The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 29


__ADS_3

Batas yang ditentukan telah berakhir bagi Axton dan Fairley, tuan Caesaar akan membawa kembali cucunya ke mansion, mengingat perut Fairley sudah cukup besar dan dia seharusnya berada di tempat yang aman dan nyaman, agar kesehatan bayi dan ibunya terjamin, hari itu juga mereka berangkat menuju mansion dengan menggunakan helikopter.


"Apa kita tidak sempat bertemu dengan dazon?" tanya Fairley.


"Waktunya tidak cukup, sepertinya Dazon sudah berangkat setelah kita datang nanti." ucap Ax.


"Sayang sekali, kita tidak bisa mengantar kepergian Dazon dan Daneil." gumam Ax.


~


Hari itu keberangkatan Dazon dan kedua orang tuanya, mereka akan berangkat ke Inggris, Xaphier dan Nara akan menemani putranya ke sana alih-alih tuan Caesaar.


Semua persiapan Dazon sudah selesai, dia kini berdiri di depan jendela kamarnya yang langsung menghadap ke taman di bawah, matanya tertuju pada gadis itu, dia sedang berada di taman sambil menyiram bunga-bunga bersama pelayan lainnya.


Alisnya berkerut ketika gadis itu tengah berbincang dengan salah satu pengawal, matanya terpaku dengan senyum manis itu, "Apa yang mereka bicarakan? Mengapa dia tersenyum seperti itu?" Ucap Dazon.


"Ck, bukan urusanku," dia kemudian berbalik dan berusaha tidak menghiraukan senyuman manis itu yang terus melekat di otaknya.


Tinggal dua jam lagi mereka akan berangkat dan meninggalkan mansion, ibu dan ayahnya sudah siap menunggunya di lantai bawah.


Dazon menutup pintu kamarnya. "Aku akan mengalami tahun yang panjang." Gumam Dazon menatap kamarnya yang menutup.


Dazon berjalan dan hendak turun ke lantai bawah, di ujung koridor dia melihat hanna yang berdiri di sana, entah apa yang dilakukannya berdiri di sana.


"Tuan." Ucapnya.


Dazon berbalik, kemudian menatap gadis itu. "Erm, seseorang ingin berbicara dengan Anda." Ucapnya.


"Seseorang? Siapa?" Tanyanya.


Beberapa pelayan keluar dari salah satu ruangan, dan seseorang yang dimaksud adalah seorang lelaki mengenakan pakaian chef, dia berjalan sambil menunduk.

__ADS_1


Dazon melihatnya dengan pandangan tidak mengerti. Dia berjalan perlahan, lalu dia memberanikan diri bicara kepada Dazon.


"Tuan, maafkan saya, karena ucapan saya sehingga tuan pergi ke Inggris." Ucapnya tertunduk sambil meremas penutup kepala yang dipegangnya.


"Ucapanmu? Oh, jadi kau yang melaporkanku kepada kakek?" Ucap dazon.


"I..iya tuan, aku minta maaf, aku tidak bermaksud aku....


Dazon mengangkat tangannya menyuruhnya diam. Dazon menghembuskan napasnya. "Jangan dipikirkan, bukan masalah, sebaiknya kalian kembali ke dapur." Ucap Dazon setengah melirik kepada Hanna.


"Te..terima kasih tuan." Dia pergi dengan perasaan lega, dia begitu ketakutan karena jika dia jujur mungkin saja dia langsung akan di pecat, tetapi sekarang dia lega karena sudah meminta maaf, beberapa hari ini asisten chef itu tidak bisa tidur memikirkannya, apalagi dia sempat di sinisi oleh pelayan-pelayan di mansion ini, kini hatinya terasa lega.


Dazon berjalan melewati Hanna begitu saja, sedikit melirik kepadanya, ketika melihatnya tersenyum tipis.


"Tuan...erm ini." Hanna mengeluarkan permen dari kantongnya, dan memberikannya kepada Dazon.


"Jika aku sedih aku selalu memakan permen itu agar rasa sedihku menghilang, jadi aku harap tuan jangan bersedih, em tetap semangat." Ucapnya, wajahnya tersenyum ceria.


Dazon menatap permen lollipop itu. Dia kemudian menggenggamnya. "Kenapa kau menganggap aku bersedih?" tanya Dazon pelan. Ucapan itu membuat senyum Hanna menghilang.


"Sudahlah," ucap dazon, lalu menatap permen yang diberikan Hanna kepadanya.


