
Hantaman datang bergulir dengan beruntun ketika mendengar kabar mengerikan dari salah satu sekretarisnya, melalui pembatas sel yang hanya terpisah dengan kaca, Melda mendengar semua itu, seakan seseorang menusuk pisau paling tajam tepat ke jantungnya.
"Ap...apa yang kau katakan, ulangi sekali lagi." Ucapnya dengan mata yang nanar, lingkaran hitam sudah terpeta di bawah matanya yang kini mengeriput karena tidak ada polesan bedak yang membentengi hingga Melda terlihat betul-betul sudah tua.
"Seluruh aset Anda di perusahaan sudah di ambil alih oleh tuan Adrick Rudolf, dengan ini perusahaan anda menjadi milik tuan Adrick beserta aset-aset yang anda tanamkan di perusahaan Corner Corporation di Swiss begitupun seluruh saham-saham anda sudah di ambil alih oleh Rdf Corporation." Ucapnya.
Bibirnya Kelu, napasnya memburu seakan semua yang diucapkan oleh sekretarisnya itu hanya bualan belaka atau lelucon yang tidak berarti.
"Jika anda menolak menandatangani surat ini, perusahaan anda akan betul-betul hancur, dibandingkan dengan tuan Rudolf membalik nama dan menjadikan perusahaan anda menjadi milik mereka.
"Aku..
Air matanya jatuh di pipinya, dia tersenyum, lalu tertawa kecil, sambil menunduk. Sekretaris yang biasanya melayani segala keperluannya di kantornya menatapnya dengan ekspresi sedih dan turut memberikan penyesalan dengan apa yang terjadi.
"Apakah ini akhirku? akhir hidupku di usiaku yang seperti ini seharusnya aku menikmati hasil jerih payahku yang aku rintis sejak muda tetapi..." Dia terdiam sejenak.
"Aku.tidak.akan.berakhir.menyedihkan.seperti. ini, kau paham !"
"Pergilah, urus semua yang terjadi di perusahaan, aku akan bersedia menandatangani semuanya, tetapi semua ini belum berakhir, aku berjanji."
~
Hari itu lexia berbelanja bersama Nara di departemen store, lexia sedang ingin berbelanja perlengkapan Axton yang sebentar lagi berulang tahun yang pertama, sambil menatap baju-baju lucu untuk Axton bersama Nara.
"Menurutmu ini sangat lucu bukan? Lihatlah Nara, ini sangat cocok untuk Ax." Kemeja kecil berwarna biru sama seperti kemeja ayahnya yang baru saja lexia beli untuk Daren.
"Bagaimana?" Nara tersenyum dan mengangguk. "Sangat manis, cocok buat Ax, dia pasti nampak menggemaskan dengan kemeja yang sama seperti ayahnya. Lexia sedang ingin berbelanja hari ini, dia benci tidak melakukan apapun selama tinggal di rumah, tentu saja dia sangat menikmati bersama putranya tetapi hari ini dia meminta kepada Daren untuk memberikan kartu black card-nya, dia ingin berbelanja sepuas-puasnya untuk ulang tahun Ax yang pertama.
Jadi mereka berdua pergi berbelanja bersama, seperti biasa kedua Nyonya muda ini membeli barang-barang begitu banyaknya sampai-sampai dua pengawal mengikuti mereka untuk membawa barang belanjaan yang dibelinya.
"Kita istirahat sebentar lexia, aku lelah berjalan." Ucap Nara.
"Kita makan di restaurant di sana saja." Ucap lexia, setelah itu dia memerintahkan kepada dua pengawal itu untuk kembali lebih dahulu ke mansion, setelah itu mereka akan menyusul.
"Ugh, sudah lama aku tidak berjalan lama seperti ini, aku jadi cepat lelah." Ucap Nara.
"Kau yakin tidak hamil?" Ucap lexia sambil lalu, tiba-tiba matanya menatap Nara yang terlihat seperti patung.
"Ap..apa mungkin ya?"
__ADS_1
"Haha, kau kenapa Nara, ya mungkin saja, kau sudah pernah memeriksanya?" Tanyanya. Nara menggeleng lugu.
"Aku..aku tidak pernah..
