
Pagi itu lexia Sudah bangun dari tidurnya dan bersiap akan belajar sebentar lagi sesuai dengan jadwal yang diberikan oleh Evan, layaknya seperti seorang siswi menengah ke atas dia harus bangun pagi-pagi sekali dan berpakaian rapi, lexia yang seumur-umur hanya mengenyam pendidikannya sebatas datang ke sekolah tanpa duduk di bangku belajar akhirnya merasa bingung dengan segala yang dihadapinya.
Prioritas utama lexia adalah mencari uang dan uang, dan mendapatkan barang bagus hasil dari mengais sampah, dan sekarang dia harus belajar? pengetahuannya hanya terbatas pada dollar dan dollar.
"Kita akan lihat, sampai mana kekecewaan yang akan diperlihatkan pengajar-pengajar itu kepada murid seperti diriku." Ucap lexia menghembuskan napasnya dan berjalan lesu lalu keluar dari kamarnya.
Setelah sarapan selesai, pelayan membawa lexia ke lantai 3, di sana tempat yang baru pertama kali dikunjungi oleh lexia. Berderet-deret buku di pajang di ruangan besar itu. Lexia melangkah masuk, wajahnya terpaku dengan buku yang berderet-deret dan tersusun rapi di sana.
"Wahh, aku tidak tahu tempat seperti ini ada di mansion ini?" Ucap lexia terkagum-kagum dengan banyaknya buku yang menutupi seluruh dinding.
Daren berada di sana memperhatikan lexia.
"Tentu kau tidak akan tahu dan masuk ke tempat ini jika tidak ada izin dariku." Ucap daren melangkah menghampiri lexia. Daren menatap lexia seakan menscanning penampilannya hari ini.
"Bagus, sekarang kau tahu tugasmu sebagai lovelia, kau harus belajar dan ini penting untukmu dan untukku juga." Ucap daren.
Lexia mengangkat bahunya, tidak mau berkomentar dengan ucapannya.
Lexia hendak meninggalkan daren, tiba-tiba tangan yang kuat sontak menariknya.
"Kau menyentuhku !" Ucap lexia menatap tangan daren yang memegang lengannya. Mata lexia begitu sinis menatapnya, dia mengingat kejadian semalam mengenai daren yang menggedor-gedor pintu kamarnya.
Daren melepaskan tangan lexia. "Aku harus belajar bukan?" Ucap lexia, dia pergi meninggalkan daren dengan wajah kesal.
"Sial ! Gara-gara kontrak brengsek itu." ucap Daren.
'Apa sih yang di pikirkan pria mesum itu, dia selalu mengatakan gara-gara kontrak sialan itu.' gumam lexia sambil membuka pintu ruangan.
"Kau berbicara dengan siapa nona lovelia?" Suara itu begitu ringan dan terdengar akrab di telinga.
Lexia berbalik dan mendapati seorang pria yang sudah duduk di sana sambil tersenyum.
"Selamat pagi, hari ini kita akan memulai pelajaranmu nona lovelia." Ucapnya.
Lexia ingin sekali memutar kedua bola matanya. 'Pelajaranmu akan membuatku mati tercekik, sial berapa lama aku akan bertahan?' gumamnya.
"Aku harap kau bertahan selama mungkin." Ucapnya sambil menahan tawanya mendengarkan gumaman lexia yang besar.
"Kau mendegarnya?" Ucap lexia tertunduk malu.
__ADS_1
"Hanya sedikit, tapi jangan khawatir, semua ucapanmu terdengar menarik bagiku." Senyumnya. Lexia menatap pengajarnya ini dan segera membuka buku yang dibawanya.
"Sebelum kita memulai pelajaran, terlebih dahulu aku akan memperkenalkan diriku secara resmi, namaku Ryan Anthony, saya mengajar sebagai dosen di university E di Ohio, dan kebetulan saja saya menerima tawaran ini sebagai guru privatmu." Ucapnya.
"Ada pertanyaan?" Tanyanya.
Lexia berpikir lalu menggaruk hidungnya dengan bulpoin di tangannya.
"Kau, em.. maksudku sir, berapa jam kita akan belajar?" Tanya lexia tanpa canggung sedikitpun. Sontak pria bernama Ryan tertawa dengan pertanyaan lexia.
"Kau sudah bosan, wah cepat sekali nona lovelia." Dia duduk di hadapan lovelia sambil mengambil buku yang tergeletak di atas mejanya dan memberikannya kepada lexia.
"Oke, kita akan memulai pelajaran nona lovelia, aku harap selama pelajaran berlangsung, kita dapat saling mengerti tugas kita masing-masing dan bekerja sama, jika tidak semua yang akan kusampaikan tidak ada gunanya dan juga, jangan ragu bertanya apapun itu." Ucapnya.