Sampai jumpa Hanna, kita akan bertemu lagi suatu hari nanti. Pikir Dazon, dia kemudian beranjak dari sana dan menatap seseorang ternganga di beberapa anak tangga, Daneil berdiri di sana dengan membuka mulutnya, kecurigaannya begitu besar ketika melihat Dazon, lalu matanya berpindah ke arah Hanna.


"Apa..apa kau menjalin hubungan dengan seorang pelayan?" Bisik Daneil tidak percaya dengan suara kecil tertahan.


"Ck, ayo turun Neil, kau terlalu banyak berkhayal." Ucap Dazon, dia mendorong punggung Neil, agar segera turun dan menghentikan pandangannya ke arah Hanna.


"Hm, dia cukup manis Daz, aku tidak tahu seleramu seperti gadis itu." Ucap Neil memberikan penilaiannya.


"Berisik, ayo jalan." Dazon berbalik Sebentar dan menatap wajah manis itu untuk terakhir kalinya. "dia tersenyum, apa dia sesenang itu jika aku meninggalkan mansion ini?" Ucap Dazon murung.

__ADS_1


~


"Mom, tidak perlu menghubungi semua orang kalau aku berangkat ke Inggris," Dazon menegur ibunya yang memiliki waktu untuk menelepon lexia dan beberapa temannya.


"Tenanglah sayang, Sebentar lagi kita akan berangkat, ambil waktu yang kau butuhkan selama ibu menelepon, ayahmu juga sepertinya sibuk." Ucap Nara.


Dazon menyerah, beberapa menit lagi dia betul-betul akan meninggalkan mansion, mereka akan langsung menuju ke bandara, dan akan menggunakan pesawat pribadi milik kakeknya menuju ke Eropa.


Daz kemudian menatap Daneil yang juga sedang sibuk menelepon Jennifer, "Tenang saja Jenn, asrama kami tidak begitu buruk, aku berencana mengambil olahraga rugby sebagai pengisi waktuku, ya aku akan menunggu kedatanganmu, sampai jumpa." Daneil tersenyum Senang, meskipun dia akan berangkat ke Inggris, kepergiannya merupakan salah satu bagian yang membuatnya bahagia, setidaknya dia tidak lagi di awasi oleh kakeknya dan Sebastian selama di asrama nanti.


"Kau mengambil pilihan yang rumit, Hanya menjadi teman dekatnya? kenapa kau tidak mengambil kesempatan ketika kalian bertemu nanti? katakan kepadanya bagaimana perasaanmu." Ucapan Dazon berpengaruh besar terhadap Daneil, dia seperti terkesima dengan ide Dazon, tetapi dia masih menyembunyikan wajah senangnya.


"itu ide yang menarik, mungkin aku akan mencobanya, ketika kami bertemu." ucap Daneil dengan senyum tertahan.


~


Akhirnya Dazon dan Daneil berangkat, mereka meninggalkan mansion pukul 2 siang, tidak lama setelah itu tepat pukul 3 siang Axton dan Fairley datang ke mansion. Meskipun mereka berusaha datang lebih awal agar dapat bertemu dengan Dazon tetapi, waktu yang tidak menguntungkan, sehingga mereka tidak bertemu.


pesawat akan segera berangkat menuju ke Inggris, Sebelum mereka berangkat sempat terjadi keributan di bandara, sehingga menunda keberangkatan mereka beberapa jam.


"Ada apa Riel?" tanya dazon, menatap kerumunan orang yang berkumpul, di tempat itu sudah di pasang polisi Line agar mereka yang melihat tidak melewati garis yang telah di tandai oleh polisi.


"Terjadi pembunuhan sir, seorang mayat wanita di temukan di kamar mandi." jawabnya.


"Benarkah? ck, jam berapa kita akan berangkat?" tanyanya.


"Sebentar lagi sir, kita akan berangkat." Setelah terjadi kehebohan itu, mereka akhirnya menuju ke pesawat.


"Mengapa ramai sekali?" tanya Daneil baru menyadari keramaian tersebut, karena sejak tadi dia sibuk teleponan dengan Jennifer.


"Entah, cepat jalan Neil." ucap Dazon menatap ke arah tempat kejadian. Mereka akhirnya berangkat, Dazon mengalihkan perhatiannya, dia melihat sosok itu berdiri di sana, seorang diri tersenyum di antara keramaian. Tanpa memperdulikan, dazon akhirnya pergi meninggalkan Oklahoma dan entah kapan dia akan kembali.

__ADS_1


__ADS_2