
Lexia membuka matanya, kamar itu begitu gelap, hanya cahaya dari luar jendela yang menjadi penerang di dalam kamar itu, dia bangun dari tidurnya dan mencoba untuk duduk dan mengedarkan pandangannya.
"Kamar ini... ukh aku kembali berada di kamar ini lagi." Ucap lexia. Dia berdiri dan berjalan lesu mencari air minum untuk membasahi kerongkongannya yang tersaji kering, sejak berada di dalam mobil daren dia langsung tertidur dan baru sekarang terbangun.
Lexia menatap pemandangan kota dari jendela kamarnya lalu menyandarkan tubuhnya di sofa, untung saja saat itu daren berhenti menyerang tubuh lexia, Ketakutan merayap di wajah lexia ketika mengingat perlakuan daren kepadanya.
"Ini adalah kesalahanku, seandainya dari awal aku tidak menerima tawaran itu aku mungkin tidak mengalami hal seperti ini,...tidak ! Aku melakukannya karena ingin merubah hidupku dan ingin merawat nenek Rossie, ini adalah resiko yang harus aku tanggung ketika memutuskan untuk menjadi lovelia." lexia menghembuskan napasnya kasar.
Tiba-tiba semangatnya kembali kendor, "Apa yang akan menungguku nanti? Kali ini pria itu tidak menahan-nahan dirinya jika dia ingin menyerangku, tidak seperti dulu, meskipun dia ingin menyentuhku dia mencoba untuk menahannya, pria brengsek itu." Lexia menarik napasnya dan kembali menutup matanya yang mulai memberat.
~
Daren masih belum tidur, dia masih berada di ruangannya memeriksa berkas-berkas milik William luther, Seketika gambaran tadi siang melekat di otaknya, dia mengingat bagaimana dirinya menyerang lexia.
"Mengapa aku seperti itu? Apakah karena aku marah kepadanya karena lexia melarikan diri dariku atau karena aku begitu merindukannya?" Ucap daren.
Dia melangkahkan kakinya menuju jendela besar di ruangannya lalu menuangkan minuman di gelas dan menyesapnya.
"Lexia...mengapa aku begitu menginginkanmu?" Ucap daren, dia menatap tangannya dan merasakan sentuhan lembut milik lexia yang masih terasa di tangannya.
Daren meneguk minuman itu dalam sekali tegukan dan segera masuk ke dalam kamar mandi dan menyiramkan air dingin ke tubuhnya agar segala pikiran kotor terhadap tubuh kexia di kepalanya dapat lenyap.
~
Pagi menyambut lexia dengan suara daren yang berdiri menjulang di hadapannya.
"Bangun, ada yang ingin kubicarakan kepadamu lexia."
Lexia masih terbuai oleh mimpi dan masih memejamkan matanya, dia tidak menyadari kehadiran daren di kamarnya.
"Jangan bicara omong kosong daren, pergilah ! Aku masih ngantuk tau." Ucap lexia.
Kesabaran daren telah hilang dia menarik selimut lexia hingga tubuhnya terbanting di atas tempat tidur. Lexia mulai membuka matanya, wajah daren yang terlihat samar membuat lexia membuka matanya lebar-lebar.
"Kau ! Kenapa kau ada di sini?" Ucap lexia, sekarang dia setengah duduk sambil menutup tubuhnya yang hanya mengenakan tank top berwarna putih.
"Segeralah mandi, ada yang ingin aku bicarakan." Ucap daren, dia lalu berjalan dan keluar dari pintu kamar lexia.
__ADS_1
"Ugh, nyaris saja" ucap lexia merasa jantungnya berdetak kencang ketika daren berada dekat dengannya. Serangannya masih kuat diingatan lexia.
Lexia segera mandi dan setelah itu mengenakan pakaiannya di dalam lemari, tidak ada yang berubah dari kamar yang di tinggalkannya semuanya tepat di tempatnya berada.
Lexia membuka pintu kamarnya dan mendapati daren duduk di sana sambil menyesap kopinya, lexia berjalan canggung dan duduk dihadapan daren.
Mata tajam daren menahan mata lexia agar melihatnya.
"Aku tahu mengapa kau melarikan diri lexia, ini kesalahanku karena menyembunyikan kebenaran tentang kematian nenekmu, untuk itu aku minta maaf padamu." Ucap daren.