"Oke, cukup adil." Ucap lexia.
Dua jam belajar di ruangan itu membuat tubuh lexia kaku dan punggungnya sakit. Suara ketukan terdengar dari pintu itu.
Seorang pelayan masuk dan membawa cake dan minuman selagi istirahat mereka.
Pria bernama Ryan memperhatikan lexia, segala gerak geriknya, matanya menatap aneh kepadanya. Dia berpikir bahwa nona dihadapannya ini seperti bukan seorang nona terpandang yang sakit-sakitan tetapi dia begitu lucu lincah dan mulut yang tidak bisa di kontrol.
Lexia tidak canggung sama sekali bersama Ryan dia makan seperti biasanya dan mengunyah kuenya tanpa memperdulikan orang yang duduk di hadapannya.
"Kau mau?" Tanyanya.
Mata lexia berbinar. "Em, bolehkah? Tanyanya, sambil melirik ke kanan dan kekiri.
"Tentu, kau bisa makan semuanya." Ucapnya.
Senyum lexia terukir dibibirnya, dia makan dengan lahap di depan pria asing ini tanpa menjaga tingkah lakunya.
"Trims, aku kenyang berkat cake pemberianmu."
"Jangan sungkan." Ucapnya sambil tersenyum.
Suara ketukan membuat lexia terkejut, pintu itu membuka, Evan masuk dan membawa nona Lucie ke dalam ruangan.
"Selanjutnya nona lovelia akan belajar dengan nona Lucie." Ucapnya.
__ADS_1
Pria bernama Ryan berdiri dan segera mengambil buku-bukunya, matanya masih tertuju kepada lexia.
"Sampai jumpa nona lovelia." Ucapnya.
Lexia berdiri dengan beberapa cream cake di bibirnya. "Ya sir, sampai jumpa." Senyum lexia. Ryan keluar dari ruangan sambil tertawa.
Nona Lucie hanya menggeleng melihat tingkah lexia, hanya dia yang mengetahui siapa lexia.
"Nona lexia kau sudah melupakan pelajaran kita? Di mana sopan santun seorang lady??" Ucapnya.
Lexia terduduk dan tersenyum tipis menatap nona Lucie yang menatapnya seakan lexia murid yang bandel.
Semuanya dapat di saksikan oleh Daren lewat layar monitor yang ada di ruangannya, dia memperhatikan segala tingkah laku lexia, dan satu hal yang tidak membuatnya suka adalah keakrabannya dengan pengajar bernama Ryan.
"Evan, periksa pria itu, aku ingin mengetahui latar belakang Ryan Anthony." Ucap daren bersandar di kursinya sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja kerjanya.
"Ya sir." Jawabannya.
~
Hari itu begitu melelehkan bagi lexia, dia membanting tubuhnya dia atas kasur empuknya dan merentangkan kedua tangannya di sana.
"Hari ini begitu menguras tenaga, untuk apa sih semua pelajaran itu, aku begitu lelah." Ucap lexia sambil menguap.
"Karena itu tugasmu dan perintah dariku, jadi kau harus mengerjakannya."
Suara baritonnya yang berat mengagetkan lexia. Dia berbalik dan melihat daren sudah berdiri di ambang pintu kamarnya sambil bersedekap dan menatap lexia.
"Kau ! Apa yang kau lakukan di sini?" Geram lexia berdiri menatapnya.
"Yang kulakukan bukan urusanmu lexia, aku bisa masuk dan keluar kapanpun aku mau." Ucapnya.
Lexia menggertakkan giginya. "Jangan lupakan kontrak itu, jika kau menyentuhku sedikit saja aku akan berusaha lari dari sini lagi." Ancamnya.
Daren terkekeh. "Kau mengancamku?"
"Jika itu diperlukan, tentu saja aku akan melakukannya agar kau tidak berbuat kurang ajar kepadaku." Ucap lexia ketus.
Daren mempersempit jarak diantara mereka, lexia mundur dan melihat benda-benda yang ada di sekitarnya, jika dia melakukan sesuatu kepada lexia, dia akan melemparkannya kepada daren.
__ADS_1
Daren menarik dagu lexia ke arahnya, senyuman terukir di wajahnya dengan seringainya. Daren mendekatkan bibirnya tetapi berhenti hanya beberapa inci saja dari bibir lexia.
"Aku akan berhenti di sini lexia, karena jika aku menciummu sekarang, yakinlah aku tidak akan berhenti dan aku tidak akan perduli dengan kontrak sialan itu, tetapi kau harus ingat, pada akhirnya kau akan menyerah padaku dan kau pasti akan menjadi milikku." bisik daren, dia kemudian melepaskan lexia dan segera keluar dari kamarnya.