untuk meminum segelas air dan meredakan rasa gelisah di hatinya, sejak tadi dia menunggu kedatangan dazon yang belum datang juga.


Hanna begitu terkejut, di dekat meja dapur, riel sedang duduk di dalam kegelapan sambil memandang ke arah jendela luar, tanpa menoleh ketika mendengar suara hanna yang terkejut.


"Riel?" Ucap hanna sambil memegang dadanya dan berjalan perlahan.


"Kau mengagetkanku, apa yang terjadi? Kenapa kau duduk di sini." Tanya hanna.


Riel berbalik, dia lalu tersenyum kepada adiknya. "Aku khawatir, aku mengkhawatirkan kalian berdua, wanita bernama mey baru-baru ini muncul di depan rumahmu hanna, dia terlihat kesal dan marah, karena tuan dazon tidak ingin membantunya, malah mengancamnya akan melaporkannya ke polisi."


Hanna ingin menyalakan lampu dapur, tetapi riel mencegahnya. "Biarkan seperti ini hanna, aku biasa berada di tempat gelap." Ucap riel dengan suara ironi penuh penyesalan.


Mereka duduk di meja dapur dalam keadaan gelap, hanya pantulan lampu dari teras belakang rumah yang menyinari dapur itu. Hanna menghembuskan napasnya, tidak terpikir betapa menderitanya kakaknya menjalani hidupnya, hidup dalam kegelapan seorang diri dan berusaha membawa racun yang bersarang di tubuhnya sejak kecil, sehingga dia berakhir menjadi seperti ini, dan itu membuat hatinya terasa sakit, ketika mengetahui bahwa anaknya memiliki darah yang sama dengannya, apakah nanti putranya akan seperti riel? hanna lalu menggelengkan kepalanya, dia akan berusaha keras agar hal mengerikan itu tidak terjadi.


"Hanna, sebaiknya jangan pernah menyebut-nyebut namaku kepada siapapun, aku curiga jika wanita itu mengenali namaku, dan melaporkanku kepada polisi, sepertinya detektif Nick telah bergerak kembali, ada yang telah melaporkanku, bahwa aku berdiam diri di laboratorium milik prof Vandash." Ucap riel.


"Aku tidak akan pernah menyebutkanmu riel, tidak akan, aku akan melindungimu." Ucap hanna dengan suara sedih.


Riel berbalik menatap adiknya tajam. "Jangan pernah melindungiku hanna, akan tiba waktunya aku harus membayar semua perbuatanku, dan aku siap menerima semua itu, jadi jangan coba melindungiku atau menyelamatkanku dan membuat kau dalam bahaya, kau harus ingat kau memiliki seorang putra, dan putramu berpotensi seperti aku maupun seperti ayah." Tegas riel kepada hanna. "Tugasmu hanya melindungi darko, ingat itu Ana."


"Baik riel."


Malam itu mereka duduk dalam diam, sampai terdengar suara mesin mobil yang terparkir di depan rumah hanna. Dia segera menghampiri jendela kaca dan melihat dazon keluar dari mobilnya dan mengeluarkan koper dari mobilnya.


"Apa itu tuan dazon?" Tanya riel.


Hanna mengangguk, dia kemudian tersenyum, "Kalau begitu aku pergi hanna, jaga darko baik-baik, meskipun kau tidak melihatku karena ada tuan dazon di sini, tetapi jangan khawatir, kakak selalu memperhatikan kalian." Ucapnya, dia kemudian naik ke atas, dan pergi meninggalkan hanna begitu saja.


Bunyi bel membuat hanna tersadar dari lamunannya, dia segera membukakan pintu dan melihat dazon telah berdiri di depan rumahnya sambil tersenyum.


"Cepat sekali kau membukanya, aku pikir kau sedang tidur." Ucap dazon sambil meletakkan kopernya di dekat ruang tamu. Dazon menarik pinggang hanna dan memberikan kecupan seperti biasanya.