"Sebaiknya kau periksa, siapa tahu sebentar lagi Ax memiliki sepupu yang menggemaskan." Ujarnya. Mereka tertawa-tawa, tidak lama setelah mereka makan dan berbincang mereka keluar dari restaurant.
"Eh, bukankah itu Daren?" Ucap Nara menunjuk sekitar 7 sampai 8 orang berjalan keluar dari restaurant yang sama di tempat mereka makan.
"Sepertinya mereka ada pertemuan di restaurant tempat kita makan." Ucap Nara.
"Hem, benarkah? mengapa pertemuan penting diadakan di tempat seperti ini?" Lexia dan Nara ingin memastikan dan ternyata itu memang Daren bersama rekan-rekan bisnisnya.
"Saya menanti kerja sama berikutnya tuan Daren." Ucap pria itu dia tersenyum sambil menyalami daren, mereka berjabat tangan kemudian tidak lama kemudian mereka pergi.
"Daren?" Panggil lexia, membuat semua orang yang berada di sana bersama menatap lexia yang berjalan ke tempat Daren.
"Daren menarik tangan lexia lalu memberikan kecupan kilat dibibirnya. "Kalian selesai makan siang?" Ucapnya. Lexia mengangguk, beberapa rekan kerja kantornya yang masih berada di sana menatap lexia.
"Apakah dia istri anda tuan Daren?" Tanya seorang pria di samping daren sambil tersenyum ramah.
"Ya, dia istriku." Jawabnya singkat. Daren seakan-akan tidak mau berlama-lama di sana memamerkan lexia di hadapan teman-teman bisnisnya, dengan cepat dia membawa lexia setelah berbicara sebentar kepada mereka dan segera pamit.
Suasana di dalam mobil kurang mengenakkan apalagi Nara ada di sana mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Bukan menyembunyikanmu lexia, aku hanya tidak ingin mereka mendapatkan kelemahanku dengan melihatmu ada di sana, tidak semua rekan bisnisku baik lexia, kadang mereka mengambil kesempatan untuk menjatuhkan saingannya dengan cara licik sekalipun, dan aku tidak ingin kau terlibat dengan semua itu." ucap Daren.
Lexia hanya diam, dia tidak memandang kepada Daren, dia hanya memandang jendela kaca yang berada di sampingnya. Sementara itu Nara terdiam dan hanya membalas setiap pesan masuk dari Xaphier setiap beberapa jam, hari ini dia tahu Nara sedang berbelanja bersama dengan lexia dan itu membuatnya terlihat konyol karena terlalu over protective kepada Nara.
~
Mereka tiba di mansion, lexia tidak bicara apapun ketika mereka tiba, dia berjalan begitu saja dan masuk ke ruang bermain Ax putranya, setelah melihat putranya sedang bermain-main bersama beberapa pelayan, lexia segera beristirahat di salah satu sofa empuk, dia menyandarkan tubuhnya di kursi itu. Dia tahu Daren memang benar, menjalankan perusahaan besar tidak semudah kelihatannya tetapi lexia merasa tidak seperti itu, apakah Daren hanya mencari alasan agar lexia merasa baik-baik saja dan tidak merasa tersinggung dengan sikap Daren padanya tadi.
Lexia mengamati putranya yang sedang mengambil mainan dan melemparkannya, kemudian mencari-carinya kembali. lexia menopang dagu, lalu berpikir mengenai hidupnya. Dia tahu harusnya dia bersyukur dengan semua yang dimilikinya, dia memiliki suami dan putra yang mencintainya, seharusnya dia tidak mengeluh dengan hidupnya.
"Apa aku datang bulan? kenapa aku sensitif seperti ini?" ucap lexia kepada dirinya sendiri.
lexia mengambil putranya dan menggendongnya, dia membawanya ke taman, sore itu udara masih hangat dan matahari tidak terik lagi, banyaknya pohon-pohon membuat lexia memutuskan membawa Ax duduk di kursi taman sambil bermain-main di sana. Lexia melihat mobil Daren keluar dari gerbang mansion, dia sudah pergi lagi karena ada meeting dengan rekan bisnisnya lagi.
Lexia mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Sudahlah, aku tidak mau berpikir rumit, semua akan baik-baik saja, iya kan Ax?" ucap lexia mengecup pipi putranya yang sebentar lagi berulang tahun.