Ada apa dengannya? Dalam semalam dia begitu berubah, sikapnya seolah menjaga jarak dengan lexia dan bicaranya itu membuat lexia seakan berbicara dengan nona Lucie.
"Tetapi, kau harus ingat kontrak yang telah kau setujui lexia, kali ini aku tidak akan melakukan apapun kepadamu, tetapi jika kau melakukannya lagi melarikan diri dariku, jangan salahkan aku jika aku melukaimu." Ucap daren.
"Baiklah aku tidak akan melarikan diri lagi tetapi ada satu syarat yang harus di tambahkan di kontrak itu." Ucap lexia menatap daren.
"Apa itu?"
"Kau ! Kau tidak boleh menyentuhku dan segala bentuk fisik lainnya, kau sama sekali tidak boleh menyentuhku." Ucap lexia dengan wajah serius sambil melipat kedua tangannya.
"Bagaimana? Hal itu sangat mudah, mengapa kau diam daren !"
Apa yang pria mesum ini pikirkan, jadi dia menolak dengan syarat mudah yang kuajukan? Apa yang dia pikirkan?
Dia tiba-tiba berdiri, lalu menarik tangan lexia agar berdiri dihadapannya.
"Apa..apa yang kau lakukan?" Ucap lexia.
Ciuman panjang mendarat di bibir lexia, tangan hangat daren menyentak tubuhnya hingga lexia harus menahan napasnya.
Bibir daren menguasai bibir lexia dan mencoba membukanya, lexia terdorong hingga mencapai ke dinding kamarnya. Daren memegang wajah lexia dan mengangkat tubuhnya hingga kakinya melayang di udara.
Daren melepaskan ciumannya dan menatap lexia yang kini menghirup udara dalam-dalam.
"Sial, tapi aku setuju dengan syaratmu." Bisik daren dia menurunkan lexia dari gendongannya.
Daren pergi begitu saja meninggalkan lexia setelah menciumnya begitu liar.
__ADS_1
Lexia jatuh terduduk di lantai mencoba menormalkan napasnya yang memburu.
~
Beberapa penjaga berdiri di depan Mansion itu, penjagaannya kembali tingkatkan, semenjak pelarian lexia, daren menambah jumlah penjaga di semua tempat. Lexia memandang dari kejauhan pagar besar yang di jaga oleh pria-pria berjas hitam.
Pintu kamarnya terbuka dan seorang pelayan masuk.
"Nona, silahkan ikuti saya, tuan daren ingin bertemu nona dan beberapa pengajar yang mulai mengajar nona mulai hari ini."
"Apa? Pengajar? Maksudnya guru-guru seperti di sekolahan?" Tanya lexia.
"Anda akan mengetahuinya segera nona." Ucap pelayan itu dengan wajah datar.
"Ok, baiklah."
Lexia mengikuti pelayan wanita itu dan membawanya ke ruangan Daren.
Lexia mendengarkan suara-suara orang yang berbincang-bincang.
Lexia masuk dan menatap 4 orang sedang duduk dihadapan daren. Dua wanita dan dua pria sedang balas memandangnya.
"Duduklah lexia evan akan memperkenalkan mereka." ucap daren, lexia kemudian duduk tanpa mau memandang wajah daren.
"Mulai hari ini kau akan di ajar oleh mereka, mereka adalah guru-guru profesional di bidangnya, mereka akan mengajarimu mulai sekarang."
"Belajar?"
Wajah ngeri terlihat jelas di wajah lexia, sontak matanya menangkap seseorang yang terbatuk-batuk tetapi lexia tahu itu bukan batuk, itu adalah tawa yang disamarkan.
Pria itu berambut coklat, wajahnya cukup tampan dengan mata coklatnya, dia menatap lexia dengan senyum di wajahnya.
Siapa dia? Pikir lexia..
Evan masuk dan mulai memperkenalkan satu persatu para pengajar yang akan mengajar lexia.
Senyuman terlihat di wajah daren melihat reaksi lexia yang mendengar kata pengajar, beberapa kali lexia memperbaiki posisi duduknya Karena orang-orang yang ada dihadapannya terlihat begitu disiplin dan mengerikan bagi lexia kecuali pria yang duduk di paling ujung, dia tampak santai dan tersenyum tipis melihat kecanggungan lexia.
__ADS_1