"Tadi aku haus, jadi aku ke dapur sebentar." Ucap hanna sambil melirik kursi yang tertarik, yang habis di duduki oleh riel. Dazon tiba-tiba memeluk hanna dengan erat. "Aku lelah, dan aku merindukanmu." Ucap dazon, dia mengangkat dagu hanna dan memberikan ciuman panjang menggoda di bibirnya.


"Jadi, kau akan menempatkan aku dimana? Apa aku harus tidur seorang diri di kamar? Kau tahu, aku tidak bisa tidur jika tidak memelukmu." Bisik dazon dengan suara parau menginginkan sesuatu dari hanna.


"Erm, terserah kau saja dazon." Ucap hanna pelan, dia lalu mendorong dazon dan segera masuk ke dalam kamarnya, dazon kemudian menyusulnya dan menyeringai senang. Hanna lalu berbaring di samping putranya dan melirik ke arah dazon yang sedang berkutat dengan kemejanya, dia membukanya satu persatu dan meletakkannya di atas kursi, dia hanya mengenakan boxernya dan langsung berbaring di samping hanna dan memeluknya.


Hanna baru saja ingin membuka mulutnya tetapi dazon sudah menyela perkataannya.

__ADS_1


"Jangan menolakku sayang, aku sangat merindukanmu, sudah lama kita tidak bersama seperti ini." Bisik dazon, mereka hanya saling berpelukan, hanna pun merindukan pelukan dazon, hanna memutar tubuhnya dan mereka saling menatap, dazon kemudian mengeratkan pelukannya. Dia kemudian berbisik pelan di telinga hanna.


"Maafkan aku untuk semuanya sayang, aku berjanji akan memperbaiki kesalahanku dan melindungimu dan anak kita." Bisiknya. Hanna yang mendengar ucapannya, berkedip beberapa kali, hanna ingin mengucapkan sesuatu, tetapi dazon sudah lelap tertidur, hanna tersenyum bahagia, dia mendaratkan kecupan pelan di bibir dazon dan kembali mengeratkan pekukannya.


~


police center in Atlanta.


Bangunan cukup tinggi berlantai 5 berwarna abu-abu berdiri kokoh di antara bangunan tinggi lainnya, meskipun tidak setinggi gedung-gedung tinggi yang menjulang di Atlanta, tetapi banyak orang yang tidak menginginkan atau tidak mau berurusan dengan bangunan itu. Tepat di pelataran parkir di kantor kepolisian Atlanta, wanita itu telah tiba, tetapi dia masih menatap bangunan itu, menatap hanya sedikit orang yang kini keluar masuk karena sekarang hampir tepat tengah malam, setidaknya di kota itu memberlakukan laporan 24 jam, tetapi wanita itu lebih memilih untuk menunggu sebentar lagi.


Wanita itu mengenakan kacamata hitam, dan berjalan dengan penuh percaya diri, padahal sekarang pukul 2 malam, dia menatap bangunan itu sambil menyeringai, tatapannya seakan kemenangan telah berada di depan matanya.


"Tunggu dan lihat saja, mereka semua pasti akan bergerak cepat" Ucapnya.


~


Pukul 6 pagi


Hanna bangun pagi-pagi sekali, dia menatap dazon yang berada di sampingnya, ia masih memeluknya erat, hanna menggeser tubuhnya dan melihat ke tempat putranya yang juga masih tertidur lelap, dia menggulung rambutnya, lalu mulai turun dari tempat tidur.


Hanna segera menyiapkan sarapan untuk putra dan suaminya, dia membuat susu di botol untuk darko dan secangkir kopi dan teh untuk dazon dan untuknya, lalu membuat sandwich sederhana. Dia berniat meregangkan tubuhnya dan sedikit berolah raga sambil menghadap ke arah taman, matanya seketika menatap satu mobil berwarna silver yang sejak tadi menghadap ke rumahnya, hanna kemudian mengintip dan menatap dua orang pria sesekali berbalik lalu menatap rumah hanna.


"Siapa mereka." Ucap hanna.