__ADS_1
~
23.00 Ruangan meeting Burchard Holding
"Evan, kabari aku jika kau tiba di Manhattan, meeting kali ini begitu penting, sepertinya RdF Corporation ingin bekerja sama dengan perusahaan kita, terus awasi mereka dan cari tahu apa yang mereka inginkan." ucapnya.
Daren mengambil napas panjang dan segera mengambil tasnya dan segera keluar dari kantornya.
"Daren?" suara itu membuat Daren Berbalik ketika seseorang memanggilnya.
"Kau mau pulang?"
"Xaphier? kenapa kau ada di tempat ini?" tanyanya.
"Aku kebetulan lewat sini dan kebetulan melihatmu, bagaimana jika kita ngobrol sebentar." ucap Xaphier. Daren menatap jam di pergelangan tangannya. "Oke, aku punya waktu." ucapnya, mereka berdua pergi di salah satu Club terkenal di kota itu.
"Kenapa kita datang ke tempat ini?" tanya daren. Xaphier hanya mengangkat bahu. "Aku ingin membahas sesuatu yang lebih privat, dan ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." ucap Xaphier.
"Siapa?" tanyanya.
"Kau akan tahu sebentar lagi, dia katanya mengenalmu tetapi aku mengenal suaminya, tetapi istrinya malahan mengenalmu." ucap Xaphier. Daren mengernyitkan alisnya, siapa dia?
Pintu itu terbuka dan nampak wajah yang Daren kenali tengah duduk sambil memegang mesra tangan pria yang ada di sampingnya.
"Carol?" ucap Daren menatapnya, dan pria di sampingnya adalah suaminya sendiri.
"Hai Daren, lama tidak bertemu denganmu." ucapnya tersenyum.
"Dia adalah partner bisnisku selama di Manhattan." ucap Xaphier kepada pria di samping Carol. pria bertubuh tinggi dengan rambut pirang itu menyalami Daren dan tersenyum ramah.
"Aku mengajakmu kemari Daren untuk membahas mengenai perusahaan RdF Corporation milik Adrick Rudolf, sepertinya dia sudah memiliki seluruh aset Melda Harper, dan satu lagi yang aku khawatirkan selain dia mengincar perusahaan milik Ricky di Manhattan, perusahaanmu termasuk dalam incaran RdF Corporation Daren." ucap Xaphier. "Untuk itu aku mengajakmu kemari, aku tahu RdF Corporation tidak akan mudah melepaskan incarannya, jadi sebaiknya dari sekarang kau harus bersiap-siap." Ucap Xaphier.
Daren yang mendengar semua ini terlihat sedikit terkejut, tetapi dia tetap tenang, meskipun Perusahaannya tidak sebesar milik Xaphier yang memang saingan tangguh RdF Corporation, tetapi dia juga memiliki cara yang jitu untuk melindungi Perusahaannya.
"Kerja samalah dengan perusahaanku Daren, sehingga RdF Corporation tidak berani menyentuh milikmu." ucap Xaphier tenang.
Ide dari Xaphier boleh juga tetapi tetap dia tidak mau gegabah mengambil Keputusan. Setelah lama berbincang-bincang, mereka akhirnya berpisah, tepat pukul 1 malam Daren baru saja tiba di mansion begitupun dengan Xaphier. Setelah itu mereka masing-masing masuk ke dalam kamarnya. Daren menatap lexia yang sudah terbaring dan tidur dengan nyenyak, begitupun dengan putranya.
Daren melepaskan jas dan dasinya kemudian membuka kemejanya dan duduk di salah satu sofa sambil mengambil minuman lalu menyesapnya, matanya masih terpaku pada lexia. Sikap lexia sore tadi yang tidak menggubrisnya membuat Daren sedikit marah, apa lexia pikir dia berbohong? Daren menghabiskan minumannya kemudian segera membersihkan tubuhnya dan kemudian naik ke tempat tidur, dia menarik tubuh lexia ke arahnya tetapi lexia mendorongnya dan menolak pelukannya. Daren yang jengkel menarik paksa tubuh istrinya lalu kembali memeluknya.
__ADS_1