Salah seorang dari pria itu keluar dari mobilnya dan berjalan menuju rumah hanna, dia lalu memencet bel rumah, tidak lama kemudian hanna membukanya.


"Selamat pagi, apakah anda Hanna Tan?" Tanyanya.


Hanna menatapnya, pria ini seperti seorang detektif, "iya benar saya hanna Tan, ada apa?" Tanyanya.


"Saya detektif Nick dari kepolisian Atlanta, semalam ada yang melaporkan bahwa seseorang yang mirip dengan Riel, maksud saya tersangka yang selama ini kami cari berada di lokasi ini, kami mengecek tempat ini dan tempat itu adalah rumah anda, rumah adik dari Bean Reaver Junior." Ucapnya.


Jantung hanna berdetak kencang, dia menelan ludahnya, mencoba berbicara senormal mungkin agar detektif di hadapannya tidak curiga.


"Kakak, saya tidak mengerti dengan maksud anda tuan Nick, nama saya adalah Hanna Tan dan saya tidak memiliki kakak bernama Ben Reaver junior." Ucap hanna, dia sama sekali tidak menyangka pertanyaan seperti ini muncul sepagi ini.


tetapi maaf jika saya harus mengatakan ini, tapi kami tidak bisa di bohongi, bahwa anda sudah mengetahui latar belakang anda yang sebenarnya." Ucapnya dengan nada menuduh.


Suara langkah kaki membuat hanna berbalik, dazon menghampirinya dan hanya mengenakan kimono tidur berwarna hitamnya, dia lalu menyela ucapan detektif itu.


"Jika anda ingin meminta keterangan kepada kami, anda harus melaui prosedur resmi, istriku tidak memiliki info mengenai pria yang anda sebutkan itu detektif." Ucap dazon.


Detektif itu terdiam sebentar, tetapi tentu saja dia tidak putus asa. "Saya akan memberitahu anda, bahwa seorang wanita paruh baya bernama Meyna Howard, telah melaporkan bahwa pembunuh berantai yang paling di cari di kota ini sedang berkeliaran di perumahan tempat tinggal di daerah sini, dan saya ingin mengatakan bahwa anda pasti sudah tahu latar belakang istri anda, tuan. Jadi anda harus bekerja sama dengan kami, jika tidak, kami akan menganggap anda menghalangi dan menyembunyikan tersangka riel, dan itu bisa menjadikan anda sebagai tersangka, tuan."


Dazon tersenyum tenang, "Kami tidak menyembunyikan apapun detektif, menuduh tanpa bukti yang jelas juga akan membuat anda kesulitan nantinya, saya tidak akan membiarkan anda menuduh istri saya menyembunyikan tersangka itu di rumah kami, dan sebaliknya, harusnya itu menjadi tugas anda yang harus memeriksa keamanan tempat ini, jika ada tersangka berbahaya dan berlalu lalang di dekat tempat tinggal kami."


Dengan penjelasan dazon, detektif itu akhirnya menyerah lalu akan beranjak dari rumah hanna, "Kalau anda melihat tersangka itu, segera hubungi nomor ini." Ucapnya sambil menyodorkan satu kartu nama berwarna coklat yang kusam dan sedikit terlipat kepada dazon. Mereka akhirnya pergi, jantung hanna seakan mau copot rasanya.


Dazon menutup pintu rumah. "Wanita tua itu, dia melaporkan Riel." Ucap hanna geram.


"Sudah kubilang sayang, untuk kebaikan Riel, jangan biarkan dia berada di sekitarmu, detektif sudah mengetahui bahwa kau adiknya, mereka pasti terus mengintaimu, dan berpikir mungkin saja sang kakak akan mengunjungi adiknya, katakan kepadanya, jangan datang kemari, polisi sepertinya berjaga-jaga di sekitar sini." Ucap dazon.


Hanna kemudian mengangguk, jantungnya masih berdetak kencang, tetapi yang membuatnya marah adalah perempuan tua itu. Tatapannya tajam, tangannya terkepal kuat, dia berharap bertemu dengan perempuan itu dan menjambak atau bahkan menonjoknya bila perlu.


~


"Bagaimana, apakah mereka mengakui bahwa kakaknya semalam datang?" salah satu temannya yang duduk di sebelahnya bertanya dia adalah detektif Rainey yang sama-sama bertugas dengan detektif Nick untuk menangkap Riel.


"Tidak, mereka tidak mengakuinya, aku masih ragu pada adiknya, wajahnya terlihat cemas, kita harus sering berjaga di daerah ini, siapa tahu riel mengunjungi adiknya lagi."


"Siapa wanita itu? Apa laporannya?" Tanya detektif Rainey.


"Wanita itu bernama Meyna Howard, dia adalah salah satu kepala pelayan yang di pecat di keluarga Caesaar, yang wanita itu laporkan bahwa dia sering kali di cekik oleh pria bernama riel, yang kebetulan di temuinya semalam, seringkali dia tercekik ketika masih bekerja di mansion itu, karena dia sakit-sakitan, keluarga itu memecatnya." Begitu laporannya.


"Apa dia yakin itu adalah Riel?"


"Dia sangat yakin, dia sangat mengenal suaranya yang pelan dan teredam dan ada wewangian yang menjadi ciri khas riel, jika dia sedang beraksi." Jawab detektif Nick.


"Perintahkan anak buahmu untuk mengikuti wanita itu, ada yang aneh darinya." Ucap detektif Nick. Matanya berkilat tajam memandang jalanan yang masih cukup lengang, kali ini dia berjanji akan menangkap riel bagaimanapun caranya.

__ADS_1


~


Lexia dan Nara sedang berada di dapur, mereka sengaja membuat cake untuk meyambut dazon dan hanna yang telah kembali dan akhirnya mereka bersatu lagi, mereka sangat senang.


Pagi itu, daren dan Xaphier telah keluar dari mansion, mereka hendak mengunjungi salah satu resort milik tuan Caesaar yang kembali di bangun di kota ini, jadi setelah sarapan, mereka berangkat seperti biasanya, maka tinggalah lexia dan Nara berada di mansion, mereka berdua akan mengundang dazon dan hanna agar datang ke mansion sore ini, dan di lanjutkan makan malam bersama.


Seorang pengawal mendekat ke tempat lexia dan Nara, pengawal itu hendak melaporkan sesuatu.


"Nyonya, Meyna Howard ingin bertemu dengan anda." Ucap pengawal itu.


Mereka berdua mengernyitkan alisnya, "Maksudmu kepala pelayan yang sakit-sakitan itu, apa maunya datang kemari?" Tanya Nara.


"Bukankah ada laporan dari paulo bahwa meyna Howard adalah adik kandung wanita bernama Melda, tetapi nama belakang mereka berbeda, karena keduanya di asuh oleh orang tua asuh yang berbeda." Ucap Nara.


"Ck, kau menghapal latar belakang wanita itu, Nara?" Tanya lexia dengan wajah mengisyaratkan jijik di wajahnya.


"Tentu saja aku mengingat setiap perkataan paulo waktu itu, jadi bagaimana Lexia, apakah kau ingin menemuinya?" Tanyanya.


Lexia berpikir sebentar, "Suruh dia masuk, aku ingin tahu apa maunya wanita itu datang ke mansion kita." Ucap lexia, dia segera mencuci kedua tangannya dan melepaskan celemek di pinggangnya. Lexia keluar terlebih dahulu untuk menghadapi wanita itu.


Langkah sepatunya membuat Mey yang sedang memandang lukisan berbalik, dia kemudian tersenyum tipis ketika melihat kedatangan lexia.


"Selamat pagi Nyonya, senang sekali anda mengizinkan saya untuk bertemu dengan anda pagi ini." Ucapnya.


Lexia tidak menampakkan wajah senang sama sekali, sebaliknya dia bersedekap lalu menatap wanita itu yang masih memberikan senyum palsunya.


"Ada apa kau kemari?" Tanya lexia.


"Saya hanya ingin menyapa penghuni di rumah ini nyonya dan saya hanya ingin mengetahui bahwa semuanya telah terkendali selama saya pergi." Ucap wanita itu tanpa rasa malu sedikitpun. Lexia mengeluarkan tawa yang tertahan.


"Apa kau mengerti ketika kau sudah di seret dari rumah ini, itu berarti kau di pecat, kau sengaja masuk ke keluarga kami karena ingin membalaskan dendam kakakmu yang sialan itu bukan?" Ucap lexia dengan sengaja memprovokasi wanita itu.


Dalam sekejap topeng wanita itu terbuka, dia tidak bisa bermanis-manis lagi kepada lexia yang mengatakan sialan untuk kakaknya yang telah wafat.


"Beraninya anda mengatakan kata-kata buruk kepada kakakku, aku tidak akan...


"Kenapa juga aku menerimamu masuk ke mansionku, membuat kepalaku pusing saja, pengawal !" Teriak lexia.


Empat orang pengawal telah masuk ke ruang tamu mereka. "Ya Nyonya."


"Seret wanita ini keluar, dan jangan biarkan wanita sinting ini berkeliaran di dekat mansion,"


"Baik Nyonya."


Keempat pengawal memegang kedua tangan mey yang memberontak, "Aku berjanji, aku tidak akan membiarkan hidup kalian bahagia, setidaknya salah satu dari kalian bernasib sama seperti halnya kakakku melda." Ucapnya.


"Bawa dia." Perintah lexia.


Mey di seret keluar dari mansion, dia berteriak-teriak histeris sambil menunjuk-nunjuk lexia. Ucapan wanita itu mempengaruhi lexia, apa yang akan wanita itu lakukan? Apa dia akan melakukan sesuatu yang membahayakan anggota keluarga Caesaar, jika sampai itu terjadi, lexia tidak akan membiarkannya.


Hari itu juga lexia memutuskan untuk memerintahkan salah seorang pengawal untuk membuntuti mey dan segala gerak geriknya, lexia khawatir wanita itu akan kehilangan akal dan melakukan hal yang membahayakan keluarganya.


~


Seharian, dazon tidak kemana-mana, dia hanya betah berlama-lama bersama Hanna dan darko, dia ingin menebus kesalahannya selama dia mengabaikan anak dan istrinya, karena seringnya berangkat ke Milan dan berminggu-minggu di sana.


Dazon memperhatikan hanna yang sedang berada di dapur, hanna membuat makan siang untuk mereka berdua.


"Kau sedang buat apa sayang?" tanyanya, sambil menopang dagu, tersenyum menatap istrinya yang memasak di dapur.


"Apa kau membutuhkan bantuan, aku juga pandai melakukan hal-hal di dapur." ucap dazon sambil memainkan wortel yang ada di genggamamnnya.


"Aku mau membuat pasta, serta ayam grill, kenapa? apa kau bisa membantuku?" Ucap hanna ragu.


"Tentu saja aku bisa sayang, jangan meremehkanku, dulu aku juga ikut berkemah bersama Dad, dan dia mengajariku mengupas kentang dan wortel." Ucap dazon sambil memperhatikan struktur wortel yang di pegangnya.


"Kau bercanda? berkemah untuk mengupas kentang dan wortel? harusnya kau berkemah dan setidaknya memancing, mengapa mengupas kentang." ucap hanna dengan menggeleng lalu mencebik kepada dazon.


"Entah sayang, aku hanya di ajar sekali oleh dad, sesudahnya itu kami di ajak memancing dan mencari makan di hutan." Ucap dazon, kini matanya terfokus pada satu wortel, seakan pandangannya sedang melakukan sesuatu yang penting dan berharga, hal itu membuat hanna tertawa senang, tertawa lepas yang cantik dan menular kepada dazon, dia senang dan bahagia melihatnya tertawa lepas, bahkan dia akan menjadikan dirinya bagian dari lelucon, agar istrinya dapat selalu tertawa ceria dan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2